"Aurel! Kamu masih lama?" panggil ibu Aurel seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar gadis itu.
"Sebentar lagi Aurel keluar, Bu," jawab Aurel dari dalam kamarnya.
"Buruan, ya. Deo udah nungguin kamu."
Aurel yang mendengar nama Deo disebut, langsung menghentikan aktivitasnya yang tengah memoles wajahnya dengan bedak. Ia segera berjalan menuju pintu kamarnya lantas segera membukanya dan langsung melontarkan pertanyaan untuk ibunya, "ada Kak Deo, Bu?"
Ibu Aurel yang awalnya sudah berniat untuk meninggalkan kamar Aurel, segera berbalik saat mendengar anaknya melontarkan pertanyaan untuknya. "Ada. Buruan, dia kesini mau nganterin kamu kuliah katanya," jawabnya seraya berbalik dan berlalu dari hadapan Aurel.
Aurel mendengus pelan lantas menutup pintu kamarnya. Ia kembali duduk di depan kaca riasnya seraya melanjutkan dandannya dengan lesu. Pasalnya, sejak dua hari yang lalu, setelah ia resmi pindah dari apartemen Deo, gadis itu berusaha untuk terus menghindari Deo. Tetapi sekarang? Bagaimana ia akan menghindar kalau Deo saja sedang berada di rumahnya. Tak mungkin ia pergi lewat pintu belakang, yang ada ibunya akan mengamuk karena sikapnya yang tak sopan.
Setelah selesai dengan urusan merias diri, Aurel bergegas untuk menemui Deo yang katanya akan mengantarnya kuliah. Saat Aurel masih tinggal di apartemen Deo, ia memang selalu berangkat kuliah bersama pria itu, tetapi hanya saat ia memiliki jadwal kuliah di pagi hari saja. Namun sekarang? Ini sudah siang dan Deo akan mengantarnya di saat seharusnya pria itu duduk di kantornya dengan setumpuk pekerjaannya. Aneh.
"Hai," sapa Aurel yang terlihat canggung saat ia sudah berada dalam jarak beberapa meter dari tempat Deo duduk. Entah kenapa suasana yang tercipta antara dirinya dengan Deo terasa begitu canggung. Padahal mereka baru berpisah selama dua hari. Entahlah, mungkin karena perpisahan mereka yang terbilang sangat tiba-tiba.
Deo melemparkan senyumnya ke arah Aurel yang entah kenapa membuat jantung gadis itu berdegup lebih cepat dari biasanya. Rasanya ia begitu merindukan senyum pria itu. Sial! Padahal baru dua hari ia tak berjumpa dengan Deo, tetapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun saja.
Deo bangkit dari duduknya. "Berangkat sekarang?"
Aurel mengangguk. "Aku pamit dulu sama Ibu," ia berbalik dan bergegas menemui ibunya untuk berpamitan, begitu pula dengan Deo yang mengikutinya dari belakang.
Setelah mereka berpamitan, keduanya lantas masuk ke dalam mobil Deo dan segera berangkat menuju kampus Aurel.
Hampir setengah perjalanan, mobil yang mereka naiki terasa begitu senyap. Tak ada satu pun di antara mereka yang berniat untuk memulai percakapan atau hanya sekadar berbasa-basi tak penting. Dan Deo merasa jika ada yang tak beres dengan Aurel. Gadis itu menjadi pendiam. Padahal biasanya Aurel selalu saja mengoceh tanpa henti jika bersamanya dalam keadaan apa pun dan di mana pun.
Deo berdehem pelan. "Unyil, kenapa kau tak pernah datang ke apartemen?" tanya Deo yang mencoba untuk mencairkan suasana.
Aurel menoleh ke arah Deo yang pandangannya masih fokus ke jalanan. Ia kembali menatap ke arah depannya lantas menjawab pertanyaan Deo barusan. "Aku sibuk. Maaf."
Detik itupula Deo semakin yakin jika ada yang tak beres dengan Aurel. Dan ia sangat tak bisa melihat gadis itu yang tiba-tiba saja berubah menjadi seseorang yang terlihat berbeda di matanya. "Kau kenapa? Sedang ada masalah?" tanya Deo yang mulai berusaha untuk mengorek apa yang sebenarnya membuat adiknya itu menjadi pribadi yang berbeda.
"Tidak," jawab Aurel singkat.
"Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja. Ingin berbagi? Aku siap mendengarkannya."
"Aku baik-baik saja," kilah Aurel.
Deo mengangguk paham. Sedetik kemudian, ia mengulurkan sebelah tangannya ke arah Aurel dan membiarkan satu tangannya yang lain memegang kendali untuk menyetir. "Kau bisa memegang tanganku seperti biasanya jika belum siap untuk bercerita."
Aurel melirik tangan Deo yang terulur ke arahnya. Ia mendesah pelan seraya memejamkan matanya sejenak. Ia memang selalu menggenggam tangan Deo jika sedang ada masalah. Ia selalu merasa tenang jika sudah menggenggam tangan Deo. Dan detik itupula Aurel sadar jika ia sudah terlalu bergantung dengan pria itu.
Aurel mendorong tangan Deo ke arah setir mobil. "Aku baik-baik saja."
"Kau tidak baik-baik saja. Aku tahu itu," ucap Deo seraya mengambil tangan Aurel dan membiarkan tangannya menggenggam tangan gadis itu.
Aurel menyentakkan tangannya sehingga membuat genggaman tangan Deo terlepas. "Aku bilang aku baik-baik saja!" bentaknya.
Deo yang tak menyangka dengan reaksi Aurel yang tidak seperti biasanya langsung menoleh ke arah gadis itu dan menatapnya dengan alis yang bertaut bingung.
Aurel mengembuskan napasnya. "Maaf. Aku sedang datang bulan," ucap Aurel memberi alasan. Padahal, ia sedang tidak datang bulan. Rasanya susah untuk mengontrol emosinya saat ini. Entahlah, mungkin gadis itu masih sakit hati dengan pengusiran yang dilakukan Deo secara terang-terangan.
Deo hanya mengangguk dan kembali memfokuskan pandangannya ke jalanan. Ia tahu, bahkan sangat tahu jika Aurel tengah berbohong. Ia yakin jika ada masalah yang begitu serius yang tengah mengganggu pikirannya. Dan entah kenapa Deo merasa jika Aurel mulai menghindarinya. Gadis itu tak pernah menolak uluran tangannya, bahkan saat sedang marah sekalipun. Namun, sekarang gadis itu terang-terangan menolaknya.
"Kau tidak ingin berbagi denganku lagi, ya? Maaf kalau aku tadi sempat memaksamu," ucap Deo seraya melirik Aurel lewat ujung matanya.
Aurel mendesah pelan. Ia mengambil satu tangan Deo lantas menggenggamnya dan kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Hal itu langsung membuat senyuman Deo terbit di bibirnya, begitu lebar. Dengan senang hati pria itu membalas genggaman tangan Aurel.
****
"Kau kenapa?" tanya Anne saat melihat Aurel yang langsung merebahkan kepalanya di atas meja tanpa semangat saat baru masuk ke dalam kelas.
Aurel mengacungkan jempolnya, mengatakan bahwa ia baik-baik saja lewat isyarat jarinya.
"Jangan bohong. Kau tidak baik-baik saja, aku tahu itu. Dan dalam waktu lima menit kau tak bercerita kepadaku, jangan harap aku akan mendengarkan ceritamu lagi nanti," ancam Anne seraya kembali menatap layar ponselnya dan kembali memainkan game candy crush-nya.
Aurel mengangkat kepalanya. "Anne," panggilnya dengan suara pelan.
"Cerita saja. Aku akan mendengarkannya," balas Anne tanpa menoleh ke arah Aurel.
"Tadi Kak Deo mengantarku ke kampus. Rasanya aku ingin marah saja jika melihat wajahnya. Dan yang paling membuat aku kesal, dia tidak peka jika yang membuat pikiranku terganggu itu adalah dia. Menyebalkan sekali, kan? Tetapi yang paling menyebalkannya lagi, aku benar-benar tak bisa jauh darinya. Aku sudah terlalu bergantung dengannya."
"Kau masih mencintainya."
Aurel melebarkan matanya. "Gila! Itu tidak mungkin. Aku jatuh cinta dengannya itu sudah beberapa tahun yang lalu. Saat aku masih puber dan baru mengenal apa itu cinta. Yang benar saja," ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Anne menghentikan game-nya sejenak lantas memutar tubuhnya ke samping agar pandangannya mengarah tepat ke arah Aurel. "Kak Deo itu cinta pertamamu, kan? Dan kau sendiri yang bilang kalau cinta pertama itu sangat sulit untuk dilupakan."
"Tapi itu sudah lama sekali, Anne. Dan aku rasa itu adalah cinta monyet, bukan cinta sungguhan yang bisa disebut sebagai cinta pertama," bantah Aurel.
"Tetapi tetap saja, Aurel. Kau pernah mencintainya. Apalagi selama ini kalian tinggal bersama dan aku yakin semakin hari rasa cintamu ke dia semakin besar tanpa kau sadari. Maka dari itu kau sangat bergantung kepadanya."
Aurel terdiam. Sibuk memikirkan apa yang dikatakan Anne. Rasanya sulit untuk dipercaya bahwa ia masih mencintai Deo. Hal tersebut terjadi beberapa tahun yang lalu, sebelum ia mengetahui jati diri Deo yang sebenarnya. Dan mustahil rasanya jika ia masih menyimpan rasa untuk pria itu.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Suatu saat nanti pasti semuanya akan terjawab. Tunggu saja waktunya," ucap Anne seraya menepuk pelan pundak Aurel.
Aurel hanya membalas ucapan Anne dengan menganggukkan kepalanya.