Mobil hitam milik Gerry melaju pelan, membelah jalanan yang cukup padat merayap.
"Sayang, lapar?" tanya Gerry, Shofia menoleh ke suaminya, yang sedang serius menyetir.
Shofia menjawab dengan ragu, ya lapar orang tadi makan di kantin sekolah khusus guru hanya sedikit, "Iya mas, tadi siang baru makan sedikit." cicitnya, Gerry tak menanggapi, ia tersenyum, di pertigaan lampu merah, Gerry membelokkan mobilnya, ke jalan menuju mall.
Gerry menoleh sebentar ke istrinya, "Makan di mall aja ya, sekalian aku mo nyari sesuatu." katanya, Shofia hanya mengangguk. Gerry mengulas senyum, kembali fokus menatap jalanan, lalu tangannya terulur menggenggam tangan Shofia, meremasnya lembut. Lalu menariknya dan di ciumlah tangan Shofia, di persimpangan lampu merah sebelum masuk ke pusat perbelanjaan, Gerry sempat menarik kepala istrinya, menatap mata jernih sang istri lalu mencium keningnya intens. Keduanya diam, tak ada kata yang keluar dari bibir keduanya, mereka menggunakan bahasa tubuhnya.
Mobil masuk ke basecamp parkiran bawah tanah, setelah mobil terparkir, Gerry turun lebih dulu dan membuka pintu untuk istrinya, ia tak membiarkan istrinya membuka pintu sendiri. Biarkanlah yang penting Gerry bahagia.
Gerry tersenyum, lebih enak di pandang jika dirinya tersenyum daripada menampakan wajah juteknya. Gerry mengulurkan tangannya, lalu menggenggam erat jemari Shofia, membuat Shofia tersipu malu.
Gerry memakai kaca mata hitam, lalu memakai maskernya. Membuat Shofia tak mengerti. Namun ia juga sungkan mau bertanya,
Keduanya jalan, menaiki lift menuju lantai mall. Tidak ada yang membuka percakapan, keduanya saling diam.
Sampai mereka masuk ke pusat perbelanjaan, naik eskalator masih tetap sama, diam tanpa kata.
"Hmm, aku mo beli sesuatu, kamu mau nunggu di sini, ato ikut?" tanya Gerry, sebab dirinya yang akan masuk ke tempat penjualan pakaian pria. Shofia yang merasa asing lebih memilih ikut masuk, Shofia waktu remaja tinggal di pesantren, jadi dirinya tak terbiasa ke mall atau sejenisnya. Ini mungkin pertama kalinya masuk pusat perbelanjaan setelah dirinya wisuda beberapa tahun yang lalu, dulu saat masih SMA pernah ke mall, tapi bisa di hitung dengan jari.
Ya tentu kebanyakan laki-laki yang ada di toko tersebut, Gerry mencari kaos dalam, ya merasa kaos, Shofia sensdiri hanya mengikuti suaminya dari belakang, lalu tatapan matanya melihat poster dengan menampakan lelaki yang hanya memakai celana dalam saja, suami Shofia menjadi model pakaian celana dalam. Kenapa suaminya begitu santai di potho seperti itu, menampakan auratnya, dan juga perutnya yang memang sixpact terbentuk sempurna. Shofia menunduk, kenapa ia bisa menikah dengan lelaki seperti Gerry, bukankah jodoh itu cerminan diri?
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gerry, yang sudah ada di hadapannya. Shofia segera menghapus air matanya yang menetes, tak ingin terlihat dirinya menangis.
Ia mendongakan kepalanya, lalu memaksakan untuk tersenyum, "Gak ada apa-apa, mas." jawabnya, dengan hati yang... Entahlah.
Rupanya Gerry cukup peka, ia melihat potho dirinya bahkan di jadikan banner, menampakan auratnya. "Mbak bisa tidak, jika poster sama banner itu jan di pajang?" pinta Gerry, tentu pelayan toko itu menggeleng. "tapi istriku tak menyukai," protes Gerry.
Pelayan itu menatap Gerry penasaran, kenapa bisa dirinya menyuruh pelayan toko untuk tidak memasang banner ataupun posternya, padahal itu yang akan menarik pembeli, "Kalo tak suka jangan di lihat, atau mungkin anda cemburu melihat laki-laki tampan yang menjadi modelnya," ejek seorang pelayan dengan berani.
Geram juga dengan mbak pelayan, Gerry membuka masker dan kaca mata hitamnya, menampakan wajah asli Gerry di hadapan pelayan.
Sontak pelayan itu menganga, ia menutup mulutnya sebab terkejut, tidak hanya di poster, aslinya Gerry juga memang tampan. "Maaf, jadi anda.." suara pelayan itu menggantung,
"Aku modelnya," jawab Gerry, ketus. Pelayan itu melirik ke kanan dan ke kiri, rasanya ingin berteriak bahwa model pakaian dalam yang memang lagi naik daun ada di hadapannya.
"Maaf, tuan. Tapi itu harus meminta izin sponsor jika jika gambarnya tak boleh di pajang," ucap si pelayan.
"Mas, udahlah. Ayok pergi." ajak Shofia, dengan tak bersemangat. Gerry dulu menjadi model sebab iseng, lalu ia menyukainya. Dan akhirnya terjun ke dunia model. Dan tawaran tertingginya adalah model pakaian dalam pria. Awalnya hanya model kaos, pemotretan di sebuah obyek wisata, lalu baru beberapa bulan ini menerima kontrak kerja sebagai model pakaian dalam merk terkenal.
"Maaf, sayang. Besok aku bilang ke managerku. Untuk menghentikan kontrak model tersebut," ucap Gerry, akhirnya ia memilih pergi dari toko tersebut, tidak jadi berbelanja.
Siapa yang rela jika suaminya menjadi model pakaian dalam, yang tentu bentuk tubuhnya bisa di lihat dan di nikmati semua orang.
***
Shofia hanya diam sejak dirinya kembali dari mall. Bahkan makan siang yang di rencanakan jadi gagal, padahal Gerry belum makan siang, sebab makan siangnya terganggu kehadiran wanita yang tak di inginkannya. Gerry juga tak salah, sebab ia memang menerima kontrak kerja sebelum menikah dengan Shofia.
Gerry pun memilih duduk di balkon depan kamarnya, sambil menikmati rokok yang di selipkan di kedua jarinya.
Sekali-kali ia melirik ke dalam kamarnya, Gerry memang sengaja membuka gorden kaca jendelanya yang lebar tersebut. Dengan kaca yang bening pula, nampak terlihat jelas isi di dalam kamarnya. Shofia baru saja masuk, ke kamarnya. Meletakan laptop di atas meja depan sofa, wajahnya nampak datar, tak ada senyum yang terukir di sudut bibirnya. Membuat Gerry merasa kacau, padahal habis ashar akan ada pemotretan, dengan tema panorama di pantai pasir putih. Harusnya dia sudah berangkat, nyatanya Gerry masih di rumahnya. Tak mungkin ia bisa konsentrasi pemotretan dalam keadaan kacau seperti ini.
Gerry kembali menyesap rokoknya, lalu membuang asapnya melalui hidung dan mulutnya, benda pipih yang ada di saku celananya melengking, menandakan ada telepon masuk. Dari Raffa, mungkin ia akan menanyakan keberadaannya, sebab belum sampai ke pantai.
Gerry menempelkan ponsel di telinga kirinya,
"Ya," jawab Gerry dengan malas. "ada apa?" tanya Gerry kemudian,
"Pemotretan di tunda, ada cru yang mengalami kecelakaan, saat menuju pantai," ucap Raffa, di ujung telepon, membuat hati Gerry merasa lega, sebab dirinya juga lagi malas mengikuti pemotretan.
Gerry menyunggingkan senyum, lalu ia kembali menyimpan ponselnya di saku.
Lalu ia melirik ke dalam kamarnya, nampak Shofia yang sedang duduk di tepi kasur, siap untuk tidur, ia memang sedikit lelah. Sebab semalam yang terpaksa lembur.
Gerry berjalan masuk ke kamarnya, lalu ia langsung menyusul istrinya yang baru saja mulai memejamkan matanya, iseng Gerry menyentuh leher istrinya, membuat yang di sentuh terganggu dan ia bangun.
"Mas Gerry," gumamnya, Gerry masih menampakkan senyum yang begitu nampak manis, baru ingin membuka mulut untuk bertanya, Gerry sudah membungkamnya dengan bibirnya,
"Eeembhh.. Eeugghh," lenguhan Shofi keluar begitu saja dari bibirnya. Ia ingin protes namun tidak bisa. Dan kejadian malam itu pun terulang kembali.
Gerry menjatuhkan bobot tubuhnya di samping istrinya, setelah keduanya sampai pelepasan. Keringat membanjiri keduanya, d**a Shofia nampak naik turun, seirama dengan napasnya yang tak teratur.
Gerry membawa Shofia ke dalam pelukannya, ada waktu satu jam untuk istirahat sebelum masuk shalat ashar. Gerry menyelimuti tubuh sang istri, yang berkeringat tersebut.
Lalu keduanya tidur dengan rasa lelah yang mereka buat sendiri.
***
Malam hari, nampak Gerry dan Shofia sedang memasak di dapur, sang ayah merasa bahagia dengan perubahan putranya, ia lebih banyak tersenyum. "Kalo liat kamu bahagia, rasanya Papi ingin hidup seratus tahun lagi,'' gumamnya, bertepatan dengan ucapan sallam di depan pintu rumahnya, pintu yang memang di biarkan terbuka itu, menampakan wajah lelaki seumurannya. Ayah Shofia dan Ibunya datang, sungguh kebetulan sekali ini.
Ayah Gerry langsung mengkode sepasang suami istri yang tak muda lagi untuk masuk. Lalu keduanya masuk, dan menghampiri besannya yang sedang memperhatikan kedua anaknya, mereka memasak dengan saling bercanda, padahal ada asistennya, namun rupanya Gerry ingin Shofia yang masak, sebab dirinya yang sudah kecanduan dengan nasi goreng sang istri.
"Kalo mereka seperti itu, tak lama lagi kita bakal jadi kakek," ucap ayah Shofia, dengan bangga. Pak Tanjung ayah Gerry pun mengangguk menyetujuinya.
Merasa ada yang memperhatikan, ia menoleh. Lalu ia tersenyum lebar, saat melihat kedua orang tuanya ada di sana, sedang berdiri di samping kursi roda ayah mertuanya. Gerry memeluk tubuh Shofia dari belakang, ia belum menyadari jika ada yang memperhatikan,
"Ish, mas Gerry, ih." Shofia meronta, malu lah di lihatin orang tua mereka. Gerry malah dengan sengaja menenggelamkan kepalanya ke leher sang istri. "Mas ada ayah," kesal Shofia,
Ketiga orang tuanya terkekeh, lalu menimpali, "Gak papa, lanjutin aja, kita gak ganggu kok," ledek ayah mertuanya di selingi kekehan, sontak Gerry melepas pelukannya, lalu menatap orang tuanya tak suka, sebab merasa di ganggu kesenangan dirinya.
"Sayang, lanjutin ya. Aku naik ke kamar dulu," pamitnya. Ya emang secuek itu Gerry. Bahkan ia tak menyapa kedua mertuanya. Benar-benar menantu gak sopan.