"Mbak," panggil Gerry, tangannya ia lingkarkan di perut istrinya, dagunya ia tempelkan di bahunya, seakan nafas Shofia berhenti bernafas, perlakuan lembut sang suami membuat Shofia tak percaya. "Maafin aku, aku baru menyadari akan hal itu," ucapnya. Shofia tak memahaminya. Ia diam tak menjawab. Gerry membalikan tubuh Shofia, menatap dalam gadis cantik di depannya, yang tentu halal untuk di sentuhnya. Gerry menarik dagu sang istri, mencium lembut bibir Shofia yang tipis dan cukup menggoda Gerry, Shofia merem, Menikmati ciuman pertamanya. Oh iya, Shofia itu janda tapi masih ting-ting alias perawan. Belum tersentuh di bibirnya. Gerry menuntun Shofia menuju ranjang. Ia telah sembuh dari sakit alergi pada perempuan. Berkat istrinya. Shofia di baringkan di bed king size nya, Gerry menatap manik-manik mata istrinya yang nampak indah, menatapnya dalam-dalam wajahnya ia lukis di memory otaknya. Ia masih anteng menatap Shofia, tanpa melakukan apa-apa. Membuat yang di tatap menjadi salah tingkah, Shofia memalingkan wajahnya, merasa salah tingkah.
"Sayang, kamu siap?" tanya Gerry, dengan suara sensual yang terdengar seksi. Shofia hanya mengangguk, sambil melempar senyum, "Maaf sebelumnya, jika aku tak sehebat suamimu dulu," ucapnya, di telinga Shofia, membuat tubuh Shofia meremang.
Gerry mulai mencium kening, pipi, dan berakhir di bibirnya. Menghisap bibir tipis sang istri, ini adalah kali pertama untuk keduanya. Mereka beribadah kepada sang khaliq.
Gerry turun dari atas tubuh istrinya, setelah keduanya sampai pelepasan, heran Gerry, sebab merasakan milik istrinya yang sempit, bukankah dia janda tapi kenapa seperti masih perawan, Gerry cukup kesusahan saat miliknya ingin masuk ke inti istrinya.
"Sayang, kamu.." Ucapannya menggantung, bingung mau bertanya, "Hmm bagaimana dulu suamimu?" Tanya Gerry, kemudian. Shofia mengerutkan dahi, tak paham dengan pertanyaan suaminya. "Hmm, aku merasa kamu seperti masih utuh, belum terjamah," ucapnya kemudian. Shofia mengulas senyum.
"Kamu yang pertama, Mas." balasnya.
"Jadi benar, kamu masih perawan?" tanya Gerry, Shofia menganggukkan kepala.
"Iya. Suamiku meninggal sebelum sempat menunaikan hak kewajiban sebagai pasangan suami istri. Bahkan ciuman tadi, adalah ciuman pertamaku," terangnya, panjang. Ia berbicara dengan malu-malu, lalu ia menenggelamkan kepala di d**a suaminya, d**a yang penuh tato tersebut.
Gerry tersenyum, ia bahagia menjadi yang pertama untuknya dan untuk dirinya. Ia memeluk tubuh polos istrinya.
Lalu keduanya tertidur dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Tanpa membersihkan terlebih dulu,
***
Keesokan harinya, Gerry mengulang lagi percintaan seperti tadi malam. Dan saat adzan subuh berkumandang, tepat berakhirnya desahan panjang dari keduanya.
"Mas, bangun mandi terus kita shalat," ajak Shofia, namun Gerry hanya bergeming. Tak ada niatan untuk bangun apalagi shalat, ia malah menutup kepalanya dengan bantal. Shofia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu ia beranjak dari tempat tidurnya, ada rasa nyeri di bawah sana. Lalu ia menoleh ke bekas tempat tidurnya, bercak darah yang bercampur lendir membekas di seprainya. "Mas bangun," paksa Shofia, Shofia memakai kaos milik suaminya yang kebesaran di tubuhnya.
"Aduh Mbaak, aku masih ngantuk," protesnya.
"Mass..." rengek Shofia, membuat terpaksa Gerry membuka matanya. "Apa?" tanyanya, walaupun kesal, namun nadanya lembut.
"Ituu.." Shofia menunjuk bekas percintaan keduanya, Gerry lekas duduk membuat selimutnya tersingkap ke bawah, ia masih polosan. Dengan tubuh yang penuh dengan tato. Gerry tersenyum dengan apa yang di lihatnya.
"Sayang, lagi yuk," godanya, dengan senyum devilnya. Cepat-cepat Shofia menggeleng, lalu dirinya lari ke kamar mandi, langsung mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Membuat Gerry tersenyum geli. Melihat istrinya yang takut di kerjain lagi.
