Bab 13

1363 Kata
Aurel menjatuhkan bokongnya di atas sofa seraya mengetikkan sesuatu di ponselnya, bermaksud untuk mengirimi pesan kepada Jordan yang sudah tak lagi tinggal di apartemen Deo sejak kemarin malam akibat pengusiran Deo secara tiba-tiba. Aurel: Hei, bodoh! Cepat kirimkan alamat apartemenmu. Suara getaran kecil yang berasal dari ponsel Aurel, membuat gadis itu langsung menatap kembali layar ponselnya dan senyuman kecil pun muncul di bibirnya saat ponselnya menerima satu pesan yang berasal dari Jordan. Dengan cepat Aurel membukanya. Jordan: Dasar tidak sopan! Aurel: Jangan banyak omong. Cepat kirimkan! Jordan: Apartemenku ada di jalan klepek klepek liat cowok shirtless, depan minimarket Auroramidi. Kalau kurang jelas silakan tanyakan kepada polisi atau sebarkan selebaran di sepanjang pohon yang ada di jalanan. Bye! Aurel: Otw. Tunggu aku ya cabs. Jordan: Cabs? Aurel: Cabe-cabean hahaha. Jordan: Sialan! Aurel tertawa geli seraya menutup percakapannya dengan Jordan lantas bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Ia memang berniat untuk mengunjungi Jordan, memeriksa keadaan pria itu, apakah masih benar-benar hidup atau hanya tinggal raganya saja. Gadis itu hanya takut jika Jordan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hanya karena pengusiran Deo. Untungnya Aurel hari ini tidak ada jadwal kuliah apa pun sehingga tak masalah baginya untuk pergi sepagi ini. Setelah mengganti pakaian rumahnya dengan crop tee lengan panjang serta skinny jeans yang dipadukan dengan sneakers kesukaannya, Aurel bergegas untuk pergi ke apartemen Jordan sebelum Deo yang memang memutuskan untuk tidak berangkat kerja hari ini, keluar kamar dan mendapati dirinya yang sudah bersiap untuk pergi. Tangan Aurel sudah berada di knop pintu dan hanya tinggal memutarnya saja untuk membuka pintu tersebut. Namun, tanpa disangka-sangka, Deo sudah berdiri di belakang tubuhnya lantas memeluk Aurel dari belakang. Pria itu melingkarkan kedua lengannya di seputaran perut Aurel dan menjatuhkan dagunya di pundak Aurel. "Kau ingin pergi ke mana?" tanya Deo dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun dari tidurnya. Aurel menelusuri knop pintu dengan jarinya sambil menahan rasa gugup karena keberadaan Deo yang tiba-tiba. Ia juga bingung harus memberi alasan apa kepada pria itu. Tak mungkin ia mengatakan kalau ia akan pergi ke apartemen Jordan, yang ada pria itu akan melarangnya habis-habisan. Setelah insiden kemarin, Deo bahkan enggan mengangkat topik mengenai Jordan. Bahkan, tadi malam saja Deo tidur di kamar lain hanya karena malas berada satu ruangan dengan Aurel yang masih menyisakan bau tubuh Jordan di tubuhnya. Aneh sekali, bukan? Padahal selama ini pria itu selalu mengagung-agungkan kekasihnya itu. "Rencananya ingin ke rumah temanku," jawab Aurel pelan. "Lalu?" "Tidak ada lalu-lalu. Aku bosan di rumah." "Tumben sekali kau bosan di rumah saat ada aku. Biasanya kau lebih memilih di rumah saat aku juga berada di rumah. Kau ingin menghindariku ya?" tuduh Deo. Aurel menggeleng cepat. "Tidak! Astaga, jangan berpikiran yang tidak-tidak, Kak." Deo mengecup pipi Aurel sekilas seraya melepas pelukannya. "Ya sudah. Di mana rumah temanmu? Biar aku yang mengantarkanmu ke sana." "Tidak usah, Kak. Aku bisa naik taksi ataupun bus," tolak Aurel dengan cepat. "Okey, tunggu sebentar ya. Aku mandi dulu dan setelah itu kau pergi bersamaku," ucap Deo tak terbantahkan sambil berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan Aurel yang hanya bisa pasrah karena rencananya gagal. Sambil menunggu Deo mandi, Aurel menyalakan tv dan menonton acara apa saja yang bisa membunuh rasa bosan dalam dirinya selagi menunggu Deo sampai selesai. Dan ketika layar tv menampilkan seekor kucing dalam bentuk kartun, Aurel langsung teringat dengan Deo Junior yang beberapa hari ini tak pernah lagi dilihatnya. Aurel langsung bangkit dari duduknya dan bergegas untuk menghampiri Deo yang sedang berada di dalam kamar mandi. Ia bermaksud untuk menanyakan di mana keberadaan Deo Junior. "Kak!" panggil Aurel sambil menggedor pintu kamar mandi. "Apa?!" balas Deo dari dalam sana. "Deo Junior ke mana?" "Apa? Aku tidak dengar." "Matikan dulu keran airnya, Kak." Bukannya mematikan keran airnya, Deo malah membuka sedikit pintu kamar mandinya dan menyembulkan sedikit kepalanya agar bisa menatap Aurel. "Apa?" tanyanya langsung. "Deo Junior ke mana?" "Ah! Kucing itu sudah ku kembalikan ke habitat aslinya." "Hah?" Aurel mengernyitkan keningnya tak paham. "Kucing itu sudah ku kembalikan kepada temanmu. Siapa namanya itu? Juligo? Ah iya, Juligo," balas Deo dengan entengnya. "Apa?!" Aurel membelalakkan matanya dan tanpa sadar tangannya memukul pintu kamar mandi yang membuat pintu tersebut sedikit terdorong ke belakang dan hampir saja menampakkan tubuh telanjang Deo. "Hey! Kau ingin mengintipku ya!" pekik Deo seraya mendorong kembali pintu kamar mandi tersebut seperti semula. "Kembalikan kucingku! Kembalikan!" teriak Aurel sambil menarik-narik rambut Deo. Sementara itu, Deo berusaha sekuat tenaga untuk menahan tubuh telanjangnya agar tak tertarik dari balik pintu kamar mandi. "Hey! Lepaskan! Astaga, Aurel," Deo berusaha untuk menarik tangan Aurel dari rambutnya. Namun, ia membutuhkan kedua tangannya untuk tetap memegangi pinggiran pintu. Aurel melepaskan tangannya dari rambut Deo dan menatap pria itu dengan bibir yang melengkung ke bawah dan mata yang berkaca-kaca. Dan setelah itu, hanya tangisan Aurel dan keran air lah yang terdengar di rumah Deo.   ****   "Sudah, jangan menangis lagi. Aku akan menggantinya dengan kucing yang lain," Deo mengambil duduk di pinggir ranjang seraya menatap Aurel yang tengah menangis dengan seluruh tubuhnya yang tertutup oleh selimut. "Aku menyayangi Deo Junior! Tidak ada yang bisa menggantikannya!" teriak Aurel dari balik selimutnya. "Masih ada Deo Senior di sini. Dan kau tak perlu sesedih itu hanya karena kehilangannya. Kau memiliki dua Deo yang salah satunya masih bersamamu saat ini." "Aku tidak peduli! Aku ingin kucingku!" "Baiklah, aku akan mengambil kucingmu kembali. Tetapi setelah itu, aku yang akan pergi. Pilih mana?" Aurel langsung menarik selimutnya dan melemparnya begitu saja lantas memeluk tubuh Deo yang membuat pria itu terkekeh. "Jahat!" isaknya. Deo membalas pelukan Aurel seraya mengelus punggung gadis itu dengan senyum geli yang terukir di bibirnya. "Sudah, jangan diteruskan menangisnya. Kau membuatku jadi merasa sangat bersalah." "Tetapi aku ingin Deo Junior, Kak." "Aku akan mencarikan Deo Junior yang lain untukmu. Atau kau mau Deo Junior yang asli?" Aurel melepaskan pelukannya lantas menatap Deo dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. "Memangnya ada?" tanyanya polos. "Tentu saja ada." "Mana? Coba tunjukkan." Bibir Deo sudah berkedut karena menahan tawa. "Tidak bisa. Dia sedang tidur saat ini," balasnya dengan susah payah karena harus menahan tawanya yang sudah siap untuk meledak. Aurel mendesah kecewa. "Padahal aku ingin melihatnya." Deo tersenyum kecil untuk menyembunyikan tawanya. Sedetik kemudian, ia menarik Aurel mendekat ke arahnya yang dalam sekejap sudah mengubah posisi duduk Aurel menjadi di atas pangkuannya. Aurel mengerutkan keningnya heran, tetapi tetap tak menolak ataupun bangkit dari pangkuan Deo. Namun, senyuman yang tercipta di bibir Deo serta tatapan matanya yang begitu tajam, entah kenapa membuat tubuhnya jadi panas dingin sendiri. Apalagi saat mata Aurel menangkap gerakan kepala Deo yang semakin lama semakin dekat ke wajahnya. Dan pada detik berikutnya, bibir Deo sudah berlabuh di bibir Aurel yang membuat gadis itu membelalak tak percaya. Berbeda dengan Deo yang malah memejamkan matanya untuk merasakan tekstur bibir Aurel yang ternyata terasa begitu lembut. Aurel berniat untuk menarik kepalanya menjauh, namun tangan Deo sudah lebih dulu menahan tengkuknya sehingga membuat bibirnya semakin tertanam di bibir Deo. Sekian detik Deo hanya menempelkan bibirnya di bibir Aurel, namun setelah itu, Deo mencoba untuk menggerakkan bibirnya dan mulai mencicipi rasa bibir Aurel yang beberapa waktu lalu juga pernah dirasakannya. Aurel yang menerima serangan dari Deo, hanya bisa pasrah dengan memejamkan matanya. Dan tanpa sadar, tangannya sudah melingkari leher Deo. Ciuman Deo berhasil membuat jantung Aurel berdegup sangat kencang yang entah bagaimana bisa, membuat perutnya tiba-tiba terasa mulas. Beberapa menit yang hanya diisi dengan suara cecapan yang berasal dari bibir Deo yang melumat habis bibir Aurel, akhirnya telah berlalu dan langsung membuat Aurel menarik napas dalam-dalam karena ia merasa kalau paru-parunya terasa kosong. Deo terkekeh pelan. Ia menjalankan jarinya di sekitar bibir Aurel yang tampak basah dan membengkak dengan warna yang begitu merah akibat ciuman yang diberikan olehnya. "Maaf," ucapnya. Aurel mendongak dan matanya langsung bertatapan dengan mata Deo yang memancarkan sinar kelembutan di dalamnya. Jantungnya kembali berdegup dengan kencang akibat usapan lembut Deo di sekitar bibirnya. Deo menarik jarinya dari bibir Aurel dan memindahkan tangannya ke kepala gadis itu lantas mengelus rambutnya dengan lembut. "Jangan berikan ciumanmu kepada pria lain selain aku." Tanpa sadar, Aurel menganggukkan kepalanya. "Janji?" Dan sekali lagi, Aurel kembali menganggukkan kepalanya. Tetapi anggukkan kepala yang satu ini berbeda karena mengandung sebuah janji yang mau tak mau harus ditepatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN