Setelah mengantarkan Aurel ke rumah Dean dan Dominica, Deo kembali menjalankan mobilnya menuju kafe kecil yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah saudara kembarnya, tempat yang sudah dijanjikan olehnya untuk menemui Jordan di sana.
Begitu ia sampai, matanya langsung mengelilingi ruangan yang tak terlalu besar itu untuk mencari keberadaan Jordan. Dan setelah ia menemukan pria itu, ia langsung menemuinya.
"Ingin membicarakan apa? Tumben sekali harus berbicara di sini. Biasanya kau juga langsung datang ke apartemenku jika ingin membicarakan sesuatu," tembak Deo langsung begitu bokongnya sudah mendarat di kursi kafe tersebut, tepat di hadapan Jordan.
Jordan mengembuskan napasnya perlahan. Ia tahu Deo adalah orang yang tak suka berbasa-basi terlebih dahulu. Maka dari itu, ia juga memutuskan untuk langsung mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Aku sudah melihat semuanya," ucap Jordan.
Deo yang semula sibuk meminum minuman yang sudah dipesankan oleh Jordan, kini langsung mengangkat kepalanya dan menatap kekasihnya itu dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. "Apa?" tanyanya bingung.
Jordan tampak menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Deo. "Aku melihat kau menciumnya."
Deo membelalak kaget. "Kau? Bagaimana?" tanya Deo terbata.
"Kau sendiri yang kemarin memberikanku password apartemenmu. Kau juga mengatakan kalau aku bebas masuk ke apartemenmu seperti yang gadis kecil itu lakukan. Malam itu aku ingin menginap lagi, tetapi yang ku lihat malah hal yang membuat hatiku terluka," jawab Jordan seraya menunjukkan senyum getirnya.
Deo menggigit bagian dalam pipinya seraya merutuki kebodohannya. Kemarin memang ia sempat memberikan password apartemennya kepada Jordan karena pria itu marah dengannya karena Aurel yang sampai detik ini masih tinggal bersamanya membuat pria itu selalu merasa cemburu bila melihat keduanya.
"Kau memiliki rasa lebih kepadanya?" tanya Jordan setelah sekian menit Deo hanya bungkam.
Deo menatap Jordan lantas menggeleng pelan. "Tidak. Aku... aku hanya menganggapnya sebagai adikku," jawabnya yang terdengar ragu di telinga Jordan.
Jordan tertawa sinis. "Tidak ada seorang kakak yang mencium adiknya sampai senafsu itu," ucapnya seraya bangkit dan pergi meninggalkan Deo yang masih dilanda perasaan bersalah.
Deo mengacak rambutnya frustasi seraya menggeram pelan. Ia menoleh ke belakang dan mendapati punggung Jordan yang sudah jauh dari pandangannya. Andai saja ia berani mengumbar siapa dirinya yang sebenarnya, ia pasti sudah menyusul pria itu dan memberikannya penjelasan. Sayangnya, selama ini Deo selalu menutupi siapa dirinya yang sesungguhnya sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa saat ini.
Deo menghela napas sejenak sebelum bangkit dari duduknya dan memilih untuk menyusul Aurel di rumah saudara kembarnya.
Sepanjang perjalanan, Deo terus memikirkan hubungannya dengan Jordan dan perasaan aneh yang tak biasa saat ia berada di dekat Aurel. Entah kenapa, belakangan ini gadis itu selalu saja berhasil membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Semuanya masih terlihat abu-abu sehingga ia tak bisa menyimpulkan apa yang tengah dirasakannya saat ini.
Sesampainya di rumah Dean, Deo segera masuk ke dalam setelah gerbang di rumah Dean terbuka. Ia lalu memarkirkan mobilnya di halaman luas rumah tersebut. Dean selalu berhasil membuatnya kagum dengan kekayaan yang dimiliki pria itu. Sebenarnya ia sedikit iri dengan kembarannya itu. Bagaimanta tidak, Dean jauh lebih bahagia dibandingkan dirinya. Padahal usia mereka sama.
"Kamu sudah besar, Aurel. Seharusnya kamu tidak tinggal dengan Deo lagi."
Samar-samar telinga Deo mendengar percakapan tersebut ketika kakinya sudah masuk ke dalam rumah Dean. Ia mengerutkan keningnya lantas melangkah sedikit maju dan memilih untuk berhenti di balik tembok dan menguping pembicaraan tersebut mengingat namanya yang tadi sempat disebut.
"Tapi Aurel suka tinggal sama Kak Deo, Bu."
"Tentu saja kamu suka. Dia selalu memanjakanmu, kan? Kamu jangan sampai lupa diri. Deo tak selamanya akan selalu hidup bersamamu."
"Kenapa tidak? Kak Deo itu gay, Bu. Dia tidak mungkin menikah."
"Jaga omonganmu, Aurel. Deo pasti akan memikirkan masa depannya juga. Kau tahu sendiri, selama ini dia berusaha untuk mengubah dirinya."
Deo menghela napas panjang. Benar apa yang dikatakan ibu Aurel. Ia juga pasti akan memikirkan masa depannya. Tak mungkin ia akan terus-menerus hidup melajang. Tetapi, tak mungkin juga ia menikahi Jordan. Bisa-bisa ayahnya akan kembali mengusirnya dan ia akan kembali membuat ibunya kecewa.
"Hey! Apa yang kau lakukan di sini?" Deo tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke belakang tubuhnya dan mendapati Dominica yang tengah menatapnya dengan kerutan kecil di keningnya.
"Kau membuatku kaget," ucap Deo seraya menghela napas lega lantas mengelus pelan dadanya.
"Kau menguping, ya?" tuduh Dominica dengan mata yang menyipit penuh selidik.
Deo memutar kedua bola matanya. "Aku hanya penasaran dengan pembicaraan mereka. Lagi pula aku tak mungkin langsung menghampiri mereka saat mereka sedang membicarakan diriku, makanya aku lebih memilih untuk mendengar dari sini saja. Memangnya ada apa, sih?" tanya Deo seraya menyandarkan tubuhnya di dinding lantas bersedekap d**a.
"Ibu menyuruh Aurel untuk tak lagi tinggal bersamamu."
"Kenapa?"
"Selain karena akan merepotkanmu mengingat kelakuan Aurel yang kelewat manja, Ibu juga takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan."
Deo mengerutkan keningnya bingung. "Sesuatu yang tidak diinginkan?"
Dominica mengangguk. "Yap! Kau pasti tahu tanpa harus aku jelaskan."
"Astaga, aku bukan Dean," Deo menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak heran.
Dominica terkekeh pelan. "Setan itu ada di mana-mana, Deo."
"Aku tahu. Tetapi setan yang punya pikiran m***m itu sudah menjadi sekutunya Dean semua. Jadi, mereka tak mungkin menggangguku."
Dominica hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli. "Sudahlah, yang jelas aku hanya mengingatkanmu saja sebelum semuanya terlambat," ucapnya seraya berlalu dari hadapan Deo.
****
Setelah makan siang bersama, Dean, Dominica, Deo, Aurel, serta Jevin dan Gavin langsung menuju ke taman belakang untuk menghabiskan setengah hari dengan mengobrol dan melakukan banyak hal lainnya. Sedangkan ibu Aurel sudah pulang sesaat setelah Jevin pulang dari sekolahnya.
Deo menghampiri Jevin yang sedang berlari-larian mengejar kelinci peliharaan Dominica. Ia lebih suka bermain dengan Jevin daripada Gavin. Gavin yang baru berumur dua tahun itu masih belum lancar berbicara sehingga membuat Deo pusing dan lebih memilih Jevin yang menurutnya tidak terlalu merepotkannya walau bocah yang satu itu terlalu matre dan sering menghabiskan uangnya.
Deo menangkap satu kelinci yang tak terlalu besar. Ia berjongkok di atas rerumputan seraya menatap Jevin yang masih sibuk menangkap kelinci-kelinci tersebut namun tak pernah berhasil. Ia tersenyum kecil melihat tingkah bocah yang satu itu.
"Jevin! Sini, uncle dapat satu," teriak Deo seraya mengangkat kelinci tersebut setinggi dadanya.
Jevin yang melihat itu pun langsung berlari menghampiri Deo dengan begitu semangat sampai-sampai membuatnya tersandung kakinya sendiri dan menyebabkan tubuhnya jatuh di atas rerumputan dengan posisi telungkup. Dan setelah kejadian tersebut, suara tangis Jevin pun terdengar begitu kuat, membuat Deo menganga lebar.
Dominica dan Dean segera menghampiri Jevin yang masih menangis dengan posisi telungkup. Begitu pula dengan Aurel yang masih menggendong Gavin. Sementara itu, Deo melepaskan kelinci yang sedari tadi berada dalam gendongannya dan berjalan menghampiri Jevin.
"Ternyata dia juga merepotkan," gumam Deo.
Dean menoyor kepala Deo setelah ia berhasil mengangkat Jevin ke dalam gendongannya. "Kenapa tidak kau saja yang menghampirinya! Gara-gara perbuatanmu itu anakku yang jadi korbannya," ucapnya dengan kesal.
Deo menggerutu pelan seraya membalas perlakuan Dean dengan menoyornya kembali. "Sialan! Kalau aku tahu dia akan jatuh, tak mungkin aku tak menghampirinya."
Dominica langsung mengambil Jevin dari gendongan Dean dan menatap kedua saudara kembar itu dengan tatapan horornya, membuat kedua pria itu langsung terdiam. Setelah itu, ia berbalik dan pergi dari hadapan mereka. Hal tersebut membuat Aurel terkikik pelan. Ia tahu jika kakaknya itu selalu berhasil membuat kedua pria itu bungkam.
"Pulang saja sana!" usir Dean sambil menatap Deo tajam dan berlalu untuk menyusul Dominica.
"Sialan! Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena selama kau pergi, aku yang menjaga anakmu. Dan jangan lupa untuk mengganti uangku yang berkurang untuk membelikan anakmu itu mainan!" teriak Deo yang tak ditanggapi oleh Dean sama sekali.
"Seperti bocah saja," gerutu Aurel seraya berjalan meninggalkan Deo.
"Hey! Apa katamu?!" teriak Deo yang hanya dibalas Aurel dengan juluran lidahnya.
Aurel tertawa keras saat Deo berjalan menyusulnya. Ia mempercepat langkahnya, tetapi tetap saja kalah cepat dengan Deo. Pria itu sudah lebih dulu merangkul Aurel dan menggelitiki leher gadis itu. Perlakuan Deo membuat tubuh Aurel meliuk-liuk tak karuan dan tanpa disadarinya, Gavin sudah terlepas dari gendongannya. Dan setelah itu, suara tangis Gavin pun terdengar begitu kuat.
Deo dan Aurel menghentikan kegiatan mereka. Keduanya saling bertatapan lalu menatap ke arah Gavin yang sudah terduduk di rerumputan sambil terus menangis. Sedetik kemudian, mereka tersadar dari kekagetan mereka dan langsung berjongkok di hadapan Gavin dan berusaha untuk menenangkannya.
"Yak! Apa yang kalian lakukan dengan anakku?!" teriak Dean yang langsung menghampiri Gavin, disusul dengan Dominica yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
****
"Kau mau mandi duluan atau aku duluan atau mandi bersama?" tanya Deo setelah mereka pulang dari rumah Dean.
"Mandi bersama?!"
"Maksudku, aku mandi di kamar mandi kamar dan kau mandi di kamar mandi luar. Dasar m***m!" Deo mengacak rambut Aurel seraya membuka pintu kamarnya dan langsung masuk ke dalam. Diikuti dengan Aurel yang menggerutu kesal karena dikatai m***m.
Aurel merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan kedua kaki yang menggantung serta kedua tangan yang direntangkan dengan lebar. “Kakak duluan saja. Aku mager.”
Deo menatap Aurel dengan sebelah alis yang terangkat ke atas. "Mager?"
Aurel menyengir lebar. "Males gerak."
Deo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergerak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar untuk mengambil handuknya dan memutuskan untuk mandi di kamar mandi luar saja.
Sebelum Deo keluar, ia berhenti sejenak dan menatap ke arah Aurel yang belum mengubah posisinya, hanya saja matanya yang sudah terpejam. Dan posisi Aurel yang seperti itu entah kenapa membuatnya merasa bahwa gadis itu tengah mengundangnya. Dan sial sekali, pikiran liarnya itu mulai menguasai dirinya. Sepertinya kemesuman Dean menular kepadanya.
"Aurel," panggil Deo dengan suaranya entah bagaimana bisa berubah menjadi serak. Sial.
Aurel membuka matanya dan bangkit dari tidurnya agar ia bisa melihat Deo dengan jelas. "Ada apa, Kak?"
Deo berdehem pelan untuk menormalkan suaranya. "Yang dikatakan Ibu saat di rumah Dean tadi, apa kau tak mau mengikuti keinginannya?"
"Yang mana?"
"Saat Ibu menyuruhmu untuk tinggal bersamanya."
"Kakak setuju?"
"Kenapa tidak?"
"Kakak ingin aku pergi?"
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Deo menghela napas sejenak. Sepanjang perjalanan pulang tadi ia sudah memikirkan matang-matang apa yang dikatakan ibu Aurel dan Dominica. Dan sepertinya dengan tidak adanya Aurel di apartemennya sedikit membuat masalah yang belakangan ini dialaminya berkurang.
Ia tak lagi bertengkar dengan Jordan saat gadis itu pergi. Selain itu, nafsunya yang belakangan ini selalu naik saat melihat Aurel melakukan sesuatu hal, membuat dirinya benar-benar takut jika kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Apalagi kemarin ia sempat kecolongan sampai-sampai mencium gadis itu. Setidaknya dengan tidak adanya Aurel, ia bisa kembali berpikir dengan jernih dan menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Ia gay tetapi ia bernafsu dengan seorang perempuan. Hal tersebut sungguh membuatnya bingung.
"Oke, aku pergi."
Deo menatap Aurel dengan pandangan herannya. Ia tak menyangka jika gadis itu menyetujuinya begitu saja. Dan entah kenapa, rasanya ia lebih senang jika Aurel menolaknya.
Aurel segera berjalan ke lemari pakaian setelah ia tak mendengar suara apa pun dari mulut Deo. Ia bergegas menyusun pakaiannya di dalam koper. Saat itu pula air matanya tumpah. Entah kenapa rasanya begitu sakit saat Deo terang-terangan mengusir dirinya.