"Jadi lu udah nikah siri?" tanya Gerry dengan wajah terkejutnya. Dengan santai Raffa mengangguk, lalu ia meringis. Menampakan gigi gingsul yang terlihat manis. "kapan lu nikah?" tanya Gerry lagi.
"Kemarin sore, anjirr. Gegara gue ke-GEP. Padahal gak sengaja jatuh terus menimpa tubuh Mellisa, eh malah ketahuan warga dan kami sempat di arak. Akhirnya dinikahkan siri. Oom Adrian kesal, 'kan Mellisa emang agak susah di atur, makanya Oom Adrian minta gue nikahin putrinya," terangnya panjang.
Gerry tersenyum, "Mungkin itu ya, yang dinamakan jodoh," ucap Gerry. Raffa sendiri ia hanya mencebikkan bibirnya. Bahagia juga sih, sebab cinta pertamanya kini telah menjadi istrinya. Masih kelas sebelas SMA, eelaah.
"Bukannya si Mellisa sekolah? lu ajak bolos?" tanya Gerry, Raffa hanya meringis. Membuat Gerry menatap Raffa dengan tatapan menyelidik.
"Ya kali, Mellisa sekolah dengan jalannya ngangkang kek pinguin. Bisa ketahuan dia baru gue bobol," batin Raffa.
Memilih tak menanggapi, ia pun segera berdiri beranjak dari tempat duduknya, menuju dapur ambil minuman dingin dalam kulkas.
Beberapa menit kemudian, ia kembali duduk di sebelah Gerry. "Lu gimana? udah bercocok tanam setiap malam kira-kira tuh kecebong bakal jadi berudu gak?" tanya Raffa dengan candaan, mengalihkan perhatian. Gerry melirikkan matanya, lalu menabok keras kepala Raffa, "anjiing!!" reflek Raffa mengumpat. Ia mengelus kepalanya yang jadi terasa panas.
"Bangke! Lu kira gue kodok?" kesal Gerry, melotot ke arah Raffa. Yang di tatap cengengesan.
"Lu enak ya, udah bebas mo bikin dedek emesh, laah gue. Semalam gue ngerayu ampe sejam lebih, belum lagi harus pake pengaman sebab gak siap hamil." curhatnya.
"Ya bener sih, dia 'kan masih sekolah. Wajar kalo gak mau hamil dulu." Gerry membela.
Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga, reflek saja keduanya menoleh. Mellisa hanya memakai bathrobe dan juga handuk yang melilit di rambut kepalanya yang basah. Ia turun dari kamarnya yang ada di lantai atas.
Gadis cantik dengan tinggi semampai, wajahnya imut kek gak ada tampang nakalnya. Tapi dia itu badgirl. Sukanya merusuh di sekolah. Di juluki ratu bar-bar.
Melihat ada orang lain selain suaminya, Mellisa segera berbalik dan kembali naik ke atas.
"Ish, dasar lu setan! bikin bini gue jadi balik lagi," kesal Raffa.
Gerry menatap Raffa tak suka,
"Dahlah, gue balik aja. Mending gue nyamperin bini," ucapnya. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, beneran kesal dia.
"Woy, pemotretan jam dua di pantai, jan lupa." Raffa mengingatkan.
Gerry mengangguk malas. "Iya, gue ajak bini gue 'ntar, biar tahu kehidupan gue." katanya.
"Bini lu alim banget, lu nya preman. Anjirr!" Ledeknya. "padahal jodoh itu cerminan diri lhoo ya, gue kok jadi ragu." tutur Raffa lagi.
"Ragu kenapa?" tanya Gerry.
"Gue sih berharap lu bakal langgeng sampai kakek nenek, tapi kok gue ragu, lu bakal berpisah, eh jan marah lhoo ya." jujur Raffa, Gerry tak menanggapinya, ia menarik handle pintu, lalu ia membukanya dan keluar dari unit apartemen Raffa.
Memilih pergi dari apartemen Raffa, perkataan Raffa terngiang jelas di telinganya.
Ya ada benernya juga, apa yang di katakannya.
Gerry memencet remote mobil, lalu ia menarik pintu mobil tersebut, masuk ke dalamnya. Ia menarik nafasnya dalam. Mencoba menetralkan pikirannya. Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar. Menandakan ada pesan singkat yang masuk.
Ia tersenyum saat tahu, jika itu dari istrinya. Istrinya mengabari jika sekolah pulang lebih cepat, sebab ada orang tua wakil kepala sekolah yang meninggal dunia pagi tadi, dan mereka akan takziah. Karena jaraknya yang lumayan jauh, dan Shofia memang jarang bepergian, ia tidak ikut. Dan meminta suaminya menjemput dirinya.
Gerry menyalakan mesin mobilnya, lalu ia keluar dari area parkir apartemen. Tujuannya kembali ke sekolah istrinya.
Jalan raya yang cukup macet, membuat Gerry harus sampai di sekolah sang istri setelah hampir satu jam.
Sampai di sekolah keadaan sekolah cukup sepi, ia pun keluar dari mobilnya. Mencari keberadaan istrinya. Ia tersenyum saat melihat istrinya sedang duduk di gazebo sebelah parkiran khusus guru. Shofia sedang berbincang dengan dua muridnya, yang satu laki-laki yang satu perempuan. Tapi keduanya sangat mirip.
Ia pun menghampiri istrinya, "Sayang." panggilnya tanpa canggung lagi. Shofia menoleh, menatap suara yang tentu ia kenal.
"Mas Gerry, kamu sudah sampai?" tanya, Shofia. Yang tentu tak memerlukan jawaban, dua siswa itu pun menoleh kagum ke sesosok Gerry.
"Maaf, ya. Udah lama nunggunya? tadi kena macet." ucap Gerry. Shofia hanya mengangguk, tak masalah.
"Mas, ini muridku. Dia Gia dan Gio. Kembar." istrinya memperkenalkan kedua muridnya. Gerry tak menanggapi serius, ia hanya tersenyum. "Ya udah, yok kita pulang," ajak Gerry.
Shofia mengangguk, lalu ia menoleh ke Gia dan Gio. "Ibu pulang duluan, ya." pamitnya. Gio dan Gio mengangguk.
"Iya, Bu. Saya juga mau pulang. Udah di jemput supir." ucap Gia. Yang sepertinya lebih banyak bicara di banding Gio saudara kembarnya. Tangannya menunjuk ke sebuah mobil warna putih.
Gio dan Gia tadi sempat curhat ke Shofia, kata mereka sejak ayahnya naik jabatan, kini sering pergi-pergi keluar kota. Dan ibunya ikut juga, jadi Gio dan Gia hanya tinggal sama kakak tiri laki-lakinya, yang kini pun jarang di rumah, sebab lebih memilih tinggal di apartemen.
Shofia merasa prihatin juga dengan keduanya, apalagi Gio sendiri sering sakit-sakitan. Keduanya kelas delapan. Harapan Gio ia ingin dekat dengan kakaknya, meskipun hanya kakak tiri.
"Mas, kasihan mereka. Masih kecil, tapi kurang perhatian dari kedua orang tuanya. Orang tuanya sibuk kerja." Shofia mengeluh.
Gerry menoleh ke samping, menatap istrinya lalu ia mengelus kepala istrinya yang tertutup jilbab.
"Sama kaya aku," jawab Gerry. Membuat Shofia menoleh ke suaminya, yang kini sudah fokus menyetir.
"Mas," panggil Shofia, Gerry hanya bisa mengulum senyumnya. Lalu ia menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Kamu mungkin awalnya tak aku inginkan, tapi sekarang kamu sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Berjanjilah, jangan pernah punya keinginan untuk pergi dariku." ungkap Gerry, lalu ia mencium tangan istrinya.
Tidak lama kemudian, mobil sport itu masuk ke gerbang tinggi dengan halaman rumah yang sangat luas.
Gerry membukakan pintu mobil untuk istrinya, lalu ia menggandeng tangan istrinya dengan lembut.
Langsung menuju pintu utama, masuk melewati ruang tamu. Lalu ia berpapasan dengan ART-nya yang sepertinya baru selesai mengepel lantai atas.
"Non Shofia dan Den Gerry sudah pulang?" tanya ART-nya sekedar basa basi.
Shofia tersenyum ramah, "Iya, Bik." jawab Shofia.
"Kalo begitu bibik masakin buat makan siang dulu ya, Non." ucap ART-nya. Gerry tak peduli, ia naik tangga begitu saja, tanpa mempedulikan istrinya yang sedang berbincang dengan ART-nya.
"Baik, Bik. Saya ke kamar dulu, habis itu saya bantu siapin juga." tutur Shofia. ART-nya hanya mengangguk, sebab ia sudah hapal dengan sikap Shofia, meskipun baru beberapa hari bertemu. Shofia sangat rajin, ramah dan pekerja keras.
Sampai di kamar, ia mendengar suara kran air, suaminya sedang berada di sana. Shofia menaruh tasnya, lalu ia melepas jilbab yang melekat di kepalanya, menaruhnya di keranjang khusus pakaian kotor. Membuka walk in closet, mencari pakaian ganti. Dan menggantinya dengan pakaian rumahan.
Baru akan keluar dari kamar, suaminya jahil. Ia menabok p****t istrinya, membuat yang di tabok menoleh dan melotot. Gerry terkekeh melihat istrinya yang kini memasang tampang galak, namun sangat lucu di mata Gerry.
Tanpa merasa bersalah, Gerry keluar mendahului istrinya, semakin membuat Shofia kesal. "Ish nyebelin!" gerutunya.
Gerry sendiri, ia malah bersiul sambil menuruni anak tangga. Seakan tak pernah terjadi sesuatu. Membuat Shofia manyun.
Shofia masuk ke dapur, aroma sambel balado menyeruak di indera penciumannya. Membuat dirinya jadi bersin-bersin.
"Masak apa, Bik? haachiim!!" Shofia bersin, membuat hidungnya tiba-tiba mampet.
"Eh, maaf Non. Jadi bersin-bersin ya? ini bibik masak kesukaan den Gerry, balado terong dengan petai." jawab sang bibik.
Shofia mengerutkan kening, "Mas Gerry suka petai?" tanya Shofia. Bibiknya hanya mengangguk.
Shofia hanya tersenyum, ia juga suka tapi tidak terlalu. Suka kalau petainya di masak, jika buat lalapan ia nggak suka.
Keduanya pun asyik mengobrol sambil memasak. Mereka tak menyadari jika Gerry menguping obrolan mereka.
"Den Gerry itu dulu suka cerita, katanya mau menikahi kakak cantik yang sudah bantuin membuat origami. Itu sampai sekarang origami sama sisa kertas lipatnya masih di simpan di kotak. Sepertinya origami yang non Shofia buatkan bener-bener membuat hatinya terkesan. Sampai ia selalu memikirkan non Shofia," jelas bibiknya panjang lebar.
Ternyata sesuatu yang sepele dapat membuat hati Gerry terpatri. Hingga ia hanya ingin menikah dengan wanita yang pernah menolongnya.
Tepat pukul dua belas siang, makan siang sudah tersaji di meja makan. Gerry dan Shofia sudah siap duduk di bangku meja makan. Gerry lebih banyak senyumnya di bandingkan sebelumnya.
"Sayang, habis makan siang. Siap-siap ikut pemotretan ya. Aku ingin kamu tahu kehidupanku sebelum kamu datang menemaniku," pinta Gerry.
"Hmm iya, aku ikut saja, Mas." jawab Shofia. Membuat Gerry kembali melebarkan senyumnya.
Ia pun mulai makan dengan lahap.
Setelah makan siang, Shofia segera kembali ke kamarnya, mengambil air wudlu dan memilih shalat di dalam kamar seperti biasa.
***
Di sebuah parkiran pantai pasir putih. Gerry dan Shofia turun dari mobilnya. Keduanya melangkah menuju lokasi pemotretan. Di sana sudah banyak crew yang sibuk dengan masing-masing tugasnya. Shofia memelankan langkahnya, ia yang memang jarang berbaur dengan orang umum. Ia merasa gerogi dan tidak percaya diri.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gerry. Belum sempat menjawab, seorang wanita tiba-tiba menghampiri mereka. Bahkan tanpa permisi wanita itu bergelayut manja di lengan Gerry, dan lalu ia mencium pipi Gerry dengan mesranya. Shofia yang shock ia langsung melepas genggaman tangan sang suami.
"Beginikah kehidupanmu yang sesungguhnya yang akan kau tunjukkan padaku, mas?"