***
Shofia dengan air mata yang mengalir mengelap tubuh Gerry dengan air hangat, hanya tubuhnya yang ia lap.
Tidak dengan kakinya. Kakinya masih menggunakan celana panjang.
Bau alkohol tercium di hidung Shofia, Shofia segera menutup tubuh Gerry dengan selimut tebalnya, lalu memunguti pakaian yang berserakan dan meninggalkan kamar Gerry, sejenak ia berdiri, melihat banyaknya lukisan di dinding kamarnya.
Ia kembali ke dapur, meletakkan pakaian kotor di ruang laundry, ia mengusap air matanya yang kembali jatuh.
"Ya Allah, jika jodoh Shofi adalah mas Gerry, semoga ia bisa berubah," doanya dalam hati. Ia membuat teh panas untuk dirinya. Duduk di meja makan sambil menyesap pelan teh panasnya.
Setelah tehnya tandas, ia kembali naik ke atas menuju kamarnya, sebentar lagi adzan subuh, ia akan masak selepas shalat subuh. Tadi ia melihat di kulkas dapur ada banyak bahan untuk dimasak. Namun Ia ingin membuat nasi goreng spesial. Sebelumnya ia membersihkan beras dan ia masak dengan rice cooker.
Nasi goreng dengan aneka toping tersaji di atas piring. Hari sudah cerah, minggu pagi yang indah. Namun tak seindah yang di bayangkan Shofia dalam rumah tangganya. Ia ingat dengan teman Gerry yang meminta untuk membangunkan Gerry sebab hari ini mereka ingin mengadakan sunmory.
Shofia segera kembali naik ke lantai atas, mengetuk pintu kamar Gerry lalu ia masuk ke dalam. Shofia lupa jika dirinya tidak di perbolehkan masuk ke kamar suaminya itu. Namun saat ia menghampiri ranjangnya, Gerry sudah tidak ada di kasur tersebut, mendengar kamar mandi terbuka, ia menoleh. Shofia membeku di tempat.
"Siapa suruh masuk ke kamarku?" tanya Gerry, dengan suara di tekan.
"Maaf," ucap Shofia, dan ia langsung lari keluar kamar Gerry, lalu ia masuk ke kamarnya sendiri. Melihat Shofia yang ketakutan. Tanpa sadari Gerry mengulas senyum.
Malam sebelum Gerry kembali ke rumah, Raffa merencanakan sesuatu, untuk mengetes dirinya alergi tidak dengan Shofia istrinya, maka dari itu ia pura-pura mabuk, ya memang mabuk. Tapi tidak parah sebenarnya, ia hanya pura-pura.
Bahkan ia juga tahu bagaimana Shofia memperlakukan dirinya dengan begitu lembut. Ia juga melihat Shofia yang menangisi dirinya. Gerry masih ragu, namun dekat dengan Shofia sakit alergi pada wanita itu hilang, ia tidak pusing atau mual saat tangan halus Shofia mengelap tubuhnya dengan kain dan air hangat. Baru kali ini Gerry merasakan getaran saat perempuan itu mendekatinya.
Gerry sudah siap dengan kaos hitam panjang, dengan jaket hitam panjang pula, ia membawa ransel yang ia gendong dipunggungnya. Menyimpan masker di saku celananya, tak lupa benda pipihnya ia simpan juga di saku celananya. Kemudian ia turun santai ke lantai dasar. Ia melihat Shofia yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Mas, makan dulu. Aku sudah buatkan sarapan," ajak Shofia lembut. Yah memang Shofia wanita yang lembut, Gerry menolak, ia lekas melangkahkan kakinya, namun Shofia segera menghampirinya, dan menarik lengan suaminya untuk duduk menikmati sarapannya.
Gerry tiba-tiba membisu, tak bisa berkata, ia seperti tersihir dengan Shofia. Ia menurut saja duduk di kursi, lalu dengan telaten Shofi memberikan sendok untuknya.
"Makanlah, sebelum berubah dingin," suruh Shofia. Dengan ragu Gerry mulai memasukan nasi ke mulutnya, pelan ia mengunyah, lalu sedikit mengulas senyum, enak nasi goreng istrinya.
Hanya perlakuan kecil ini, membuat Gerry luluh, ia sudah lama tak mendapatkan perhatian, sehingga perhatian Shofia langsung membuat temperamennya menurun.
Belum ada sehari loh ini mereka, namun entah kenapa setelah melihat Shofia, ia seakan sudah lama mengenalnya.
Gerry menghabiskan nasi goreng tersebut, tanpa sisa. Lalu ia segera pamit ke istrinya. Ia berdiri, reflek Shofia ikut berdiri, membuat Gerry menatap intens ke sang istri, Shofia hanya ingin menjadi istri yang shaliha, meskipun Gerry adalah suami yang tak ia inginkan.
Shofia mengulurkan tangan, Gerry tak paham ia malah mengambil dompetnya dan menyerahkan uang ke sang istri, kening Shofia mengkerut.
