Setelah kejadian menegangkan yang membuat Deo harus melayangkan tinjunya ke wajah Jordan, pria itu memutuskan untuk pergi kembali. Meninggalkan Aurel yang masih saja meringkuk di ujung sofa dengan isak tangisnya serta meninggalkan Jordan yang tergeletak tak berdaya di lantai sambil mengerang sakit.
Deo pergi bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak. Ia tak bisa memilih antara Aurel dan Jordan. Keduanya sama-sama penting dalam hidupnya. Sebenarnya ia ingin sekali memeluk Aurel dan menghapus air mata gadis itu. Ia juga ingin sekali memeluk Jordan dan membersihkan lukanya. Namun, ia tak bisa melakukannya dan memutuskan untuk pergi sejenak.
Aurel yang melihat kepergian Deo hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apa pun. Bahkan, untuk mengejar pria itu saja rasanya susah. Kakinya terasa seperti jeli dan tubuhnya terasa begitu lemas entah karena apa.
Perlahan, tangisan Aurel mulai berhenti. Ia menghapus air matanya lantas mengumpulkan kekuatannya agar setidaknya ia bisa berjalan menuju kamarnya. Ia cukup lelah setelah menangis.
Baru saja gadis itu ingin beranjak menuju kamarnya, gerakannya terhenti seketika saat melihat tubuh Jordan yang tergeletak di lantai. Aurel melotot lebar dan meringis pelan saat melihat Jordan yang menggeliat kesakitan.
Dengan panik, Aurel segera menghampiri Jordan. Entah mendapat kekuatan dari mana, yang jelas, gadis itu saat ini tengah memapah tubuh Jordan untuk dibawa ke sofa. Tubuhnya yang lemas, seketika berubah menjadi bugar kembali.
Aurel bolak-balik ke dapur hanya untuk mengambil beberapa peralatan yang akan digunakannya untuk mengobati Jordan yang tampak mengerikan dengan beberapa luka yang bersarang di wajahnya. Bahkan darah segar pun berhasil keluar lewat sudut bibir pria itu dan lubang hidungnya. Benar-benar parah. Aurel sampai bergidik sendiri membayangkan bagaimana Deo menyerang Jordan barusan. Ia tak menyadarinya karena terlalu kaget dengan kemarahan dan ciuman Jordan yang membuatnya begitu takut.
Aurel mengambil duduk di samping Jordan yang masih saja mengerang kesakitan. Ia memasukkan kain ke dalam wadah berbahan plastik yang sudah terisi dengan air hangat di dalamnya lantas memerasnya begitu diangkat. Aurel menempelkan kain tersebut ke bagian wajah Jordan yang mengeluarkan darah sambil menggigit bibirnya guna mengurangi rasa gugupnya.
Jordan mendesis sakit saat wajahnya bersentuhan dengan kain tersebut yang membuat Aurel meringis pelan. Gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya sampai pada tahap akhir dengan mengoleskan salep ke bagian wajah Jordan yang memar.
Aurel membawa peralatan pengobatannya kembali ke tempatnya semula. Ia berdiam diri sejenak di dapur untuk membuat teh hangat yang akan diberikannya kepada Jordan.
"Kak, minum dulu," ucap Aurel sambil menyodorkan teh tersebut ke arah Jordan yang langsung diterima oleh pria itu.
Jordan kembali meringis pelan saat teh tersebut menyentuh bibirnya yang pecah. "Terima kasih," ucapnya yang sudah mulai tenang seraya memberikan gelas tersebut kepada Aurel.
"Kak, maafkan aku ya," lirih Aurel seraya menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jemarinya.
Jordan menoleh ke arah Aurel yang terlihat takut. Hal tersebut membuat pria itu mengulas senyum geli di bibirnya. Pasalnya, selama ia mengenal Aurel, baru kali ini gadis itu takut kepadanya. Biasanya Aurel selalu menantangnya bahkan secara terang-terangan mengajaknya bertengkar.
"Seharusnya aku yang minta maaf."
Aurel mengangkat kepalanya dan pandangannya langsung bertumbukan dengan Jordan yang saat ini tengah tersenyum. Dan Aurel sedikit kagum saat melihat Jordan tersenyum kepadanya dengan tulus.
"Ya sudah, aku maafin Kakak," ucap Aurel kalem.
Jordan terkekeh pelan yang kemudian berubah menjadi ringisan karena bibirnya yang tertarik begitu lebar, menyebabkan bibirnya yang terluka kembali berdenyut-denyut sakit.
"Kakak sedang sedih, ya? Kalau iya, bersandar saja di pundakku," tawar Aurel seraya menepuk-nepuk pelan pundak kanannya.
"Kau sedang tidak ingin menjahiliku, kan?" tanya Jordan dengan mata yang menyipit curiga.
Aurel mengembuskan napasnya pelan seraya memutar kedua bola matanya. "Tentu saja tidak."
Jordan tersenyum tipis lantas menarik tubuh Aurel agar bersandar pada dadanya yang langsung membuat gadis itu terkejut namun tak menolak. Membiarkan telinganya mendengarkan irama detak jantung Jordan yang teratur.
"Melihatmu seperti ini, aku jadi teringat dengan adik perempuanku," ucap Jordan.
Aurel mendongak untuk menatap Jordan. "Kau punya adik?"
Jordan mengangguk. "Punya. Adik tiri lebih tepatnya. Untungnya dia tak mewarisi sifat Ibunya yang seperti jalang."
"Oke, hentikan pembahasan tentang Ibu Kakak. Aku takut dicium Kakak lagi," ucap Aurel sambil bergidik ngeri lantas kembali menempelkan kepalanya pada d**a Jordan.
Jordan terkekeh pelan sambil menahan perih pada bibirnya. "Maaf karena telah menciummu," ucapnya dengan tulus yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Aurel.
"Aku merasa aneh dengan tingkah kita saat ini," ucap Jordan yang membuat Aurel kembali mengangkat kepalanya dengan kerutan kecil di dahinya.
"Kenapa?" tanya Aurel bingung.
"Selama aku kenal denganmu, tak pernah sekalipun kita sedekat ini. Dekat dalam artian yang sebenarnya. Setiap saat kita selalu saja bertengkar dan bertengkar," jawab Jordan dengan senyuman gelinya.
"Benar. Tapi kita sama sekali tidak canggung. Dan ternyata kau cukup menyenangkan juga, Kak," sahut Aurel dengan senyum lebarnya.
"Tentu saja. Selama ini kan kau hanya memandangku dengan sebelah mata," ucap Jordan pura-pura kesal.
"Aku memandang Kakak dengan sepenuh mata. Kalau sebelah mata itu seperti ini," Aurel menutup sebelah matanya dengan telapak tangannya yang membuat Jordan terkekeh geli. "Dan sudah pasti aku akan terjatuh jika berjalan karena penglihatanku tidak seimbang," lanjutnya seraya menarik kembali telapak tangannya dari matanya.
"Kalau saja dari dulu kelakuanmu semanis ini jika bersamaku, sudah pasti aku akan langsung mengangkatmu menjadi adikku sama seperti yang Deo lakukan. Sayangnya kau begitu menyebalkan saat bersamaku."
Aurel mengerucutkan bibirnya sebal. "Kakak memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dariku."
"Supaya apa, hm?"
"Supaya Kak Deo bisa kembali normal lagi. Kakak ku itu sebenarnya ingin sekali memiliki keluarga seperti Kak Dean. Dia ingin sekali memiliki anak seperti Kak Dean. Dia selalu iri dengan kembarannya itu. Makanya aku ingin sekali membantumya untuk mewujudkan keinginannya. Dan untuk mewujudkannya, aku harus mengusir Kakak terlebih dulu," jelas Aurel secara blak-blakan.
Jordan terdiam. Memikirkan perkataan yang baru saja keluar dari mulut Aurel. Impian Deo untuk mempunyai keluarga ternyata begitu besar. Dan hanya karena orientasi seksualnya yang menyimpang, pria itu harus mengubur impiannya dalam-dalam.
"Kak, bagaimana kalau kita pacaran saja?"
Jordan menatap Aurel dengan pandangan tak percaya. "Apa?"
"Kita pacaran saja."
"Sepertinya yang baru dipukul itu aku, kenapa malah otakmu yang bergeser?"
Aurel mendengus pelan. "Aku serius, Kak. Lagi pula, Kakak kan biseksual, masih bisa terangsang dengan wanita," Aurel menaik-turunkan alisnya dengan cengiran lebarnya.
Jordan berjengit ngeri. "Dari mana kau tahu?"
"Dari Kak Deo."
"Aku memang masih terangsang dengan wanita, tetapi kalau wanitanya sepertimu, aku rasa aku tidak akan pernah terangsang. Demi Tuhan, kau masih tujuh belas tahun. Bahkan dadamu saja terlihat begitu rata," ucap Jordan sambil melirik d**a Aurel.
Aurel menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan memberikan pelototan tajamnya ke arah Jordan. "Satu minggu lagi aku delapan belas," kilahnya sambil menurunkan tangannya dari dadanya.
"Minggu depan kau ulang tahun?"
Aurel mengangguk. "Jadi pacarku ya, Kak? Setidaknya sampai aku ulang tahun saja."
"Kau sebegitu tidak lakunya ya sampai memintaku untuk menjadi pacarmu," ucap Jordan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku bukannya tidak laku. Aku baru saja patah hati karena orang yang ku sukai ternyata sudah punya kekasih," bantah Aurel.
"Miris sekali," sahut Jordan.
Aurel mengangguk. "Makanya, Kakak jadi pacarku saja, ya?" pintanya sambil menggoyang-goyangkan lengan Jordan.
"Aku ini pacarnya Deo kalau kau lupa."
Aurel mendesah sedih. Namun sedetik kemudian, ia kembali menunjukkan senyum cerahnya. "Kalau begitu, jadikan aku sebagai selingkuhan Kakak saja."
Jordan memandang Aurel dengan mulut yang menganga lebar, tak percaya dengan kelakuan gadis itu yang berubah menjadi agresif. "Aku menolakmu. Perselingkuhan itu tidak bagus."
Senyum Aurel luntur seketika. "Padahal aku sudah mengobatinya, bahkan dia juga sudah menciumku. Tetapi tetap saja dia pelit. Tidak mau membayar jasa yang sudah kuberikan," gumam Aurel kepada dirinya sendiri seraya beranjak meninggalkan Jordan.
Jordan tak mampu lagi menahan tawanya saat telinganya masih bisa mendengar gumaman Aurel dengan jelas.
"Baiklah, kau boleh menjadi selingkuhanku," ucap Jordan pada akhirnya yang membuat Aurel menghentikan langkahnya dan memekik girang lantas segera berlari untuk memeluk Jordan.
Jordan kembali tertawa, kali ini ia sudah melupakan rasa sakit pada bibirnya.
"Karena kau sudah resmi menjadi pacarku, mulai detik ini kau tidak boleh terlalu dekat dengan Deo, tidak boleh tidur dengannya dan tidak boleh manja-manja dengannya. Ah ya, satu lagi, kau juga tidak boleh berbicara lebih dari lima menit dengannya."
Aurel menatap Jordan dengan wajah cemberutnya. "Kita putus," ucapnya begitu saja lantas beranjak untuk meninggalkan Jordan yang sudah tertawa terpingkal-pingkal di tempatnya.
"Sebaiknya kau pergi saja dari rumahku. Kau bisa kembali tinggal di apartemenmu."
Ucapan tersebut sukses membuat tawa Jordan hilang dan membuat Aurel menghentikan langkahnya lantas membalikkan badannya. Baik Jordan maupun Aurel, keduanya sama-sama menatap Deo dengan raut wajah yang terlihat bingung dan sedih dalam waktu yang bersamaan.