Origami

1603 Kata
Gerry mendekati Shofia yang terlelap, ia memicingkan mata, Shofia tak memakai jilbab, rambut hitamnya lurus tergerai, leher jenjangnya nampak putih mulus menggoda Gerry, Gerry sampai kesusahan menelan salivanya, baru kali ini ia tertarik dengan perempuan, ia mencoba menyingkirkan rambut Shofia yang menutupi sebagian wajah ayunya. "Papi tak salah menjodohkan kita, tapi pantaskah aku yang b******n mendapatkan bidadari sebaik dan secantik kamu." Gumamnya. Lalu Gerry menatap layar teve yang masih nyala, bibirnya tertarik ke atas, Shofia sedang menonton sponge bob, "Dasar anak kecil," gerutunya. Lalu ia membenarkan letak selimutnya, menarik selimut hingga sebatas bahu, tak ingin membuat Shofia terbangun, ia pun melakukan dengan sangat pelan. Lalu dirinya berdiri, menatap sekelilingnya, seperti ada yang berbeda. Yups betul betul betul, ruangan itu nampak bersih dan rapi. Vas bunga dan hiasan dinding pun terlihat bersih dan mengkilap. Gerry tersenyum, ia segera naik ke atas, menuju kamarnya. Meletakkan ransel asal, lalu bergegas ke kamar mandi, menatap jam yang nempel di dinding, sebentar lagi waktu ashar. Ia segera mandi, bibirnya tersenyum. Entah kenapa ia merasa menyukai Shofia, yang ia anggap dulunya hanya akan menghalangi kesenangannya. Namun nyatanya tidak, Shofia tak begitu memperdulikan apa yang menjadi kesenangan suaminya. Kira-kira lima belasan menit, Gerry keluar dengan handuk yang di lilitkan di pinggang dan handuk kecil di taruh di kepala asal, untuk mengeringkan rambut basahnya. Ia masuk ke walk in closet, mengambil baju santai. Membuka buku agendanya, besok hari senin, ia ada jadwal kuliah pagi. Ia sebenarnya suka melukis, namun di paksa Ayahnya untuk masuk ke jurusan Management bisnis. Ya awalnya okey, namun ia lalu akhirnya tanpa sepengetahuan ayahnya pindah dan masuk ke jurusan arsitektur. Ia pun turun ke bawah, awalnya ingin membangunkan istrinya. Namun saat melihat sang istri yang sudah bangun tanpa sadar ia menyunggingkan senyum, tanpa ia sadari. Menatap istrinya yang terbangun kek orang bingung. Rambut panjangnya acak-acakan, nampak kecantikan alaminya. Gerry kembali melangkahkan kakinya. Pura-pura cuek. "Mas Gerry sudah pulang?" tanya Shofia, saat melihat suaminya turun dari lantai atas. "Hhmm," ia hanya bergeming, ia melirik sebentar ke arah istrinya yang sedang merapikan rambutnya, sejenak ia terpesona dengan kecantikan istrinya, suara adzan sudah terdengar dari pengeras suara masjid. Shofia buru-buru merapikan karpet lantai, merapikan selimut juga bantal guling. "Mas, sudah adzan, Hmm, kamu mau shalat di masjid atau di rumah?" tanya Shofia hati-hati. Gerry bungkam, Gerry melirik, tak suka Shofia menanyakan itu, Ia pun abai, terus melangkah tanpa menjawab pertanyaan istrinya. "Ya udah Mas, aku mau naik ke atas dulu," pamitnya. Ia menyampirkan selimut di lengan kirinya, "Oh iya Mas, mau makan malam sama apa? nanti saya masakin," tawar Shofia, ia tak peduli suaminya yang cuek padanya, ia terus saja mengajak sang suami bicara. "Terserah," jawabnya, tanpa ekspresi. Shofia mengulum senyumnya, lalu ia berlalu. Gerry mengulas senyum, saat Shofia sudah tak terlihat lagi, ia masuk ke kamarnya, yang pintunya sudah tertutup. "Ternyata kamu wanita yang sangat lembut juga perhatian, pantaskah kau bersanding denganku yang b******k ini," lagi-lagi ia bermonolog dalam hati. Ia duduk di depan teve. Membuka pesan dari sang Papi, tiba-tiba matanya terbelalak. Ada pesan dari sang Papi yang akan pulang dari London dan ia di minta menjemput di bandara. Ia segera bergegas lari menaiki tangga menuju kamar Shofia, ia mengetuk pintu pelan, namun tak ada sahutan, terpaksa ia langsung masuk ke dalam kamarnya, bertepatan dengan Shofia yang juga baru keluar dari kamar mandi, hanya berlilitkan handuk saja. "Maaf, aku hanya mo kasih tahu, kamu beresi pakaian kamu, pindah ke kamarku, aku mo pergi jemput Papi di bandara, sebelum maghrib aku sudah pulang," katanya, dengan membelakangi Shofia. yang kikuk sebab kepergok suaminya hanya memakai handuk saja. "Ba.. Baik," jawab Shofia. Gerry segera keluar dari kamar Shofia, masuk ke kamarnya. Ia memakai hoodie dan mengambil kunci mobilnya. Sejak Papinya sering sakit-sakitan, Gerry mencoba berdamai dengan hati. Ia mulai memperhatikan kondisi Papinya, meskipun gengsi mengungkapkan , sebenarnya ia sayang dengan Papinya. Percuma juga nyalahin Papinya, tetap saja Maminya tak bakal hidup kembali, ia hanya akan membuang-buang tenaga saja. "Papi sakit jantung bawaan, baru operasi kutub jantung, kamu masakin Papi yang rendah lemak, aku buatin nasi goreng kaya tadi juga boleh," pintanya, sedikit mengulas senyum. Sedikit sih jadi gak keliatan kalo Gerry tersenyum, keduanya berdiri di depan pintu masing-masing kamarnya. Gerry membuka pintu kamarnya. Mempersilakan istrinya masuk ke kamarnya. Shofia menunduk patuh, lalu meminta tangan Gerry untuk bersalaman. "Hati-hati di jalan, Mas," ucap Shofia, "Kamu juga hati-hati di rumah. Besok akan ada asisten datang, kamu jangan terlalu kecapek'an mengurus rumah," pesannya. Shofia hanya mengangguk, ia menarik kopernya membawa masuk ke dalam kamar Gerry. Saat di dalam kamar, ia hanya berdiri, bingung karena tak melihat adanya lemari untuk menyimpan pakaian. Jadi ia menaruh koper di samping sofa, mengamati ruangan kamar suaminya. Cukup berantakan, ia pun sebentar membersihkan kamar Gerry, menata laptop yang masih terbuka dengan buku tebal di sampingnya yang juga terbuka. Rokok dan pemantik juga tergeletak sembarangan. Hanya butuh sepuluh menit, ia sudah selesai membereskan kamar Gerry, lalu ia segera ke bawah untuk memulai masak untuk makan malam, Ada brokoli hijau dan beberapa bahan pelengkap, ia membuat sop brokoli, dengan sedikit sosis dan juga wortel. Menggoreng tempe hanya di bumbui garam dan bawang putih saja. Kemudian ia membuat nasi goreng sesuai pesanan suaminya. Hanya butuh kurang lebih empat puluh lima menitan, masakan sudah selesai, dan di luar terdengar suara mobil, suaminya sudah kembali, ia segera melepas apronya, dan menata jilbabnya mematut diri di depan cermin, ia tadi sempat berhias sedikit, saat tahu suaminya pulang, ia membaui dirinya sendiri, takut jika bau masakannya menempel, ia hanya ingin berusaha menjadi istri yang shalihah, dengan berhias di depan suaminya. Suaminya baru kembali menjemput ayahnya, yang berada di luar Negeri. "Ayah..." panggil Shofia, sebab sang Ayah sedang membantu mendorong kursi roda Papi mertuanya. Shofia segera menghampiri ketiga lelaki beda usia tersebut. "Selamat sore menantu kesayangan Papi, bagaimana kabarmu?" sapa Papi mertua, "Oom Tanjung Ayah Mas Gerry?" Shofia membeo, "Kamu sudah lama tak ketemu Oom, jadi lupa. Kamu lupa dulu kalian pernah main bareng walau hanya sekali." terang ayah mertua. Gerry dan Shofia saling berpandangan, Shofia ikut dengan Nenek dan Kakeknya tinggal di Jawa, dan juga sekalian belajar di pesantren, jadi ia tak tahu jika Gerry dulu adalah teman kecilnya. "Hmm, Ayah," Shofia menarik tangan Ayahnya untuk di salami, setelah ia menyalami suaminya dan ayah mertuanya. "Shofi sudah siapkan makan malam, sebentar Shofi siapkan dulu, Ayah mau nasi goreng atau nasi putih kaya Oom Tanjung?" tanya Shofia. "Hust, beliau ini Ayah mertuamu," protes Ayahnya, mengingatkan jika Oom Tanjung kini sudah menjadi Ayah mertuanya. "Hhmm. Maaf. Pa.. Pi," ucapnya, dengan lidah terasa kaku. Ayah mertuanya malah hanya tersenyum meledek. Ke empatnya masuk ke dalam, langsung duduk mengitari meja makan. "Pi, Yah, aku bantuin Shofi di dapur ya?" pamit Gerry, Gerry melangkah meninggalkan ruang makan, ia masuk ke dapur, menatap sejenak istrinya, kenapa ia lupa dengan Shofia. Gadis manis yang waktu itu kelas lima dan dirinya kelas satu SD yang pernah membantunya membuatkan tugas origami yang ia sendiri tak bisa waktu itu. "Mbak," panggil Gerry, yang di panggil menoleh. "Kamu mbak Shofia yang pernah bantuin aku ngerjain tugas origami?" tanya Gerry, yang tentu ia tak akan lupa, sebab waktu itu ia hampir putus asa, saat mengerjakan tugas yang tak ia sukai, ia sejak kecil suka menggambar. Sebab itu sekarang dirinya pandai melukis. "Iya. Maaf, aku lupa jika anak kecil itu adalah kamu," ucap Shofia, ia lalu membalik telur ceploknya, dari teflon dan tiga piring nasi goreng dengan toping sayur brokoli, sosis dan sedikit suwiran daging ayam. Gerry akhirnya tersenyum, pantas saat tahu jika dirinya akan di nikahkan dengan wanita bernama Shofia hatinya sedikit bergetar, ternyata ia adalah teman kecilnya dan sudah lama tak ia jumpai, ia hanya bertemu sekali, dan itu pun saat di ajak ayahnya mampir mengambil berkas milik ayah Gerry yang ketinggalan di rumah di dalam ruang kerjanya, di situlah ia melihat Gerry yang sedang duduk di gazebo depan rumahnya ngamuk sebab putus asa tak bisa membuatnya dengan rapi. Setelah selesai makan malam, Shofia masuk ke kamar Gerry, ia shalat maghrib di sana. Sepuluh tahun tinggal dengan kakek neneknya dan tinggal di asrama pesantren, membuat dirinya tak melalaikan kewajibannya. Suara adzan isya terdenger, ia segera mendirikan shalat isya' setelah adzan selesai, ia segera kembali turun ke lantai dasar, rupanya Gerry sedang membantu Ayahnya minum obat, sedangkan ayahnya sudah kembali ke rumahnya, tanpa pamit kepada dirinya, "Ayahmu sudah pulang, tadi kamu lagi shalat, jadi beliau titip sallam," ucap ayah mertua, "Iyah, Papi. Shofi tak apa," jawabnya. "Anterin Papi istirahat," pinta sang mertua. Shofia ingin mendorong kursi roda, namun di tepis Gerry, "Biar aku aja, kamu beresin meja makan dulu," perintahnya. Shofi hanya mengangguk canggung. Papi mertuanya hanya mengulas senyum, melihat anak gantengnya yang kini perhatian. *** Di dalam kamar Gerry , Shofia masih duduk di sofa, ia sebenarnya sudah sangat mengantuk. Namun ia bingung, harus tidur di mana. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, lalu tak lama pintu itu terbuka. Menampakkan cowok atletis yang gagah tertutup kaos pendek, menampakan gambar tato di lengan kirinya tersebut. "Kenapa belum tidur?" tanya Gerry, "Hhmmm... A.. Aku," Shofia tergagap, ia bingung mau bicara. Rupanya Gerry paham, "Tidurlah di kasur, kita sepasang suami istri bukan?" tanya Gerry, sejak tahu Shofia adalah seseorang yang telah membantunya membuat origami, rasanya Gerry tak ingin melepasnya. Mungkin semua sudah di takdirkan, pertemuan lalu dan kini. Shofia melangkah menuju ke kasur yang berukuran king size. Melihat punggung Shofia yang memakai baju tidur dengan rambut panjang yang tergerai, rasanya ia ingin memeluknya dari belakang. Dan tanpa ia sadari ia berjalan cepat dan memeluk Shofia dari belakang. Membuat Shofia seakan nafasnya tercekat di tenggorokan, ia membeku dengan menahan nafas. "Mbak," panggilnya. Ia melingkarkan kedua tangan di perut istrinya, lalu dagunya ia tempelkan di bahu sang istri. Menikmati aroma tubuh istrinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN