“Lihat, lihat!” Kirana menepuk-nepuk lengan Arjuna sambil menunjuk ke satu arah, membuat pancake yang sudah ada di garpunya terjatuh. Arjuna menatap Kirana kesal. “Katamu, kau mengajakku kemari untuk sarapan.” “Itu juga kau sedang sarapan, kan? Enak? Perlukah aku mengganti kokinya atau tetap memakai koki dari kafe ini?” tanya Kirana. Arjuna mendesis kesal sembari menarik turun tangan wanita itu. Wanita itu bahkan tak peduli pada sedikit pun pada sarapan Arjuna. “Apa kau tak tahu, menunjuk seseorang terang-terangan itu tidak sopan?” “Oh ya?” Kirana mengerjap, lalu menunjuk muka Arjuna. Arjuna mendesis kesal, sementara Kirana tersenyum puas dan menurunkan tangannya. “Omong-omong, nanti sepulang kerja kau pulang ke rumah atau ke rumah sakit?” tanya Kirana sembari menatap sekelilin

