Canggung

1093 Kata
"AAAAAHHHHH!!!" Suara jeritan Rani mengejutkan Sherly yang sedang berada di gudang untuk mencari pakaian yang bagus untuk Rani. Dia lalu segera berlari menuju ruang tamu di mana terdengar keributan. Sherly kembali dikejutkan melihat Karma menjadi bulan-bulanan Rani yang hanya memakai handuk saja. Rani terus saja memukul Karma dengan kemoceng yang dia dapat sembari mencaci maki habis-habisan Karma dengan mengatainya pria m***m. "Kakak, hentikan. Jangan pukul Daddy Sherly." pinta Sherly sambil melindungi pria itu dengan tubuhnya. Rani terpaku dan mencerna perkataan Sherly baik-baik. "Da, Daddy?" Rani memandang tak enak pada Karma yang mengkompres kepalanya dengan es batu akibat menerima beberapa pukulan dari Rani. "Terima kasih karena kau sudah mengantar putriku sudah pulang dan aku juga minta maaf atas insiden tadi, kupikir yang ada di kamar mandi itu adalah Sherly." tutur Karma dengan wajah datar. Tak ada sama sekali raut wajah kesakitan padahal umumnya orang-orang akan meringis kesakitan. "Aku juga minta maaf Paman karena sudah memukulmu tanpa bertanya dulu, gerakan spontan." balas Rani terkekeh walau masih ada rasa bersalah karena memukul pria itu. Jika saja tak ada insiden itu, mungkin saja Rani akan mengomel habis-habisan Karma mengingat kalau Karma sudah menelantarkan Sherly di terminal bus sendirian. Sherly datang menghampiri keduanya yang hanya diam saja. "Kakak, ayo makan malam dengan kami." pintanya. "Tidak usah, kakak sudah terlalu merepotkan Sherly dan Daddy Sherly, lebih baik kakak pulang hujan juga sudah mulai reda." Sherly cemberut mendengar perkataan Rani. Dia lalu menatap pada Karma meminta pembelaan. "Apa yang dikatakan oleh Sherly benar, makanlah bersama kami setelah itu kau bisa pulang kebetulan aku sudah memasak porsi yang cukup untuk kita bertiga." Sherly tersenyum puas dan memandang lagi pada Rani. Rani memandang "Haaahhh ... apa boleh buat," Sherly bersorak gembira dan menarik tangan Rani menuju meja makan di mana makanan telah siap disajikan. Sherly dengan antusias mengambilkan lauk pauk untuk Rani sambil berceloteh bahwa masakan Daddynya selalu enak. Karma memandang Sherly yang terlihat ceria. Baru pertama kali ini, Karma melihat Sherly akrab dengan orang asing apalagi perempuan padahal anaknya itu adalah seorang yang pemalu. Jarang sekali langsung menyukai orang walau beberapa kali bertemu. "Daddy, ayo ikut makan dengan kami." Karma menggumam menyahut perkataan Sherly dan berjalan menuju kamarnya. "Sherly," anak perempuan itu menoleh pada Rani yang memanggilnya. "Sepertinya Daddymu itu butuh dokter," "Dokter?" "Iya, apa kau tak heran melihat dia tak punya ekspresi begitu saat dia merawat lukanya, aneh tahu." "Mm, Sherly kurang tahu tapi dari dulu wajah Daddy memang begitu." "Kau tak merasa aneh?" Sherly mengelleng. "Mungkin karena Sherly sudah biasa ya hidup dengan Daddy jadi Sherly tak memusingkan hal itu, asal Daddy selalu sayang sama Sherly, Sherly tak keberatan kok." Percakapan keduanya terhenti saat Karma datang dan ikut makan bersama mereka. "Daddy, dari tadi kakak Rani memuji masakan Daddy loh," ucap Sherly. "Terima kasih, silakan kalau mau menambah tak usah malu-malu." Rani hanya tersenyum sungkan dan kembali menyantap makanannya yang ada di atas piring. Dering telepon smartphone Rani mengejutkan pemiliknya. Dia baru sadar, dia sudah lama di apartement Karma pasti Abangnya cemas. Dia buru-buru mengambil ponsel itu dan benar saja Abangnya yang sister complex itu menelponnya. "Halo," "Halo Rani, kau ada di mana sekarang? Ini sudah malam, tak baik seorang gadis sepertimu berkeliaran di jalanan." Rani membuang napas kasar mendengar perkataan Abangnya yang selalu mengkhawatirkannya. Dia sangat overprotective pada Rani sejak kecil sampai sekarang. Bagus kalau dia mengkhawatirkan Rani itu artinya dia kakak yang baik, hanya saja dia terlalu berlebihan dalam menjaga adiknya itu sampai Rani sendiri jengah dengan segala peraturan kakaknya itu. "Abang, aku..." "Cepat katakan di mana kau sekarang, Abang akan menjemputmu." Rani mengalah dan mengatakan alamat apartement Karma. Dia lalu menutup panggilan tersebut dan mengambil seragamnya yang masih basah dan barang-barang miliknya. "Kakak mau pulang?" Rani menatap sekilas pada Sherly dan mengangguk. "Dari tadi Abang kakak nelpon kakak, dia bilang mau jemput kakak." jawabnya sambil sibuk mengemasi barang-barang. "Kakak jangan pergi, menginap ya di sini kakak tidur dengan Sherly," pintanya dengan nada manja. Rani menatap pada Sherly dengan mata puppy eyesnya, "Sherly, bukannya kakak tak mau tapi kakak harus pulang ke rumah kakak besok juga kakak harus ke sekolah." "Tapi..." "Sherly," anak perempuan itu menoleh pada Karma. "Jangan memaksa sweety, kau juga harus mengerti dengan alasan kakak Rani, biarkan dia pulang ya." kata Karma membela Rani. Sherly menunduk sedih mendengar perkataan Karma yang harus dia turuti. Melihat raut wajah kesedihan dari anak berumur 5 tahun itu membuat Rani merasa bersalah. "Jangan sedih, kakak janji kalau kakak punya waktu, kakak pasti akan berkunjung di sini dan bermain sama Sherly." Sherly mengangkat wajahnya dengan senyuman menghiasi bibirnya. "Janji?" ucap Sherly sambil menghulurkan jari kelingkingnya. Rani tersenyum dan menautkan kelingkingnya. "Janji." Sherly tersenyum lebar. Setelah itu, Rani akhirnya pamit pada keduanya. Gadis itu memutuskan untuk menunggu saja kakaknya di loby dari pada menunggu di apartement Karma yang nantinya hanya akan menambah masalah. Malam pun semakin larut, Karma merapikan meja yang awalnya berantakan dengan buku-buku Sherly. Saat pria itu mengecek keadaan Sherly apa dia sudah tidur atau belum, pria itu nampak tertegun melihat Sherly masih menatap kearah jendela. "Sherly, kenapa kau belum tidur?" tanya Karma sambil menghampiri putrinya itu. "Belum ngantuk Daddy, sebentar lagi." jawab Sherly. "Besok kau masih sekolah, jadi kau harus tidur sekarang, sini Daddy rapikan rambutmu." Sherly dengan patuh menghampiri Karma yang sudah siap dengan sisir di tangannya. "Daddy, kakak Rani baik ya, cantik juga." komentar Sherly tiba-tiba. "Kau suka ya sama kakak Rani?" tanya Karma sambil terus melanjutkan kegiatannya. Sherly mengangguk cepat. "Kakak itu orangnya ramah dan perhatian sekali sama Sherly walau Sherly baru kenal sama kakak Rani. Dia rela hujan-hujanan hanya untuk mengantar Sherly pulang ke rumah." "Daddy," "Ya sweety," "Apa jika Mommy masih ada, apa dia akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Kakak Rani?" tanya Sherly dengan nada sendu. Karma diam beberapa saat tapi kemudian menjawab. "Ya, bahkan dia akan melakukan hal yang lebih." "Aku merindukan Mommy, Daddy." "Daddy juga." Sementara itu di tempat lain, Rani terus saja bersin. Beberapa kertas tisu yang sudah terpakai berhamburan di dekat gadis berusia 15 tahun itu. "Inilah yang Abang takutkan, gara-gara kau terobos hujan begini 'kan jadinya. Abang sudah bilang sama kamu kalau hujan telepon Abang nanti Abang jemput, apa susahnya." "Iya, iya aku salah." balas Rani tak tahan dengan omelan kakak laki-lakinya yang protective itu. "Besok, kau tak usah sekolah, kita akan ke rumah sakit." "Abang, im fine okay, tak usah ke rumah sakit segala." protes Rani. "Kau harus ikut ke rumah sakit besok, itu keputusan Abang kau tak boleh menolaknya." Rani menghela napas mendengar keputusan kakaknya. "Fine, aku akan ikut Abang." Kakaknya Rani tersenyum puas dan menepuk kepala gadis itu. "Good girl."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN