Hari pertama Nindy sebagai siswa baru di kelas itu, ternyata biasa-biasa saja. Hanya duduk manis mendengarkan penjelasan Bu Nida selaku guru Fisika selama dua jam berturut-turut. Duduk di kursi yang dulunya menjadi milik Fian.
Ya, Fian. Cowok itu kini (terpaksa) berpindah posisi. Duduk sendirian di belakang meja yang ditempati oleh Nindy dan Tara. Nindy tahu pasti dan dapat merasakan kalau hingga saat ini Fian masih tak rela atas perampasan yang dilakukan Nindy terhadap aset berharganya.
Walaupun sebenarnya itu bukan sepenuhnya salah Nindy, namun cewek itu bertekad untuk meminta maaf dan kalau perlu, ia siap kok bertukar tempat dengan cowok itu.
Mengingat tujuannya masuk sekolah adalah hanya untuk mencari ilmu, nggak lebih. Bukan buat cari teman atau pun cari pacar, jadi posisi Fian saat ini mungkin lebih strategis untuknya.
Ditambah lagi dengan sikap Tara yang ternyata doyan banget ngomong, membuat Nindy agak nggak betah juga dengan posisinya sekarang ini. Bayangin aja, saat Nindy benar-benar ingin berkonsentrasi dengan pelajaran yang disampaikan Bu Nida pagi ini, si Tara malah nggak henti-hentinya ngajakin dia ngobrol.
Mulai dari nanyain gimana sekolahnya yang dulu, mendebat setiap kalimat yang diucapkan Bu Nida, ngegosipin orang-orang yang Nindy sendiri pun nggak tau siapa mereka, dan masih banyak yang lainnya.
Sebenarnya Nindy agak bingung juga sih, perasaan mereka baru kenalan pagi ini deh. Tapi kok si Tara udah kayak ngenal dia lamaaaa banget gitu ya? Sampe enteng banget nyeritain segala hal ke Nindy, yang pada dasarnya nggak tau apa-apa.
Dengan fakta-fakta itu, Nindy tak ingin menunggu lebih lama lagi. Begitu Bu Nida keluar, cewek itu segera menemui Fian yang kala itu tengah membereskan buku-bukunya.
Cowok itu langsung menorehkan tatapan herannya begitu mendapati Nindy yang menghampirinya secara tiba-tiba. Dalam hati bertanya, apa lagi yang ingin dirampas cewek ini darinya?
"Mau tukeran duduk nggak?" tanya Nindy to the point. Cewek itu memang tak suka basa-basi.
"Lo mau duduk di sini?" Fian balik bertanya seakan tak percaya.
Nindy mengangguk cuek, mantap, dan tanpa senyum.
"Yakin lo?" Fian kembali memastikan.
"Mau nggak?" tanya Nindy semakin mendesak.
"Ya kalo lo mau duduk di sini sih, silakan aja!"Fian berdiri sambil mengangkat tasnya.
"Oke, thanks!" balas Nindy masih agak cuek. Ia meraih tasnya sendiri dan saat itulah terjadi pertukaran tempat duduk antara kedua remaja penghuni kelas XI IPA4 tersebut.
Tara sebenarnya tidak terlalu suka dengan pertukaran posisi itu. Karena dirinya sudah terlanjur berharap banyak pada Nindy, teman 'cewek' barunya.
Tara telah membayangkan Nindy akan menjadi teman dekatnya, sehingga ia bisa curhat apppppa saja pada cewek itu. Dan Nindy pasti akan mendengarkan dengan senang hati juga memberikan solusi tentang curhatannya itu. Nggak kayak si Fian yang rese itu!
Tapi ujung-ujungnya malah Fian lagi... Fian lagi... yang duduk bareng dia. Tapi mau gimana? Orang Nindynya sendiri sudah setuju, Fian apalagi.
Tapi ya sudahlah. Lagian kan Nindy duduknya tepat di belakang kursi Tara tuh, jadi masih memungkinkan untuk diajak ngerumpi.
Setelah berakhirnya jam pertama dan kedua Nindy melanjutkan hari pertamanya dengan berbengong-bengong ria menatap awan-awan putih super gemuk di langit yang saling berarak dari kaca jendela kelasnya.
Pemandangan itu terlihat jelas karena tempat duduk Nindy yang tepat di balik jendela dan kebetulan juga kaca jendelanya gede-gede banget. Ukuranya bahkan mungkin mencapai 1x1 meteran.
Hal itu Nindy lakukan karena adanya rapat OSIS yang juga melibatkan dewan guru pada saat jam ketiga dan keempat. Itu menyebabkan kekosongan pada jam-jam tersebut di kelas Nindy.
Dan pada akhirnya hanya itulah hal sederhana yang Nindy lakukan. Memperhatikan awan dengan segala rupa dan bentuknya yang sangat istimewa bagi seorang Nindy Armadhanty.
Sementara itu, di sisi kelas yang satunya, yang juga berada di dekat jendela, Marvel dengan serius memperhatikan layar dari sebuah laptop milik salah satu temannya.
Bersama dengan siswa lain-yang kebanyakan dari mereka cewek-menonton sebuah film yang telah menjadi rutinitas mereka di jam-jam kosong, seperti sekarang ini.
Nobar. Itulah istilah yang mereka gunakan. Sebuah kata yang merupakan kependekan dari nonton bareng. Hal itu terjadi karena kebanyakan dari siswa di kelas itu memang pecinta film, terutama film Hollywood. Hal seperti itu memang sudah biasa bagi mereka. Sudah sering dilakukukan.
Dan saat ini, yang menjadi target tontonan mereka adalah sebuah film keren dengan judul 'Fast and Furious 6'. Film yang berhasil didownload Marvel dari internet sejak bertahun-tahun yang lalu, namun belum sempat ditonton bersama-sama. Film yang katanya aktor Indonesia, Joe Taslim ikut mengambil peran sebagai salah satu tokohnya.
Marvel dan yang lainnya menonton dalam diam. Mencoba berkonsentrasi akan alur cerita dalam film tersebut. Padahal tanpa diketahui oleh teman-temannya, ada sesuatu hal yang terselip dalam diamnya Marvel.
Cowok itu ternyata diam-diam memperhatikan Nindy! Nindy yang kini berpindah dari tempat duduknya yang semula, Nindy yang sedang asyik memandang ke luar jendela, Nindy yang sedang asyik dengan khayalan dan imajinasinya, Nindy yang sedang asyik dengan keterdiamannya, dan Nindy yang sedang menghabiskan hari pertamanya.
Berjuta tanya muncul seketika di benak Marvel. Kenapa Nindy hanya diam di situ? Kenapa Nindy tak ikut bergabung bersamanya? Kenapa Nindy tak mencoba untuk beradaptasi? Dan masih banyak kenapa-kenapa lain yang mungkin takkan pernah terjawab sampai kapan pun.
Dua jam pelajaran kosong itu berlalu. Selanjutnya, waktu istirahat pun tiba. Dan Nindy masih dengan diam yang sama. Sempat Tara mengajaknya untuk makan di kantin, namun cewek itu menolak dengan lembut keramahan teman barunya itu.
Nindy lebih memilih untuk berdiam diri di kelas. Bukan karena ia tak lapar atau malas pergi ke kantin, tapi lebih karena menunggu sang kakak datang lalu mereka akan pergi ke kantin bersama.
Nindy sebetulnya lapar banget! Perut mungilnya sudah mulai protes minta jatah. Tapi tak apalah. Nindy yakin Galang pasti datang menjemputnya untuk makan bersama. Ya, Nindy yakin itu.
Namun hingga jam istirahat berakhir, Galang tak kunjung menemuinya. Mungkin dia masih marah soal yang tadi pagi. Gara-gara Nindy yang menganggapnya sebagai kakak tak berguna, ngambek deh dia seharian ini.
Alhasil, Nindy terpaksa mengikuti pelajaran kelima-enam ini dengan perut keroncongan. Namun keadaan itu sama sekali tak menyurutkan semangat belajarnya di jam-jam terakhir ini. Buktinya, dia masih bisa berkonsentrasi dengan pelajaran Biologi yang saat ini tengah diikutinya.
Bu Tuti, selaku guru Biologi yang mengajar di kelas Nindy, membagi siswa di kelas itu ke dalam empat kelompok sesuai dengan apa yang dilakukannya minggu lalu. Pembagian kelompok itu berdasarkan kolom tempat duduk mereka.
Yang duduk di bangku kolom pertama, tergabung sebagai kelompok pertama. Yang di kolom kedua jadi kelompok dua, dan seterusnya. Tugas dari masing-masing kelompok adalah mempresentasikan hasil diskusi mereka yang telah dilakukan sejak seminggu yang lalu.
Kebetulan Nindy ikut tergabung dalam kelompok satu, bersama Tara, Fian, dan yang lainnya. Dan kebetulan juga, kelompok mereka telah melakukan presentasi itu minggu lalu.
Jadi tugas dari kelompok mereka saat ini hanyalah memperhatikan presentasi yang dilakukan kelompok lain, memberi penilaian, dan mengajukan pertanyaan kalau memang diperlukan.
Kelompok yang mendapatkan giliran untuk presentasi hari ini adalah kelompok tiga dan kelompok empat. Diawali dengan kelompok tiga yang kelihatannya sudah sangat siap.
Mereka berdiri dengan tampang meyakinkan di depan papan tulis, menunggu aba-aba dari Bu Tuti. "Ya, kelompoknya Beni, silakan mulai presentasinya!" Dan akhirnya, lampu hijau menyala!
Beni dan kelompoknya melakukan presentasi dengan sangat sempurna. Mereka menerangkan masalah seputar Spermatogenesis dengan sangat detail, jelas dan mudah dimengerti.
Bukan hanya itu, kelompok tiga juga menyampaikan beberapa informasi penting yang belum disampaikan atau bahkan tidak diketahui oleh Bu Tuti, sang guru Biologi. Pokoknnya presentasi mereka perfect banget deh!
Dan seperti presentasi-presentasi pada umumnya, mereka membuka sesi pertanyaan di akhir penampilan mereka. Saat itulah Nindy merasakan adanya suatu kejanggalan di dalam kelasnya, atau setidaknya dalam kelompoknya.
Mereka sama-sama berunding menentukan satu pertanyaan untuk diajukan pada kelompok yang telah melakukan presentasinya dengan sangat sempurna itu.
Berunding menentukan satu pertanyaan? Itu jelas hal yang wajar. Tapi cara mereka memilih pertanyaan, itu jelas bukan hal yang wajar.
Prinsip mereka bertanya bukanlah untuk mendapatkan penjelasan, tapi lebih ke menjatuhkan. Mereka memilih pertanyaan yang sekiranya tidak bisa dijawab oleh kelompok yang melakukan presentasi, sehingga kesannya kelompok tersebut akan terlihat bodoh karena tak berkutik dengan pertanyaan yang mereka ajukan.
Benar-benar taktik yang sangat licik.
Namun kelicikan itu bukan hanya menimpa kelompok Nindy saja. Semua kelompok yang diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan juga ikut melakukan taktik licik yang sama. Dan benar saja, kelompok tiga berhasil diam tak berkutik dengan deretan pertanyaan yang mereka ajukan.
Bahkan hingga durasi yang telah ditentukan untuk kelompok tiga melakukan presentasi telah habis, mereka masih terus berunding untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya barusan.
Bu Tuti masih bisa mentolerir itu dengan memberi mereka sedikit waktu tambahan. Tapi hingga waktu tambahan itu habis, mereka hanya bisa menjawab satu pertanyaan dari kelompok dua.
Itupun jawaban yang asala-asalan, nggak tau deh bener apa nggaknya. Dan akhirnya, Bu Tuti memutuskan untuk menyudahi presentasi mereka dengan paksa, karena waktu tambahan bagi mereka telah berakhir tanpa terasa.
Presentasi kelompok tiga berakhir dengan kekecewaan, dan kini saatnya Bu Tuti untuk memberikan kesempatan bagi kelompok yang lain untuk ikut berpartisipasi dalam memberikan penilaian atas presentasi yang dilakukan oleh kelompok tiga barusan.
Saat itu pula Nindy menemukan kejanggalan yang lainnya. Kelompoknya kembali berunding demi memberikan nilai untuk kelompok tiga. Dan angka yang disetujui dari hasil perundingan mereka adalah... 55???
Nilai 55 untuk presentasi yang sesempurna itu? pikir Nindy dari dalam hati. Bukankah itu sangat tidak adil? Yaaa...kalopun nggak nyampe angka 100, seenggaknya angka 80 juga panteslah mereka dapetin! Tapi ini apa? Masa cuma 55? protes Nindy walaupun masih belum berani mengungkapkannya.
Namun Nindy tau, ia tak bisa selamanya diam dengan semua kejanggalan ini. Ia harus meluruskannya, karena mulai sekarang ia telah menjadi bagian dari mereka.
"Presentasi mereka oke kok, kenapa kita kasih nilai 55?" tanya Nindy. Untuk pertama kalinya gadis itu angkat bicara, setelah sekian lama ia hanya mengangguk-angguk setuju dengan semua pendapat teman-teman sekelompoknya itu.
"Lo anak baru, diem aja deh!" tukas salah satu cewek yang Nindy belum tau namanya. Tapi menurut pengamatannya, cewek itu adalah cewek paling berkuasa di kelompok itu. Ia sering ngatur-ngatur, dan usulan-usulannya juga tak pernah ditolak oleh teman-temannya yang lain.
"Ini cara kita berpolitik, ikutin aja... entar lama-lama juga, lo bakalan terbiasa," ujar salah satu cowok yang duduk tak jauh dari Nindy.
Oke! Semua setuju dengan nilai 55 itu. Tak ada satupun yang berpihak atau sama keberatannya dengan Nindy. Jadi, dengan semua kenyataan itu, akhirnya Nindy kembali tutup mulut, kunci rapat, selesai!
"Anette, dari penilaian kelompok kamu, berapa nilai untuk mereka?" tanya Bu Tuti setelah memberi waktu yang cukup lama bagi kelompok itu untuk menentukan nilai.
"Dari kelompok kami 55, Bu!" jawab Anette, cewek yang tadi mendebat Nindy.
"Kelompok dua, berapa?" tanya Bu Tuti lagi, setelah ia selesai memasukkan nilai tambahan dari kelompok Nindy.
"50 Bu!" jawab salah satu cowok yang menjadi tetangga dari kelompok Nindy.
"Dari kelompok empat, berapa?"
"Dari kami 60, Bu," jawab cewek berambut pendek yang merupakan perwakilan dari kelompok empat.
Dari semua jawaban itulah Nindy tahu, kejanggalan itu bukan hanya dialami oleh kelompoknya. Tapi juga oleh semua teman-teman yang ada di kelas barunya. Mereka semua saling berkompetisi, saling berebut prestasi dengan jalan menjatuhkan satu sama lain.
Hal itu jelas berbeda dengan teman-teman sekelas di sekolahnya yang dulu. Di sana solidaritas dijunjung tinggi, kepercayaan dan kebersamaan diutamakan.
Semua saling bersatu padu untuk mencapai satu tujuan, yaitu persahabatan. Sedangkan di sini, di kelas ini, Nindy merasa seakan tak ada unsur persahabatan sedikit pun. Semuanya berkompetisi untuk saling menjatuhkan.
***