Deo menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Tangannya bergerak ke arah dasi yang melingkar begitu saja di lehernya. Diambilnya dasi tersebut lantas dimasukkannya ke dalam kerah kemejanya kemudian tangannya dengan telaten membentuk sebuah simpul yang rapi. Ia tersenyum, puas dengan simpulan dasi yang dibuatnya sendiri. Deo menghela napas panjang kemudian matanya kembali terarah pada pantulan dirinya di cermin lantas bibirnya tertarik ke atas sehingga membentuk sebuah senyuman tipis. Sudah hampir satu bulan ini dia tak pernah melihat Aurel. Dia juga tak pernah menghubungi gadis itu. Sungguh, dia sangat tersiksa dengan keadaannya yang sekarang ini. Namun, mau bagaimana lagi. Dia ingin fokus dengan pekerjaan barunya. Dia ingin seperti ayahnya dan Dean yang bisa s

