“Wanita itu adalah racun,” desis Arjuna penuh dendam.
Niall mengangguk setuju. “Memang, wanita adalah racun dunia.”
“Dia memberiku racun!” kesal Arjuna. Ia menatap kesal ke arah selang infus yang terpasang di tangannya.
“Dia memberimu makan siang,” koreksi Niall.
“Dengan daging penuh garam, ayam penuh lada hitam, udang penuh bubuk cabe dan puding penuh bubuk kopi hitam. Hanya terongnya yang bisa disebut makanan,” geram Arjuna.
“Lalu, kenapa kau menghabiskan semuanya?” heran Niall.
“Karena hanya dengan begitu, dia akan berhenti memakai pakaian-pakaian aneh jika pergi ke kantorku,” desis Arjuna.
“Pakaian aneh bagaimana?” tanya Niall.
“Pakaian dengan belahan setinggi paha, atau gaun mini yang nyaris tak menutupi pahanya.” Arjuna menghela napas.
“Dan kenapa kau harus mengkhawatirkan itu?”
“Karena dia calon istriku. Mama bisa shock jika melihatnya,” dengus Arjuna.
“Kupikir mamamu sangat menyukai Kirana, bagaimanapun sikapnya di luar,” singgung Niall.
“Dan aku tak suka dia menjadi tontonan di kantorku. Dia tak bisa membiarkanku tenang di kantorku sendiri,” geram Arjuna.
“Karena itu, kau menelan semua racun itu dan menginap di rumah sakit?” cibir Niall.
Arjuna berdehem. “Aku juga sedang memikirkan cara untuk membalasnya.”
“Apa setelah kalian menikah nanti, kalian akan terus melakukan ini? Bahkan untuk seterusnya? Selamanya?” Niall menggeleng-geleng takjub.
“Dia sudah bertekad untuk membuatku menyesal karena pernikahan kami. Jika aku tinggal diam, menurutmu dia akan berhenti?”
“Coba saja dulu,” ucap Niall.
Arjuna berpikir sejenak.
“Tapi, aku terharu dengan pengorbananmu. Jika tidak tahu sejarah pertemuanmu dengan calon istrimu, aku mungkin sudah berpikir kau cemburu dan over protective padanya.”
Arjuna melotot mendengar kata-kata Niall itu. “Jangan sembarangan bicara.”
“Kenapa? Anak-anak lain bahkan berkeliaran hanya mengenakan kain yang nyaris tak menutupi apa pun di tubuh mereka. Tapi, kau sudah kebakaran jenggot hanya karena masalah itu?” Niall tersenyum geli.
“Aku harus memikirkan citra keluargaku juga. Membiarkan wanita itu berkeliaran seperti itu dengan status sebagai calon istriku, bisa-bisa mereka menertawakan keluargaku,” geram Arjuna.
“Seingatku, berkat Kirana, kau akhirnya tidak lagi dituduh menjadi kekasihku. Meski justru calon istrimu yang sekarang menuduhmu begitu. Tapi, dalam segala segi, dirimu yang diuntungkan. Dia tidak akan merusak citra keluargamu, apa pun yang dia lakukan. Karena semua orang tahu dia seperti apa. Kau tahu bagaimana reaksi orang-orang di grup chat tentang Kirana. Tapi, tak ada seorang pun yang berani menantang wanita itu. Menurutmu kenapa?
“Tak ada yang cukup bodoh untuk menantang putri tunggal Ramawijaya. Mereka hanya berani memaki Kirana di belakangnya. Setelah melihat Kirana sendiri dan mencari tahu ke sana-kemari, aku tahu satu hal. Wanita itu tidak dikucilkan, tapi dia yang mengucilkan semua orang. Karena dia tidak membutuhkan mereka.” Niall mendengus pelan.
“Satu-satunya orang yang pernah menyerang dia itu Reta. Aku pernah menyebutkan tentang itu, kan? Dulu mereka pernah bersahabat. Mungkin ada rahasia sendiri antara mereka. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada mereka hingga mereka menjadi musuh,” ungkap Niall.
“Rahasia apa?” tanya Arjuna.
“Aku juga tidak tahu. Tanyakan saja pada calon istrimu itu.”
“Apa kau pikir, dia akan memberitahuku jika aku bertanya?” sinis Arjuna.
“Jelas, tidak.” Niall bahkan berani menjawab tanpa ragu.
Arjuna mendesis kesal.
“Omong-omong, apa kata orang tuamu begitu mereka tahu kau dirawat di rumah sakit karena sakit perut?” Niall penasaran.
“Aku mengatakan pada mereka jika aku makan terlalu banyak siang tadi,” desah Arjuna.
“Setidaknya, kau tidak benar-benar berbohong. Kau memang makan terlalu banyak. Makan racun,” ucap Niall.
Arjuna mendesis kesal menyadari Niall meledeknya.
***
“Apa? Dia masuk rumah sakit karena makan masakanku tadi?” kaget Kirana ketika mendengar kabar dari Marcel.
Marcel mengangguk.
Kirana menengok ke arah pintu kamarnya. “Apa Papa tahu?”
“Tidak, Nona,” jawab Marcel.
Kirana mendesah lega. Lalu, teringat sesuatu, “Apa orang tua Arjuna tahu?”
“Itu … maaf, saya juga tidak tahu Nona.”
Kirana mengerang. “Dia di rumah sakit mana? Kita ke sana sekarang.”
“Tapi, ini sudah sangat larut, Nona.”
“Masa bodoh. Aku harus menemuinya sekarang. Aku akan kena masalah jika sampai orang tuanya atau Papa tahu,” kesal Kirana.
Marcel akhirnya mengangguk. “Saya akan menyiapkan mobil,” katanya sebelum berbalik dan pergi dari kamar Kirana.
Sepeninggal Marcel, Kirana bergegas pergi ke walk in closet dan memilih pakaian. Ia tidak boleh memakai pakaian mencolok. Kali ini, ia akan memakai konsep rumah sakit. Putih. Kirana menarik sebuah gaun panjang, juga dengan lengan panjang berwarna putih.
Kirana berganti pakaian dengan cepat, lalu keluar dari kamarnya. Sepertinya papanya sudah tidur karena lampu ruang kerjanya sudah mati. Kirana bergegas keluar. Di halaman, Marcel sudah menunggu di dalam mobil. Pria itu keluar untuk membukakan pintu belakang mobil.
“Cepat pergi,” kata Kirana sembari masuk ke mobil.
Marcel membungkuk kecil sebelum menutup pintu dan bergegas kembali ke kursi kemudi. Pria itu mengebut sepanjang jalan menuju rumah sakit. Ia menurunkan Kirana di lobi dan menyebutkan kamar rawat Arjuna, lalu pergi untuk memarkir mobil.
Kirana menekan tombol lift dengan tak sabar. Kirana sampai menabrak pengunjung lain yang baru keluar lift. Pun di dalam lift, tanpa menunggu pengunjung lain, Kirana segera menutup pintu lift. Tiba di lantai bangsal VIP, Kirana segera keluar.
Ia menemukan kamar Arjuna tanpa kesulitan. Tanpa mengetuk, Kirana membuka pintu itu. Namun, begitu ia masuk, ia melihat Niall berdiri di samping ranjang tempat Arjuna duduk, sementara tangan Niall berada di rambut Arjuna. Ketika dua pria itu menoleh ke arahnya, mereka tampak terkejut. Niall bahkan langsung menjerit panik dan melompat mundur.
“Tenang, aku tidak mengambil gambar kalian,” kata Kirana sembari menghampiri mereka.
“Kirana?” tanya Niall.
“Yes, it’s me. Kenapa kau setakut itu?” Kirana duduk di tepi ranjang rumah sakit. “Kau takut karena aku memergoki kalian bermesraan?”
“Bukan itu.” Niall menatap Kirana dari atas ke bawah. “Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Kupikir kau hantu rumah sakit,” kesal Niall.
Kirana lebih kesal mendengar itu. “Mana ada hantu secantik aku?!” bentaknya.
“Justru hantu biasanya cantik, kan?” sanggah Niall.
Kirana berpikir sejenak, lalu mengangguk-angguk. “Benar juga.”
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Arjuna tak ramah. “Untuk memastikan korbanmu sudah mati atau belum?”
Kirana mengibaskan tangan. “Aku bahkan tidak meracunimu.”
“Ya, kau meracuniku,” tandas Arjuna.
“Kau sendiri yang nekat memakan semuanya tadi,” sebut Kirana.
Arjuna hendak mendebat, tapi ia menyerah karena tahu itu kebenarannya. Pria itu menghela napas berat.
“Lalu, untuk apa kau kemari?” tanya Arjuna lagi.
Kirana berdehem. “Apa orang tuamu tahu? Kau masuk rumah sakit karena makan masakanku?” Kirana memastikan.
“Sakit jantung mamaku bisa kambuh jika tahu kau mencoba membunuhku,” sinis Arjuna.
“Apa memasak makan siang untuk calon suamiku adalah sesuatu yang salah?” protes Kirana. “Aku toh tak pernah bermaksud meracunimu.”
“Karena itu kau datang kemari? Untuk memberikan pembelaan?” dengus Arjuna.
“Lain kali, jika kau tak bisa menanggung sesuatu, jangan melakukannya. Lihat apa yang terjadi padamu sekarang!” sebut Kirana.
Arjuna mendengus tak percaya. “Jadi, ini salahku?”
“Tentu saja, kenapa kau masih bertanya?” sambar Kirana. “Yang jelas, ini salahmu, jadi jangan sampai kau mengatakan hal yang aneh pada orang tuamu atau Papa. Lagipula, kau tak bisa menyalahkan aku yang sedang belajar memasak.”
“Kau bilang, kokimu kehilangan kepercayaan diri karena makananmu,” sindir Arjuna.
“Semua akan kehilangan kepercayaan diri jika menghadapi masakanku. Memangnya, ada yang bisa membuat lebih buruk dari itu?” ungkap Kirana bangga.
Arjuna ternganga tak percaya. Pria itu akhirnya hanya bisa mendesah pasrah.
Bagus, setidaknya papa Kirana tidak akan tahu masalah ini.
***