Gue Suaminya

1541 Kata
MTs Negeri 2 Bekasi. Gerry menghentikan mobilnya, lalu ia membukakan pintu untuk sang istri. Padahal istrinya juga bisa membukakan pintu untuk dirinya sendiri. Tapi ia membiarkan suaminya membukakan pintu untuk dirinya, Gerry hanya mengantar sampai halte. Shofia meraih tangan sang suami, lalu ia mencium punggung tangannya dengan berdo'a dalam hati, "Semoga Allah Membukakan pintu hidayah untukmu, mas." doanya dalam hati. Gerry merasa bahagia di perlakukan seperti itu oleh istrinya. Istri yang awalnya tak di inginkan, namun kini membuat dirinya seakan tergila-gila. Suasana di sekolah masih sepi, belum banyak yang datang. Gerry pun kembali masuk ke dalam mobilnya, membuka kaca jendela mobil bugatti warna hitam tersebut. "Nanti pulangnya aku jemput," ucapnya. Lalu ia melambaikan tangan ke Shofia, Shofia tersenyum manis. Manis sekali, namun senyum itu khusus untuk suaminya. Kembali mobil sport tersebut melaju di jalan raya, hari ini ada kelas pagi dan siang. Hanya ada dua mata kuliah, jadi jam dua belas sudah selesai, lalu sore harinya ada jadwal pemotretan. Mobil berhenti di parkiran kampus, ia mematikan mesin mobilnya, lalu mengambil ransel. Menatap dirinya ke cermin, dirinya memang selalu memperhatikan penampilannya. Sayang saja, selama ini belum ada satu pun perempuan yang berhasil mendekatinya, kecuali sang istri. "Hmm, cerah amat gue liat." Raffa datang dengan ulasan senyum, melihat Gerry yang nampaknya terlihat auranya yang berbeda dari biasanya. Gerry membalas dengan senyuman pula, lalu ia merangkul pundak Raffa. "ada apa, nih?" tanya Raffa, kemudian. Gerry menoleh ke kanan dan ke kiri. "Gue berhasil malam pertama dengan bini gue, anjiirr!" bangganya. "Wow, keren. Seorang Gerry yang alergi perempuan akhirnya sembuh juga," puji Raffa, bahagia dengan temannya. "gue harap lu bisa jagain istri lu," ucap Raffa, "Lu tahu gak? bini gue ini janda sebelum nikah ama gue, tapi dia masih perawan," kasih tahu Gerry, tentunya dengan suara berbisik. "Yang bener?" tanya Raffa, Gerry mengangguk. Nampak jelas wajah sumringah Gerry yang memang tampan tapi galak itu. Lalu keduanya tertawa, nampak beberapa gadis menatap kagum kedua cowok tampan yang keduanya tak terpisahkan. Keduanya selalu di anggap pasangan guy, padahal keduanya normal. Tapi mereka tak pernah ambil pusing dengan apa kata orang, biarkanlah mereka berkata sesuka hati mereka. Keduanya berjalan menyusuri koridor kampus, menuju lantai tiga, yups kelas keduanya ada di lantai tiga. "Gerry," panggil seseorang berambut pirang, ia menghampiri Gerry, membuat Gerry yang di samperin merasa jengah, tak suka dengan gadis berambut pirang dengan dandanan yang.... Entahlah. "Ntar siang lunch sama gue ya, gue ada tawaran bagus buat lu," ucap gadis itu. "Gak tertarik," jawabnya ketus. "Please, lu pasti suka, dan ini sangat menguntungkan buat lu," paksa gadis itu, sedangkan Gerry merasa jengah dengan gadis tersebut, "Clarissa, please ya. Gue managernya, dan untuk saat ini Gerry tak ingin menerima job lagi, sebab jadwalnya sudah padat. Tolong jangan ganggu. Awas minggir kami mo lewat," Raffa mendorong tubuh Clarissa untuk menyingkir dari hadapannya. "Bangke! awas aja lu, gue bakal kasih pelajaran," ucap Clarissa, namun tidak di hiraukan Raffa maupun Gerry. Gerry dan Raffa duduk di bangku bersebelahan, sebentar lagi akan mulai mata kuliahnya, hari ini ada presentasi setiap kelompok. Mereka telah merancang desain sebuah bangunan. Gerry membuka laptopnya, memastikan gambar desainnya sudah baik dan tidak ada kesalahan, sebab sedikit kesalahan, akan membuatnya harus mengulang bentuk gambarnya kembali. Dua pekan lagi ada ujian akhir semester. Dan ini merupakan hari terakhir kuliah, sebelum dirinya di sibukkan untuk belajar sebelum ujian akhir semester. *** Shofia di dalam kelas delapan, ia wali kelas delapan, saat dirinya mengajarkan mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, ponsel berdering singkat, menandakan ada pesan masuk. Ia mengabaikannya, sebab sedang memberi penjelasan kepada muridnya. Setengah jam kemudian, ia selesai dengan materi yang di jelaskan, lalu memberikan tugas di LKS. Shofia duduk, ia masih sedikit sakit jika berjalan, sebab ulah suaminya. Shofia membuka ponselnya, melihat pesan singkat yang tertera nomor baru. Ia membuka dan membacanya, matanya memicing, sebab pesan tersebut dari dekan universitas di Bekasi, meminta Shofia mengisi mata kuliah agama, sebab kampus tersebut sedang kekurangan dosen agama. Zalfa pernah kuliah di kampus Jakarta Islamic University, sebagai mahasiswa Magna Cumlaude. Ia peraih IPK 3,9. Nilai tertinggi dari semua mahasiswa seangkatannya. Shofia belum mengiyakan, ia ingin konsultasi dulu dengan rekan-rekannya, terutama suaminya. Dekan tersebut, memberi waktu untuk berpikir 24 jam. Itu juga akan di mulai awal kuliah semester baru. Shofia mengulum senyumnya. kring.. Kring..kring.. Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi, beberapa anak menghela napas, sebab merasa tugasnya belum selesai. "Bagaimana anak-anak, apakah sudah selesai?" tanya Shofia, "Belum, Bu." jawab salah seorang murid, dengan kaca mata minusnya. "Baiklah, yang sudah selesai boleh di kumpulkan, yang belum nanti saat istirahat kedua sudah di kumpulkan di meja ibu," ucapnya. "Baik, Buu.." jawab murid-murid kelas 8C tersebut. Yang baru selesai bisa di hitung jari, sedangkan yang belum selesai sebagian besar muridnya. "Baiklah anak-anak, cukup sekian untuk pertemuan hari ini, sebentar lagi tes akhir semester, ibu harap kalian tak lupa belajar. Ibu akhiri wassalamu'alaikum warohmatullahi wa barokatuh!" ucap Shofia, "Wa'alaikum sallam warohmatullahi wa barokatuh," jawab semua murid serempak. Shofia, membawa lima LKS muridnya yang sudah selesai menuju ruangannya, berjalan pelan sebab merasa nyeri di area kewanitaannya. Tentu saja hal itu membuat perhatian anak-anak yang melihatnya. "Ibu sakit, ya?" tanya Salah satu siswanya. Shofia menggeleng, "Hhmm, kirain. Kok jalannya aneh," ucap siswanya, lagi. Di katakan seperti itu tentu membuatnya merasa malu, kenapa ia tak bisa menutupi rasa sakitnya, sungguh sebenarnya terasa perih untuk berjalan. Mereka tak ada yang tahu, jika gurunya sudah menikah. Shofia duduk di bangkunya, ia meletakkan buku paket, di atas mejanya. Untungnya jadwal ngajarnya ada setelah jam istirahat pertama, jadi ia bisa duduk sambil mengoreksi tugas LKS muridnya tersebut. Waktu berjalan dengan begitu cepat, saat istirahat kedua, Gerry menelponnya. Shofia mengulas senyum saat tahu siapa yang memanggil. "Iya assalamu'alaikum." ucapnya. "Wa'alaikum sallam, Sayang." jawab seseorang di ujung telepon. "Ada apa, mas?" tanya Shofia, canggung. "Hmm, pulang jam berapa nanti?" tanya suaminya, "Hmm, jam setengah dua, mas." jawabnya. "Oke. Ntar aku jemput, oh iya. Jangan lupa makan siang ya," pesannya. "Iya, mas." jawab Shofia, lalu ia menutup sambungan teleponnya, setelah mengucap sallam. "Cie Bu Shofi, siapakah itu?" ledek temannya yang duduknya tidak jauh dari bangku Shofia, Shofia tidak menjawab, ia hanya mengulas senyum. Lalu ia membuka lacinya, mengambil mukena ia akan ke mushola untuk ikut shalat jamaah di mushola. "Bu Shofia, tungguin!" pinta temannya, "Mari, Bu." jawabnya. Ia menunggu temannya yang sedang mengambil mukena juga. Saat ia keluar dari ruang guru, ia melihat Pak Arsenio, beliau adalah guru olah raga yang menyukai dirinya, "Mau shalat, Bu?" tanya pak Arsenio. Shofia hanya mengangguk, lalu ia berjalan cepat menuju mushola. Ia selalu bersikap dingin terhadap laki-laki. *** Gerry dan Raffa sedang makan siang di kafe, lalu ia melihat Clarissa yang datang menghampirinya, "Bangsad, gadis itu lagi," umpat Gerry, membuat selera makannya hilang, ia menutup mulutnya, tentu ia tak suka di dekati perempuan, entahlah namun ia memang alergi kepada perempuan, hanya kepada istrinya ia nampak baik-baik saja. Ia tak ingin ambil pusing, sebelum gadis itu sampai di mejanya. Gerry sudah bersiap pergi, ia menaruh uang untuk membayar bill makananya. "Cabut kuyy!" ajak Gerry, ke Raffa, tahu jika Gerry menutup mulutnya, jadi ia tanpa protes mengikuti Gerry. "Eh kalian mau kemana, gue mo ngomong sama kalian," teriak Clarissa, suaranya yang tidak bagus tapi juga tidak jelek, mengudara di kafe tersebut, Gerry dan Raffa sudah tak peduli, keduanya pergi dan menuju parkiran, dimana mobilnya di parkir, Raffa sendiri, ia menggunakan motor sport-nya. "Raff, gue mo ke tempat bini gue aja ya, toh udah gak ada kuliah," izinnya ke Raffa, "Gue ikut, gue mo liat bagaimana kalian berinteraksi," goda Raffa. "Serah lu," jawab Gerry. Mobil dan sepeda motor pun melaju di jalan beraspal, memecah jalanan yang padat kendaraan. Tujuan mereka adalah sekolah sang istrinya. Beberapa jam kemudian, jam sekolah berakhir, Shofia siap untuk pulang, Shofia dan Bu Riris keluar secara bersamaan, Bu Riris menuju ke parkiran. Sedangkan Shofia menuju mobil yang ia kenal, mobil suaminya sudah terparkir di bahu jalan. "Eh Bu Shofi, itu liat ada berondong ganteng banget," kagum Bu Riris, Shofia menoleh, ia melihat suaminya yang berdiri dengan Raffa di sebelah motornya, "Ganteng'kan, Bu?" Tanya Bu Riris memastikan, Shofia hanya mengangguk. Sedikit cemburu saat suaminya di puji wanita lain. Rupanya Gerry melihat istrinya yang sedang berdiri dengan guru lainnya, tanpa pedulikan sekitarnya, Gerry menghampiri keduanya, tepatnya menghampiri sang istri. "Eh malah ke sini, duh masyaAllah gantengnya," ucap Bu Riris, salah tingkah, ia membenarkan jilbabnya, yang sebenarnya baik-baik saja, keGRan mengira ingin menghampirinya. "Sayang, udah selesai ngajarnya?" tanya Gerry, saat di hadapan keduanya, Shofia mengangguk, membuat bu Riris terkejut, pasalnya Shofia ternyata mengenal berondong ganteng tersebut, Shofia meraih tangan Gerry, lalu menciumnya. "Kalian..?" suara bu Riris menggantung, "Gue suami Shofia," ucap Gerry, tanpa di minta, bu Riris menutup mulutnya, sebab merasa terkejut. Ia menatap ke Shofia seakan minta penjelasan darinya, "Dia suamiku, Bu. Kenalkan namanya Mas Gerry," Shofia mengenalkan, namun Gerry nampaknya tak tertarik dengan bu Riris, "Sudah'kan Sayang? yuk pulang." ajak Gerry, ia menarik tangan Shofia pelan, berjalan menuju dimana mobilnya terparkir. Dari atas motor, Raffa tersenyum, benar Gerry tak alergi dengan Shofia. "Kak Raffa!" panggil seseorang. "Eh Dik Alika, udah selesai sekolahnya?" tanya Raffa, Alika adik sepupu Raffa mengangguk, "yok pulang," ajaknya. Alika kembali mengangguk, "Bunda kenapa gak jemput?" tanya Alika. "Sengaja kakak mau jemput kamu, Dik." jawab Raffa, Alika terkekeh. Raffa pasti modus, sebenarnya mau lihat Melisa, kakak kandung Alika yang baru kelas 11 SMA. Cckk, suka ama sepupunya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN