Sebulan berlalu, sebab semangat Gerry, ia kini sudah bisa membaca huruf hijaiyah bersambung. Ia sudah sampai jilid empat.
Setiap ada kesempatan Gerry selalu mengulang-mengulangnya lagi. Ia benar-benar membuktikan kepada istrinya. Ia ingin berubah.
Perubahan Gerry pun tak lepas dari pengamatan orang tuanya. Saking bahagianya Shofia diberi hadiah sebuah mobil mewah.
Sore itu Shofia duduk di balkon kamar tidurnya, ia menimang-nimang kunci mobil tersebut. Awalnya ia menolak hadiah dari ayah mertuanya. Namun Gerry memaksa untuk menerimanya.
Tiiin...
Terdengar sebuah klakson mobil, seketika itu Shofia tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum saat mobil yang memasuki pintu gerbang adalah mobil suaminya.
Shofia berlari cepat masuk ke kamarnya, lalu keluar menuju lantai dasar.
Ia berdiri di ambang pintu, menyambut kepulangan suaminya dari kampus.
Shofia merentangkan tangan, berharap Gerry akan memeluknya. Entahlah, rasanya Shofia sedang ingin bermanja-manja dengan suaminya.
Gerry yang melihat senyum lebar istrinya pun, ia langsung masuk ke dalam pelukan sang istri.
Mencium aroma shampoo yang tercium dari luar jilbabnya. "Tumben istriku Sayang, udah wangi aja," puji Gerry,
Reflek saja Shofia mencubit pinggang suaminya, "Ish malah nyubit," protes Gerry.
"Habis, biasanya aku juga wangi 'kan, Mas?" jawab Shofia, dengan bibir yang manyun.
"Iyah-iya Sayangkuuu," jawab Gerry, ia mencium hidung istrinya. Membuat yang dicium malah merasa geli, sebab hidungnya jadi terasa basah karna kena ludah suaminya.
"Mas, Jalan-jalan sore, yuk?" ajak Shofia, manja. Ia mengelus lembut pipi suaminya. Gerry tersenyum, memang ada yang beda dari istrinya, namun Gerry menyukainya.
"Baiklah tuan putri, kemana pun kau pergi, aku ikut." jawab Gerry. Membuat Shofia tersenyum lebar, lalu ia mencium pipi suaminya. Membuat Gerry terkejut, sebab tidak biasanya istrinya agresif.
"Aku mau ganti baju dulu, ya Mas?" pamit Shofia, seharusnya Gerry yang sudah mau izin untuk ganti pakaian dan bersiap-siap, malah kedahuluan istrinya. Ia pun tersenyum, melihat istrinya yang melangkah semakin menjauh.
***
Keduanya sudah duduk di dalam mobil, tanpa tahu tujuan kemana mereka akan pergi, "Mau kemana, Sayang?" tanya Gerry, lembut. Karna istrinya belum menentukan pilihan sejak setengah jam yang lalu.
Shofia pun meringis, ia juga bingung. Yang jelas ia rasanya ingin melihat matahari tenggelam di pesisir pantai.
"Pantai," jawabnya, singkat. Gerry mengerutkan kening. Lalu ia pun tersenyum, demi istri tercinta meskipun badan lagi capek, ia pun menurutinya. Kemana istrinya akan pergi.
Gerry memutar music, slow rock menjadi teman dalam perjalanan dadakan ke pantai.
Dalam perjalanan Shofia terus bersenandung ringan, sekali-kali Gerry mengelus puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab. Kebahagiaan Shofia, menular ke Gerry. Bukankah bahagianya istri juga bahagianya suami?
"Sayang, kita nginap ya?" ucap Shofia, mendengar panggilan 'sayang' yang tak biasa membuat Gerry merasa deg-degan.
"Iya, Sayang," jawab Gerry akhirnya, setelah cukup lama diam.
Shofia semakin bahagia, Gerry merasa istrinya berbeda, namun membuatnya sangat menyukainya.
Shofia menatap keluar jendela, melihat pedagang tahu bulat yang menggunakan mobil untuk keliling, "Mas, Mas.. Berhenti... " pintanya.
Membuat Gerry mengerem mendadak, Ia pun menoleh ke istrinya. "Ada apa, Sayang?" tanya Gerry.
"Hmm, itu. Aku mau tahu bulat," ucapnya. Ia meringis menampakkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
Gerry pun tanpa protes mengangguk. "Ya, Sayang. Kamu di sini, biar aku yang beliin." pintar Gerry,
Shofia menggeleng, ia tak setuju. Lalu tiba-tiba Shofia tersenyum, "Aku mau kamu yang goreng tahunya untukku," pintanya, manja.
Gerry terkejut, hingga ia pun melotot. "Hm, tapi.. " ia ingin protes, namun melihat ekspresi perubahan istrinya membuat Gerry pun akhirnya mengangguk. "Baiklah, demi kamu, Sayang." ucap Gerry, manis sekali.
Beberapa menit berlalu, Gerry sudah duduk di kursi depan penggorengan, sedangkan Shofia terus saja mengoceh, "Ayo yang mau beli tahu bulat, di goreng sama orang ganteng," ucapnya. Malah membuat Gerry merasa malu dengan ucapan istrinya.
Ibu-ibu penjual tahu pun tersenyum, melihat tingkah gadis cantik yang terbalut jilbab phasmina warna peach tersebut.
"Sayang, udahan ya? masa' aku yang harus goreng tahu banyak-banyak," protes suaminya.
Shofia melirik suaminya tak suka, ia pun memanyunkan bibirnya, "Ya udah, aku gak mau bicara lagi sama, Mas." ancamnya.
"Aduuh, kok gitu sih, Sayang." ucap Gerry, ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Pokoknya aku mau, Mas Gerry yang jualin tahu ini sampai habis," ucap Shofia.
"Aduh neng geulis, sudah tak apa. Biar ibu aja yang jualan," ucap Ibu pemilik dagangan tersebut.
Shofia kembali menggeleng, "Gak mau, aku maunya suami aku yang jualan, " ucap Shofia, mirip anak kecil.
"Neng geulis lagi ngidam, ya?" tanya ibu pedagang.
Pertanyaan itu membuat Gerry dan Shofia terdiam, lalu reflek Gerry menatap perut tipis istrinya yang tertutup gamis, sedangkan Shofia reflek mengelus perutnya.
"Hmm, aku hamil ya?" gumam Shofia, bertanya kepada dirinya sendiri.
Mendengar kata 'hamil' membuat Gerry tersenyum lebar, ia tahu jadwal datang bulan istrinya. Dan sepertinya istrinya memang sudah terlambat datang bulan.
Gerry pun turun dari mobil pik up tersebut, lalu memeluk istrinya. "Hmm, semoga kamu memang benar-benar hamil ya, Sayang." ucapnya.
Gerry dan Shofia yang berpelukan di pinggir jalan dekat mobil penjual tahu bulat, pun tak lepas dari sorotan pengunjung taman tersebut.
Mereka belum sampai pantai, keduanya masih di taman. Sebab jalan menuju ke pantai melewati taman kota.
"Buk, berapa tahu bulatnya kalo di borong?" tanya Gerry, kemudian. Setelah ia melepas pelukannya.
Ibu pedagang itu pun tersenyum, lalu diam sejenak. "Hmm, paling gak sampai lima ratus ribu," jawab ibu tersebut,
Gerry pun mengambil dompetnya, lalu menyerahkan uang pecahan seratus ribuan sebanyak sepuluh lembar ke ibu penjual tahu bulat tersebut.
"Buat ibu ya, nanti tahunya di bagikan gratis ke pengunjung taman, aku mau pamit dulu, selamat sore. Wassalamu'alaikum, " pamit Gerry.
Tanpa menunggu jawaban dari ibu itu, Gerry langsung merangkul istrinya pergi menuju mobilnya.
Mobil warna putih milik istrinya yang mereka bawa.
Shofia sendiri ia hanya diam, menuruti langkah lebar Gerry.
"Mas, mau kemana?" tanya Shofia, sama dengan tadi. Ia masih bersikap manja.
"Ke dokter," jawab Gerry, singkat.
"Ish, aku gak mau. Aku maunya ke pantai," Shofia merajuk.
"Iya, habis ke dokter kita ke pantai, Sayang." bujuk Gerry,
Shofia menggeleng, "Gak mau aku maunya ke pantai," jawabnya manyun. Sampai matanya berkaca, ia ingin menangis.
"Duh, Sayang. Kok nangis. Cup-cup-cup, jangan nangis, iya sekarang kita ke pantai, ya?" ucap Gerry,
Senyum Shofia pun kembali mengembang, lalu ia memeluk suaminya, dan mendaratkan ciuman singkat di bibir suaminya.
Membuat Gerry gemas, jika tidak di dalam mobil. Mungkin ia sudah akan mengunyel-unyel istrinya sampai lemas, saking gemasnya.
Gerry membantu istrinya memakai seatbelt. Lalu dia memakai untuk dirinya sendiri, mesin mobil kembali di nyalakan. Mobil pun kembali melaju ke tujuan awal.
Shofia meraih plastik bening berisi tahu bulat, lalu ia menyuapkan ke mulut suaminya yang lagi fokus nyetir. "Enak'kan?" tanya Shofia,
Gerry yang baru pertama kali makan makanan di pinggir jalan pun ia diam sejenak, merasakan setiap makanan yang di kunyahnya. Lalu ia tersenyum, "Nggak buruk. Enak rasanya," ucap Gerry.
Shofia setuju apa yang di katakan suaminya ia pun kembali menyuapi suaminya. Lalu menyuapi untuk dirinya sendiri.
***
Pantai Anyer.
Sebenarnya dari jarak rumah mereka, pantai tersebut cukup jauh, tapi demi istri tersayang Gerry menurutinya. Alhasil mereka sampai pantai sudah gelap, jadi tidak bisa melihat matahari tenggelam.
Shofia diam, kesal dengan suaminya. Padahal bukan salah suaminya juga. Tapi maklum saja, mood Shofia memang lagi berubah-ubah.
Gerry sampai bingung, saat di villa, Shofia mengunci pintu kamarnya, tak mengizinkan suaminya masuk. Sebelumnya Gerry sudah menyewa villa di dekat pantai Anyer tersebut.