Bab 6

1907 Kata
Aurel berjalan menuju apartemen Deo dengan langkah yang penuh dengan semangat. Sesekali diikuti dengan siulan-siulan kecil yang keluar dari bibirnya. Kali ini keadaan hatinya sangat baik walau tadi pagi ia sempat kesal karena kelakuan Jordan yang menurutnya begitu menyebalkan. Gadis itu tersenyum lebar sampai menampakkan deretan giginya saat pandangannya jatuh ke arah seekor kucing betina yang tengah duduk nyaman di dalam kandangnya yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Aurel mendapatkan kucing berjenis persia dengan bulu berwarna putih itu dari temannya secara cuma-cuma. Aurel berhenti di depan apartemen Deo. Ia memindahkan kandang kucing yang berada di tangan kanannya ke tangan kirinya lantas memasukkan kombinasi angka sebagai kode apartemen Deo yang sudah dihapalnya di luar kepala. Setelah terbuka, Aurel melangkah masuk dan tak lupa untuk menutup pintunya kembali. Sembari berjalan menuju kamarnya, ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Saat itu ia menyimpulkan kalau Deo pasti belum pulang dari kantornya. Mungkin malam nanti dia baru pulang mengingat sang pemilik perusahaan alias Dean, tengah berlibur bersama istrinya dan meninggalkan begitu banyak pekerjaan yang harus ditangani oleh Deo. Aurel meletakkan kucing tersebut di kamarnya. Setelahnya, ia kembali keluar untuk meneliti seisi apartemen dan memastikan bahwa si biang rusuh atau yang biasa dipanggil Jordan sudah enyah dari apartemen Deo. Helaan napas lega serta senyum yang terukir di bibir Aurel, menandakan bahwa Jordan benar-benar telah pergi dari apartemen Deo. Saking senangnya, ia sampai melompat-lompat kecil yang diikuti dengan teriakan keras pertanda betapa bahagianya ia saat ini. Akhirnya ia bisa bernapas lega juga. Karena biasanya napasnya selalu tersengal-sengal karena tak henti-hentinya beradu mulut dengan Jordan yang begitu menguras emosi. "Kenapa teriak-teriak begitu?" Aurel menghentikan seluruh gerakannya lantas memutar tubuhnya dan matanya langsung dihadapkan dengan Deo yang sedang berdiri dengan sebelah alis yang terangkat ke atas yang terlihat baru pulang dari kantornya mengingat tas kerjanya yang berada digenggamannya serta pakaian lengkap saat ngantor. Tumben. Aurel menggeleng dengan cengiran lebar sebagai jawaban atas pertanyaan Deo barusan. Deo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlalu dari hadapan Aurel menuju ke kamarnya. Ia sempat mengacak rambut Aurel saat melewati gadis itu. Setelah Deo berlalu dari hadapannya, Aurel segera beranjak ke depan, memastikan bahwa pria itu tidak mengajak Jordan kembali ke apartemennya. Sekali lagi Aurel menghela napas lega karena Jordan memang benar-benar sudah enyah dari pandangannya untuk saat ini. Aurel memekik kaget saat ia membalikkan badannya dan menemukan Deo yang tengah berdiri dihadapannya dengan mata yang menatap tajam ke arahnya serta kandang kucing beserta kucingnya yang diangkat setinggi d**a pria itu. "Jelaskan," tuntut Deo. "Jelaskan apa?" tanya Aurel tak mengerti. "Ini, kucing ini kenapa bisa ada di sini?" Deo menggoyang-goyangkan kandang kucing tersebut dengan pelan. "Karena aku yang membawanya makanya bisa ada di sini." Deo tampak memutar bola matanya dan mengembuskan napas lelah. Ia menurunkan kandang tersebut dan menatap Aurel dengan gemas. "Kau dapat dari mana? Dan setahuku, peraturan di apartemen ini tidak memperbolehkan orang-orang yang tinggal di sini untuk memelihara binatang apapun." "Aku mendapatkannya dari temanku, Kak. Dan aku tadi juga sudah minta izin kepada satpamnya, lebih tepatnya memaksa satpamnya supaya diizinkan. Terus katanya boleh asalkan jangan keluar dari apartemen Kakak." Deo menghela napas panjang lantas menyerahkan kucing tersebut kepada Aurel yang langsung diterima oleh gadis itu. "Okey," kata Deo seraya mengedikkan bahunya dan kembali lagi ke kamarnya. Aurel juga ikut mengedikkan bahunya lantas mengikuti Deo dari belakang. "Memangnya dalam rangka apa sampai kucing itu bisa jadi milikmu?" tanya Deo seraya mengambil duduk di pinggir ranjang lantas melepaskan pakaian kantornya. Aurel ikut duduk di samping Deo lalu meletakkan kucing tersebut di lantai. "Tidak dalam rangka apa-apa." Deo melirik ke arah Aurel yang tengah mengeluarkan kucing tersebut dari dalam kandangnya. "Lalu kenapa kau bisa mendapatkannya begitu saja? Kucing seperti itu kan harganya mahal. Apalagi kalau sudah sebesar itu." Aurel tersenyum lebar saat meletakkan kucing tersebut di pangkuannya. Ia mengelus-elus bulunya dengan lembut. "Aku mendapatkannya dari pria yang katanya menyukaiku, Kak. Sepulang kuliah tadi, aku diajak ke rumahnya. Dia memelihara banyak kucing. Ujung-ujungnya dia nawari aku, mau atau tidak. Aku bilang mau dan aku langsung mendapatkannya." Deo segera memusatkan pandangannya ke arah Aurel yang masih sibuk mengelus-elus kucingnya. "Pria? Yang menyukaimu?" Aurel menoleh ke arah Deo. Ia mengangguk kecil sebagai jawabannya. "Hati-hati, biasanya pria yang seperti itu pasti ada maunya," kata Deo seraya membuka kemejanya. "Aku tidak peduli. Dia kan hanya ingin menyenangkan hatiku saja," balas Aurel seraya mengelus kembali bulu kucing barunya. "Memangnya selama ini aku tidak pernah menyenangkan hatimu?" tanya Deo, terselip nada tak suka dalam suaranya. Aurel menatap Deo dengan pandangan heran. "Kenapa Kakak jadi aneh begini, sih?" Deo memutar jengah kedua bola matanya. "Terserah lah," ucapnya seraya melepas celana panjangnya sehingga hanya menyisakan boxer yang melekat pada tubuhnya. "Kak Deo! Jangan p***o di sini. Kasian Deo Junior. Nanti matanya jadi tak suci lagi," pekik Aurel seraya menatap tajam ke arah Deo dengan tangan yang menutupi kedua mata kucingnya. Deo menatap Aurel dengan mata yang melotot lebar. "Kau bilang apa tadi? Deo Junior?" tanyanya yang dibalas anggukan kepala oleh Aurel. Deo mendesah pelan seraya mengacak-acak rambutnya. Setelahnya, ia kembali menatap Aurel dengan gemas. "Deo Junior itu hanya untuk anakku nanti, Aurel. Kenapa kau malah memberikannya kepada kucing itu?" Aurel menyengir lebar. "Kakak kan gay. Gay itu pasti tidak akan bisa punya anak. Jadi, daripada nama Deo Junior tidak ada yang memakai, lebih baik aku berikan ke kucing ini saja." Deo terdiam cukup lama. Ia mencoba untuk mencerna apa yang dikatakan Aurel barusan. Dan apa yang dikatakan Aurel memang benar adanya. Ia tak akan bisa punya anak. Ia tak akan bisa menjadi seorang ayah seperti Dean. Hal yang selama ini tak pernah terpikir olehnya, membuat hatinya tertohok begitu dalam. "Kak, Kak Deo," panggil Aurel saat melihat Deo yang tak kunjung membuka suara. Ada rasa takut yang saat itu tumbuh dalam dirinya. Ia takut Deo tak suka jika ia menamai kucingnya dengan nama Deo Junior. Dan saat itu pula ia merasa sangat bersalah karena sembarangan menamai kucingnya tanpa meminta persetujuan Deo terlebih dahulu. Aurel meletakkan kucingnya di atas tempat tidur, tepat di belakang tubuhnya. Ia kembali menatap Deo dengan rasa bersalah yang amat besar. "Kak, maafkan aku." Deo memejamkan matanya sejenak. Setelahnya, ia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan diiringi dengan matanya yang kembali terbuka. Deo menatap Aurel dengan senyum tipisnya. "Tidak apa-apa. Kau boleh menamainya Deo Junior," katanya seraya mengelus rambut Aurel. Aurel membawa tubuhnya ke d**a Deo yang membuat pria itu terkekeh pelan lantas melingkarkan lengannya di punggung gadis itu untuk memeluknya. "Maaf ya, Kak. Lain kali aku janji akan meminta izin darimu terlebih dahulu." Deo hanya membalasnya dengan anggukan kepala serta senyum geli yang terpatri di bibirnya.   ****   "Apa?" tanya Deo seraya melirik heran ke arah Aurel yang kini berjalan di sampingnya dengan cengiran lebarnya. Pasalnya, sejak ia membuka pintu kamar mandi setelah selesai mandi, gadis itu sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi. "Aku akan pergi bersama Anne untuk refreshing. Lagi pula besok aku tidak ada jadwal kuliah apa pun. Boleh kan, Kak?" Deo mengambil pakaian yang akan digunakannya, masih dengan Aurel yang setia mengikutinya. "Mau ke mana?" tanya Deo seraya memakai bajunya. "Jalan-jalan, Kak. Boleh, kan? Aku janji jam sepuluh sudah ada di rumah," pinta Aurel. Deo menatap Aurel. Pria itu tampak menghela napas panjang lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju yang membuat Aurel melonjak girang di tempatnya. Biarlah kali ini gadis itu bersenang-senang. Lagi pula, malam ini Deo juga ingin pergi ke kelab bersama rekan-rekan satu divisinya untuk sekadar meringankan pikiran. Aurel mencium pipi Deo sekilas dan mengucapkan terima kasih kepadanya lantas berlalu menuju ke kamar mandi untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi berjalan-jalan bersama Anne. Lebih tepatnya pergi ke kelab untuk menemui seseorang yang disukainya yang katanya malam ini akan pergi ke sana juga. Untungnya Deo tak menanyakan ke mana ia akan jalan-jalan, sehingga ia tak perlu berbohong yang pada akhirnya akan ketahuan juga oleh Deo dan membuatnya batal pergi.   ****   Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Deo menginjakkan kakinya di dalam kelab yang sudah dijanjikan bersama teman-temannya sebagai tempat mereka berkumpul untuk sekadar bersantai. Ia segera melangkah menuju tempat di mana teman-temannya sudah berkumpul di sana. Sepanjang jam, Deo terus mengobrol bersama teman-temannya. Untungnya teman-temannya tak merasa segan dengannya karena statusnya yang sebagai kepala divisi mereka serta saudara kembar sang pemilik perusahaan. Hal tersebut membuatnya merasa nyaman. Divisi yang dipegangnya memang selalu kompak dalam hal apa pun. Deo memutar pandangannya ke arah lain. Dan detik itu pula matanya membelalak lebar saat melihat sosok yang selama ini tinggal bersamanya, kini berada tak jauh darinya. Duduk di sofa lain dengan segerombolan pria muda yang mengelilinginya. Deo tak langsung menghampiri Aurel. Ia melihat terlebih dahulu apa yang dilakukan gadis itu dengan amarah yang mulai menguar dalam dirinya. Dan seingatnya, Aurel pergi hanya menggunakan kaus lengan pendek serta celana jeans hitamnya. Tetapi yang dilihatnya sekarang, gadis itu menggunakan terusan ketat yang tak pantas untuk dikenakannya. Deo mengumpat kasar seraya membanting gelas coke-nya ke atas meja, membuat beberapa temannya menatapnya terkejut. Ia segera mendatangi Aurel. Ia benar-benar tak bisa menahan amarahnya saat melihat pria-pria yang berada disekeliling Aurel mencolek tubuhnya. Yang lebih parahnya lagi, gadis itu hanya diam saja. Keterlaluan. Deo langsung menyeret Aurel sesaat setelah ia sampai di tempat gadis itu duduk. Beberapa orang menatap mereka dengan pandangan penuh tanya. Deo benar-benar sudah tak peduli dengan pandangan semua orang yang terarah kepadanya. Ia hanya ingin segera membawa gadis itu pulang. Aurel tak berontak saat itu. Ia tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan yang tentu saja membuat Deo begitu marah. Sial sekali nasibnya, ternyata Deo berada dalam kelab yang sama dengannya. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Deo belum juga membuka suaranya, begitu pula dengan Aurel. Kali ini Deo tampak menyeramkan. Tangannya memegang kemudi begitu kuat sampai menampakkan urat-urat tangannya. Rahangnya pun tampak mengetat dengan gigi yang bergemeletuk menandakan kemarahannya yang begitu besar. Aurel merutuki dirinya yang bersikap bodoh. Lebih baik ia jujur saja akan pergi ke mana ia malam ini. Jika saja ia jujur, Deo pasti akan melarangnya dan semua ini tak akan terjadi. Lagi-lagi ia kembali membuat Deo marah. Dan sungguh, hal tersebut tentu saja membuatnya begitu menyesal. Sesampainya di apartemennya, Deo kembali menarik Aurel, lebih tepatnya menyeretnya. Tanpa memikirkan hal apa yang akan dirasakan Aurel nantinya, Deo dengan keras membanting tubuh Aurel ke atas ranjang. Ia benar-benar marah. Apalagi saat sekelebat bayangan tangan-tangan nakal beberapa pria yang dengan seenaknya menyentuh gadis itu melintas di kepalanya. Sebelum Aurel bangkit dari tidurnya, Deo segera beranjak untuk menindih tubuh gadis itu. Aurel menelan ludahnya beberapa kali saat melihat wajah keras Deo yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Sungguh mengerikan. "Jangan pernah pergi ke tempat seperti itu lagi," desis Deo penuh ancaman. "Tapi aku hanya hmpttt..." belum sempat Aurel menyelesaikan kalimatnya, Deo sudah lebih dulu menciumnya, mencium bibirnya yang berarti menjadi ciuman pertama bagi Aurel. Entah setan apa yang merasuki tubuh Deo saat itu, pria itu begitu menikmati ciumannya dengan Aurel, seperti bukan dirinya. Hal tersebut membuatnya terus mencium bibir Aurel tanpa henti. Dan ia baru menghentikannya setelah sesuatu dalam dirinya mulai ikut ambil bagian. Setelahnya, ia bangkit berdiri dan keluar dari dalam kamar dengan perasaan aneh yang menyusup ke dalam jiwanya. Tetapi sialnya, perasaan aneh tersebut malah membuatnya semakin ingin mencium serta mengklaim tubuh Aurel. Sementara itu, Aurel menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang terasa kosong karena ciuman Deo yang begitu menuntut. Setelah itu, gadis itu menyentuh bibirnya yang terasa bengkak dan... panas. Entahlah, rasanya ciuman yang diberi Deo barusan meninggalkam efek yang luar biasa terhadap tubuhnya. Entah karena ciuman tersebut merupakan ciuman pertamanya atau karena hal lain yang tak diketahuinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN