Aurel yang melihat wajah tak senang milik Jordan, bukannya segera menjauhkan dirinya dari Deo, gadis itu malah dengan sengaja memeluk Deo seraya menjulurkan lidahnya ke arah Jordan, bermaksud untuk mengejek pria itu. Di tempatnya, Jordan memberikan pelototan tajamnya ke arah Aurel. Gadis itu benar-benar selalu berhasil membuatnya kesal dalam kondisi apa pun.
"Kak Jo ngapain ke sini, sih? Rumah ini dibeli Kak Deo untuk aku," gerutu Aurel kesal masih dengan tubuhnya yang menempel di tubuh Deo.
Jordan mendengus kesal ketika Aurel memberinya tatapan mengejek yang membuat pria itu geram sendiri. Sementara itu, Deo yang tak ingin melihat adanya pertengkaran lagi antara Aurel dan Jordan, memilih untuk memisahkan diri dari Aurel.
"Kak!" pekik Aurel dengan wajah cemberutnya saat Deo meninggalkannya begitu saja.
Deo mendesah pelan seraya berbalik dan langsung mendaratkan bibirnya di puncak kepala Aurel lantas membisikkan sesuatu di telinga gadis itu, "jangan membuat masalah lagi, please," dan setelah mengatakan itu, Deo kembali berlalu dan meninggalkan Aurel yang semakin menekuk wajahnya tak suka.
"Ayo, ku tunjukkan kamarmu," ucap Deo saat ia berjalan melewati Jordan.
Jordan mengangguk lantas menoleh sebentar ke arah Aurel sambil menjulurkan lidahnya, membalas perbuatan Aurel yang membuat gadis itu mencak-mencak di tempatnya.
Setelah puas menyalurkan kekesalannya terhadap Jordan, Aurel langsung melompat dari tempat tidur lantas menyusul Deo dan Jordan yang mungkin saja sudah berada di dalam kamar. Gadis itu jadi panas dingin sendiri jika sudah mendapati Deo dan Jordan dalam kamar yang sama. Ia tak ingin rumah yang baru saja dibeli oleh Deo ini, terkena azab karena kelakuan kedua pria dewasa tersebut.
Dan benar saja, kedua pria itu saat ini tengah berpelukan dengan mesranya, membuat Aurel ingin memuntahkan semua isi perutnya.
"Iwh. Kalian menjijikkan."
Deo sontak melepas pelukannya dengan Jordan saat mendengar suara cempreng Aurel. Ia menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah. Di lain sisi, Jordan malah melemparkan tatapan kesalnya ke arah Aurel karena gadis itu kembali mengganggu momen-momennya bersama Deo.
"Ayo, biarkan Jordan istirahat sebentar," Deo menggandeng tangan Aurel lantas mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ini kamar Kakak?" tanya Aurel setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar milik Deo.
Deo menutup pintu kamarnya lantas mengambil duduk di samping Aurel yang sudah lebih dulu duduk di pinggir ranjangnya. "Iya," jawabnya singkat.
Bola mata Aurel mengelilingi seluruh isi kamar tidur tersebut dan mengakhirinya di wajah Deo. Gadis itu menunjukkan wajah kesalnya lantas berkata, "lenapa kamar Kakak lebih besar dari kamar yang lain. Ranjangnya juga besar sekali," sungut Aurel tak suka.
Deo terkekeh pelan seraya mengacak rambut Aurel. "Kamarku akan jadi kamarmu juga, makanya ranjangnya aku buat besar supaya muat untuk kita berdua. Kamarmu hanya untuk pencitraan saja. Kalau sewaktu-waktu Ibumu berkunjung ke sini, tidak mungkin kita bilang kalau kita tidur dalam satu kamar yang sama, yang ada Ibumu akan membawamu pulang."
"Jadi aku boleh tidur bersama Kakak?" tanya Aurel dengan mata yang berbinar-binar.
Deo tersenyum geli seraya mengangguk. "Memangnya kau bisa tidur tanpa aku?"
Aurel menggeleng dengan cepat. "Tentu saja tidak."
Deo tersenyum kecil dan kembali mengacak rambut Aurel. Setelah itu, pria itu mulai membaringkan tubuhnya dengan kedua kaki yang dibiarkan menggantung dan kedua tangannya yang diubah menjadi bantalan kepalanya.
"Tapi aku harap, kau juga belajar untuk tidur tanpaku."
Aurel sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa menatap wajah Deo yang tengah berbaring. Ia juga menaikkan kedua kakinya lantas duduk dengan posisi bersila.
"Memangnya kenapa?"
Deo menatap Aurel dengan senyuman tipis yang bertengger di bibirnya lantas menjawab pertanyaan gadis itu, "karena tak selamanya kita akan terus hidup berdua. Suatu saat nanti, baik kau ataupun aku, kita akan sama-sama meniti masa depan kita dengan pasangan masing-masing."
"Tetapi itu masih lama, Kak. Dan Kakak tadi bilang apa? Meniti masa depan dengan pasangan masing-masing? Maksud Kakak, Kakak akan menikah dengan Kak Jo?" tanya Aurel yang masih tak paham dengan jawaban Deo.
"Tentu saja tidak. Kau tahu? Selama ini aku selalu mengamati kehidupan Dean. Aku selalu iri dengannya. Dia bisa terlihat begitu bahagia hanya karena anaknya bisa menyebutkan kata Papa. Dan entah kenapa, aku juga ingin merasakan hal yang sama," jawab Deo dengan pandangan yang terarah lurus ke langit-langit kamar, membayangkan betapa indahnya kehidupannya nanti bila ia juga mempunyai seorang anak seperti Dean.
Aurel yang melihat Deo seperti itu, mau tak mau menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Lalu, bagaimana dengan Kak Jordan?" tanyanya penasaran.
Deo kembali mengarahkan pandangannya ke arah Aurel. "Dia biseksual, Aurel. Masih bisa terangsang saat melihat wanita. Hanya saja, sifat gay dalam dirinya lebih dominan."
"Jadi?" Aurel mengernyitkan keningnya, masih tak paham dengan apa yang dikatakan Deo barusan.
"Kapan pun Jordan mau, dia bisa berubah menjadi pria yang benar-benar normal. Dia menjadi gay hanya karena masa lalunya. Jadi, dia bisa dengan cepat berubah bila dia mau," jelas Deo dengan sabar.
"Lalu, bagaimana dengan Kakak?"
Deo tampak mengembuskan napasnya dan kembali memandang langit-langit kamar. "Aku? Entahlah. Aku rasa aku memang terlahir sebagai gay. Aku ingin berubah. Tetapi rasanya sangat susah. Bahkan aku tak terangsang sama sekali dengan seorang perempuan. Bisa sih, tetapi prosesnya begitu lama," jawabnya dengan lemah. Namun, setelah itu Deo membelalakkan matanya dan langsung terduduk begitu ia ingat kalau ia pernah terangsang dengan Aurel saat gadis itu masih dalam balutan pakaian dalam.
Aurel tampak mengernyitkan keningnya dengan heran saat melihat tingkah Deo yang seperti itu. "Kenapa?" tanyanya kemudian.
Deo memandang Aurel dengan mata yang berkedip berulang kali. Setelah itu, pria itu menenggelamkan kepalanya dalam telapak tangannya lantas menghela napas berulang kali, berusaha untuk mengenyahkan pikiran aneh yang mulai merasuki otaknya.
"Kak, kenapa?" tanya Aurel cemas seraya menggoyangkan pundak Deo.
Deo menegakkan kepalanya dan menatap Aurel dengan seksama. "Aku pernah terangsang dengan seorang perempuan saat perempuan itu bahkan masih menggunakan pakaian dalamnya. Dan perempuan itu merupakan perempuan pertama yang berhasil membuatku terangsang dalam waktu singkat."
Aurel mengernyitkan keningnya, tak mengerti ke mana arah pembicaraan Deo.
"Perempuan itu kau, Aurel," ucap Deo.
Dan setelah itu, Aurel pergi begitu saja dengan wajah yang memerah padam.
****
"Kak Jo," panggil Aurel yang hanya dibalas dengan gumaman oleh Jordan.
"Kak Deo kemana?"
"Pergi dengan temannya," jawab Jordan yang masih fokus dengan layar laptopnya.
Aurel menghela napas pelan lantas ikut bergabung bersama Jordan yang saat itu tengah duduk di sofa tv sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.
Aurel meraih remote televisi lantas menyalakannya. Jarinya fokus menekan-nekan remote tersebut untuk mencari saluran tv yang menampilkan acara yang wajib untuk ditonton saat malam hari.
Setelah menemukannya, Aurel kembali meletakkan benda persegi panjang tersebut ke tempatnya semula. Pandangannya mulai fokus ke arah tv yang menampilkan acara lawak. Namun, entah kenapa pikirannya tiba-tiba saja berkelana jauh ke kejadian sore tadi saat ia tengah berbicara dengan Deo. Wajahnya kembali memerah saat ia ingat apa yang dikatakan Deo sebelum pria itu pergi begitu saja.
Bahkan setelah itu, Aurel mengurung dirinya di dalam kamar sampai ia mendengar suara deru mobil dan memberanikan diri untuk keluar. Aurel terlalu malu untuk bertemu dengan Deo. Pantas saja pria itu pernah menegurnya untuk tidak berganti pakaian di dalam kamar.
Aurel tersadar dari lamunannya saat ia merasakan adanya tangan jahil yang sedang menarik-narik rambutnya dan menimbulkan sedikit rasa sakit di kulit kepalanya. Gadis itu lantas menoleh ke arah Jordan dan langsung memberikan pelototan garangnya saat melihat tangan pria itu yang masih memegang rambutnya.
"Jangan melotot seperti itu, kau terlihat jelek," ucap Jordan dengan nada mengejeknya.
Aurel hanya mencibir pria itu lantas kembali menatap televisi. Namun, setedik kemudian gadis itu kembali menoleh ke arah Jordan yang sudah kembali memfokuskan pandangannya pada laptopnya.
"Kak, Kakak tidak ingin berubah?" tanya Aurel.
"Berubah? Berubah seperti power rangers maksudmu?" tanya Jordan balik tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Bukan," Aurel memutar kedua bola matanya. "Berubah menjadi pria yang hanya menyukai wanita," ucapnya dengan pelan, takut membuat Jordan tersinggung.
"Kenapa harus?"
"Karena Kakak sudah tua. Mau sampai kapan seperti ini terus? Apa Kakak tidak ingin berubah?"
Jordan menutup laptopnya lantas meletakkannya di atas meja dan beralih menatap Aurel. "Lalu? Setelah aku berubah, aku akan meninggalkan Deo dan kau akan dengan mudah mendekatinya? Begitu kan maksudmu?" ucap Jordan yang mulai terlihat menyebalkan.
"Ini tidak ada hubungannya denganku," ucap Aurel seraya memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Aku hanya ingin Kakak dan Kak Deo berubah. Demi Tuhan, kalian sudah tiga puluh lebih. Apa kalian tidak memikirkan bagaimana kehidupan kalian kedepannya. Apa kalian hanya ingin hidup sebagai penyuka sesama jenis dan membujang seumur hidup? Aku memang bukan homophobic, tetapi selagi bisa berubah, kenapa tidak?"
"Berubah tidak semudah yang kau pikirkan, Aurel."
"Tapi kau bisa mencobanya, Kak."
"Tapi aku tidak mau mencobanya, Aurel! Demi Tuhan, aku membenci perempuan untuk dijadikan sebagai pendamping hidup!" teriak Jordan yang mulai kehilangan kendali dirinya.
Aurel sedikit kaget dengan teriakan Jordan, tetapi ia kembali memasang wajah tenangnya. "Kenapa, Kak? Tidak semua perempuan seperti yang kau pikirkan selama ini."
Jordan mengacak rambutnya frustasi. "Kau tahu, Aurel," ucap Jordan seraya mengangkat kepalanya untuk menatap Aurel. "Masa laluku yang membuatku menjadi seperti ini. Ibu kandungku, dia berulang kali membawa pria yang berbeda-beda setiap harinya ke dalam rumah dan melakukan hal yang tak pantas untuk dilakukan. Lalu Ayahku menceraikannya dan setelah itu, dia kembali menikah dengan wanita lain yang kelakuannya tak jauh berbeda dengan Ibuku. Dia menceriakannya lagi dan menikah lagi dengan wanita yang sama pula. Sampai akhirnya Ayahku meninggal karena serangan jantung, dan membuatku harus terjebak bersama Ibu tiriku yang kelakuannya tidak berubah bahkan setelah kematian Ayahku," jelas Jordan panjang lebar dengan tatapan sendunya yang membuat Aurel prihatin.
"Tidak semua wanita seperti itu, Kak," ucap Aurel yang kembali mencoba untuk mengubah pemikiran Jordan.
"Tetapi setiap aku berhubungan dengan wanita, aku selalu teringat dengan ketiga wanita sialan itu!" teriak Jordan yang kembali lepas kendali.
"Tapi..."
"Jangan pernah memaksaku, Aurel. Kau tak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi aku," desis Jordan yang telah dikerubungi oleh amarah.
"Aku hanya ingin..."
Ucapan Aurel kembali terhenti begitu Jordan mendorongnya dengan kuat sehingga membuat gadis itu terpojok. Setelah itu, Jordan dengan kasarnya mencium bibir Aurel tanpa ampun. Ia begitu marah ketika gadis itu berhasil mengingatkannya dengan ketiga perempuan yang pernah menyandang status sebagai ibunya dan memaksa dirinya untuk berubah.
Tarikan yang kuat pada baju Jordan, membuat pria itu terhuyung ke belakang. Dan setelah itu, Jordan menerima pukulan yang begitu kuat pada bagian wajahnya yang berasal dari Deo yang dilanjutkan dengan pukulan bertubi-tubi yang membuat wajah Jordan babak belur.
Keadaan hening seketika yang kemudian disusul dengan isak tangis Aurel.
Untuk pertama kalinya, Deo berani menyentuhkan tinjunya di wajah Jordan, orang yang selama ini sangat disayanginya, bahkan sangat dicintainya. Entah karena ia kecewa dengan pria itu yang ternyata mengkhianatinya, entah pula karena rasa marah dan cemburu karena Aurel telah disentuh oleh pria lain.