Belajar dari nol

1046 Kata
"Sayang, kamu yang di depan," suruh Gerry, otomatis Shofia menatap Gerry tak paham. "iya, kamu jadi imam. Jujur aja, aku gak tau bacaan shalat atau niat shalat sama sekali, lupa." cicitnya. Shofia menghela nafas panjang, ia harus sabar menghadapi suaminya ini. "Mas, laki-laki itu pemimpin, dimana-mana laki-laki yang jadi imam. Wanitanya sebagai makmumnya, seorang wanita boleh menjadi imam jika tak ada satu pun laki-laki atau jamaah shalatnya semuanya adalah wanita, maka di situlah seorang wanita boleh menjadi imam," terang Shofia dengan lembut dan penjelasan yang cukup mudah di pahami. Gerry mengangguk. "Hhmm, maaf aku gak tau," jawabnya jujur. "Mas Gerry bisa baca fatihah?" tanya Shofia. Gerry mengangguk, ragu. "Bisa, tapi tidak fasih," jawabnya. Shofia tersenyum lembut, menatap wajah suaminya. "Ya udah, mas Gerry sekarang jadi imam," suruh istrinya. "Hmm, gak tau niatnya, Sayang." ucap Gerry. "Tak perlu niat di lafadzkan, cukup baca niat dalam hati saja. Bismillah mas pasti bisa." Shofia memberi semangat. Gerry mengulas senyum, lalu ia pun mulai melakukan apa yang di katakan sang istrinya. Gerry sudah melepas anting-anting yang ada di telinga, namun menghapus tato masih butuh waktu. "Allaahu akbar," Gerry mengucap takbir dengan kedua tangan di angkat dan dengan mata terpejam, tak tahu bacaan shalat, ia hanya paham gerakannya. Sementara Shofia mengikuti gerakan suaminya. Selepas mengucap sallam, Gerry langsung menoleh ke istrinya. Jujur baru kali ini ia merasakan ketenangan dalam hatinya setelah shalat. Bahkan tak terasa ada bulir bening yang menetes dari matanya. "Mas, kenapa?" tanya Shofia, nampak khawatir. Gerry tak menjawab, ia langsung memeluk istrinya, menangis dalam pangkuan istrinya. Entah kenapa ia rasanya ingin menangis. Shofia membiarkan suaminya menangis dalam pangkuannya. Membelai lembut rambut kepala sang suami. Mungkin seperempat jam, Gerry menangis. Lalu Gerry duduk menatap wajah cantik sang istri. "Sayang, ajarin aku shalat." pintanya, ia mengusap lembut pipi basah sang istri yang juga ikut menangis. "aku merasa sangat berdosa, selama ini telah meninggalkan kewajibanku sebagai hamba-Nya." terangnya. Shofia mengangguk, ia merasa bahagia dengan apa yang di katakan suaminya, tak butuh waktu lama untuk membuat Gerry mau berubah. Shofia mengangguk, lalu ia memeluk suaminya. Keduanya menangis. *** Pillow talk Gerry duduk bersandar di papan ranjang, menoleh ke istrinya yang sedang menghadap layar laptop. Masih ada kerjaan yang harus di selesaikan untuk merekap nilai anak didiknya, yang sebentar lagi tes semester. Gerry menoleh ke istrinya, jenuh di abaikan. Ia memainkan angin dalam mulutnya, mau ngomong tapi bingung. "Kenapa, Mas?" tanya Shofia. Gerry tak menjawab, ia menoleh sambil mengulum senyumnya. Nampak banget wajah BT suaminya yang kelihatan imut-imut itu, tapi terkesan galak. "sebantar lagi aku selesai," lanjut Shofia. Jari lentik Shofia lihai menari di atas keyboard. Memasukan huruf demi huruf dan angka-angka random. "Done!" gumamnya ia segera mengeklik save. Ia menautkan kedua jarinya, lalu sedikit menekannya hingga terdengar bunyi 'kreek'. Merenggangkan otot tubuhnya yang kaku. Lalu mematikan laptop dan ia berdiri menaruh laptop di tempatnya. Gerry hanya diam memperhatikan keseriusan istrinya, saat memasukan laptop ke dalam tas. Mengecek isi dalam tasnya, memastikan charger juga mouse sudah masul dalam tas. Lalu ia segera menarik rets setelah di rasa aman. Lalu ia mengambil buku dan memasukan juga ke dalam tas lainnya. Merapikan dua tas dengan baik, dan ia segera masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lima menit, ia keluar dari kamar mandi dengan wajah basah. Lalu segera menghampiri suaminya yang sudah cukup lama menunggu di sebelah bed tadi ia duduk. "Sini," pinta Gerry. Shofia mengulas senyum seulas senyum Shofia, mampu menghilangkan sedikit kejenuhan yang tadi ia rasakan. Shofia duduk di sebelah Gerry. Gerry menarik pinggang istrinya untuk merapat kepadanya. "Sayang," panggil Gerry. Shofi menoleh menatap wajah tampan nan kelihatan galak sang suami. Gerry segera mendaratkan ciuman di kening istrinya. Shofia merem, ia menikmati benda dingin yang kenyal di keningnya. "Apa yang kamu rasakan tadi, Mas?" tanya Shofia. Setelah ciuman itu terlepas. Gerry merangkul istrinya, masih di posisi sama. Mereka duduk dengan bersandar headboard. Dengan tangan Gerry yang satu merangkul istrinya, sedangkan tangan lainnya menggenggam erat jemari sang istri. "Jujur, aku merasa lebih tenang," jawabnya. "Sayang, ajari aku lebih dekat dengan Tuhanku, aku ingin tetap menjadi suamimu di akhirat nanti, tidak hanya suami di dunia saja," ucap Gerry. "aku ingin hijrah, aku ingin menjadi lebih baik," lanjutnya. Shofia mengangguk antusias, merasa bahagia dengan apa yang dimau suaminya. "Semoga Allah, memudahkan keinginan Mas Gerry, aku juga sama. Ingin tetap menjadi istri dunia juga akhiratmu. Cintailah aku kerena Allah, Mas. Supaya kamu tidak sakit jika suatu saat nanti Allah mengambilku dari sisimu," segera Shofia memeluk Gerry dengan lembut, mencium punggung tangan sang suami penuh rasa ta'dzim. Dalam hati ia terus berucap syukur, semoga suaminya benar-benar siap hijrah untuk menjadi yang lebih baik lagi. *** Pagi menyapa Terbangun pukul 03.13 wib. Shofia segera beranjak dari kasurnya, menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Ia pun segera memakai pakaian asal dan melangkah menuju kamar mandi, untuk mandi hadats. Semalam setelah ngobrol panjang lebar lalu keduanya beribadah bersama, hingga malam larut. Gerry tak akan pernah melewatkan malam tanpa desahan. Gerry mengerjapkan mata, saat ia merasa tak ada sesuatu yang di peluk. Menutup mulutnya saat ia menguap. Kemudian ia tersenyum, ketika melihat istrinya keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya yang terbungkus handuk. Senyuman Gerry pun di balas Shofia dengan tulus. "Sayang, tungguin aku. Aku mau shalat juga," pintanya. Gerry segera bangun, dan ia beranjak ke kamar mandi, polosan. Membuat Shofia langsung mengalihkan pandangan, dengan bibir yang mengerucut. Dan itu tak lepas dari mata Gerry, ia pun terkekeh. Segera ia masuk ke kamar mandi, dan menutupnya rapat. Beberapa menit kemudian, keduanya sudah siap untuk mendirikan shalat. Tentu saja, Gerry akan bertanya tentang bacaan niat shalat tahajud sebelum mengerjakannya. Shofia sendiri, dengan sabar memberi sedikit pengertian untuk suaminya, niat tak harus di lafadzkan. Yang penting hatinya, niatkan karena Allah Ta'alaa. Selepas shalat, dzikir dan berdo'a. Gerry dengan semangat meminta istrinya untuk mengajarinya membaca al-Qur'an. Gerry yang belum paham baca pun, ia mengawali dengan belajar huruf hijaiyah terlebih dahulu. Dan tanpa malu Gerry nampak semangat untuk belajar. Bahkan tanpa malu ia bertanya tentang makhorijul huruf, ia memulai belajar dari nol. Dulu, ya dulu banget Gerry pernah belajar iqra'. Tapi itu sudah sangat lama, saat Gerry masih usia pra sekolah. Sebelum almarhumah mamanya sibuk dengan karirnya. "Udahan dulu, mas." ucap istrinya. Gerry manyun, ia benar-benar lagi semangat untuk belajar. Akhirnya Shofia manut, dengan catatan besok juga harus lebih semangat lagi. Tidak semangat di awalnya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN