Bab 10

1369 Kata
Deo menyandarkan tubuhnya di badan mobil miliknya. Kedua tangannya menyilang di depan dadanya dengan kedua mata yang terus menyorot keadaan di depannya. Kedua bola matanya terus berputar-putar mencari keberadaan seseorang yang sudah ditunggunya sejak tadi. Senyumnya pun merekah lebar ketika matanya menemukan apa yang sejak tadi dicarinya. "Kak Deo? Sedang apa di sini?" tanya Aurel yang terlihat sedikit terkejut dengan keberadaan Deo di kampusnya. "Menjemputmu," jawab Deo dengan senyum lebarnya. Kedua alis Aurel bertaut menjadi satu, membentuk raut bingung pada wajahnya. Pasalnya, Deo tak pernah sekalipun menjemputnya jika tidak dalam keadaan darurat saja. Lalu sekarang? Pria itu tampak tenang-tenang saja, tak menunjukkan bahwa ada keadaan darurat yang sedang terjadi saat ini. "Aurel," panggil seseorang yang membuat Deo dan Aurel segera menoleh ke arah seseorang tersebut. Pria yang memanggil Aurel tadi pun berjalan menghampiri Deo dan Aurel. Ia memberikan senyum manisnya kepada Aurel yang entah kenapa membuat Deo mengernyit tak suka. "Ah! Pasti Kakak ini Kakaknya Aurel, benar kan?" tanya pria tersebut seraya menatap Deo dengan senyum lebarnya. "Aku Juligo, Kak. Calon pacarnya Aurel," Juligo mengulurkan tangannya ke arah Deo, bermaksud untuk berkenalan dengan cara bersalaman. Aurel mendengus pelan seraya memutar jengah kedua bola matanya. Juligo memang sejak dulu selalu mengejar-ngejar dirinya. Padahal sudah berulang kali Aurel menolaknya. Namun, pria itu tetap keukeuh untuk memperjuangkan cintanya. Deo mengabaikan uluran tangan Juligo. Ia menarik tangan Aurel dan membawanya masuk ke dalam mobil, meninggalkan Juligo yang menatap heran keduanya. Dan semakin heran lagi saat Deo membawa Aurel pergi begitu saja tanpa membalas uluran tangannya. Padahal, pria itu hanya ingin lebih dekat lagi dengan anggota keluarga Aurel agar ia bisa dengan mudah mendekati gadis itu. "Kau seharusnya fokus pada kuliahmu, Aurel. Jangan pacaran dulu," tegur Deo dengan suara lembutnya. Aurel menatap Deo dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. "Siapa yang pacaran?" "Kau dan pria tadi. Dia mengaku sebagai calon pacarmu yang berarti bahwa sebentar lagi kalian akan pacaran. Aku benar, kan?" "Tentu saja salah. Siapa bilang aku bersedia untuk menjadi pacaranya? Aku hanya menganggapnya sebagai temanku saja, tidak lebih," bantah Aurel. "Bohong." "Benar." "Bohong." "Benar, Kak. Astaga." Deo tersenyum geli seraya mengacak rambut Aurel. "Baguslah. Kau harus fokus dengan kuliahmu dulu." "Tentu saja. Aku kan ingin menjadi orang sukses seperti Kak Dean." "Hey! Aku juga sukses. Kenapa kau tak ingin menjadi sukses sepertiku saja? Kenapa harus Dean?" ucap Deo tak terima. "Sesukses suksesnya Kakak, masih lebih sukses lagi Kak Dean. Dia sudah memiliki perusahaannya sendiri, sementara Kakak masih bekerja dengannya." "Hey! Kalau aku mau, aku juga bisa membangun perusahaanku sendiri. Aku hanya kasihan dengan Dean, makanya aku mau-mau saja bekerja dengannya," ucap Deo tak mau kalah. Aurel tertawa pelan. "Aku hanya bercanda, Kak. Lagi pula, menurutku Kakak adalah yang terbaik." Deo menatap Aurel dengan mata yang berbinar-binar cerah. "Benarkah?" "Aku bohong," jawab Aurel seraya menjulurkan lidahnya ke arah Deo lantas tertawa dengan keras, membuat Deo mendengus kesal. Kecanggungan yang beberapa saat lalu sempat terjadi di antara mereka, kini sudah hilang entah ke mana. Kebersamaan mereka kembali diisi dengan segala macam obrolan dan tawa yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Keduanya bahkan sudah melupakan masalah yang sempat menghampiri mereka. "Lho, Kak? Kita mau ke mana?" tanya Aurel saat ia sadar bahwa jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju rumahnya ataupun apartemen Deo. "Pulang." "Pulang?" tanya Aurel memastikan yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Deo. Aurel sudah membuka mulutnya, bermaksud untuk melontarkan beberapa pertanyaan yang mengerubungi kepalanya. Namun mulutnya kembali tertutup saat Deo membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah rumah minimalis yang terlihat begitu indah dengan ukurannya yang sederhana itu. Kening Aurel berkerut dalam saat Deo mengajaknya untuk keluar dari dalam mobil lantas mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Gadis itu masih tak bisa menangkap maksud dari apa yang sedang terjadi saat ini. Ia bingung, benar-benar bingung. "Kak, ini rumah siapa?" tanya Aurel setelah beberapa saat ia hanya diam dengan kebingungannya. Deo terus melanjutkan langkahnya tanpa menjawab pertanyaan Aurel. Gadis itu pun hanya diam saja seraya mengikuti langkah kaki Deo. Deo membuka salah satu pintu yang terdapat dalam rumah tersebut lantas sedikit memutar tubuhnya agar bisa menatap Aurel. "Nah! Yang ini kamarmu," ucapnya dengan senyuman lebarnya. Aurel menautkan kedua alisnya dengan bingung. "Kamarku?" "Ayo, kita lihat," ajak Deo seraya menggandeng tangan Aurel dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar tersebut tanpa mengindahkan pertanyaan gadis itu. "Kak, sebenarnya ini rumah siapa?" tanya Aurel lagi yang semakin heran dengan semuanya. "Kejutan! Ini rumah baru kita," ucap Deo dengan senyum lebarnya sambil merentangkan kedua tangannya, bermaksud untuk menunjukkan apa yang ada di sekelilingnya. Aurel membuka mulutnya begitu lebar. Tak ada kalimat apa pun yang keluar dari bibirnya saking terkejutnya dengan apa yang baru saja Deo katakan. "By the way, Kau masih perawan, kan?" tanya Deo seraya mengambil duduk di pinggir ranjang berukuran besar yang akan menjadi ranjang milik Aurel nantinya. Belum habis rasa kagetnya akibat kejutan yang diberikan oleh Deo, kini pria itu sudah kembali membuatnya terkejut dengan pertanyaan ambigu yang dilontarkannya barusan yang membuat mata Aurel membelalak lebar. Deo menarik lengan Aurel yang langsung membuat gadis itu terduduk di sampingnya. Pria itu memutar kedua bola matanya seraya mendengus lelah saat melihat Aurel yang masih saja diam dengan raut wajah yang terlihat begitu bingung. Deo menjentikkan jarinya di depan wajah Aurel yang langsung membuat gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali seolah dia baru saja kembali dari lamunannya. "Kau kenapa, sih?" "Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Kak? Astaga! Aku masih belum bisa mencernanya dengan baik." "Oke, aku akan menjelaskannya. Dengarkan baik-baik ya," Aurel menganggukkan kepalanya. "Ini adalah rumah baru kita yang mana, nantinya akan diisi oleh aku, kau