Sepucuk Surat

1057 Kata
Setengah jam kemudian, Shofia sudah sampai di halaman sekolahnya, mobil Gerry yang mencolok menjadi pusat perhatian. Shofia ingin turun dari mobil suaminya, setelah pamit dan mencium punggung tangan sang suami, namun Gerry masih mengunci pintu mobilnya. Shofia menoleh ke arah suaminya, sebab sadar suaminya sedang mengerjainya. "Mas, nanti aku terlambat lhoo," protes istrinya, tapi dengan nada yang lembut. Gerry tersenyum menatap mata teduh sang istri, "Ada yang kelupaan," ngomongnya, membuat Shofia mengerutkan dahi, ia tak paham. Gerry segera menarik kepala sang istri. Lalu mendaratkan ciuman di bibir, sedikit melumatnya lalu terakhir di kening istrinya. "Udah, sana masuk nanti kamu telat," suruhnya, membuat Shofia shock, dengan perlakuan suaminya. Ia lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, takut banget ada yang melihatnya, membuat Gerry menyunggingkan senyum. Padahal mobil suaminya tak tembus pandang jika di lihat dari luar, tapi entah kenapa Shofia merasa khawatir jika ada yang melihatnya. "Mas, aku pamit ya?" izinnya. Suaminya mengangguk, lalu ia membuka kuncian pintu mobilnya. Mobil dengan pintu terbuka ke atas itu, membuat semua yang melihat terkagum. Apalagi yang turun adalah guru yang menjadi favorite sebagian besar anak-anak didiknya. Seperti melihat bidadari turun dari mobil mewah, ya sih bidadarinya Gerry. Gerry menurunkan kaca mobilnya, lalu menongolkan kepalanya, "Sayang, nanti pulang jam berapa?" tanya Gerry, membuat yang di tanya salah tingkah. Pasalnya, itu mobil si Gerry ada tepat di halaman sekolah dan banyak murid-murid yang baru saja datang. Dengan sedikit gugup, Shofia menjawab. "Nanti aku kabari ya, Mas. Aku masuk dulu. Wassalamu'alaikum," ucap Shofia, buru-buru. Membuat Gerry semakin gemas dengan istrinya. Apalagi melihat pipi istrinya yang bulshing. Gerry memundurkan mobilnya, namun susah sih. Beneran ini anak-anak sedang memenuhi halaman sekolah untuk melihat mobil yang jarang sekali mereka liat, kecuali mereka melihat di film-film atau internet. Terpaksa Gerry diam saja, nyesel sudah membawa mobil itu sampai masuk ke halaman sekolah. Gerry pun meraih ponselnya, [Sayang, murid-muridmu kepo, aku gak bisa keluar mobilnya di kerumunin,] send Shofia Sayang. Ia mengeluh, mengirim pesan singkat ke nomor sang istri. Namun baru centang dua abu-abu. Menandakan sang istri belum membaca pesan singkatnya, notifnya masih belum online. Tak mungkin juga Gerry keluar dari mobilnya, lebih baik ia menunggu saja di dalam mobil sampai bel tanda masuk sekolah berbunyi, toh pagi ini free. Tak ada jadwal kuliah atau pun pemotretan. Tidak lama kemudian, bel tanda masuk sekolah berbunyi. Gerry menghela nafas lega. Kembali ia menatap layar ponselnya, ternyata sang istri belum juga membuka pesan darinya. Tidak mempedulikan itu, Gerry segera memundurkan mobilnya, lalu ia berbelok menuju gerbang. Keluar dari halaman sekolah sang istri. Memilih pergi menuju apartemen Raffa yang tidak jauh dari sekolah tempat ngajar sang istri. Suara mobil Gerry meraung, membaur menjadi satu dengan suara bising mobil lainnya di jalan raya. Cukup sepuluh menit, mobil Gerry memasuki halaman parkir apartemen. Setelah di rasa sesuai ia memarkirkan mobil. Gerry segera keluar dari mobilnya. Dengan santai ia masuk ke lobby apartemen sahabat baiknya. Tidak menghubungi Raffa lebih dulu, Gerry tahu Raffa juga free tak ada jadwal kuliah. Sudah di pastikan Raffa di apartemennya. Ia naik ke dalam lift, lalu memencet nomor 29. Unit apartemen Raffa ada di sana. Melangkah santai saat pintu besi itu terbuka. Apartemen di jam seperti saat ini sepi. Sebab ini adalah jam kantor, semua penghuni unit sibuk beraktivitas masing-masing. Berhenti di depan unit H332. Gerry memasukan sandi angka, tak lama kemudian pintu itu terbuka kuncinya. Gerry segera mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalamnya. Menelisik setiap sudut ruangannya, seperti ada yang beda. Lalu ia melihat sepatu seorang perempuan di rak sepatu. Menengok ke lantai atas, dimana itu adalah kamar Raffa. Gerry menaiki undakan tangga. Baru sampai di tengah tangga yang menuju kamar Raffa, namun ia dikejutkan dengan suara desahan yang cukup nyaring. Membuat Gerry bergidik ngeri, merasa risih tapi mendengar desahan yang masuk ke telingannya membuat dia juga pengen mendesah juga. Menatap pintu kamar Raffa yang ternyata sedikit terbuka. Pantas saja desahannya terdengar nyaring. Tak mau mengganggu aktivitas panas sahabatnya, Gerry segera turun menuruni anak tangga. Memilih menjatuhkan pantatnya di sofa depan ruang teve. Menyalakan teve dan memperbesar volume-nya. Tak ingin desahan sahabatnya memenuhi alat pendengarannya. Ini bukan kali pertama Raffa melakukan hubungan suami istri dengan wanita. Entahlah Gerry tak tahu kenapa sahabatnya mudah sekali menjalin hubungan dengan seorang wanita. Kelihatan saja nonton acara teve, nyatanya Gerry malah membuka sosmednya melalui gawainya. Mengabaikan desahan sahabatnya yang kadang-kadang masih terdengar di telinganya. Gerry berselancar ke dunia maya, lalu terbesit di benaknya untuk stalking akun sang istri. Memasukkan nama istrinya dalam pencarian. Dan ternyata nama istrinya langsung muncul, di baris ketiga. Dengan potho profil dirinya yang duduk menyamping, jadi wajahnya tak terlalu terlihat. Gerry tersenyum. Ia melebarkan mata saat ternyata akun dirinya sudah saling mem-follow akunnya. Melihat postingan sang istri yang followernya lumayan banyak. Di setiap postingannya selalu mengunggah murid-muridnya di sekolah ia mengajar. Dengan dibubuhi caption yang memotivasi. Lalu ada satu potho istrinya dengan di kelilingi murid-muridnya. Shofia sendiri sedang duduk fokus menatap layar laptop sedangkan murid-muridnya duduk mengelilinginya. Potho itu tertulis caption. "Kelilingilah dirimu dengan mereka yang membicarakan tentang ide dan masa depan, bukan mengenai orang lain" Gerry menyunggingkan senyumnya, Gerry pun merasa getaran ponsel yang ada di genggamannya. Nampak di layar bar istrinya mengirim pesan. [Maaf Mas, anak-anakku pada kagum sama mobil yang Mas bawa,] tulisnya dalam sebuah pesan chat, dengan di bubuhi emoc meringis. [hehehe, tak apa, Sayang. Aku sudah di apartemen Raffa sekarang] send Shofia Sayang. [Pulang jam berapa? Nanti aku jemput.] send Shofia Sayang, kembali Gerry mengirim pesan ke sang istri menanyakan kepulangannya. Namun notif ponsel istrinya sudah offline. Gerry kembali masuk ke aplikasi sosmednya, menscrool akun milik istrinya. Hingga tak menyadari jika Raffa ternyata sudah berdiri mengamatinya dari belakang, tersenyum lebar saat melihat Gerry yang seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta Ia senyum-senyum sendirian menatap akun sosmed sang istri. "Ekhem-ekhem!" Reflek Gerry menoleh saat mendengar seseorang berdehem. Menatap Raffa yang rambutnya acak-acakan, kelihatan banget jika dirinya habis nana nina. "Bangke lu! Kawinin anak orang kok hampir tiap hari!" maki Gerry, tak habis pikir dengan kelakuan Raffa. Raffa nyengir, lalu ia duduk di sebelah Gerry. Merangkul pundak sahabatnya lalu menatap Gerry dengan intens. "Anjing! Risih gue diliatin lu kek githu, bangke!" umpatnya lagi. Sambil memalingkan muka. Membuat Raffa terkekeh, lalu ia pun mengeluarkan sebuah surat di balik buku yang ada di tumpukan meja depan teve. Tanpa kata, Raffa hanya mengulurkan lembaran kertas putih tersebut. Gerry segera membukanya, matanya terbelalak saat membaca isi surat tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN