** Dia disana, menatap dengan tatapan kosong kearah jemari jemari lentik yang sejak tadi terus begetar dengan hebat. Seolah kehilangan dirinya, membiarkan butiran kristall itu berjatuhan dipipi pucatnya dengan belasan pasang mata yang hanya mampu menatapnya dengan tatapan nanar. Menghela nafas panjang, melangkah pelan menghampiri gadis kesayangannya itu dan berlutut tepat dihadapannya. "Akira.." Ia tidak bergeming, masih menatap jemarinya yang kini berada dalam genggaman jemari jemari panjang itu. "Hei, tidak apa apa." Mata keemasan itu, kembali berembun. Meremas rongga dadanya hingga ia kesulitan bernafas melihat orang yang dicintainya seperti ini. "Aku, karna aku-" Mengecup bibir yang masih bergetar itu dengan pelan, membungkam omong kosong yang jelas akan memb