"Minta uang 'kan?" tanya Gerry, Shofia mencebikan bibirnya.
"Salim," ucap Shofia singkat, lalu meraih tangan suaminya, ia mencium punggung tangannya, lalu menatap sang suami ganteng namun mirip preman tersebut. Ia melempar senyum ke suaminya, lagi-lagi ada getaran halus di dalam hatinya, kenapa dengan Shofia ia merasa lebih nyaman. Reflek Gerry mengusap jilbab sang istri.
"Aku pergi dulu, baik-baik di rumah," pesan Gerry, Shofia hanya mengangguk, menampakan senyuman semanis mungkin.
Shofia mengantar suaminya sampai depan rumah, ia melambaikan ke arah suaminya yang sudah siap di mogenya.
Gerry melambaikan tangan sebagai tanda ia akan segera berlalu.
"Hati-hati di jalan, Mas. Utamakan keselamatan," pesan Shofia, sedikit berteriak, seban moge suaminya sudah meraung-raung membisingkan telinganya. Seorang satpam membuka lalu menutup pintu gerbang rumah sang majikannya.
Di atas moge Gerry tersenyum, "Beginikah rasanya jatuh cinta?" batinnya, tapi apa ini tidak terlalu cepat. Gerry yang dipaksa menikah dengan gadis cantik itu, awalnya menolak, sebab mengira Ayah Shofia sebagai pemimpin di perusahaan papinya ingin mengambil harta kekayaannya tersebut.
Namun saat Papinya menjelaskan, barulah ia menerima perjodohan itu. Demi dia tak di pindah ke Amerika oleh Papinya. Apalagi saat awal berjumpa dengan Shofia. Rasanya ia seperti melihat sesuatu di masa lalunya, oh iya. Gerry pernah mengalami kecelakaan dan membuat sebagian ingatannya hilang, ia ingat adalah saat Papinya yang pulang membawa seorang perempuan yang tengah hamil besar, membuat Maminya marah dan membawanya pergi, di saat hujan deras dengan mengendarai mobilnya.
Maminya yang dalam keadaan emosi tersebut, akhirnya kecelakaan. Dan saat Gerry sadar. Ia sudah berada di rumah sakit, sedangkan wanita yang dibawa Papinya di kirim ke luar Negeri, Gerry mengira ia adalah simpanan Papinya, itu yang membuat Gerry benci dengan Papinya dan menyalahkan Papinya atas meninggalnya sang Mami, sebab itu si Gerry yang dulu adalah anak laki-laki yang manis, cerdas dan selalu berprestasi. Kini menjadi anak yang susah diatur, suka menindas dan tak mau tahu urusan orang lain. Dan saat itu pula, ia benci dengan perempuan, bukan benci, tepatnya jika dirinya di dekati perempuan pasti rasanya perut mual, dan ia akan uring-uringan tak jelas.
Hanya Raffa yang mampu mengendalikannya, sebab itu mereka dekat, bahkan Gerry sampai di gosipkan pacaran dengan Raffa. Gerry mah cuek aja selagi dirinya tak merasa menyukai, mau orang beranggapan apa, biar. Itu'kan mulut mereka, ia tak bisa membungkamnya.
Nyatanya dirinya memang tak jauh juga dari Raffa. Tapi Gerry laki-laki normal kok. Hanya saja ia memang belum menemukan wanita yang tepat untuk dirinya, tapi sekarang sepertinya Gerry bakal menemukan cintanya. Walaupun ragu, namun hanya dengan Shofia ia tidak merasakan mual. Mungkin malam nanti. Ia akan mencoba tidur dengannya. Pikir Gerry
***
Shofia merebahkan tubuhnya di atas karpet lantai, setelah seharian ia membersihkan rumah yang tak kecil ini. Ia menonton kartun kesayangannya. Si kembar yang kepalanya tetap saja botak. Hingga ia pun tertidur di sana. Mungkin karena rasa lelah membuat dirinya langsung tidur. Ia tidur dengan memeluk boneka pensil. Sedangkan layar teve masih menyalakan si kembar botak yang bermain tembak-tembakan.
Karena rumah besar yang sepi, membuat suara teve menggema di ruangan yang besar ini. Jam dinding terus berputar, Hingga menunjukkan di angka satu siang, semalam Shofia tidur larut malam, sebab menunggu kepulangan sang suami, hingga akhirnya karena lelah menunggu, ia pun tertidur.
Jadilah ia tidur hampir dua jam, dan ia masih nyenyak di atas karpet bulunya, hingga kedatangan suaminya tak diketahui, saking lelapnya.
Gerry mengerutkan dahi, saat melihat sang istri yang tidur anteng di atas karpet lantai, dan entah sejak kapan karpet lantai itu ia buat tidur, biasanya buat alas duduk lesehan, jika memang ingin duduk lesehan saja, untung karpetnya bulu, jadi gak bakal buat perut Shofia kembung karena kedinginan. Shofia nampak menarik di mata Gerry.