Cukup lama Shofia mandi, ia menongolkan kepalanya dari balik kamar mandi, "Mas, tolong ambilin handuk," pintanya dengan menahan rasa malu, sebab ia yang lupa tak membawa handuk, saat masuk ke kamar mandi. .
"Ambil sendiri," jawabnya, sengaja menggoda sang istri.
"Maassss..." rajuknya, sebenarnya malu sekali ia, namun masa ia harus keluar kamar mandi dengan polosan, tambah malu yang ada. "Mas, aku mau shalat subuh," ucapnya. Membuat Gerry menoleh. Meletakan ponselnya di atas meja nakas. Lalu ia beranjak begitu saja, ia hanya memakai celana dalam saja. Mengambil handuk untuk istrinya.
"Jangan lupa upahnya setelah ini," jahil sang suami. Mengerlingkan matanya, ke arah sang istri.
Gantian Gerry yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Cukup lima belas menit saja ia sudah selesai membersihkan diri, lalu ia keluar dengan memakai bathrobe saja. Rambutnya yang basah ia biarkan airnya menetes tanpa peduli mengelapnya. Saat keluar dari kamar mandi, ia menatap sang istri yang terbalut mukena sedang berdoa. Seperti ada setetes embun yang menyirami hatinya, menyejukkan. Ia membeku di tempat, dadanya terasa sesak, entah kapan terakhir kalinya ia shalat. Sepertinya sudah lama, bahkan sejak Maminya meninggal ia baru sekali shalat, itu pun di hari raya. Seakan Gerry tak peduli, ia mengambil sebungkus rokoknya beserta pemantiknya, lalu ia keluar kamarnya, berdiri di balkon depan kamarnya. Menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya, tangan lainnya menyalakan api dan membakar ujung rokok tersebut. Pandangannya menerawang, menatap langit-langit yang hampir terang tersebut. Ia menghisap dalam-dalam rokok mentolnya, lalu menghembuskan asapnya melalui hidung dan mulutnya. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga menit berikutnya, ia melihat seseorang membuka pintu gerbang miliknya, asistennya baru datang, ia baru saja kembali dari kampung halamannya. Asisten yang sudah seperti keluarganya sendiri, usianya sudah setengah abad, namun masih nampak sehat dan segar.
Gerry mematikan rokoknya, saat rokoknya sudah pendek. Lalu kembali masuk ke dalam kamarnya, ia tak lagi mendapati istrinya. Ia pun masuk ke walk in closet. Mencari kaos lengan panjang, ia memakai kaos hitam panjang dan celana jeans warna hitam pula. Memilih jam tangan yang hari ini ia ingin pakai. Dan mengganti anting-antingnya dengan anting lainnya, Gerry ini penyuka warna hitam.
Saat ia keluar, ia mendapati istrinya yang sudah rapi dengan seragam dinasnya. Hari ini ia mulai mengajar kembali, jika jarak dari rumah Gerry, tempat ia ngajar lebih dekat dan juga searah dengan kampus Gerry.
"Kamu hari ini ngajar?" tanya Gerry, Shofia mengangguk, seragam keki sudah rapi di tubuh rampingnya, dan jilbab segi empat panjangnya menjuntai ke bawah. Nampak cantik di lihat oleh Gerry,
"Berangkat bareng aku aja, ya." pinta Gerry, Shofia hanya mengulas senyum. Lalu keduanya berjalan turun ke bawah menuju meja makan. Gerry menyampirkan ransel hitamnya di bahu, Begitupun dengan Shofia.
Kini Shofia dan Gerry duduk di meja makan, dan ada Papinya juga di sana. Mereka menikmati makan dalam diam, hanya terdengar suara piring dan sendok beradu.
Sepuluh menit berlalu, Gerry memanaskan mobilnya terlebih dahulu sebelum ia bawa ke kampus. Shofia menunggu di sebelah gazebo rumah Gerry, tidak lama kemudian, Shofia masuk mobil tersebut, saat di persilakan si empunya mobil.
Gerry memperlakukan lembut Shofia, gadis cantik itu sangat bahagia dengan perlakuan Gerry, ia terus menyunggingkan senyumnya sepanjang perjalanan. Tidak ada obrolan dari keduanya, mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Shofia merasa canggung duduk berdua dengan suaminya, untuk menghilangkan rasa canggung, Gerry menyalakan audio musik mobilnya. Bibirnya bersiul lirih, Gerry nampak bahagia, entah ia merasa seperti baru saja menikmati kehidupan yang sesungguhnya.
Ia harus menceritakan kepada Raffa, sahabatnya. Bahkan kini dirinya sudah tidak lagi perjaka, sebab sudah ia serahkan kepada wanita yang tentu halal untuknya.