BAGIAN 6 - INTUISI RASA

1003 Kata
Selamat Membaca Semuanya ...... ------------------------------------------------------------------------------ Sejak pertemuan terakhirnya dengan Arvin kemarin, Fany menjadi resah. Dia memikirkan perkataan laki-laki itu kepadanya kemarin. Terikat? Yang benar saja. Untungnya dia tadi bisa dengan cepat kabur dari ruangan lelaki itu. Berkat kedatangan Rey, dia bisa dengan leluasa keluar dari ruangan seram tersebut. Memikirkan ucapan Arvin yang tidak dapat di pahami, membuat Fany merasakan pusing di kepalanya. "Aneh banget tuh orang. Kenapa juga gue harus ketemu sama dia lagi sih!" "Ck, pokoknya si Arvin Arvin itu jangan sampai tau dulu mengenai El." Setelahnya, Fany pun kembali melanjutkan pekerjaan miliknya yang tertunda akibat ucapan tak masuk akal dari Arvin yang memenuhi setiap sudut isi kepalanya. ***** "Woy, bos. Nongkrong dulu yuk kita? Masa lo langsung pulang sih? Gak asyik lo, kaya anak SD aja." El yang hendak menaiki motornya sontak menghentikan gerakannya dan menatap ke arah salah satu sahabat karibnya. "Heh, Upin! Kalau gue gak langsung balik ke rumah, bisa-bisa Meong kesayangan gue ini di sita sama si Mami." Lelaki yang di sebut Upin itu pun seketika berdecak tak terima. "Ck! Mak sama bapa gue bagus-bagus ngasih nama Dimas malah lo ganti Upin? Emang agak lain gue lihat lo, El. Gue beda ya sama si Upin. Upin gak punya mak bapa, sedangkan gue masih lengkap punya mak bapa." "Alah! Cocok udah lo di panggil Upin. Terima aja kenapa sih. Mukanya lo lebih cocokan di panggil Upin dari pada si Dimas" sahut Irfan, yang merupakan salah satu dari sahabat karib si El. "Heh, Ipin! Gak usah ikut-ikutan ngeledek saudara lo deh" cibir El. "Nama gue Irfan ya, bukan ipin" sewot Irfan tak terima. "Terima aja udah. Itu panggilan kesayangan gue buat kalian" ucap El santai. Kedua sahabat El itu pun hanya bisa berdecak tak terima mendengar ucapan tersebut. "Yaudah lah, gue pulang. Bye, Upin Ipin!" Setelah mengatakan itu, El langsung mengendarai motornya meninggalkan kedua sahabatnya yang kesal karena panggilan tersebut. ***** Di perjalanan pulang, mata El yang tak bisa diam melihat sekelilingnya itu pun tanpa sengaja melihat ke arah sebuah mobil yang sepertinya sedang di cegat oleh beberapa orang berpakaian hitam. El yang melihat itu tentu saja menghentikan motornya dan melihat pemandangan itu dari jauh. "Seru nih kayanya" El pun duduk santai di atas motornya sambil melihat kearah mobil yang di lihatnya sebelumnya. El bisa melihat seorang laki-laki dewasa keluar dari dalam mobil itu. Tak lama, setelah laki-laki dewasa tadi keluar, perkelahian pun tak dapat terelakkan. "Wih! Mantap juga tuh bapak-bapak" takjub El ketika melihat gaya berkelahi dari laki-laki dewasa itu. Namun, wajah El yang pada awalnya menikmati perkelahian di depannya itu seketika berubah menjadi panik ketika salah satu dari orang-orang tersebut mengeluarkan pisau dari arah belakang laki-laki tersebut. "Wah! Wah! Wah! Gak bisa di biarin ini. Ini namanya gak seimbang." El langsung melajukan motornya dan mengarahkan motornya ke salah satu orang yang hendak menodongkan pisaunya ke laki-laki dewasa tersebut. Bruk! Orang yang hendak menodongkan pisau tersebut langsung terjatuh ke aspal beserta pisau yang ada di tangannya. El yang melihat itu langsung bertepuk tangan dan menepuk dadanya bangga. "Keren juga gue." Semua orang yang berada di sana pun sontak mengalihkan perhatian mereka kepada El. "Siapa kamu?" El yang mendengar suara itu langsung mengalihkan tatapannya. Deg! Tiba-tiba saja El merasakan ada yang berbeda dari jantungnya ketika dia melihat wajah dari laki-laki di hadapannya. "Kok mirip sama gue nih om-om." El yang hendak menjawab pertanyaan dari lelaki itu pun sontak mengurungkan niatnya ketika dia melihat salah satu orang yang berpakaian hitam itu kembali hendak menusukkan pisaunya ke lelaki di depannya. Dengan cepat El langsung menendang tangan orang tersebut dan kemudian menghajarnya. "HABISIN MEREKA SEMUA, OM. GUE BANTUIN NIH" teriak El semangat. Sebab, sudah sangat lama dia tidak mengasah kemampuannya berkelahi karena ketahuan melakukan tawuran oleh sang mami. El dan lelaki itu pun secara bersama-sama menghajar semua orang-orang yang berpakaian hitam di sana. Namun, tak lama kemudian datang dua buah mobil lagi ke arah mereka. El yang melihat itu seketika melotot dan menjadi panik. "BUSET! TAMBAH ORANG LAGI NIH? WOY OM! GIMANA INI? APA KAGAK MATI KITA BERDUA DI KEROYOK BANYAK ORANG GINI? ADUH! KASIAN MAMI SAYA, MANA MAMI SAYA SINGLE LAGI." "Mereka orang-orang saya. Kamu tenang saja." Benar saja, kedua mobil yang datang tersebut langsung membantu El dan laki-laki yang di tolongnya tadi. El yang melihat itu tentu saja bernafas sangat lega. Melihat orang-orang yang tadi menghadang laki-laki di sampingnya itu sudah tak berdaya, membuat El tersenyum senang. "Rasain lo pada. Mampus tuh. Karma lo semua. Untung lo semua kaga mati. Kalau mati gue jamin, amal ibadah lo semua kaga di terima oleh yang maha kuasa." "Bawa mereka ke tempat biasa." Orang-orang dari lelaki tadi pun langsung menuruti semua perintah tersebut. "Terima kasih sudah menolong saya." El yang mendengar ucapan itu pun langsung mengalihkan tatapannya. "Sama-sama, om. Tugas sesama manusia itu kan harus saling tolong menolong jika ada orang lain yang kesusahan dan memerlukan bantuan. Lagian, saya gak suka kalau dalam sebuah perkelahian itu lawannya gak seimbang. Sekarang, yang terpenting saya dan juga om baik-baik aja. Kalau begitu saya permisi ya, om." "Tunggu! Nama kamu siapa?" cegat lelaki tersebut. "Elois Givano. Panggil aja, El" jawab El tersenyum. "Oke, El. Terima kasih atas bantuan kamu. Nama saya Arvin Prakash." Yeah, lelaki yang di tolong oleh El tadi adalah Arvin. "Sama-sama, om Arvin" ucap El tersenyum. Melihat senyuman El membuat Arvin seketika terdiam. Arvin merasakan sesuatu yang berbeda ketika melihat senyuman dari pemuda di depannya. "Kamu mirip seperti saya muda dulu" ucap Arvin tiba-tiba. "Om, saya tau saya ini ganteng. Tapi gak usah di mirip-miripin sama om juga dong. Emang om seberharap itu mirip sama saya ya?" sahut El dengan wajah yang songong. Arvin yang mendengar ucapan tersebut bukannya tersinggung, justru malah tertawa. Tawa yang sangat jarang dia tampilan kepada siapa pun. "Kenapa ketawa sih, om? Saya padahal gak lagi ngelawak loh?" bingung El. "Udahlah. Saya permisi dulu, om. Entar Mami saya nyariin. Kalau mami saya nyariin entar repot." Setelah mengatakan itu, El langsung menaiki motornya dan mengendarainya meninggalkan Arvin yang tersenyum melihat kepergian pemuda yang menolongnya tadi. "Elios Givano? Nama yang sangat bagus."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN