"Buka pakaianmu." "Ya?" "Kau tidak punya telinga?" "Aku-" "Atau ada yang tidak kau mengerti dari ucapanku?" Verena harusnya tidak terkejut, mengingat pria yang baru saja menikah denganya itu adalah pria yang bahkan tidak membiarkan satu malampun ranjangnya tanpa kehangatan wanita. Menelan ludah susah payah, Verena menatap pria yang tampak tenang bersandar di kepala ranjang dengan bathrobe longgar tanpa apapun dibaliknya. "Aku mengerti." Verena menarik nafasnya dalam dalam, jemarinya yang gemetar tanpa ia sadari mulai membuka kancing piyama biru gelap yang membungkus tubuhnya. Verena mungkin bukan lagi remaja polos yang akan memerah karna melakukan hal seperti ini pertama kali, tapi tatapan tajam pria yang tidak menunjukkan emosi berarti diwajah tampan itu membuat

