Sama halnya Gerry, ia juga shock. Tiba-tiba ada gadis yang paling tidak ia sukai mencium dirinya, entah sengaja sebab ada Shofia yang di gandeng tangannya atau entahlah.
"Sa, Shofia! Tunggu!" panggil Gerry, saat gadisnya memilih pergi. Namun Shofia tak menghiraukan.
Bertepatan dengan Raffa yang baru saja datang, Shofia berpapasan dengannya. "Eh Bu Shofi, eh enaknya manggil apa, ya?" Raffa yang tidak tau keadaan tiba-tiba bergumam.
"Shofia saja." jawabnya. Raffa mengangguk, Lalu melempar senyum.
"Mau kemana?" tanya Raffa,
Shofia memaksakan senyum, lalu ia menjawab, "Mau nyari toilet," jawabnya asal.
Raffa tersenyum, keliatan sekali jika dirinya berdusta. Raffa pun berkata, "Ayok aku anterin, di sini rawan ada penjahat, apalagi liat cewek secantik kamu." ucapnya, sengaja menggoda.
Bukannya kegenitan, Shofia itu jarang ngobrol sama laki-laki dia juga cukup polos, makanya ia manut saja saat di tawari Raffa.
Beberapa menit kemudian, Raffa dan Shofia sudah duduk di bawah payung besar. Berbaur dengan crew lainnya, menatap suaminya yang sedang bergaya di depan kamera.
Gerry yang melihat istrinya duduk dengan Raffa ia pun merasa lega. Ternyata istrinya baik-baik saja, tadi Raffa juga sudah berkirim pesan, jika istrinya bersamanya dan meminta Gerry fokus dengan pemotrettannya biar cepat selesai.
"TIDAK! saya tidak mau!" teriak Gerry tiba-tiba. Entah apa yang terjadi, yang jelas semua mata tertuju padanya.
"Ayolah Gerry, kau harus profesional. Dan memang kali ini pemotrettan harus ada pasangannya!" ucap sang sutradara.
"Bapak'kan tahu, aku paling anti di dekati perempuan!" Gerry tak mau kalah.
"Coba saja dulu," pinta sang sutradara.
Gerry memejamkan mata, sungguh ia lelah dan tak ingin berdebat.
"Saya ke sana dulu, ya. Hmm.. perlu kamu tahu, dari dulu Gerry paling anti di dekati perempuan dan kamulah yang pertama baginya," terang Raffa, sebelum akhirnya ia beranjak pergi.
Mendengar keterangan Raffa, membuat hati Shofia terasa menghangat. Berharap semoga yang di ucapkan Raffa adalah kenyataan.
"Stop! Lebih baik kontrak batal, daripada gue harus berfoto dengan seorang wanita, dari awal gue sudah tegaskan, jangan libatkan wanita di setiap ambil gambar gue!" tegasnya.
Clarissa dengan percaya diri berkata, "Oke! tapi kamu harus bayar denda satu milyar untuk membatalkan kontraknya," sahutnya, ia tidak tahu sekaya apa Gerry, jadi ia merasa di atas angin.
"Deal!" jawab Gerry. Tanpa pikir panjang, "pak kirim nomor rekening perusahaan, gue bayar denda dan kontrak berakhir," pintanya. Bagi seorang Gerry, yang merupakan pewaris tunggal uang satu milyar ibarat seratus ribu, tidak ada apa-apa baginya.
"Eh eh, kok gitu. Selain denda kamu juga bakal kena hukuman kurungan penjara, karna memutuskan kontrak seenaknya!" ancam Clarissa.
"Itu lebih baik, daripada gue nyakitin perasaan orang yang sangat gue cintai," gumamnya, tatapannya tertuju ke Shofia yang juga sedang menatapnya,
"Ada apa?" tanya Raffa, yang datang menengahi perdebatan mereka.
Gerry menoleh ke Raffa, "Transfer satu M ke rekening perusahaan," pintanya.
"Oke!" jawab Raffa, enteng.
Gerry memilih pergi, tak hiraukan pangiilan sang sutradara dan wanita berambut pirang tersebut. Nampak wajah kebingungan sang sutradara, di sisi lain Gerry adalah model yang sedang naik daun, namun di sisi lain Clarissa adalah putri sang produser.
Bagi Gerry, jika sudah memutuskan maka ya sudah. Ia tidak akan tergoyah jika misal di minta untuk kembali. Justru Gerry tahu, kepergiannya akan merugikan perusahaannya.
"Sayang, pulang yok." ajak Gerry. Shofia menatap intens mata Gerry. Gerry sendiri emosinya nampak reda setelah melihat istrinya.
Tanpa kata Shofia berdiri dari tempat duduknya, lalu Gerry menarik tubuh mungil istrinya ke dalam dekappannya. "Jangan tinggalin aku, aku gak bisa hidup tanpamu," ucapnya tiba-tiba. Membuat yang di peluk tak paham, tapi ia membiarkan suaminya memeluk dirinya.
Tidak jauh dari mereka berpelukan, tatapan nyalang wanita berambut pirang tersebut seakan ingin membunuhnya. "Itukah wanita yang kau cintai, Gerry? tunggu saja wanita itu akan aku singkirkan." gumamnya, penuh kebencian.
***
Makan malam berdua.
Sengaja ayahnya nginap di apartemen, supaya Gerry lebih bebas dengan Shofia. Sedangkan seorang ART sudah menyiapkan makan malam spesial untuk putra putri sang majikannya.
Shofia heran saat Gerry seakan meratukan dirinya, bahagia juga yang di rasakan Shofia. Gerry yang awalnya cuek dan kadang galak jika bicara dengannya, kini berubah jadi lembut dan perhatian.
"Kenapa?" tanya Gerry heran, saat istrinya menatap dirinya.
Shofia membuang muka, entah apa yang ia rasakan. Kenapa suami berondongnya nampak imut sekali. "ish, malah bulshing," ledek Gerry.
"Ish mas Gerry kok gitu," kesalnya dengan bibir mengerucut, ia ingin tersenyum tapi ia tahan, gengsi sih.
"Baru sadar ya, suamimu ganteng dan imut-imut," sahut Gerry dengan PD-nya menyatakan.
"Hmm," jawab Shofia, merasa jengah. Shofia menoleh ke samping, malu banget di tatap suaminya.
"Mo makan sekarang?" tanya Gerry, keduanya dari tadi memang lagi di ruang makan, duduk di kursi meja makan.
"Nggak! tahun depan aja," ketus Shofia. Membuat Gerry gemas, ia pun mencapit hidung sang istri dengan gemasnya.
"Ish, istri Bang Gerry ngambek, unyu banget!" sengaja Gerry menggodanya.
Menambah Shofia jadi salah tingkah. Tak pernah terpikirkan olehnya, jika ia harus bersuami dengan laki-laki berondong.
Keduanya pun akhirnya mulai makan malam. Sebelum makan yang sesungguhnya di mulai. Hehehehe.
"Duduk sini," Gerry memberi interuksi. Kini keduanya ada di balkon depan kamarnya, menatap langit yang berselimutkan kegelapan. Malam yang sangat cerah, secerah hati Gerry. Apalagi saat ia memutuskan kontrak pemotretan, membuat dirinya merasa lega, entah kenapa. Namun kenyataannya setelah ia membayar denda dan ia sudah tidak ada kontrak lagi ia merasa bebas sekarang.
"Shalat isya dulu, mas." ajak Shofia. Seburuk orang di masa lalunya, jika ia menemukan seseorang yang dia cintai, maka ia pun akan bisa berubah jika dirinya berniat merubahnya. Ragu Gerry mengangguk, jujur saja Gerry itu tidak pernah shalat, tidak tahu bacaan shalat. Ia hanya bisa gerakannya saja. Kurangnya perhatian membuat dirinya seakan bebas melakukan apa saja.
"Ish mas, kenapa nyentuh aku. Aku sudah wudlu," protes istrinya. Mana Gerry tahu jika bersentuan dengan istrinya membatalkan wudlu.
"Laah kenapa kita'kan suami istri?" Gerry balik bertanya.
Shofia menghembuskan nafas, "Ya kita suami istri, namun bersentuhan tetap batal," jawab Shofia.
"Tapi kita lebih dari bersentuhan halal, kok cuma nyentuh dikit, bisa membatalkan wudlu?" tanya Gerry. Shofia memejamkan mata, jika dulu ia berkeinginan memiliki suami yang bisa membimbingnya, kini ia harus bisa merubah suaminya untuk menjadi lebih baik, dan kelak menjadi imam yang baik untuk keluarga kecilnya.
"Ya sudah mas, mas ambil wudlu dulu. Aku belakangan, ntar habis shalat aku jelasin." jawabnya.
Gerry mengulum senyumnya, lalu ia mengangguk, manut.