BAGIAN 2 -PAPI BARU KAH?

792 Kata
Selamat Membaca Semuanya .... -------------------------------------------------------------------- Fany kira pagi harinya akan berjalan dengan indah. Nyatanya, apa yang dia harapkan tidak berjalan dengan semestinya. Pagi harinya di isi dengan penuh kepanikan karena kelakuan El yang terlalu pintar. Bagaimana tidak? El hampir saja membuat seisi rumah mereka ini menjadi terbakar. Bahkan, setiap sudut rumah apalagi di bagian dapur mereka sudah di penuhi dengan gumpalan asap putih. Untungnya, otak Fany yang kepalang cerdas itu langsung bertindak dan merespon dengan cepat. Ibu satu anak itu dengan cepat mengambil fire extinguisher atau APAR untuk memadamkan api yang berada di dapur mereka. Untungnya, setelah api di padamkan, baik Fany ataupun El langsung bernafas dengan lega. "Kamu ngapain sih, El? Kok bisa sampai mau kebakaran gini rumah kita?" tanya Fany kesal sekaligus penasaran dengan kelakuan yang di lakukan oleh sang anak. El yang mendengar pertanyaan dari Maminya itu seketika mengeluarkan cengiran andalannya. "Sebenarnya aku tadi berniat baik buat bikinin Mami telur ceplok. Tapi, karena kebelet boker, jadinya aku ngibrit ke kamar mandi dan jadinya lupa deh sama telur ceplok mami itu. Akhirnya, jeng jeng jeng. Jadilah api dan asap-asap putih tadi." Fany yang mendengar itu langsung mengelus dadanya sabar. Paginya benar-benar di buat drama karena kelakuan ajaib sang anak. "Sabarkanlah hati hamba-Mu ini Tuhan. Punya anak satu tapi kaya punya anak sepuluh. Tobat Mami El sama kelakuan kamu. Pengen mami masukin pesantren aja kamu biar tobat sekalian di sana. Siapa tau kamu balik-balik jadi ustadz." El melotot. "Enak aja si mami main mau masuk-masukin aku ke pesantren. Aku sih no. Kalau mau, mami aja yang masuk pesantren sana." "Heh! Kalau gue masuk pesantren, yang kerja terus yang ngasih lo jajan siapa? Mau ngegembel lo?" cibir Fany. "Yaudah, gak usah masuk pesantren kita berdua. Beres deh" sahut El santai. Fany mencoba menarik nafasnya panjang dan mengembuskannya secara kasar. Dia pun menatap sang anak dengan tajam. "Karena kamu masih di skors, jadi kamu harus beresin semua kekacauan yang kamu buat ini. Pokoknya, kalau Mami turun ke bawah dan ini semua belum bersih dan rapi, Mami bakal sita si Meong kamu itu selama sebulan." Meong yang di maksud Fany itu bukanlah kucing. Meong yang di maksud adalah julukan untuk motor gede milik El yang biasa dia gunakan untuk pergi ke sekolah dan juga balapan. Yeah, balapan. El memang sering melakukan itu dan pastinya itu tanpa sepengetahuan kanjeng ratu Fany Margareta. "Astaga! Meong ku! Baiklah Ibu ratu, hamba akan membersihkan semua kekacauan ini. Hamba bersalah. Hamba memohon maaf. Tolong ampuni lah hamba mu yang lemah dan tak berdaya ini Ratu" ucap El dengan wajah lemasnya karena ancaman tersebut. "Alah! Gak usah drama-drama kamu. Awas aja kalau ini semua gak bersih. Ancaman mami tadi gak main-main" ancam Fany dan kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. "Sungguh tega engkau wahai ibu ku. Demi meong, apapun akan aku lakukan. Semangat!" ucap El seraya menatap kepergiaan Maminya lemas. ***** Fany yang baru saja menuruni tangga secara tak sengaja berpapasan dengan anaknya yang kini menatapnya dengan penuh senyum. "Halo Mami ku. Duh, cantik banget sih. Mau kemana nih? Nyari papi baru buat aku ya?" Mendengar pujian dan godaan dari sang anak, membuat Fany langsung mendelikkan matanya. "Gak usah kamu puji, Mami juga tau kalau Mami ini cantik. Gimana? Udah bersih belum yang tadi?" "Udah dong, Mamiku sayang" jawab El tersenyum manis. Fany yang tidak percaya akan ucapan itu pun langsung melangkahkan kakinya guna memeriksa pekerjaan anaknya. Melihat dapurnya sudah kembali bersih dan rapi seperti semula, membuat Fany tersenyum. "Gak percayaan banget kalau di bilangin anaknya" cibir El dari belakang. "Bukan gak percaya. Tapi, kalau percaya sama kamu itu ibaratnya kaya Mami percaya kalau kucing itu emang bener bisa bertelur" sahut Fany kalem. "Kalau kata Cita-Citata, sakitnya tuh di sini di dalam hatiku, sakitnya tuh di sini pas kena hatiku" ucap El yang di selingi dengan nyanyian dan gerakan tangannya. Fany yang mendengar itu hanya menatap jengah kelakuan anaknya yang aneh bin ajaib tersebut. "Dari pada Mami stress ngelihat kelakuan kamu, lebih baik Mami pergi aja." "Eits, Mami mau pergi kemana?" cegah El sambil menahan pergelangan tangan Maminya. "Nyari papi baru mungkin." Setelah mengatakan itu, Fany langsung berjalan meninggalkan El yang terdiam di tempatnya. "Ini gak bisa di biarin. Masa, gue yang belum ketemu sama Papi kandung gue harus di hadapin sama Papi baru sih? Gak-gak, ini gak boleh terjadi" panik El sambil berjalan mondar-mandir di tempatnya. "Belum juga gue tau muka si papi gimana, masa gue langsung di suguhkan dengan muka si papi baru sih? Ini gak boleh terjadi. Kayanya gue harus buat misi penyelamatan buat papi kandung gue deh." El berpikir di tempatnya. Namun, setelahnya terdengar teriakan kesal dari El. "AKH! Papi lo di mana sih ah! Muncul kek! Gue lagi panik ini jagain posisi lo biar gak di ambil sama orang lain. Ah elah! PAPI! WOY! MUNCUL ELAH!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN