Aurel menguap lebar seraya menendang selimut tebal yang tadinya melilit tubuhnya. Ia bangkit dari rebahannya lantas mengucek matanya dan kembali menguap. Setelahnya, Aurel memandang sekelilingnya dan menunduk untuk menatap tempat yang baru saja dipakainya untuk tidur. Pantas saja badannya sedikit sakit, karena malam tadi ia tidur di sofa.
Aurel mendengus jengah dan mengklaim Jordan sebagai seseorang yang tak punya rasa belas kasihan terhadap remaja-remaja perempuan yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian seperti dirinya.
Seharusnya malam tadi Jordan bersikap layaknya seorang pria sejati yang tak tega melihat seorang perempuan tidur hanya beralaskan sofa yang sempit. Seharusnya pria itu berinisiatif untuk memindahkannya ke ranjang. Bukan malah membiarkannya begitu saja.
Dan malam tadi adalah rekor terbaiknya karena ia berhasil tidur tanpa Deo yang berada di sampingnya.
Aurel menengok ke arah ranjang dan tak mendapati apa pun di sana. Kosong seperti hatinya.
Aurel kembali menguap yang setelahnya disusul dengan tubuhnya yang mengambil posisi berdiri dan segera membawa kakinya untuk melangkah keluar kamar, bermaksud untuk mencari keberadaan Deo.
"Yak! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Aurel yang menggema kuat di ruang makan.
Deo dan Jordan yang awalnya ingin berciuman, langsung mengurungkan niatnya karena Aurel sudah terlebih dahulu memergokinya. Deo mendengus pelan seraya kembali duduk di meja makan dan menikmati kembali sarapannya. Berbeda dengan Jordan yang tampak kesal dengan Aurel yang lagi-lagi menggagalkan niatnya untuk bermesraan dengan Deo.
"Maumu apa, sih? Kau seharusnya pura-pura tidak melihat saja," ujar Jordan sambil berdecak kesal.
Aurel memutar bola matanya. "Aku tak peduli," balasnya dengan bahu yang terangkat sekilas lantas segera mengambil duduk di samping Deo untuk ikut sarapan.
Jordan mencebik kesal lantas segera beranjak dari tempatnya berdiri dan menuju ke kursi seberang karena kursi yang tadinya ingin didudukinya, kini sudah ditempeli b****g Aurel.
"Kau sudah gosok gigi dan cuci muka?" tanya Deo saat Aurel tengah mengolesi rotinya dengan selai stroberi.
"Belum."
"Hey! bisa tidak kau tidak rakus. Setidaknya kalau sudah tahu selai itu sudah mau habis, jangan dihabiskan semua. Kau pikir hanya kau saja yang ingin memakan selainya," celoteh Jordan seraya menatap sinis ke arah Aurel.
Aurel mendongak lantas menatap Jordan dengan kesal. "Kau pria jenis apa, hah? Mana ada pria yang menyukai selai stroberi," balasnya tak kalah sinis.
"Aku menyukainya," timpal Deo santai.
Aurel mengalihkan pandangannya ke arah Deo, tatapannya berubah lembut. "Kalau Kakak kan beda. Pria seperti Kakak boleh menyukai apa saja," katanya membela Deo lantas kembali menatap Jordan dengan kesal. "Tetapi tidak dengan yang satu ini," ia mengarahkan pisau yang digunakannya untuk mengolesi rotinya ke wajah Jordan seraya menatapnya dengan mata yang menyipit, bermaksud untuk menantangnya.
Jordan memutar kedua bola matanya dan menoleh ke arah Deo yang sibuk menikmati rotinya. "Deo, bisakah kau karungi gadis yang satu ini? Setelah itu kirim dia ke Yerusalem, siapa tahu dia bisa sedikit berubah dan mendapat hidayah di sana."
"Wow! Ide yang bagus. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin ke sana. Beribadah disana rasanya pasti berbeda. Tetapi jangan karungi aku," nada suara Aurel yang awalnya girang, berubah menjadi kesal di akhir kalimatnya.
"Dan jangan makan sebelum kau menggosok gigimu," sela Deo seraya mengambil roti yang tadinya sudah bersiap untuk masuk ke dalam mulut Aurel.
Aurel mengerucutkan bibirnya dengan pipi yang menggembung kesal. Setelahnya, ia melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
"Ada apa denganmu?" tanya Jordan ketika hanya ada dirinya dan Deo di ruang makan.
Deo mengangkat kepalanya dan menatap Jordan dengan alis yang bertaut, menandakan bahwa ia tak mengerti dengan maksud dari pertanyaan Jordan.
"Kau sedikit berbeda. Kau tidak seperti dulu."
"Apa maksudmu? Aku tak mengerti."
"Dulu, dulu sekali. Sebelum ada Aurel, kau selalu menaruh perhatianmu sepenuhnya kepadaku. Tetapi semenjak hadirnya gadis kecil itu, kau mulai sedikit berubah. Aku tahu kau melakukannya karena Aurel yang waktu itu masih sangat kecil dan dia tak sepatutnya tahu tentang hubungan kita. Tetapi sekarang, bahkan Aurel sudah paham dengan hubungan yang kita jalani. Tetapi semakin ke sini, kau semakin terlihat berbeda," jelas Jordan panjang lebar.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja," balas Deo seraya melanjutkan sarapannya kembali.
Jordan mendesah pelan lantas ikut memakan sarapannya dengan pikiran yang melayang ke mana-mana. Entahlah, belakangan ini ia merasa ada yang berubah dalam diri Deo. Pria itu tak seagresif dulu. Dia tampak lebih kalem dan... tak terlalu memedulikannya seperti dulu.
Pukulan yang cukup kuat yang mendarat di lengan Jordan membuat pria itu tersadar dari lamunannya lantas mendongak untuk melihat gerangan yang dengan seenaknya menyentuh tubuhnya tanpa permisi.
"Kau!" geram Jordan saat tahu bahwa yang tadi memukulnya adalah Aurel.
"Kenapa kau memakan rotiku? Kau jahat sekali. Selai stroberinya sudah habis. Aku hanya mau memakan roti isi selai stroberi. Kau menyebalkan!" Aurel menjerit-jerit kesal seraya memukul-mukul lengan Jordan cukup keras.
Jordan menangkap tangan Aurel dan menatap jengah gadis itu. "Kau mau rotinya?" tanyanya yang dibalas anggukan kepala oleh Aurel. "Ayo, ikut," Jordan menarik Aurel untuk mengikutinya. Sementara Deo hanya memerhatikan mereka dengan dahi yang berkerut heran.
"Kenapa ke kamar mandi?!" pekik Aurel saat Jordan membawanya ke kamar mandi.
Jordan berbalik untuk menatap Aurel. "Kau bilang ingin rotinya, kan? Tunggu di sini, okey? Aku akan mengembalikan rotimu."
Sepersekian detik, Aurel hanya diam karena dia tak paham dengan maksud Jordan, namun setelah Jordan menutup pintu kamar mandi, barulah Aurel sadar jika Jordan akan mengembalikan rotinya dalam bentuk lain, berupa kotoran yang ada dalam tubuh Jordan. Iwh.
Aurel menendang pintu kamar mandi dengan keras. "Dasar jorok!" serunya seraya melangkah kembali ke ruang makan.
Jordan tergelak keras di dalam kamar mandi yang membuat Aurel semakin kesal.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" tanya Deo saat Aurel mengambil duduk di sampingnya.
Aurel menendang-nendang kakinya dan memukul-mukul meja dengan kesal. Setelah puas, ia membuang napas panjang seraya mengibaskan rambutnya yang menutupi wajahnya ke belakang.
Aurel menatap Deo yang kini masih menatapnya dengan raut gelinya. "Kenapa kekasihmu itu menyebalkan sekali sih, Kak?"
Deo tersenyum geli seraya merapikan rambut Aurel yang berantakan akibat kegiatan mencak-mencaknya barusan. "Dia memang begitu."
Aurel mendengus seraya memutar kedua bola matanya. "Dia menyebalkan sekali, Kak. Tidak bisakah kau mengusirnya saja?"
Deo terkekeh pelan. "Nanti kita bicarakan lagi. Sebaiknya kau sarapan dulu. Hari ini pakai selai cokelat saja, ya?" Deo menyerahkan roti yang sudah diberi selai cokelat olehnya kepada Aurel.
"Okey," Aurel mengambil roti isi tersebut dan segera melahapnya.
*****
Aurel duduk dengan bertopang dagu sembari melihat kedua pria yang kini tengah nge-gym di ruangan gym yang memang dibuat khusus untuk Deo sebagai tempatnya berolahraga.
Mumpung masih ada waktu luang sebelum Aurel kuliah dan Deo berangkat ke kantornya, mereka menyempatkan diri untuk berolahraga. Tidak, bukan mereka, tetapi hanya Deo dan Jordan. Karena Aurel memang paling malas kalau disuruh olahraga. Kasihan bajunya harus menanggung bau kecut yang keluar dari keringatnya, pikirnya seperti itu.
Aurel mencibir sinis ke arah Jordan yang sibuk mengangkat barbel yang ukurannya cukup besar dengan gayanya yang sudah seperti atlet profesional saja. Paling pria itu hanya berusaha untuk mencari perhatian Deo. Semacam pencitraan.
"Kak Jordan! Kalo ngangkat barbel jangan buka kaki lebar-lebar," celetuk Aurel.
Jordan menghentikan gerakannya sejenak lantas memfokuskan pandangannya ke arah Aurel. "Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Nanti keperawanan Kakak robek," jawab Aurel yang disertai dengan tawanya yang meledak kuat.
Jordan menatap Aurel dengan kesal lantas kembali melanjutkan olahraganya tanpa memedulikan Aurel yang terus menertawainya.
Sementara itu, Deo yang sibuk dengan treadmil-nya, tampak mengulas senyum geli di bibirnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat tingkah Aurel dan Jordan yang tak pernah akur sejak dulu.