Selamat Membaca Semuanya ....
------------------------------------------------------------------------------
Arvin yang berada di ruang kerjanya tiba-tiba saja memikirkan tentang remaja laki-laki yang menolongnya beberapa waktu lalu. Ada perasaan yang tak biasa ketika dia menatap wajah remaja laki-laki tersebut. Ada perasaan hangat yang menyergap hatinya ketika bertatapan dengan wajah yang hampir serupa dengannya. Bahkan, jika di sandingkan wajah mereka benar-benar terlihat begitu mirip seperti layaknya seorang ayah dan juga anak. Ayah dan anak? Arvin benar-benar menertawakan dirinya sendiri ketika pemikiran konyol seperti itu hinggap begitu saja di dalam hatinya. Jangankan untuk menjadi seorang ayah, dirinya saja sampai saat ini masih belum pernah menikah.
"Elios Givano ..." gumam Arvin pelan.
Tanpa pikir panjang, Arvin langsung mengambil handphone miliknya dan menghubungi sekretarisnya.
"Hal---"
"Rey, cari informasi mengenai remaja laki-laki bernama Elios Givano secepatnya."
"Ba----"
Tut! Tut! Tut!
Setelah mengatakan itu, Arvin langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Entah sihir apa yang di gunakan remaja lelaki itu sampai-sampai membuatku begitu penasaran dan mencari informasi mengenai dia. Elios Givano, siapa sebenarnya kamu?" gumam Arvin dengan tatapan yang lurus.
*****
Berbeda dengan Arvin yang penasaran mengenai pemuda yang menolongnya beberapa waktu lalu, maka lain lagi dengan El yang saat ini sedang asyik bermain game online di handphone miliknya.
"Anjing! Di kill woy!"
"Anak babi emang! Nyampah doang lo!"
"Oalah, anjing!"
"Woy! Di kill, babi! Jangan nyampah doang lo!"
"Mati ai lo! Gak guna banget!"
Fany yang sedari tadi duduk tepat di samping sang anak sambil menonton televisi pun merasa begitu geram. Apalagi mendengar kata-kata kasar yang terlontar begitu mulus dari mulut anaknya tersebut. Dengan gerakan yang cepat, Fany langsung mengangkat salah satu tangannya dan mengapit telinga milik El dengan tangannya.
"SAKIT! SAKIT! SAKIT!"
"MAMI! LEPASIN!"
"AH ELAH, MI! LEPASIN KENAPA!"
"MAMI SAKIT!"
"AH JANCOK!"
Fany yang mendengar umpatan tersebut sontak melotot dan semakin mengapit kuat tangannya di telinga milik El. "Berani kamu ngumpat-ngumpat Mami dengan kata-kata kasar? Mau jadi Malin Kundang kedua kamu? Hah!"
"Sakit, Mi. Aku bukan ngumpat, mami. Itu loh ngumpat teman setim aku di game. Ya kali aku ngumpat mami, mana berani aku" ucap El sambil memegang tangan sang Mami di telinganya.
Fany pun langsung melepaskan jepitan tangannya di telinga sang anak. "Awas ya kamu El, kalau sekali lagi mami dengar kamu ngumpat-ngumpat kaya tadi, mami cabein mulut kamu pakai cabe sekilo."
"Iya, Mi. Iya. Sakit banget telinga aku tau. Aku laporin juga nih si mami ke Komnas Perlindungan Anak. Heran, kdrt mulu sama anaknya" keluh El.
"Oh, mau laporin mami kamu? Silahkan! Habis itu gak usah jadi anak mami lagi. Mami sih tinggal bikin lagi. Cewek kali ya biar bisa mami dandanin" sahut Fany santai.
"Alah! Sok-sok an mau bikin. Entar anaknya gak punya ayah lagi sama kaya aku" celetuk El.
"Ah! Kamu mah, El. Mami padahal mau bercanda doang, malah berubah dark kaya gini. Gak asyik ah kamu" sahut Fany dengan suara lemah.
Melihat wajah dari Maminya yang berubah menjadi lesu, membuat El langsung memeluk tubuh ramping tersebut dari samping. "Aku juga bercanda kali, mi. Ada atau gak adanya sosok papi di dalam hidup aku, aku gak masalah. Yang penting, aku sama-sama terus sama Mami. Mami itu bukan cuma berperan sebagai sosok ibu di dalam hidup aku. Mami juga berperan sebagai sosok ayah yang selalu menjaga dan juga melindungi aku. "
Fany yang mendengar penuturan dari anaknya seketika menatap sesal. "Maafin Mami ya, El. Maaf ya gak bisa ngasih keluarga yang utuh buat kamu. Maaf kalau sama mami kamu gak pernah ngerasain figur seorang ayah. Dan maaf, mami malah membuat kamu hidup di dalam takdir yang seperti ini."
"It's okey, mi. Aku ngerti kejadian yang mami alami dulu sampai aku hadir ke dunia ini. Aku malah bersyukur karena mami mau pertahanin aku dan aku hidup menjadi anaknya mami. Makasih banyak ya, mi. Makasih atas semua perjuangan mami untuk pertahanin aku. Padahal aku tau, gak mudah buat ngejalanin itu semua. Hamil tanpa suami? Aku tau beratnya itu. Apalagi di zaman sekarang banyak orang-orang yang gak sanggup untuk mempertahankan janin yang ada di kandungan mereka. Malu dan hinanya cercaan dari orang-orang pasti akan membunuh mental dari orang-orang tersebut. Mami hebat, mami bisa melalui semua itu. Mami adalah perempuan terkuat di dunia ini. Maaf, kalau selama ini aku selalu bikin mami marah-marah dan sering buat mami di panggil ke sekolah karena kelakuanku. Makasih, mi. Aku sayang banget sama mami" ungkap El.
Fany yang mendengar itu seketika terharu. Matanya saat ini pun sudah berkaca-kaca. Fany menatap El dengan tatapan yang lembut. Kemudian, dia langsung membawa El ke dalam dekapannya. "Walaupun kamu selalu bikin mami marah-marah, sering buat mami di panggil ke sekolah karena kelakuan nakal kamu, mami akan tetap selalu sayang sama kamu. Senakal apapun kamu, kamu tetap anaknya mami. Kamu tau kenapa?"
El lantas menggelengkan kepalanya di dekapan sang mami.
"Karena kamu adalah harta berharga yang mami punya di dunia ini. Tanpa adanya kamu, mami gak akan sekuat sekarang, El. Hadirnya kamu di hidup mami benar-benar mengubah kehidupan mami menjadi lebih berwarna dan mami bersyukur akan itu" jawab Fany seraya mengelus punggung belakang sang anak lembut.
"Sekali lagi makasih ya, mi. Makasih atas semua kasih sayang yang melimpah dari mami kasih buat aku. Meskipun aku cuman punya mami sebagai orang tua buat aku, aku tetap bersyukur akan itu" ucap El lembut.
"Kamu gak perlu berterima kasih, El. Sudah selayaknya mami sebagai orang tua memberikan kamu kasih sayang yang berlimpah. Sebagai orang tua tunggal, mami akan melakukan apapun agar kamu tidak merasa sendiri dan mami akan berusaha semampu mami mewujudkan semua keinginan dan permintaan kamu" balas Fany tak kalah lembut.
"Mami sayang kan sama aku?" El bertanya.
"Jelas mami sayang banget sama kamu, El" jawab Fany.
"Kalau sayang, jangan lupa ya mi uang jajan aku di tambahin."
Suasana yang melow tadi seketika hancur lebur karena perkataan dari El. Fany pun langsung melepaskan pelukannya dan menatap sang anak dengan wajah yang datar.
"Kamu ngerusak suasana tau gak. Air mata mami yang tadinya mau turun langsung masuk lagi dan itu semua gara-gara kamu. Kesel Mami. Emang gak bisa kamu tuh di ajak serius dikit."
Setelah mengatakan itu, Fany langsung meninggalkan El yang kini menatap bingung kepada maminya.
"Lah? Emang gue salah ya? Perasaan gue gak ngapa-ngapain deh. Gini nih jadi cowok, serba salah emang" gumam El.