“Haruskah kau datang ke rumah sakit dengan pakaian seperti itu?” Arjuna agak kesal juga karena Kirana mondar-mandir di kamarnya dengan pakaian serba putih yang panjang hingga menyentuh lantai begitu.
“Konsepku rumah sakit. Kau tidak lihat?” Kirana berputar.
“Jika kau berjalan-jalan keluar seperti itu di koridor tengah malam nanti, orang-orang akan berlari ketakutan ketika melihatmu,” ujar Arjuna.
“Ck, ck, ck …” Kirana menatap Niall dan Arjuna bergantian. “Dasar pasangan penakut.”
“Tapi, lebih baik Kirana memakai pakaian seperti itu kan, daripada pakaian terbuka? Nanti kau cemburu jika ada pria lain yang melihat tubuhnya,” sebut Niall.
Arjuna mendesis kesal ke arah sahabatnya itu, sementara Kirana bertanya penasaran, “Apa maksudnya? Cemburu? Kenapa? Karena aku lebih seksi dari dia?”
Arjuna ganti mendesis kesal pada Kirana. “Aku sudah memakan habis makan siangmu, jadi kau juga turuti janjimu tentang pakaianmu,” Arjuna mengingatkan wanita itu.
“Baiklah, baiklah. Kau tak percaya sekali padaku.”
“Percaya padamu? Ketika kau muncul kemari dengan pakaian seperti itu? Kau ingin menakuti semua orang, hah?”
“Seingatku, tak ada seorang pun yang takut padaku ketika berpapasan denganku tadi. Iya kan, Marcel?” Kirana menoleh pada pengawalnya yang saat ini sudah berada di ruangan itu juga.
Marcel mengangguk.
Arjuna menatap Marcel kesal. “Ini sudah malam! Bawa nonamu pulang!”
“No, no.” Kirana menggoyangkan jari telunjuknya. “Aku akan menginap di sini malam ini,” putusnya. Kirana lalu menoleh pada Marcel. “Kau bisa pulang. Besok, katakan pada Papa jika aku menginap di rumah sakit untuk menjaga Arjuna yang sakit perut karena makan sembarangan.”
Arjuna mendengus tak percaya. “Makan sembarangan itu makananmu, tahu.”
Kirana mengabaikannya dan melanjutkan, “Katakan juga aku tidak tidur semalaman.”
“Kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu pada papamu?” tuntut Arjuna.
“Ada barang yang ingin kubeli. Harganya cukup mahal. Aku harus melakukan hal baik lebih dulu sebelum membeli barang semahal itu dengan uang papaku.”
“Memangnya apa yang ingin kau beli?”
“Kafe di depan kantormu,” jawab Kirana.
“Apa?” Arjuna dan Niall menanyakannya bersamaan.
Kirana mengedik cuek. “Aku sedang tidak ada kegiatan dan aku bosan. Minggu ini aku akan sibuk di kafe. Lagipula, dari kafe dekat ke kantormu. Aku bisa ke sana setiap hari tanpa perlu pergi jauh-jauh. Sempurna, kan?”
Sempurna?
“Kau membeli kafe hanya agar kau bisa berada lebih dekat ke kantorku?”
Kirana mengangguk. “Dan aku butuh kegiatan. Sudah kubilang, aku bosan. Tak ada hal yang menarik minggu ini. Selain kau.” Kirana tersenyum lebar.
Bahkan setelah apa yang terjadi hari ini, wanita itu tidak akan berhenti? Baiklah. Toh, Arjuna sudah menyiapkan serangan balik.
“Aku tak tahu lagi sampai kapan perang kalian akan berakhir, tapi aku tidak ingin terlibat,” Niall angkat bicara. “Aku pulang, Ar.”
Niall lalu bangkit dari duduknya di kursi samping ranjang rumah sakit.
“Kau tidak akan memberinya ciuman selamat malam?” tanya Kirana.
Niall sampai ternganga. Tentu, ia tak menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba.
“Aku akan memejamkan mata jika kalian malu.” Kirana memejamkan mata. “Kau juga, Marcel! Tutup matamu atau segera pulang saja!”
Arjuna mendengus melihat Marcel membungkuk kecil, lalu keluar lebih dulu dari ruangan itu.
“Dia tidak akan melakukannya, jadi buka matamu,” desis Arjuna kesal.
Kirana membuka sebelah matanya. “Tidak akan melakukannya? Mengecewakan sekali.” Kirana membuka matanya yang satunya dan menghela napas. “Jangan cemburu hanya karena aku menemaninya sepanjang malam. Aku melakukan ini demi kafe itu.” Kirana tersenyum pada Niall.
Wanita itu lalu menatap sekeliling ruangan dan menemukan tempat tidur untuk keluarga pasien. Sembari bersenandung, Kirana berdiri dari ranjang Arjuna dan pergi ke sana. Tanpa sungkan ataupun ragu, wanita itu naik ke tempat tidur dan menarik selimut.
“Nyaman juga di sini,” ucap Kirana. “Selamat malam, kalau begitu.” Kirana melambaikan tangan, lalu memejamkan mata.
“Bayangkan, seumur hidup aku akan bersama wanita seperti itu,” desis Arjuna pada Niall.
“Setidaknya, kau tidak akan pernah bosan,” balas Niall.
Arjuna menatap Niall kesal. Sahabatnya itu meringis.
“Aku pergi dulu. Baik-baik kau dengan calon istrimu. Dan jangan macam-macam padanya meski kalian hanya berdua di sini. Kau tak tahu apa yang akan dia lakukan untuk membalasmu.”
Arjuna mendesis kesal. Niall bergegas pergi dari kamar itu. Arjuna menatap Kirana yang berbaring di tempat tidur dan mendesah lelah.
***
Kirana membuka mata dan menghela napas berat ketika ia tak juga mengantuk.
“Kenapa? Tak bisa tidur?” Pertanyaan Arjuna membuat Kirana menyerah akan usaha tidurnya.
Kirana beranjak duduk. “Kau sendiri kenapa tidak tidur? Perutmu mulas? Kau ingin ke kamar mandi terus?”
Arjuna menghela napas. “Tak bisakah kita membuat percakapan yang normal?”
“Ah, seperti permainan seru apa yang bisa kita mainkan malam ini?” Kirana menendang selimut dan turun dari tempat tidur, lalu bergegas menghampiri Arjuna.
Pria itu tampak kaget ketika Kirana memukul kakinya, memaksa pria itu menarik kakinya. Kirana naik ke tempat tidur Arjuna dan duduk bersila di sana.
“Ayo bermain denganku,” ajak Kirana.
“Ap-apa?” Arjuna terbalalak kaget.
“Aku tidak bisa tidur, kau juga tidak bisa tidur. Di saat seperti ini, kita harus bersenang-senang.” Kirana mencolek lengan Arjuna.
Pria itu melotot panik. “Apa yang kau lakukan?!”
Kirana mengerutkan kening. “Kenapa kau sensi sekali? Aku hanya ingin mengajakmu bermain agar tidak bosan.”
“Hei, permainan apa yang dilakukan pria dan wanita di malam hari, hanya berdua, di sebuah ruangan, itu pun di atas tempat tidur?” sembur Arjuna.
Kirana mengangkat alis. “Banyak. Biasanya aku meminta Marcel bermain bersamaku jika aku tidak bisa tidur atau enggan tidur.”
“Apa?!” Arjuna tampak luar biasa kaget.
“Mau mencobanya denganku?” Kirana mencondongkan tubuh ke arah Arjuna.
Mengejutkan Kirana, Arjuna berseru keras, “Apa kau sudah gila?!”
Apa katanya barusan? Pria ini … berani-beraninya …!
***
Arjuna berteriak kesakitan ketika Kirana membenturkan kepalanya di kening Arjuna.
“Apa katamu, barusan?!” bentak Kirana.
Arjuna mengusap keningnya. “Aku yang seharusnya kesal. Apa yang kau lakukan ini? Kenapa kau menyerangku?”
Kirana mendengus kesal. “Aku hanya ingin mengajakmu bermain!”
“Lalu, untuk apa kau naik ke tempat tidurku?!” balas Arjuna tak kalah kesalnya.
Kirana mengerutkan kening, lalu mendengus pelan. “Apa sebenarnya yang kau pikirkan?”
Arjuna mundur. “Jangan macam-macam padaku.”
Kirana terbahak ketika akhirnya menyadari. “Kau pikir, aku naik ke tempat tidurmu untuk merayumu? Apa aku sudah gila?”
“Itu dia yang kukatakan ta … argh! Jangan memukul kepalaku!” bentak Arjuna karena Kirana memukul kepalanya.
“Apa kau bodoh? Kenapa aku merayumu ketika aku tahu kau tak akan tergoda olehku?” sengit Kirana.
Arjuna mengerutkan kening, lalu tersadar. Benar juga. Wanita itu mengira dan percaya jika Arjuna berkencan dengan Niall. Arjuna berdehem.
“Memangnya, kau ingin bermain apa?” tanya Arjuna.
“Cih. Tidak jadi. Aku kehilangan mood bermain denganmu!” Wanita itu mendesis kesal sembari turun dari tempat tidur Arjuna dan pergi ke tempat tidurnya.
Arjuna mendengus takjub melihat wanita itu menarik selimut dan berbalik memunggungi Arjuna. Sengaja. Namun, Arjuna penasaran. Permainan apa yang dilakukan Kirana di malam hari, itu pun dengan pengawalnya? Apa wanita itu sudah gila? Kenapa ia bermain di malam hari dengan pria?
Arjuna menarik napas dalam, berusaha meredakan emosinya. Darahnya selalu naik karena wanita itu.
***