Bab 14

1609 Kata
"Sudah?" tanya Deo begitu matanya menangkap Aurel yang baru saja keluar dari dalam rumah dengan baju yang berbeda karena baju yang sebelumnya sudah kusut tak karuan akibat tangisnya beberapa saat yang lalu. Aurel mengangguk seraya menghampiri Deo yang sudah menunggunya di depan mobil milik pria itu dengan baju santainya setelah menutup dan mengunci pintu rumah. Entah kenapa jantungnya terasa berdebar-debar begitu ia berjalan semakin dekat ke arah Deo. Ia kembali mengingat ciuman yang Deo berikan kepadanya beberapa saat yang lalu. Jujur saja, ia belum terbiasa dengan hal intim seperti itu. Dan sialnya, Aurel juga menikmati ciumannya beberapa saat yang lalu. Deo memperlakukan bibirnya begitu lembut. Berbeda dengan ciuman pertamanya yang dulu juga diberikan oleh Deo. "Jadi, di mana rumah temanmu itu?" tanya Deo begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan Deo juga sudah menyalakan mobilnya. Aurel menyebutkan alamat apartemen Jordan yang langsung disambut dengan Deo yang mulai menjalankan mobilnya membelah jalan raya yang saat itu tak terlalu ramai. Awalnya Deo sempat curiga dengan alamat yang diberikan Aurel. Ia tahu kalau alamat itu merupakan alamat apartemen milik Jordan. Namun, ia berusaha menahan rasa curiganya dan membiarkan rasa penasarannya hilang setelah ia sampai nanti. "Temanmu perempuan atau laki-laki?" tanya Deo memecah keheningan yang sempat terjadi. Aurel diam sejenak. Memikirkan harus menjawab perempuan atau laki-laki. Ia tahu Deo tak suka jika ia berteman dengan laki-laki. Dan ia takut jika Deo membalikkan mobilnya dan tak jadi mengantarkannya ke apartemen Jordan. Masih mending jika Deo tak mau mengantarnya, yang lebih parahnya lagi, Deo sudah pasti tak akan mengizinkannya pergi. "Perempuan," jawab Aurel pada akhirnya. "Bohong," sahut Deo. Aurel menatap Deo dengan bibir yang mengerucut sebal. "Kakak kenapa tidak pernah memercayaiku, sih?" Deo terkekeh pelan seraya mengacak rambut Aurel dengan gemas. "Karena kau sering membohongiku. Tetapi ya sudahlah, mulai sekarang aku percaya padamu. Kau sudah besar. Kau pasti berpikir dulu sebelum memutuskan untuk berbohong. Asal kau tahu saja, dibohongi oleh orang yang sangat kita percaya itu tidak enak." Aurel meringis pelan. Kata-kata Deo barusan entah kenapa membuatnya merasa malu. Selama ini, ia terus menerus membohongi Deo dengan berbagai alasan walaupun pada akhirnya Deo akan mengetahuinya. Dan ia semakin merasa malu ketika Deo selalu memaafkannya dengan begitu mudahnya. Dan di saat dirinya kembali berbohong, Deo malah memercayainya begitu saja. Aurel yakin jika Deo mulai lelah dengan semua kebohongannya. Kau memalukan, Aurel. "Kak, sebenarnya aku ingin ke apartemen Kak Jordan," aku Aurel dengan suara yang terdengar cukup pelan namun masih bisa didengar oleh Deo. Ia tampak menunduk dalam sambil memainkan jari-jarinya. Deo tersenyum kecil. "Sudah kuduga." Aurel mendongak menghadap Deo dengan takut-takut. "Maaf, Kak." Deo menoleh ke arah Aurel lantas memberikan senyumnya. "Tidak apa-apa. Setidaknya kau mulai belajar untuk jujur." "Kakak tidak marah?" tanya Aurel. "Tidak. Kau ingin ke apartemen Jordan, kan? Kebetulan aku juga ingin ke sana. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya." Aurel meluruhkan bahunya seraya mendesah lega walau rasa malu dalam dirinya belum juga hilang. "Uhm... Aurel, kau tidak benar-benar pacaran dengan Jordan, kan?" tanya Deo yang entah kenapa terlihat begitu gelisah. Aurel menatap Deo dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. "Tidak. Aku sudah putus dengannya." "Jadi, kalian pernah pacaran?" "Pernah, walau hanya satu menit." Deo mendesah lega begitu mendengar jawaban Aurel. Entah lega dalam artian apa. "Jangan pernah memancing kemarahannya lagi, Aurel. Dia masih bernafsu dengan wanita. Aku tak ingin kau menjadi sasaran nafsunya." "Dia tidak bernafsu denganku, Kak," Aurel cemberut ketika mengingat Jordan yang dengan seenaknya menghina bentuk tubuhnya. "Dia bilang dadaku rata," lanjutnya. "Apa?!" Deo menghentikan mobilnya secara mendadak yang membuat tubuh Aurel sedikit terhempas ke depan namun berhasil tertahan karena ada seat belt yang melindunginya. Aurel sudah ingin protes, namun suara Deo sudah lebih dulu terdengar sehingga membuatnya kembali menelan kalimat protesnya. "Dia membicarakan dadamu?!" tanya Deo dengan nada suara tak suka yang begitu kentara. "Iya. Dia bilang dadaku rata," jawab Aurel dengan polosnya, tak tahu jika amarah Deo sudah mulai menampakkan wujudnya. "Sial! Beraninya dia," geram Deo. "Kau tak menunjukkan dadamu di depannya, kan?" Aurel membelalakkan matanya. "Tentu saja tidak," jawabnya cepat. Deo sedikit lega. Namun, ia tetap tak suka dengan perbuatan Jordan. Bukan karena ia tak suka jika Aurel dihina. Ia hanya tak suka jika Jordan memerhatikan bentuk d**a Aurel. Entahlah, rasanya Deo hanya tak suka jika ada pria lain yang mendekati atau bahkan memerhatikan Aurel selain dirinya. Perasaan itu muncul dengan sendirinya dan sulit untuk mencegah kedatangannya. Tanpa disadarinya, bagian dalam dirinya mulai menunjukkan perubahan secara beruntun. Suara klakson yang berasal dari kendaraan lain membuat Deo sadar kalau mereka telah mengganggu pengguna jalan lainnya. Dengan segera, Deo kembali menjalankan mobilnya sebelum telinganya menangkap lebih banyak suara klakson dari kendaraan lainnya. "Kak, kenapa Kakak mengusir Kak Jo?" tanya Aurel yang sudah dipenuhi dengan rasa penasaran sejak kemarin. "Karena dia menciummu. Aku takut dia melakukan hal yang lebih jika terus berada didekatmu. Kau tahu sendiri kan kalau kau harus tetap menjaga keperawananmu." "Tapi Kakak juga menciumku," sanggah Aurel yang membuat Deo salah tingkah dan... malu. "Yang penting aku tidak memerawanimu," kilah Deo. "Walaupun Kakak tidak memerawaniku dalam artian yang sesungguhnya, tetapi Kakak sudah memerawani bibirku." Dan perkataan Aurel barusan semakin membuat Deo merasa malu. Ia menjalankan sebelah tangannya menuju mulut Aurel lantas menutupnya dengan telapak tangannya seraya berkata, "kau terlalu banyak bicara." Aurel memberengut kesal seraya memutar kedua bola matanya. Tak lama setelahnya, mereka berdua sudah sampai di apartemen Jordan. Keduanya langsung menuju ke lantai tempat apartemen Jordan berada begitu Deo selesai memarkirkan mobilnya. "Yang ini, Kak?" tanya Aurel sambil menunjuk salah satu pintu yang ada di lantai tersebut. Deo hanya membalasnya dengan anggukan kepala seraya berjalan menghampiri Aurel yang sudah lebih dulu sampai di depan pintu apartemen Jordan. Aurel dengan semangatnya memencet bel apartemen milik Jordan. Tak lama kemudian, Jordan pun muncul hanya dengan celana pendek selutut tanpa baju. Dan perasaan aneh kembali merasuki diri Deo begitu ia melihat Jordan bertelanjang d**a. Biasanya, ia selalu b*******h ketika melihatnya, namun sekarang ia merasa biasa saja. Tak ada yang mengusik dirinya seperti biasanya. Aurel sudah bersiap untuk memekik begitu ia melihat badan sixpack Jordan yang menurutnya begitu keren. Entah kenapa setelah ia terlibat dalam pembicaraan yang lebih santai bersama Jordan, ia merasa kalau Jordan tak kalah keren dari Deo. Pekikan Aurel berubah menjadi desahan kecewa ketika telapak tangan Deo menutupi kedua matanya seraya berkata kepada Jordan dengan nada yang cukup tajam. "Pakai bajumu," katanya. Jordan tampak mengernyitkan keningnya, namun setelah itu ia tetap menuruti perkataan Deo. Dan detik itu pula Jordan merasa kalau Deo tak lagi sama. Jordan bisa melihat perubahan pria itu dengan begitu jelas. Ada perasaan sakit yang masuk ke rongga dadanya, namun sekuat mungkin ia berusaha untuk bersikap biasa saja. Dan Jordan cukup tahu kalau Aurel lah yang sudah mengubah Deo sedemikian rupa. Mengetahui bahwa Aurel adalah penyebab utama berubahnya Deo, Jordan tidak marah. Ia malah kembali memikirkan perkataan Aurel beberapa saat yang lalu. Tak selamanya ia akan terus-terusan seperti ini. Dan setelah melihat Aurel, Jordan semakin yakin bahwa tak semua perempuan memiliki sifat yang sama dengan ibunya. "Aku kira kau hanya datang sendirian," ucap Jordan yang mengarah kepada Aurel seraya menghidangkan dua gelas minuman soda untuk Deo dan Aurel. "Tadinya ingin sendiri, tapi Kak Deo bilang ada yang ingin dia bicarakan dengan Kakak," jawab Aurel sebelum meminum minumannya. Jordan menoleh ke arah Deo. "Bicara apa?" tanyanya. "Sesuatu yang cukup penting menurutku. Tetapi aku hanya ingin bicara berdua saja denganmu," jawab Deo seraya melirik ke arah Aurel yang tampak ingin protes. "Aku ikut," pinta Aurel. "Tidak, kau disini saja. Kami tidak lama." Aurel menggeleng cepat. "Tidak baik berdua-duaan dalam satu ruangan. Nanti orang ketiganya setan." "Kau setannya kalau begitu," ejek Jordan seraya menjulurkan lidahnya ke arah Aurel yang langsung dibalas dengan cibiran sinis oleh gadis itu. "Kau tetap disini, Aurel," ucap Deo tak terbantahkan yang membuat Aurel mengerucutkan bibirnya tak senang. Deo bangkit dari duduknya yang langsung diikuti oleh Jordan. Keduanya berjalan menuju ruang kerja Jordan. Jordan tahu jika Deo ingin mengakhiri segalanya dengannya. Ia sudah menyiapkan diri sejak awal. Menyiapkan hatinya agar tetap baik-baik saja. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Lagi pula, Jordan tak masalah jika Aurel yang nantinya akan menjadi penghuni baru di hati Deo walaupun rasanya aneh karena Deo terlihat seperti seorang p*****l. "Aku ingin mengakhiri hubungan kita," ucap Deo begitu mereka sudah berada dalam ruang kerja Jordan. "Ya, kita memang harus mengakhirinya," balas Jordan yang berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja. "Maafkan aku, Jo. Belakangan ini aku sudah tak tertarik lagi denganmu, begitu pula dengan pria lainnya." Jordan mengangguk. "Aku tahu," Jordan menepuk pelan pundak Deo. "Aku tahu kau mulai mencintai Aurel. Dan aku harap kau tidak akan menyia-nyiakannya nanti. Aku mulai menyukai gadis itu. Bukan menyukai dalam artian yang sesungguhnya. Hanya menyukainya sebagai adikku saja." "Tetapi aku tidak mencintainya. Dan aku tidak mungkin mencintainya. Demi Tuhan, dia adik Dominica. Aku bisa dibunuh olehnya kalau aku mencintai adiknya yang masih kecil itu. Dan aku juga bukan pedofil." Jordan terkekeh pelan. "Kau hanya belum menyadarinya." Deo hanya mengangkat bahunya tak mengerti. Dan setelah itu, mereka berdua kembali meghampiri Aurel dan menghabiskan sisa hari mereka dengan mengobrolkan banyak hal yang lebih didominasi oleh pertengkaran aneh antara Aurel dan Jordan. Walaupun mereka berdua terlihat lebih akrab dari sebelumnya, tetapi mereka tetap saja tak pernah menghilangkan sifat saling mengejek yang mereka punya. Baik Deo maupun Aurel, keduanya tak ada yang tahu bahwa hari ini merupakan hari terakhir mereka bisa bertemu dengan Jordan. Karena setelahnya, Jordan memutuskan kembali ke Inggris untuk memulai kehidupan yang baru di tanah kelahirannya. Dan tanpa disangka-sangka, sehari sebelum Aurel berulang tahun, seseorang mengirimkan undangan pernikahan ke rumah Deo yang langsung membuat Deo dan Aurel terkejut bukan main. Undangan itu adalah undangan pernikahan Jordan yang akan berlangsung satu minggu lagi. Dan yang membuat keduanya heran, Jordan menikah dengan seorang wanita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN