Wanita Yang Terluka

1070 Kata
Laki-laki itu masih menjaga seorang gadis di depan UGD. Ia begitu khawatir dengan gadis yang tak kenalinya itu. "Bintang," panggil seseorang dari belakangnya. Laki-laki itu menoleh, terlihat wajah cemas terlihat di wajah Bintang. "Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Vanila ikut mengkhawatirkan wanita yang diselamatkan temanya ini. "Aku tak tau, hanya saja bayinya tak selamat," ucapnya sedih. Seseorang berpangkat Kapten menghampiri Bintang dan Vanila, "Selamat sore," sapanya ramah. "Oh iya, Bintang ini kapten kepala yang mengurus departemen keamanan di kepolisian wilayah ini," ucap Vanila. Bintang pun memberi hormat, "Sore kapten Erik," ucap Bintang. "Bagaimana kondisi wanita itu," tanyanya lagi. "Kritis," ucapnya sendu. "Kamu tau, siapa pelakunya?" "Aku tak tau, namun aku berpikir semua ini berhubungan dengan kasus yang sedang kami selidiki. Karna, pisau yang ia tusuk ke wanita itu, bukan pisau biasa yang digunakan manusia biasa," ucapnya serius. Kapten Erik terdiam, ia memikirkan sesuatu. Entah apa yang pria itu pikirkan sampai ia begitu serius memikirkan itu, 'Sentara, biar Eva yang menjaga wanita itu di sini. Kalian harus ikut dulu ke markas! Ada hal yang ingin aku katakan langsung kepada kalian," ucap Kapten Erik serius. Vanila dan Bintang mengangguk, setelah Eva datang untuk menjaganya wanita yang diselamatkan Bintang tadi. Bintang dan Eva berjalan mengikuti Kapten Erik yang berjalan terlebih dahulu. Tanpa sepengetahuan mereka seseorang memperhatikan mereka dari jauh. Mahluk itu, memiliki kemampuan yang tak bisa dideteksi oleh siapapun? Hanya Bintang, yang merasa ada yang memperhatikan mereka. Namun laki-laki tak yakin, karna tak terdeteksi oleh siapapun. Kapten Erik, Bintang dan Vanila memasuki mobil yang telah terparkir di parkiran, opsir polisi yang menyetir untuk membawa mereka ke markas besar kepolisian. Sampai di markas, Komandan Pratiwi telah menunggu kedatangan Bintang. "Saya, Pratiwi dari devisi keaman yang ditunjuk langsung boleh kapten Erik, sebagai pemimpin seluruh devisi di kepolisian pusat," ucapnya memperkenalkan diri. "Di sini, tak ada yang tau identitas kalian selain, saya, kapten Erik, Eva, Arcid dan Afdhal. Yang ditugaskan langsung oleh Jendral Marisa untuk membantu kalian untuk menuntaskan misi kalian," ucapnya lagi. "Apakah mahluk yang kita cari mengacau di dunia ini juga?" tanya Vanila serius. "Yah ada beberapa kasus yang tak bisa kami pecahkan sampai saat ini." "Contohnya." "Beberapa bulan ini, sudah ada banyak wanita hamil yang di serang secara mendadak seperti kasus wanita yang komandan Bintang selamatkan, wanita itu wanita ketujuh yang menjadi korban selama dua tahun terakhir ini." Bintang dan Vanila mengerutkan dahi mereka. Apalagi Bintang, laki-laki itu merasa kasihan kepada wanita hamil itu, yang tak hanya dia korban pembunuhan ini, "Apakah semua korban tewas," tanya Bintang serius. "Lima diantaranya tewas ditempat, satu berada di rumah sakit jiwa di bawah naungan kepolisian," jawab Komandan Pratiwi. "Sampai saat ini, belum di temukan siapa pelakunya," ucap Vanila serius. "Pelaku, selalu meninggalkan huruf-huruf ini sebagai tanda, kalau ia telah melakukan pembunuhan ini, secara sengaja." "Di mana huruf-huruf itu,?" tanya Vanila lagi. Komandan Pratiwi mengambil laptop-nya, ia membuka foto-foto korban yang di perut mereka terdapat huruf yang tak bisa dijelaskan. Komandan Pratiwi memperlihatkan korban pertama bernama, "Suci berusia 23 tahun, hamil anak pertama, wanita ini meninggal pada tanggal 15 Maret 2018 karna, luka tusuk di bagian perut, terdapat huruf S. Korban kedua bernama Elina berusia 25 tahun, hamil anak pertama, meninggal pada tanggal 15 Mei 2018 karna, luka tusuk bagian perut, terdapat huruf H Korban ketiga, yang gila ada di rumah sakit jiwa dalam pengawasan kepolisian, bernama Siska berusia 24 tahun, wanita ini hamil anak dia selamat dari kematian namun menjadi gila, di perutnya ada huruf A pada tanggal 15 Agustus 2018 ia ditemukan terluka parah di sekitar taman kota. Korban keempat bernama Fitria berusia 23 tahun, hamil anak pertama meninggal pada tanggal 15 Februari 2019, karna luka tusuk bagian perut, terdapat huruf D. Korban kelima, bernama Riani berusia 25 tahun, wanita ini hamil anak pertama, meninggal pada tanggal 15 April 2019 karna luka tusuk bagian perut, terdapat huruf D. Korban keenam bernama Vini, berusia 24 tahun, hamil anak pertama meninggal pada tanggal 15 Juli 2019, karna luka tusuk bagian perut, terdapat huruf A. Dan yang terakhir korban bernama Zazah berusia 23 tahun, ia ditemukan pada tanggal 15 Oktober 2019, saat di periksa terdapat huruf W dibagian perutnya," tutur Pratiwi menjelaskan. "Dari rentetan korban dari awal bila digabungkan menjadi sebuah kata, S.H.A.D.D.A.W," ucap Vanila merangkaikan huruf-huruf itu, menjadi sebuah kata. Wajah Kapten Erik seketika pucat mendengar kata itu di sebut, tak ada yang memperhatikannya. Hanya Bintang yang tak sengaja melihat kecemasan di wajahnya. Raut wajah Kapten Erik, membuat laki-laki itu, berpikir lain. Namun ia sudah mulai curiga kepadanya. Namun tetap saja harus diselediki lebih lanjut ia tak bisa asal menuduh tanpa ada bukti yang jelas. "Bintang," panggil Vanila membuyarkan lamunan Bintang yang sejak tadi melamun. Laki-laki itu pun menoleh ke arah Vanila, "Ada apa?" tanyanya menjadi pusat perhatian semua yang berada di ruangan itu. "Apakah kamu mengetahui sesuatu?" tanya Vanila serius. "Aku berpikir, setiap korban ditusuk pada tanggal 15, sekitar usia 23 sampai 25 tahun dengan kondisi yang sama hamil anak pertama, Apakah ini tak hanya sebuah kebetulan? Atau kah untuk memancing untuk kita bertindak," ucap Bintang serius. "Ucapanmu benar Pak, namun sampai sekarang pihak kepolisian belum menemukan pelaku yang sebenarnya," ucap Arcid memikirkan sesuatu. "Belum ditemukan atau sengaja disembunyikan orang dalam!" seru Bintang sambil melirik Kapten Erik. Membuat Kapten Erik berpaling. Pratiwi, Arcid, Afdhal dan Vanila mengikuti mata Bintang yang mengarah kepada Kapten Erik. Namun semua masih dugaan. Belum ada titik terang dalam kasus ini, pihak kepolisian masih buntu untuk memecahkan kasus ini. Namun tatapan Bintang masih memperhatikan Kapten Erik. Membuat pria itu, menjadi salah tingkah. Bintang tak menunduk pria itu. Ia hanya menduga semua ini ada hubungannya dengan orang dalam dari kepolisian sendiri. Karna, jika tidak tak akan sulit untuk menemukan pelaku pembunuh ini dengan sengaja. Namun semuanya ini masih harus diselidiki lebih lanjut. Laki-laki itu, tak pernah berpikir kalau Kapten Erik orang dalam itu, mungkin saja kebetulan saja. Walau Bintang tak yakin, Kapten Erik tak terlibat dengan semua kasus ini. Namun, firasat Laki-laki itu tak pernah salah. Walau harus diselidiki lebih lanjut. Entah kenapa ada sesuatu yang disembunyikan Kapten Erik yang membuat Bintang benar-benar mencurigainya. Pria itu tak mau bertatapan muka secara tak langsung. Tak hanya itu tingkahnya pun mencurigakan. Kali ini Bintang harus memperingatkan Vanila agar lebih hati-hati padanya. Tak hanya itu entah kenapa wajahnya begitu tak asing bagi Bintang. Rasanya pernah bertemu sebelumnya. Akan tetapi entah di mana itu? Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN