"Ma.. mau kedondong?" tanya cowok itu dengan amat gugup. Dan satu rekor terpecahkan oleh Nindy. Cewek itu mampu membuat Marvel, si cowok playboy SMA 911 gugup cuma dengan sebuah tatapan mata. So, beri tepuk tangan yang meriah untuk Nindy!
Mendengar tawaran itu, Nindy hanya menatap penuh kebingungan akan cowok itu. Bahkan tak cuma Nindy, semua siswa di kelas itu juga memandang Marvel dengan tatapan yang sama. Aneh aja, kok cowok playboy kelas kakap gitu, bisa dibuat mati gaya oleh cewek biasa model kayak Nindy sih?
Nawarin kedondong? Pertanyaan macam apa lagi ini? keluh Nindy dari dalam hati. Dan untuk kesekian kalinya, kelas ini berhasil membuat Nindy makin bingung. Cowok-cowoknya aneh ih! Kayak baru pertama kali lihat cewek cakep aja, sampe berebutan cari perhatian gitu.
Karena Nindy tak juga mengeluarkan suaranya, tak menolak atau pun menerima kedondong dari Marvel, akhirnya Bu Nidalah yang kembali angkat bicara. Mengomentari buah kedondong milik Marvel yang ia tahu betul kalau buah itu didapat dari pohon yang ada di sekolah ini.
"Ooooh... pantes aja pohon kedondong di depan sana nggak pernah ada buahnya. Ternyata buahnya diambilin Marvel mulu?!" ungkap Bu Nida sok tahu. Padahal mana pernah dia memperhatikan pohon itu ada buahnya apa nggak.
"Saya kan cuma ngejalanin perintah dari Pak Bimo, Bu!" Marvel mencoba mengelak, agar tak kena marah oleh Bu Nida. Padahal guru yang satu itu memang jarang banget marah.
"Lho? Perintah apaan? Jangan ngaco deh kamu!" tanya Bu Nida tak percaya.
"Lhaaa... yang waktu upacara kemaren, Bu! Masa Ibu lupa sih?" tanya Marvel. "Waktu itu kan Pak Bimo jadi pembina upacara tuh!? Nah... saya inget banget isi amanatnya tuh gini: 'kalian harus punya rasa memiliki terhadap sekolah! Anggap sekolah ini milik kalian, yang harus kalian rawat, kalian bersihkan, dan kalian jaga dengan baik,'" lanjut Marvel seraya menirukan gaya Pak Bimo dalam menyampaikan pidatonya ketika menjadi pembina upacara.
"Naaah, berhubung saya punya rasa memiliki yang aaamat sangat besar terhadap sekolah ini, jadi saya ambil deh tuh kedondong, Bu. Kan itu punya saya?! Saya nggak salah kan, Bu?" Marvel menjelaskan dengan lancar, karena Nindy telah mengalihkan pandangannya. Yang tadinya memandang Marvel. Kini kembali memandang berkeliling.
Dan dengan itu, hatinya kembali bekerja, otaknya juga kembali berfungsi dengan baik.
"Oooh.. gitu?" tanya Bu Nida mulai mengerti dan mencoba mengikuti alur permainan yang dimulai oleh anak didiknya itu. "Kalo memang begitu, kenapa nggak sekalian aja kursi sama meja kamu, atau sama papan tulisnya juga sekalian kamu bawa pulang?" tantang Bu Nida di akhir kalimatnya.
"Jangankan meja sama papan tulis, Bu...! Kalo laku mah, ini sekolah juga bakalan saya jual!" ujar Marvel, menjawab tantangan Bu Nida barusan. Dan jawaban itu berhasil membuat suasana kelas kembali ramai. Penuh dengan tawa para siswa di sana-sini, kecuali Nindy.
Ya, cewek baru itu! Marvel belum bisa menemukan secercah tawa di wajah cantik milik gadis itu.
Bu Nida yang kembali merasakan tidak kondusifnya ruangan itu, buru-buru menenangkan para siswa yang harusnya sudah memulai kegiatan belajar mengajar mereka. "Sudah! Sudah! Marvel, diam kamu!" pinta Bu Nida dengan disertai pelototan matanya.
Setelah itu, Bu Nida beralih pada siswa baru di sampingnya. Menghilangkan pelototannya, dan menggantinya dengan tatapan lembut khas seorang guru seperti yang biasa dilakukannya.
"Dan untuk Nindy, kamu bisa duduk di..." Guru muda itu berhenti sejenak, memandang berkeliling demi mencari tempat kosong yang nantinya akan ditempati oleh siswa barunya ini.
Namun sepertinya tempat kosong itu sudah tak tersedia bagi Nindy. Semua kursi dan meja yang ada di kelas itu telah terisi lengkap oleh semua siswa penghuni lama kelas tersebut. "Yaaah, kayaknya nggak ada tempat yang kosong ya, buat Nindy?" tanya Bu Nida pada mereka semua yang ada di dalam kelas itu.
"Ada kok, Bu!" Terdengar suara Leon yang menyahut.
"Oh ya? Di mana Leon?" tanya Bu Nida lagi. Kali ini khusus untuk Leon.
"Di hati saya, masih kosong Bu..." jawab cowok itu dengan disertai cengiran lebarnya. Bangga karena kini ia telah berhasil menemukan celah untuk dapat merayu Nindy, si cewek baru.
"Huuuu... gombal, gombal!" teriak cewek-cewek yang tak suka akan kelakuan Leon barusan.
Namun berbeda dengan Leon yang memanfaatkan celah itu hanya dengan rayuan, Marvel memilih untuk memanfaatkan celah itu dengan sebuah tindakan.
Tindakan murni dari dalam hatinya tanpa mengharap suatu imbalan apa pun. Entah kenapa, saat ini ia tak mengharapkan lagi hal-hal semacam itu.
Ia tak ingin dipandang sebagai pahlawan, ia tak ingin dianggap sebagai dewa penolong, ia tak punya rasa cemburu kalau harus melihat cewek itu duduk bersama Leon, bahkan ia pun merasa tak perlu mendapatkan ucapan terima kasih dari cewek itu.
Hanya satu hal yang saat ini ia pedulikan: cewek yang berdiri tersiksa karena tak mendapatkan tempat duduk. Sementara dirinya, berbahagia dengan kursi megah yang menjadi singgasananya. Dan hati kecilnya berteriak, ia harus bertindak!
"Nindy bisa kok, duduk di sini kalau dia mau!" ujar Marvel menawarkan bantuannya tidak langsung pada Nindy, melainkan lewat Bu Nida. Karena ia tahu, kalau ia menawarkan langsung pada Nindy, usaha itu pasti akan gagal. Sama seperti saat ia ingin bertanya tadi.
"Silakan! Saya bisa cari kursi yang baru," lanjut Marvel, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Mengambil tas dan barang-barangnya demi mengosongkan tempat itu.
Leon menatap Marvel dengan pandangan tak percaya. Sahabatnya ini, membiarkan dirinya duduk bersama Nindy-cewek yang ia tahu, telah membuat Marvel tertarik? Itu jelas, bukan Marvel banget!
Bukankah lebih masuk akal kalau dirinya saja yang diusir, agar cewek itu bisa duduk bersamanya? Tapi kok ini malah kebalik sih? Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada Marvel?
Bu Nida tentu tak langsung menyetujui tawaran Marvel itu. Terlebih dahulu ia tanyakan pada pihak yang bersangkutan, yaitu Nindynya sendiri. "Gimana Nindy, kamu mau duduk di situ?" tanya Bu Nida.
Nindy masih diam. Sepertinya ia perlu waktu untuk mempertimbangkan hal itu. Kalau dia setuju, berarti dia harus siap menerima berbagai rayuan maupun godaan dari cowok yang nanti duduk di sebelahnya, yaitu Leon. Tapi kalau nggak setuju, mau duduk di mana lagi dia?
Di tengah-tengah rasa bimbang yang menimpa Nindy itu, tiba-tiba Tara hadir sebagai obor penerang di tengah gelapnya kedua pilihan yang dimiliki Nindy. Cewek itu langsung maju dan menghampiri Nindy, bahkan tanpa izin dari Bu Nida terlebih dahulu.
"Nindy biar duduk sama saya aja, Bu!" ucap Tara yang langsung menggandeng tangan Nindy. "Biar Fian yang cari kursi baru," lanjutnya.
"HAH? Woy! Apa-apaan lo?" protes Fian, cowok yang duduk sebangku dengan Tara, yang terlihat nyaman sekali dengan posisi duduknya saat itu.
Jelas cowok itu tak setuju dengan keputusan Tara yang seenaknya itu. Keputusan yang diambil tanpa persetujuannya, apalagi keputusan itu jelas bakalan bikin rugi dirinya.
"Fian, kamu ngalah dong! Kasihan kan Nindynya. Masa dia harus duduk di situ? Di tengah kumpulan cowok nggak jelas model kayak Leon gitu?" bujuk Tara dari posisinya, yang kala itu tengah berada di depan papan tulis bersama Nindy juga Bu Nida.
"Ya... ya tapi kan..." ungkap Fian masih agak nggak rela.
Tara tak menyahut lagi. Yang kini ia lakukan hanyalah menatap tajam cowok yang tadi menentangnya itu. Tatapan yang tak henti-hentinya ia hunjamkan hingga cowok itu beranjak berdiri sambil membawa tas ranselnya.
"Ya udah! Gue bakal cari kursi baru!" kata Fian, walau dengan sangat terpaksa. "Lo boleh kok duduk di sini, Ndy!" lanjutnya, lalu berjalan keluar kelas untuk menghubungi pihak sekolah agar ia kembali mendapatkan tempat duduk di kelas itu.
Tara tersenyum ceria, penuh kemenangan. "Ayo, Ndy!" ajaknya, sambil menarik tangan cewek yang telah digandengnya itu.
Nindy segera menurut. Ia mengikuti langkah kaki Tara hingga menuju ke meja di barisan paling belakang dan langsung duduk di kursi kayu yang tadinya ditempati oleh seorang cowok bernama Fian.
"Gue Tara, semoga kita bisa jadi teman baik ya?!" Dengan ramah, Tara mulai memperkenalkan dirinya. Mengangkat tangan kanannya, agar dapat bersalaman dengan calon teman barunya ini.
Nindy tersenyum menanggapinya, menjabat tangan Tara, lalu berucap, "Nindy" seraya memperkenalkan nama untuk yang kedua kalinya. Tapi tentang harapan Tara barusan, jadi teman baik? Bukan itu yang Nindy harapkan. Bukan itu yang Nindy cari dari sekolah ini.
Sementara itu, yang terjadi pada Marvel, yang tawarannya secara nggak langsung 'ditolak' oleh si cewek cantik Nindy, cuma bisa mengembuskan napas kecewa. Kecewa karena ia tak berhasil menolong cewek itu ketika ia dalam kesulitan. Tapi biar bagaimana pun juga, dia tetap bisa menerima sisi positifnya.
Ia tak jadi kehilangan tempat duduk favoritnya ini.
***