Aurel: Kakak benar-benar akan menikah? :(
Jordan: Benar, cerewet. Selamat ulang tahun yang ke-18. Semoga dadamu cepat besar. Anggap saja undangan pernikahanku sebagai hadiah dariku untukmu. Jangan lupa datang ya ;)
Aurel: Terimakasih, walaupun ulang tahunku besok, tapi tidak apa lah. Selamat! Kakak orang pertama yang memberiku ucapan selamat ulang tahun. Btw, kakak tidak akan ke Indonesia lagi?
Jordan: Hahaha. Tidak, aku tidak akan ke Indonesia lagi.
Aurel: Padahal aku ingin merayakan ulang tahunku bersamamu.
Jordan: Haha... kenapa kau sekarang jadi ingin dekat-dekat denganku terus?
Aurel: Entahlah. Ah iya, kakak akan menikah dengan seorang wanita? Astaga! Bagaimana bisa?
Jordan: Itu semua karena kata-katamu gadis nakal. Aku mencoba untuk berubah.
Aurel: Apa kau mencintai wanita itu, Kak? Demi Tuhan, jangan pernah menyakiti seorang perempuan.
Jordan: Aku sedang berusaha untuk mencintainya.
Aurel: Lebih baik Kakak kembali ke sini saja. Kakak tidak tahu betapa galaunya Kak Deo saat ini karena ditinggal nikah oleh Kakak.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Aurel menoleh ke arah Deo yang saat ini tengah tertawa begitu kencangnya karena acara lawak yang sedang tayang di tv, berbanding terbalik dengan pesan yang dikirimkannya kepada Jordan. Aurel meringis pelan seraya kembali melihat ponselnya yang sudah mendapatkan pesan baru dari Jordan.
Jordan: Jadi kau sudah merestui hubunganku dengan Deo, huh?
Aurel: Tentu saja tidak!
Jordan: Haha... ya sudah. Kita sambung nanti lagi, ya? Aku harus mengurusi beberapa keperluan disini.
Aurel: Okey.
Aurel mengunci ponselnya dan meletakkannya diatas meja lantas menatap ngeri ke arah Deo yang kini semakin menguatkan tawanya yang terkadang diikuti dengan gerakan memukul-mukul pahanya sendiri. Aneh.
"Apa?" tanya Deo sambil menatap Aurel dengan sebelah alis yang terangkat ke atas begitu dia menyadari bahwa gadis itu tengah memerhatikannya.
Aurel menggeleng pelan. "Tidak." balasnya seraya kembali mengambil ponselnya dan mulai menekuni benda persegi panjang itu kembali.
Deo mengambil ponsel Aurel dan langsung menyembunyikannya dibalik badannya. "Jangan terus bermain dengan ponselmu, tidak bagus."
Aurel memekik tak senang. "Aku hanya ingin membalas pesan saja, Kak."
"Pesan dari siapa? Pacarmu?"
"Bukan. Astaga! Kakak kenapa, sih?"
"Lalu, pesan dari siapa?" tanya Deo tanpa memedulikan pertanyaan Aurel sebelumnya.
"Dari Kak Jordan."
Deo tampak menaikkan sebelah alisnya sebelum berkata, "Kenapa kau sekarang jadi lebih memerhatikannya daripada memerhatikanku?"
"Aku tidak memerhatikannya, Kak. Aku hanya menanyakan masalah pernikahannya saja."
Deo mengedikkan bahunya lantas mengulurkan ponsel milik Aurel kepada gadis itu yang langsung diterimanya dengan suka cita. Namun setelah itu, perkataan yang keluar dari mulut Deo membuat Aurel mendesah frustasi.
"Urusi saja Jordan mu itu." ucap Deo dengan nada tak senang yang begitu kentara seraya beranjak meninggalkan Aurel yang melongo tak percaya.
Aurel heran dengan sikap Deo yang belakangan ini terlihat seperti remaja-remaja labil kurang perhatian. Gadis itu mendesah pelan lantas bangkit dari duduknya dan bergegas untuk menyusul Deo.
Aurel mengambil duduk dipinggir ranjang, "Kakak kenapa, sih? Sepertinya dari kemarin selalu marah-marah terus."
"Aku sedang datang bulan." jawab Deo asal seraya menenggelamkan tubuhnya didalam selimut, mencoba untuk menghindari percakapan dengan Aurel.
"Kak," rengek Aurel seraya menarik-narik selimut Deo. Tetapi, pria itu terus menahannya sehingga membuat Aurel kesal sendiri.
"Terserah lah!" Aurel langsung beranjak menuju kamarnya dengan kaki yang dihentak-hentakkan, merasa kesal dengan sikap Deo yang belakangan ini terlihat sangat menyebalkan.
Dan dibalik selimutnya, Deo sedang tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat Aurel sebegitu kesalnya.
****
Aurel menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam dengan cemas. Sesekali dia melirik ke arah ponselnya yang tidak memunculkan notif apapun. Pasalnya, sejak dia keluar dari dalam kamarnya setelah mengurung diri didalam kamarnya selama beberapa jam lamanya karena kekesalannya terhadap Deo, dia tak menemukan pria itu dimana pun. Dan kecemasannya semakin menjadi ketika dia tak menemukan mobil Deo digarasi.
Aurel punya segudang khayalan menakutkan yang kapan saja bisa membawanya ke dalam mimpi buruk yang menurutnya sangat mengerikan. Maka dari itu, sejak tadi kecemasannya terbagi antara dirinya yang takut jika terjadi apa-apa dengan Deo yang sampai sekarang masih belum memunculkan batang hidungnya dan tak kunjung menghubunginya, serta menahan rasa takut yang bersorak riuh didalam dirinya.
Jika saja Aurel masih tinggal diapartemen, dia tak akan setakut ini. Dia bisa pergi ke bawah dan menemani satpam yang sudah dikenalnya untuk berjaga malam selagi menunggu kepulangan Deo. Dan biasanya, jika Deo pulang terlambat, pria itu selalu mengabarinya terlebih dahulu.
Aurel mengembuskan napas panjang seraya menenangkan jantungnya yang sudah melompat-lompat tak karuan ketika dia mendengar suara burung yang saling bersautan yang entah kenapa terdengar begitu mengerikan ditelinganya.
Dengan bermodalkan keberanian yang hanya tinggal beberapa persen saja, Aurel bergegas menuju ke pintu depan dan langsung menguncinya dengan terburu-buru. Setelah itu, dia berlari kecil menuju kamar Deo untuk mencari perlindungan. Setidaknya, berlindung didalam selimut lebih aman ketimbang hanya duduk diam diruang tv.
Aurel menyetel musik EDM lewat ponselnya dengan volume yang paling keras, berusaha untuk menutupi suara-suara dari luar sana dengan dentuman keras lewat musik tersebut.
Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 12 kurang. Dan hampir satu jam lamanya, Aurel tetap berlindung dibalik selimutnya tanpa berniat untuk masuk ke alam mimpinya. Ponselnya pun masih memainkan musik tersebut dengan keras. Namun, tiba-tiba saja musik itu tak terdengar lagi karena ponselnya kehabisan baterai. Sial sekali nasibnya.
Aurel menegang dibalik selimutnya begitu telinganya menangkap suara-suara aneh dari luar sana. Ketakutannya semakin menjadi ketika dia mendengar pintu kamarnya terbuka. Dia yakin kalau itu bukanlah Deo karena dia tak mendengar suara mobil sedikit pun. Dan Aurel hanya bisa pasrah dibalik selimutnya.
"Happy birthday to you... happy birthday to you..."
Aurel mengerutkan keningnya ketika mendengar nyanyian tersebut. Seketika rasa takutnya hilang digantikan oleh rasa penasarannya.
"Happy birthday... happy birthday... happy birthday to you..."
Aurel menyibak selimutnya dan langsung membalikkan badannya begitu nyanyian tersebut selesai. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Deo yang tengah berdiri disamping ranjangnya dengan sebuah kue kecil berbentuk hati yang bagian atasnya penuh dengan lilin yang sedang menyala.
"Selamat ulang tahun." ucap Deo dengan senyum lembutnya.
Aurel langsung beranjak untuk duduk. Dia menatap Deo dengan pandangan tak percayanya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca karena rasa haru yang membuncah dalam dadanya.
Deo tersenyum geli melihat Aurel yang hanya diam sambil terus menatapnya tak percaya. Dia mengambil inisiatif dengan duduk dipinggir ranjang.
"Selamat ulang tahun, adikku." ucap Deo sekali lagi.
Aurel memeluk tubuh Deo dengan erat. Melingkarkan kedua lengannya dipinggang pria itu seraya menenggelamkan kepalanya didadanya. Membuat Deo mau tak mau memegang kue yang dibawanya hanya dengan satu tangannya.
Deo terkekeh pelan seraya mengacak pelan rambut Aurel. "Hey! Kau tak ingin meniup lilinnya?" tanyanya.
"Biarkan aku menangis dulu, okey?" gumam Aurel tanpa berniat untuk mengangkat kepalanya.
Deo kembali terkekeh. Dia mengelus lembut rambut gadis itu seraya mendaratkan beberapa kecupan kecil dipuncak kepalanya.
"Maaf ya belakangan ini aku terlihat menyebalkan. Dan maaf juga karena telah meninggalkanmu sendirian sampai tengah malam." ucap Deo sambil terus mengelus rambut Aurel.
"Kakak hampir saja membuat aku mati ketakutan."
Deo tersenyum geli. "Maaf. Kalau tidak begitu kejutannya tidak akan berhasil."
"Kakak kan bisa menunggu aku sampai tertidur. Baru setelah itu Kakak bisa membangunkanku dan memberiku kejutan. Tidak perlu sampai meninggalkanku sendirian. Aku masih belum lama tinggal dirumah ini."
"Iya ya? Kenapa aku tak berpikir sampai kesana, ya?"
Aurel memukul pundak Deo seraya menggerutu pelan.
Deo tertawa pelan dan kembali mengacak rambut Aurel, "Sudah selesai menangisnya? Kalau belum, kau sambung lagi saja nanti. Lilinnya sudah hampir habis."
Aurel mengangkat kepalanya lantas menghapus jejak air mata yang menempel dipipinya.
"Make a wish dulu." ucap Deo yang langsung disambut dengan tindakan Aurel yang mulai memejamkan matanya dan merapalkan beberapa permohonan didalam hatinya.
Setelah selesai, Aurel langsung meniup lilin yang bertaburan diatas kue tersebut.
"Terimakasih banyak, Kak. Aku menyayangimu." ucap Aurel dengan senyum lebarnya lantas mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi Deo.
Deo mengulas senyum dibibirnya seraya mengecup kening Aurel. "Kadonya menyusul besok, ya?" tanyanya yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Aurel.
Deo meletakkan kue tersebut diatas nakas lantas merangkul Aurel dan membawanya mendekat ke arahnya yang langsung disambut baik oleh Aurel dengan melingkarkan lengannya dia seputaran pinggang Deo dan kembali membenamkan kepalanya didada pria itu.
"Sebenarnya Ayah, Ibu, Mama, Papa, Dominica, Dean, Nao dan dua bocah nakal itu tadinya ingin ikut memberikan kejutan kepadamu. Tetapi sayangnya Papa, Mama dan Nao kehabisan tiket. Jadi, mereka baru akan sampai besok siang. Dan sisanya tidak jadi datang karena Jevin dan Gavin membuat ulah." ucap Deo sembari mengelus lembut rambut Aurel, membuat gadis itu semakin meringkuk nyaman didadanya.
"Tidak apa-apa." balas Aurel.
"Uhm... unyil, sebenarnya aku masih punya satu kejutan lagi untukmu."
"Apa itu?" tanya Aurel yang enggan untuk mengangkat kepalanya.
"Aku akan segera menikah."
Aurel refleks mengangkat kepalanya dan menatap Deo dengan penuh tanda tanya yang membuat Deo semakin gelisah dibuatnya.
"Kenapa? Kau tak suka, ya?" tebak Deo saat Aurel hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.
Aurel mengerjapkan matanya seolah baru terbangun dari alam khayalnya. "Kau serius, Kak? Astaga! Permohonanku terkabul!" ucapnya dengan girang.
Deo mengernyit heran. "Maksudmu?"
"Aku tadi meminta supaya Kakak cepat menikah. Dan dalam beberapa menit saja, permohonanku sudah terkabul." jawab Aurel dengan semangat.
Dan saat itu pula Deo sadar kalau tebakannya salah. Gadis itu terlihat sangat senang begitu mengetahui kalau Deo akan segera menikah. Namun entah kenapa, Deo sedikit tak suka dengan sambutan Aurel. Dia berharap jika gadis itu tak menyetujui keputusannya untuk menikah.
"Btw, Kakak akan menikah dengan perempuan, kan?" tanya Aurel yang membuat Deo tersadar dari lamunannya.
Deo hanya mengangguk dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Seketika mood-nya berubah menjadi buruk.
"Sepertinya Kak Deo benar-benar sedang datang bulan." guman Aurel.