“Kau sudah bilang pada Papa?” tuntut Kirana ketika Marcel datang pagi itu. “Sudah, Nona.” “Bagus. Hari ini ayo kita ke kafenya dan menanyakan harganya. Kuharap tidak mahal-mahal. Ada villa di tepi pantai yang ingin kubeli,” ucap Kirana penuh harap. Dengusan kasar Arjuna membuat Kirana menoleh. “Kenapa? Kau juga ingin membeli villa?” tanya Kirana. “Sepertinya, aku harus bekerja keras begitu kita menikah nanti. Siapa yang tahu apa lagi yang ingin kau beli nanti,” sindir Arjuna. “Tenang saja. Grup Ramawijaya tidak akan bangkrut semudah itu,” balas Kirana santai. Ia lalu menatap Marcel. “Kau sudah membawakan pakaian gantiku?” Marcel mengangguk dan menyerahkan paper bag pada Kirana. Kirana mengecek isinya sembari bertanya, “Ini gaun sifon biruku, kan? Aku harus tampak keren hari in

