Aurel menggosok hidungnya yang terasa gatal. Sejak ia keluar dari rumah sakit akibat demam berdarah yang menyerangnya, ia malah terserang flu, penyakit yang paling ia benci karena selalu berhasil membuatnya geram karena selalu memberi harapan palsu ketika ia ingin bersin. Dan sekarang, ia sudah berada di Inggris yang sudah mulai memasuki musim dingin. Walaupun musim dingin di Inggris tak terlalu dingin seperti di negara Eropa lainnya, hal tersebut tetap saja mampu membuat Aurel menggigil di balik jaketnya. "Lebih baik kau di kamar saja, Rel. Selimutan supaya lebih hangat." ujar ibu Deo seraya menyerahkan coklat panas kepada Aurel. Aurel mengambil coklat panas tersebut lantas menyeruputnya sedikit-sedikit. Dia juga menempelkan telapak tangannya yang dingin pada cangkir tersebut agar telap

