Pada pagi menjelang siang hari, rumah Deo tampak begitu ramai dengan kehadiran keluarga Aurel maupun keluarga Deo. Mereka sedang merayakan hari ulang tahun Aurel. Semuanya tampak bahagia dengan acara kecil-kecilan yang dibuat Deo. Acara tersebut sekaligus untuk membayar rasa rindu Dean dan Deo yang sudah lama tak berjumpa dengan kedua orangtua mereka dan adik perempuan mereka satu-satunya, Nao. Sekaligus untuk membuat syukuran atas rumah barunya.
"Jevin! Kuenya bukan buat kamu!" teriak Deo seraya menghampiri Jevin yang sedang berusaha menaiki meja makan untuk mencuri kue ulang tahun Aurel yang sudah dipesan Deo sejak kemarin.
Deo langsung mengangkat Jevin ke dalam gendongannya dan menggagalkan usaha bocah kecil itu untuk mencuri kue ulang tahun Aurel.
"Jevin mau kuenya, uncle." rengek Jevin.
"Nanti, Jev. Kita tunggu aunty-mu memotongnya dulu." balas Deo sambil berjalan ke ruang tengah untuk kembali berkumpul bersama yang lainnya, menunggu Aurel yang katanya sedang dirias oleh Nao.
"Jevin nggak boleh, kenapa Gavin boleh?" Jevin tampak mengerucutkan bibirnya.
Deo mengernyit heran lantas menghentikan langkahnya sejenak. Setelah itu, dia memutar badannya ke belakang dan detik itupula dia berteriak sangat keras dengan matanya yang membelalak lebar, membuat Jevin terkejut didalam gendongannya.
Deo segera menurunkan Jevin dan langsung melangkah cepat ke meja makan yang kini sudah ada Gavin diatasnya sambil mencomoti coklat yang ada diatas kue tersebut.
Deo mengangkat Gavin ke dalam gendongannya lantas meringis pelan saat melihat kue yang sudah dibelinya khusus untuk Aurel, sudah tak berbentuk lagi pada bagian tengahnya.
"Ada apa?" tanya Dean yang sedang berjalan menghampiri Deo sambil menggenggam tangan Jevin yang berjalan membuntutinya dibelakangnya.
Deo mendengus kesal seraya membalikkan badannya untuk menatap saudara kembarnya itu, "Anakmu benar-benar merepotkan, Dean." ucapnya seraya mengedikkan dagunya ke arah kue tersebut.
Dean melotot kaget begitu melihat kue tersebut yang bentuknya sudah berubah akibat ulah anaknya. Dia melepaskan genggaman tangannya pada Jevin lantas mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih Gavin dari gendongan Deo yang langsung disambut Deo dengan memberikan bocah kecil nakal itu kepada ayahnya.
"Maaf, Deo. Kau tahu sendiri seberapa nakalnya anak-anakku ini." ucap Dean merasa bersalah.
Deo mendesah pelan, "Ya ya. Mau bagaimana lagi? Sudah lah." ucapnya seraya mengedikkan bahunya, memaklumi tingkah keponakannya itu.
Dan detik berikutnya, Deo hanya melihat pemandangan Dean yang berjongkok dihadapan kedua anaknya untuk menasihatinya, mengajarkan kepada mereka bahwa apa yang mereka lakukan tadi sangatlah tidak baik. Dan ketika melihat itu semua, entah kenapa bagian dalam dirinya merasa iri. Dia juga ingin seperti itu. Menikmati ketika anaknya melakukan kesalahan dan dia akan menasihatinya. Mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh, dia sangat iri dengan Dean. Entahlah, rasanya belakangan ini, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai menampakkan sesuatu yang berbeda yang tak pernah di rasakannya sebelumnya.
"Sebaiknya kita kembali ke ruang tamu saja. Nanti biar aku menyuruh Dominica untuk merapikan kuenya." ucap Dean sambil membawa Gavin ke dalam gendongannya dan menuntun tangan Jevin.
Deo mengangguk lantas mengikuti langkah Dean yang sedang menuju ke ruang tamu.
Sesampainya mereka diruang tamu, semua orang yang ada disana bertanya kenapa Deo berteriak sekuat itu. Dan ketika dia menjelaskan alasannya, semua orang yang berada disana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap Jevin dan Gavin secara bergantain. Setelah itu, Dominica beranjak pergi ke dapur untuk merapikan kue ulang tahun Aurel yang berantakan akibat ulah kedua jagoannya.
Aurel datang begitu Dominica selesai membereskan kue ulang tahunnya. Gadis itu tampak cantik dengan dress berwarna pink sebatas lutut dengan bagian bawahnya yang mengembang indah. Apalagi rambutnya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga membentuk kepangan yang cantik, ditambah dengan flower crown yang bertengger manis dikepalanya, semakin membuat gadis itu tampak anggun dan dewasa.
Semua orang yang berada disana tercengang melihat penampilan Aurel yang sangat berbeda dari biasanya, tak terkecuali Deo. Pria itu bahkan tak segan-segan menunjukkan rasa kagumnya dengan terus fokus menatap Aurel dari atas ke bawah, berulang seperti itu terus.
Nao tersenyum geli melihat semua orang yang berada disana hanya diam sambil terus memerhatikan Aurel dengan lekat. Tak sia-sia dia mendandani Aurel dan memaksa gadis itu untuk memakai bulu mata yang menurutnya sangat mengerikan ketika sudah menempel dimata.
"Kau benar adikku?" tanya Dominica, orang pertama yang memecah keheningan akibat terlalu lama menyelami kecantikan luar biasa pada diri Aurel yang baru pertama kali mereka lihat.
Aurel tampak mengerucutkan bibirnya, "Memangnya siapa?"
Dan semua orang yang berada disana tertawa pelan. Tak terkecuali Jevin dan Gavin yang entah menertawakan apa.
"Beautiful." bisik Deo ditelinga Aurel begitu gadis itu mengambil duduk disamping Deo.
"Aku tahu," balas Aurel sambil mengibaskan tangannya dengan lagaknya yang langsung mendapat balasan cibiran dari Deo. Namun setelah itu, keduanya tertawa bersama-sama.
Acara itu pun berlangsung dengan meriah. Celotehan Jevin dan Gavin membuat acara tersebut semakin terasa ramai. Dan rumah Deo kembali sepi ketika hari sudah sore. Semuanya pamit untuk pulang, termasuk kedua orangtua Deo dan Nao yang memutuskan untuk menginap dirumah Dean dan Dominica saja.
"Kau senang?" tanya Deo sesaat setelah mobil keluarganya keluar dari pekarangan rumahnya.
Aurel mengangguk cepat, "Sangat senang, walaupun tidak ada Kak Rian disini. Padahal aku sangat merindukannya." ucapnya dengan sedih ketika kakak laki-lakinya itu tak dapat hadir diacara ulang tahunnya.
Deo merangkul pundak Aurel, "Dia sedang sibuk menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang pelukis terkenal. Biarkan lah, setidaknya dia sudah memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadamu." ucapnya dengan senyum tipisnya.
Aurel mengangguk lantas mendongak dan membalas senyuman Deo, "Terima kasih untuk acaranya, Kak. Meriah seperti biasanya."
Deo mengangguk lantas mengacak rambut Aurel yang langsung membuat gadis itu memekik tak senang. "Sebenarnya sudah daritadi aku ingin mengacak rambutmu, tetapi sayangnya rambutmu dibentuk seperti ini." kekehnya yang hanya dibalas dengan cibiran Aurel.
"Kau mau langsung mandi?" tanya Deo seraya menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur miliknya dengan kedua kaki yang menggantung diudara.
"Iya deh, Kak. Udah risih sama make up-nya," balas Aurel sambil berusaha untuk melepas bulu matanya yang sukses membuat pandangannya tidak jelas, seolah-olah sedang menyipitkan matanya, "Dan kayaknya aku salah masuk kamar." lanjutnya lantas bergegas untuk pergi ke kamarnya, membuat Deo tertawa geli.
****
"Sudah selesai, Kak?" tanya Aurel begitu dia melihat Deo yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan rambut yang masih sedikit basah, menandakan bahwa pria itu baru saja membersihkan dirinya.
Deo mengangguk seraya ikut bergabung dengan Aurel yang saat itu tengah menonton televisi.
"Selalu saja menonton kartun ini. Memangnya tidak ada tontonan lain yang lebih bermutu?"
Aurel mendengus tak senang, "Kartun ini bermutu, Kak. Buktinya, setiap aku melihat dua anak kembar itu, aku selalu teringat dengan Kakak."
Deo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
"Kak, terima kasih ya kalungnya. Aku suka sekali." ucap Aurel dengan senyum lebarnya seraya memegang kalung berwarna putih dengan mainan kupu-kupu yang bertengger indah di lehernya yang diberikan Deo sebagai hadiah ulang tahun untuk gadis itu.
Deo menatap Aurel dengan senyumnya, "Sama-sama, unyilku."
"Uhm... Kak, sebenarnya aku punya satu kejutan untuk Kakak."
"Apa itu?"
"Tapi Kakak tutup mata dulu."
Deo mengedikkan bahunya, "Okey." dia menutup matanya, menuruti permintaan Aurel.
Aurel tampak mengembuskan napasnya sejenak. Menatap wajah Deo sebentar, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan memajukan wajahnya, memutus jarak antara wajahnya dengan wajah Deo. Dan setelahnya, bibir Aurel telah mendarat sempurna dibibir Deo.
Deo mengernyit bingung ketika merasakan bibirnya yang tertimpa dengan benda kenyal yang dia sendiri tak bisa menebak benda apa itu. Namun, setelah dia membuka matanya, dia langsung membelalak tak percaya. Aurel sedang menciumnya, mencium bibirnya. Hal tersebut sontak membuat Deo kaget bukan main. Kejutan yang diberikan gadis itu benar-benar membuatnya terkejut.
Saking kagetnya, Deo tak bisa berbuat apa-apa. Sampai pada akhirnya, Aurel membuka matanya dan menarik wajahnya dari wajah Deo, memutus ciumannya.
Aurel tesenyum sumringah, seolah-olah dia baru saja menunjukkan kebolehannya didepan Deo. "Bagaimana kejutanku, Kak? Aku sudah benar-benar dewasa, kan?" tanyanya antusias.
Deo mengerjapkan matanya tak percaya. Dia yakin Aurel sudah salah menilai apa arti dewasa yang sesungguhnya.
Deo memegang pundak Aurel seraya menatapnya dengan lekat, "Unyil, dewasa itu bukan dinilai dari seberapa berani kau mencium seseorang. Dewasa itu setelah kau bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dan ciuman yang kau berikan tadi, itu salah. Tak seharusnya kau melalukan itu." nasihat Deo panjang lebar.
Aurel menatap Deo dengan perasaan malu yang luar biasa. Selama ini, dia memang selalu berpikiran seperti itu mengenai arti dari dewasa karena teman-temannya selalu melakukan hal seperti itu dan mereka mengakui bahwa mereka telah dewasa. Aurel juga ingin disebut sebagai perempuan dewasa mengingat umurnya yang sudah bertambah. Tetapi, ternyata dia salah menilai arti dari dewasa itu sendiri. Dan dia sangat malu saat ini. Bahkan tanpa disadarinya, dia sudah menundukkan kepalanya, tak berani menatap ke arah Deo yang masih menatapnya begitu lekat.
"Maaf," cicit Aurel.
Deo mengangkat dagu Aurel agar gadis itu kembali menatapnya, lalu Deo melemparkan senyumnya kepada Aurel, "Tidak apa. Aku hanya mengingatkanmu saja supaya kau tak melakukannya lagi dengan pria lain. Tetapi, uhm... kau boleh melakukannya denganku." ucapan Deo diakhir kalimatnya terdengar begitu pelan dan untungnya Aurel tak mendengarnya dan tak terlalu memedulikannya, membuat Deo bersyukur didalam hatinya. Dia juga tak mengerti kenapa otaknya bisa berpikir seperti itu.
"Kak."
"Hm?"
"Alasan Kakak menciumku dibibir itu karena Kakak ingin menjadi suamiku, ya?" tanya Aurel yang tampak sedikit kikuk.
Deo membelalak lebar, "Maksudmu?"
"Uhm... Kakak kemarin bilang kalau ciuman dibibir itu harus dijaga dan hanya diberikan untuk suamiku kelak." jelas Aurel dengan gugup.
Holy crap!
Dan Deo hanya meringis pelan seraya menggaruk kepalanya salah tingkah.