dan Jordan. Aku sudah menjual apartemenku. Tempat itu terlalu kecil, jadi aku membeli rumah ini agar ketika Jordan pulang ke Indonesia, dia tak perlu lagi meributkan tentang ranjang. Paham?" Aurel kembali menganggukkan kepalanya, namun sedetik kemudian, matanya melotot lebar dan teriakan kencang pun keluar dari mulutnya. "Kak Jordan juga akan tinggal di sini?!" Kali ini gantian Deo yang menganggukkan kepalanya. Aurel mendesah pelan. Tinggal satu rumah dengan Jordan adalah mimpi buruk yang ingin sekali dihindarinya. "Jadi, Kakak mengajakku untuk tinggal bersama Kakak lagi setelah kemarin Kakak mengusirku?" Deo melotot tak terima. "Siapa yang mengusirmu?!" Aurel memutar malas kedua bola matanya. "Tentu saja Kakak. Memangnya siapa lagi." "Jangan bilang kalau sikapmu tadi siang itu bukan karena kau sedang PMS, tetapi karena kau malas melihatku karena kau menyangka jika aku mengusirmu," tebak Deo. Aurel menjentikkan jarinya. "Benar sekali!" "Astaga, maafkan aku," Deo memeluk tubuh Aurel lantas kembali melanjutkan kalimatnya. "Kemarin aku tidak bermaksud untuk mengusirmu. Aku hanya mencoba untuk menuruti apa kata Ibumu. Maafkan aku, Unyil." Aurel mengembuskan napasnya lantas membentuk senyum tipis di bibirnya dan membalas pelukan Deo. "Apology accepted." "Kenapa tidak bilang kalau kau sakit hati denganku?" "Salah sendiri. Seharusnya Kakak lebih peka." "Pria memang selalu salah," kekeh Deo yang juga diikuti dengan tawa kecil Aurel. Deo mengurai pelukannya dengan Aurel lantas memegang kedua pundak gadis itu seraya menatapnya lekat-lekat, membuat Aurel mengernyit heran. "Kau masih perawan, kan?" "Masih lah. Memangnya aku perempuan murahan," jawab Aurel seraya memutar kedua bola matanya. Deo mengembuskan napas lega seraya mengembangkan senyum dibibirnya. "Bagus kalau begitu. Dan aku harap kau terus menjaga keperawananmu selama kau tinggal bersamaku, okey?" "Memangnya kenapa?" "Aku sudah meminta izin kepada Ibumu untuk mengajakmu tinggal bersamaku lagi, dan dia percaya bahwa anak gadisnya ini akan aman bersamaku," Deo menarik hidung Aurel lantas kembali melanjutkan kalimatnya. "Dan aku tak ingin Ibumu kecewa jika anak gadisnya kenapa-kenapa saat bersamaku. Apalagi sampai kehilangan keperawanannya, bisa-bisa dia menyangka kalau akulah yang memerawanimu," kekeh Deo. "Jadi Ibu mengizinkanku untuk tinggal bersama Kakak lagi?" tanya Aurel dengan mata yang berbinar cerah. "Yap," jawab Deo tersenyum. "Ah! Aku senang sekali," pekik Aurel seraya memeluk Deo dengan erat, membuat pria itu lagi-lagi terkekeh geli. Deo melepas pelukannya dengan Aurel lantas menatapnya dengan senyum yang sedari tadi tak pernah luntur dari bibirnya. "Kiss me," ucapnya seraya meletakkan jari telunjukkan di keningnya dan mengetuknya pelan. "Dengan senang hati," Aurel langsung mencondongkan tubuhnya dan mendaratkan bibirnya di kening Deo, menciumnya sedikit lama yang membuat pria itu kembali terkekeh pelan. "Jadi aku diundang kesini hanya untuk melihat kalian berdua tengah bermesraan?" Deo dan Aurel sontak menoleh ke ambang pintu saat mendengar suara tersebut. Dan mereka berdua sama-sama terkejut saat melihat Jordan yang tengah berdiri di ambang pintu dengan wajah datarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN