Rumah Sakit Jiwa

1094 Kata
Eva masih sigap menjaga korban yang bernama Zazah, ia begitu kasihan kepada wanita ini, ia tak yakin wanita ini selamat. Melihat luka tusuk dalam perutnya cukup dalam. Eva memperhatikannya, wanita ini. Begitu malang nasibnya, ditinggalkan suaminya dan kini kehilangan bayinya. Ia menjadi kesal dengan pelaku penusukan ini. Gadis itu berjanji bila mengetahui siapa pelakunya, Ia membalas semua rasa sakit dari seluruh wanita hamil ini. Duar. Terdengar suara ledakan, namun hanya Eva yang mendengar suara ledakan itu. Gadis itu waspada, ia yakin ini sebuah pancingan untuk membuatnya meninggalkan korban. Gadis itu tak berpengaruh sama sekali. Tok Tok Tok. Suara pintu di ketuk dari luar, namun lagi-lagi gadis itu tak menghiraukannya. Gadis itu, tak takut jika hanya gangguan kecil seperti ini, tak ada yang hal yang paling ditakutkan selain kematian. Cklek. Suara pintu di buka tutup, mempermainkan Eva. Namun gadis itu, tetep tak mau peduli, "Sudah jangan main-main lagi, kalau berani keluar kamu!" seru gadis tersebut, sambil melihat majalah yang ia baca. Perlahan keluarlah, seorang anak kecil yang berusia sekitar 50'an yang keluar dari balik pintu, anak laki-laki hantu itu, tersenyum melihat Eva. "Kakak tau aku," ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. "Tau lah, anak nakal kaya kamu, mana bisa aku lupa," guman gadis itu. "Selama ini, kakak bisa melihat aku?" "Bisa, melihat kamu yang selalu jail sama hantu lain." Anak hantu itu, tersenyum lagi tak mengira bisa bertemu dengan manusia yang bisa melihatnya. Selama ini ia hanya bermain-main dengan hantu, tak ada manusia yang bisa melihatnya. Jika ada pun, mereka menghindar tak ingin mendekatinya karna, wajah anak itu begitu menyeramkan penuh luka bakar si seluruh tubuhnya dan terutama wajahnya. "Kakak tidak takut sama aku?" "Takut kenapa?" "Kan, mereka bilang wajah aku menyeramkan, hantu-hantu di sini tak mau mendekati aku," ucapnya lirih. "Wajah kamu tak begitu serem, ada yang lebih serem dari kamu," ucapnya sambil tersenyum. Anak hantu itu menangis, merasa terharu baru kali ini, ada seseorang yang tak takut kepadanya, "Kakak mau menjadi teman aku," tanyanya memohon. "Bagaimana mana yah?" goda gadis itu sambil tersenyum. "Aku mengerti kok, kalau kakak tak mau berteman denganku, semua hantu di sini juga tak mau berteman denganku." "Kalau aku berteman denganmu, kamu harus mau kembali ke Nirvana." "Aku mau pulang ke sana, tapi ada sesuatu yang membuat aku tak bisa pulang!" "Apa itu?" tanya Eva menatapnya serius. "Abu jasad aku di jadikan persembahan untuk seseorang bernama Shaddaw. Dia membakar anak-anak lain seperti aku. Dan aku menjadi anak pertama untuk di jadikan persembahan." "Siapa Shaddaw itu?" "Aku tak tau kak, dia tak pernah memperlihatkan wajahnya, dia selalu memakai topeng dan berjubah hitam, semua persembahan itu mereka berikan kepada Lucifer, dan yang aku tau Shaddaw itu pemimpin mereka." Gadis itu berpikir sejenak, tentang kasus yang belum terungkap selama ini. Ia bertanya-tanya apakah semua ini ada hubungannya, "Oh iya siapa nama kamu?" "Aku Trial kak." "Aku boleh minta tolong tidak?" "Apa itu?" "Bisakah, kamu mengantarkanku ke markas Shaddaw." Anak hantu itu, mengelengkan kepalanya wajahnya terlihat ketakutan, "Tidak kak, aku tak mau ke tempat itu lagi. Aku tak mau menjadi santapan Lucifer." Gadis itu, semakin tertarik dengan mahluk bernama Shaddaw itu, ia juga ingin memulangkan anak tak berdosa itu untuk pulang ke Nirvana. Sudah cukup lama, ia berada di dunia manusia, gadis tersebut takut bila Trial menjadi Iblis seperti Lucifer. Di tempat lain, Bintang minta diantarkan ke korban ketiga yang selamat di rumah sakit jiwa, ia ingin melihat sendiri keadaan korban Siska ini. Sampai di rumah sakit, aura hitam menyelimuti tempat, tercium bau amis di mana-mana. Di rumah sakit jiwa ini, tak benar-benar gila, semua telah dirasuki mahluk-mahluk yang penasaran tak bisa pulang ke Nirvana karna, waktu mereka telah habis, mereka terombang-ambing di dunia manusia. Hanya Bintang dan Arcid yang datang ke rumah sakit Jiwa Bahagia ini, Vanila dan Afdhal sedang menyelidiki tugas lain atas perintah komandan Pratiwi. Bintang dan Arcid melihat banyak arwah yang hilir mudik tak jelas arah dan tujuan, begitu banyak, sampai tak jelas mana manusia mana arwah. "Pak, aku merasa ada yang aneh di sini?" tanya Arcid merasakan hal yang sama seperti Bintang. Bintang melirik Arcid, ia tak bisa berkata-kata, karna laki-laki tersebut juga bingung harus bagaimana? Mengatakan apa yang ia lihat? Duar. Suara ledakan pun muncul, Bintang dan Arcid segara mencari sumber suara itu, berasal. Tak ada apapun di sana, selain hantu-hantu yang ketakutan dengan sesuatu yang entah apa itu? Hingga seorang hantu wanita dengan penampilan cantik dengan tangan tak terpotong keduanya menghampiri mereka, "Kalian mencari dia yah," ucapnya ramah. Bintang dan Arcid mengganguk. "Kalian harus membawanya pergi dari sini, penghuni di sini takut dengan dia," ucapnya lagi. "Di mana dia?" tanya Bintang. "Kalian tadi sudah melewatinya, namun kalian tak tau itu dia," ucapnya lagi menghilang. Bintang mengerutkan keningnya, tak mengerti maksudnya, laki-laki itu pun melihat Arcid yang sudah bersiap duduk di lantai. Laki-laki tersebut begitu hafal mantra-mantra yang susah turun temurun dari keluarganya. Ia mulai bersiap membaca mantra-mantra yang terbuka di lantai tempatnya duduk tadi, bersama Bintang yang telah berdiri disampingnya. "Yang terlihat menjadi semakin terlihat, yang tak terlihat tunjukanlah," ucap Arcid membuka tabir pintu gaib yang telah menutupnya tadi. Mahluk itu pun muncul dengan menyeringai menertawakan Bintang dan Arcid. Mahluk itu, begitu kotor dan bau, wajah dan hatinya sama-sama kotor. Mahluk itu, begitu menjijikan, tak memiliki kekuatan khusus hanya, pintar berkamuflase. "Pak, mahluk ini biar saya yang hadapi, bapak cari Siska saja," ucap Arcid berlari mengejar mahluk itu. Bintang pun membuka setiap kamar, dengan kecepatannya berlari mencari wanita bernama Siska, namun sampai tiga kali mengitari rumah sakit tak ada keberadaan Siska. Ia pun terdiam, dan mulai konsentrasi. Laki-laki tersebut membuka mata indra ke tubuhnya, mencari wanita bernama Siska. Biasanya Bintang tak pernah memakai Indra ke tubuhnya ini, namun untuk kasus ini. Hampir semua memakai Kekuatan maksimalnya, karna mahluk yang mereka hadapi bukan mahluk sembarangan mahluk, mereka cukup licik dan cerdas untuk mengelabui setiap petugas keamanan seperti Bintang, Vanila, Arcid, Afdhal dan Eva. Mereka berlima bukan sembarang manusia yang mudah dihadapi. Mahluk itu dengan sengaja menantang kelima petugas keamanan ini. Para monster itu sengaja memancing-macing agar seluruh petugas keamanan melawan balik. Untunglah semua bisa menahan emosi. Seluruh petugas keamanan dari dunia ini dan juga dunia lain semuanya sudah dibekali ilmu bela diri dan juga senjata tajam ditambah mantra-mantra khusus yang akan melindungi mereka ketika mereka dalam bahaya. Seluruh tim akan siap menolong dan juga siaga dalam keadaan apa pun untuk mencegah agar tak banyak korban jiwa yang berjatuhan di mana-mana. Mereka harus benar-benar saling menjaga kerja sama antar tim. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN