Aurel memutar-mutar gelas kosong yang berada di hadapannya tanpa semangat. Juligo yang duduk di depannya menatapnya dengan jengah. Sejak gelas Aurel masih ada isinya sampai gelas itu kosong karena telah diminumnya, Aurel masih tak berbicara sepatah kata pun. Dia hanya diam sambil melamunkan sesuatu yang di yakini Juligo sedang melamunkan Deo. "Kau menyesal?" tanya Juligo pada akhirnya. Pasalnya, jika Aurel mengajaknya bertemu hanya untuk saling berdiam diri seperti ini, lama-lama dia juga merasa bosan. Aurel mendongak, menatap Juligo dengan enggan. "Tentu saja aku menyesal." "Salah sendiri. Kalau kau ingin tahu dia mencintaimu atau tidak, kau harus menggunakan cara yang lebih berkelas. Jangan dengan cara murahan seperti yang kau lakukan kemarin." Aurel melotot tajam kemudian menendang

