Ikan Bakar

1049 Kata
Shofia terbangun, ia terkejut saat dirinya ketiduran di atas sajadah. Ia merasakan suasana yang berbeda, ia pun kembali tersadar. Dirinya ada di villa. Shofia segera melepas mukena, lalu menyampirkan di kursi meja rias. Ia mengelus perutnya, saat perutnya berbunyi dengan cukup keras, menandakan dirinya sudah lapar. Shofia menatap jam bulat yang nempel di dinding, di sampingnya ada cicak yang melet-melet seakan meledeknya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan, berarti ia ketiduran setelah shalat maghrib. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu, tak lupa tangannya meraih jilbab instan yang tersampir di sofa kamar tersebut. Mengingat ia sedang kesal dengan suaminya, hingga dirinya mengunci pintu kamarnya, tak mengizinkan suaminya masuk ke kamar. Shofia membuka pintu kamarnya, di sana. Di sofa yang dekat dengan pantry, Gerry sedang terkantuk-kantuk. Shofia merasa bersalah, ia segera menghampiri suaminya tersebut. "Mas Gerry," panggil Shofia dengan lembut. Merasa di panggil, Gerry pun mengerjapkan matanya melihat istrinya yang tepat berada di depannya. "Sayang," panggil Gerry, ia tersenyum lembut. "Maafin Shofi, Mas." ucap Shofia, sungguh ia merasa sangat bersalah. Gerry tersenyum, "Kenapa minta maaf?" tanya suaminya. Shofia tak langsung menjawab, ia menunduk. Memilin jari-jari tangannya. "Hhm, kenapa, Sayang?" Gerry kembali bertanya, ia mengusap kepala istrinya penuh rasa sayang. "Tadi Shofi udah marah-marah sama, Mas." cicitnya. Gerry kembali mengulas senyum, memaklumi keadaan istrinya. Sebab sejak dari sore tadi moodnya berubah-ubah. "Udah gak papa, ayok makan. Tadi aku udah pesen makanan kesukaan kamu," ucap Gerry, ia menyentil lembut hidung mungil istrinya. Shofia mengangguk, menatap ikan gurami bakar membuat selera makannya meningkat. Ia pun duduk di kursi meja makan, namun ia hanya bengong menatap ikan yang lezat dilihatnya. "Mas," panggil Shofi dengan suara manja, Membuat Gerry mengerutkan dahi, memang tidak terbiasa istrinya seperti saat ini, namun kembali ia teringat, kemungkinan ia memang hamil. "Mau disuapin?" tanya Gerry, Shofi meringis, lalu ia mengangguk. Gerry pun membalikkan piringnya, lalu mengisi dengan nasi putih hangat yang sudah matang. Tadi Gerry sempat menanak nasi di rice cocker. "Doa dulu sebelum makan," Gerry mengingatkan. Shofia mengangguk. Lalu Gerry mengintrupsi, supaya Shofia membuka mulutnya, "aaa," ucapnya. Shofia membuka mulutnya, lalu ia menikmati suapan nasi dengan ikan bakar tersebut. Menikmati lembutnya daging ikan dan nasi hangat, "Enak." ucapnya. Gerry mengangguk, "Makan yang banyak," suruhnya. Shofia mengangguk. Entah kenapa, kali ini ia menikmati makanannya lebih nikmat dari biasanya, entah sebab disuapin atau karna laper, atau dua-duanya benar. Sepiring berdua, ikan bakar itu pun habis tinggal tulang saja. Shofia tersenyum, menatap ujung bibir suaminya yang terkena kecap. Ia mengambil tisu, lalu mengelapnya. Gerry tersenyum merasakan perlakuan lembut istrinya. Lalu ia meraih s**u untuk Shofia, hanya saja Ia menggeleng. Sebab merasa eneg, jika harus minum s**u, "Mo minum apa?" tanya Gerry, "Air putih saja, Mas." jawabnya. Gerry pun meraih teko, lalu menuang air putih ke dalam gelas. Menyodorkan ke istrinya, namun tidak. Ia meminumkannya tanpa mengizinkan Shofia memegang gelas. "Mau jalan-jalan? atau mau langsung bobok?" tanya Gerry. "Ish kek bocil, bobok. Tidur bukan bobok," protesnya. "Iyaa Sayangku, yang selalu benar," ucap Gerry, ia mencubit gemas pipi istrinya. Membuat Shofia cemberut. "jadi mo tidur aja?" tanya Gerry, Shofia menatap suaminya, lalu menggeleng, "Mo sholat isya dulu," jawabnya. Gerry mengulum bibirnya, lalu ia tersenyum, "Baiklah, aku beresin meja makan dulu," ucapnya, Gerry membiarkan istrinya pergi, sedangkan dirinya merapikan meja makan dan membawa piring bekas makan untuk ia cuci. Selesai merapikan piring ke tempatnya yang semula, Gerry bergegas ke kamar. Ia harus mengambil wudlu dan mengerjakan shalat isya. Gerry merasakan tenangnya saat dirinya lebih dekat dengan penciptanya. Ia kini tak pernah meninggalkan kewajibannya meskipun dalam kondisi sibuk sekalipun. Shofia selesai shalat isya, lalu ia melipat mukenanya. Dirinya menatap suaminya yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah basah. Lalu melihat suaminya mengambil pakaian ganti. Gerry tak pernah lupa membawa baju koko, sarung dan pecis. Semenjak dirinya belajar shalat. Shofia tersenyum melihat suaminya yang kini berubah drastis. Awalnya yang galak dan suka menggertak, berubah menjadi suami yang lembut dan perhatian. "Kenapa senyum-senyum? baru sadar suamimu ini tampan?" goda Gerry, sebab Shofia menatap dirinya tanpa berkedip. Membuat Shofia tergagap, ia pun mengalihkan pandangannya. Lalu tangannya meraih ponsel yang berkedip. Gerry tersenyum, melihat tingkah absurd istrinya. Ia segera beralih ke atas sajadah yang masih terbentang di lantai. Kini pikirannya berpusat kepada sang pencipta. Ia membaca niat dalam hati, lalu mengangkat kedua tangannya sambil mengucap takbiratul ikhram. Kurang lebih sepuluh menit, Gerry selesai shalat dan mengingat hafalan surah pendek. Saat dirinya menoleh, Shofia tertangkap sedang memotret suaminya yang sedang mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Merasa ketahuan, Shofia pura-pura mengarahkan kamera HP ke atas plafon. Lalu ke pojok ruangan, seakan dirinya sedang merekam isi ruangan tersebut. "Hayoo ngapain?" goda Gerry, ia pun meraih pinggang istrinya dan memeluknya, tangannya mencoba meraih ponsel istrinya. "Ish, Mas. Gak boleh kepo!" ucap Shofia, ia mencoba menjauhkan ponsel dari jangkauan suaminya. "Aku mau liat," Gerry berusaha meraih ponselnya lagi, Sekuat Shofia mempertahankan ponselnya, akhirnya luluh juga saat dengan sengaja Gerry mengecup bibirnya. Membuat pipi putih Shofia memerah, lalu ia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Sedangkan kaki Gerry mengungkung istrinya, supaya tak bisa kemana-mana. Gerry tersenyum saat melihat galery ponsel istrinya yang memang ada beberapa foto suaminya yang sedang beraktivitas tidak hanya pas shalat tadi, ternyata di ponselnya penuh dengan foto dirinya. Gerry mengarahkan layar ponsel ke istrinya. "Coba jelaskan, ini apa?" tanya Gerry, sebab ada potret dirinya yang telanjang d**a. Sepertinya saat Gerry selesai mandi, dan dirinya memakai celana pendek saja. Dengan malu-malu Shofia membuka matanya, lalu ia meringis. "Gak sengaja itu," jawabnya. Dengan bibir cemberut. "Tiap malam sudah sering lihat, apa kau lupa, Sayang?" goda Gerry. "Ish, aku tuh gak sengaja, Sayang. Ups!" segera Shofia menutup bibirnya, saat panggilan itu reflek keluar dari bibir tipisnya. Gerry tak bisa menahan gejolak yang tiba-tiba muncul. Dadanya berdebar dengan kencang. Seakan aliran darahnya mengalir lebih cepat. Ia meletakkan ponsel istrinya, lalu membingkai lembut wajah istrinya. Menatap lekat wajah istrinya yang putih bersih tanpa bekas jerawat. Lalu Gerry memberikan kecupan lembut di bibirnya. Hanya sekilas, lalu melepaskannya. "Sayang, I love you. Tetaplah menjadi istriku, jangan pernah berbuat untuk pergi dariku," ucap Gerry. Shofia menatap wajah tampan suaminya dengan mata yang mengerjap lucu. Kini Shofia yang berinisiatif mencium suaminya. Membuat Gerry terkejut. Namun beberapa detik kemudian, Gerry menekaan tengkuk leher istrinya, untuk memperdalam ciumannya. Jari lentik Shofia, perlahan membuka kancing baju suaminya. Hanya beberapa kancing, lalu tangannya masuk menyentuh d**a suaminya. Merabanya merasakan sensasi luar biasa yang ia rasakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN