BAGIAN 5 - KEMBALI BERTEMU SOSOK MASA LALU

1273 Kata
Selamat Membaca Semuanya ..... ---------------------------------------------------------------------------------- Dua hari berlalu semenjak pertemuan terakhir Fany bersama dengan Arvin. Dan, di hari ini Fany akan kembali bertemu dengan Arvin untuk membicarakan kelanjutan hubungan kerja sama mereka yang sudah di sepakati sebelumnya. Kini, Fany sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan ibu satu anak itu tengah duduk di meja makan seraya menunggu anak kesayangannya turun ke bawah. "OHAYO, MAMI KU YANG PALING CANTIK." Uhuk! Uhuk! Uhuk! Fany yang tengah meminum kopinya langsung tersedak ketika mendengar teriakan menggelegar dari sang anak. "OH TIDAK! MAAFKAN ANAKMU INI WAHAI, IBUNDA. ANAK MU INI SUNGGUH TIDAK BERNIAT UNTUK MENGEJUTKAN IBUNDA." "Gak usah teriak-teriak kenapa, El. Pengang telinga mami dengar suara teriakan kamu setiap pagi" sewot Fany. "Lebay si Mami" sahut El sambil mengambil selembar roti di atas meja makan. Fany yang mendengar itu langsung melotot dan kemudian pandangannya seketika menelisik melihat penampilan anak lelakinya tersebut. "Kamu mau sekolah apa mau cosplay jadi gembel? Kok seragamnya acak-acakan gitu?" "Mami ku sayang, penampilan kaya gini tuh bikin cewek-cewek pada kesemsem tau gak. Mami gak lupa kan kalau anak Mami ini gantengnya kebangetan? Mau seacak-acak apapun, anakmu ini akan tetap terlihat ganteng" sombong El. "Idih! Kalau mami jadi cewek-cewek di sekolahan kamu, mami ogah banget suka sama kamu yang tampilannya macam gembel gak ada duit gini" sinis Fany. "Untungnya sih mami bukan cewek-cewek yang ada di sekolahan aku" sahut El sambil mengedipkan sebelah matanya. "Mirip siapa sih kamu? Perasaan kelakuan mami dulu gak gini-gini amat" heran Fany. "Mirip Papi kali" celetuk El. "Papi kamu aja mukanya datar kaya tembok, ya kali kelakuannya sama kaya kamu" ucap Fany tanpa sadar. El yang mendengar itu langsung menyipitkan matanya ke arah sang mami. "Kok mami tau banget sih sama papi? Mami pernah ketemu lagi sama Papi?" "Mulut sialan!" rutuk Fany dalam hatinya. "Mami ..." panggil El dengan penuh penekanan. "Ya mami pernah ketemu lah sama papi kamu itu. Sebelum buat kamu kan mami ketemu sama papi kamu dulu. Ya makanya mami tau banget muka papi kamu yang datar itu" elak Fany. "Bukannya kata mami, mami cuman pernah ketemu satu kali ya sama Papi di club? Mami juga pernah bilang kan, kalau mami saat itu lagi hangover lumayan parah? Kok mami bisa lihat dengan jelas muka datarnya si papi?" tanya El beruntun. "Anak ku sayang, meskipun mami mu ini hangover lumayan parah, mami masih bisa ingat jelas gimana bentuk dan muka papi kamu saat itu. Jangan meragukan ingatan mami ya kamu. Gini-gini, meskipun udah lumayan berumur, ingatan mami masih tetap oke" jawab Fany yang di bumbui dengan sedikit kebohongan. "Oke, pertanyaannya cukup sampai di sini. Anak ganteng mau ke sekolah dulu. Mau menuntut ilmu biar di kemudian hari menjadi orang yang bermanfaat dan bisa berguna bagi nusa, bangsa, dan negara" ucap El kalem. "Sekolah itu yang bener. Awas aja kalau kamu sampai bolos. Kalau kamu ketahuan bolos, Meong bakal mami sita dan kamu di larang main sama kedua teman seperjuangan kamu itu" ancam Fany. "Astagfirullah! Sungguh teganya dirimu wahai ibunda! Hiks! Baiklah, karena anakmu ini anak yang penurut, maka anakmu ini akan menuruti semua perkataanmu wahai ibunda. Kalau begitu anak tampan ini pergi menuntut ilmu dahulu. Jaga diri baik-baik, wahai ibunda ku tersayang. Jangan rindu, rindu itu berat. Biar Dilan saja yang menanggungnya." Setelah mengucapkan itu, El langsung menyalimi tangan maminya dan berjalan dengan tas yang dia sampirkan di bahunya. "Itu anak gue? Masa sih? Suka banget ngedrama" gumam Fany. ***** Fany dan seorang asistennya yang bernama Gia kini sudah berada di perusahaan Blue Star. Dengan di antar Rey, kedua perempuan itu mengikuti langkah kaki lelaki tersebut menuju sebuah ruangan. Sesampainya di ruangan yang di tunjukkan oleh Rey tadi, Fany seketika terkejut ketika melihat laki-laki yang merupakan CEO di perusahaan itu ternyata sudah duduk santai di dalam ruangan tersebut. "Selamat pagi, pak Arvin. Maaf jika kedatangan saya sedikit terlambat" ucap Fany profesional dan melupakan kejadian beberapa hari lalu di basment perusahaan ini. "Tidak masalah. Silahkan duduk" sahut Arvin dengan tatapan yang tertuju kepada perempuan yang berbicara kepadanya barusan. Fany dan Gia pun segera mendudukkan diri mereka di hadapan beberapa orang yang juga hadir di ruangan tersebut. "Karena pihak dari TnM Boutique sudah datang. Jadi, kita akan memulai rapat ini" ucap Rey serius. Rey pun memberikan sebuah map kepada Arvin yang berisi rancangan kerja sama yang di berikan oleh Fany kepada Rey sebelumnya. "Jadi, pihak TnM Boutique merancang sebuah peragaan busana dengan model yang berasal dari Blue Star? Begitu? Apa bisa di jelaskan kepada kami semua yang berada di sini?" tanya Arvin setelah membaca rancangan kerja sama tersebut. "Ya. Kami dari pihak TnM Boutique merancang sebuah peragaan busana. Di mana peragaan busana ini akan menampilkan busana-busana terbaru dari hasil kerja sama antara TnM Boutique dan juga Blue Star. Busana-busana yang akan di tampilkan di peragaan tersebut tentu saja harus ada campur tangan dari kedua belah pihak. Pihak Blue Star bisa memberikan ide-ide terkait busana apa yang akan di tampilan di peragaan tersebut." "Selain itu, sebelum melakukan peragaan busana, kita perlu melakukan live streaming terkait busana-busana yang akan kita tampilkan di peragaan nanti. Istilahnya, kita akan memberikan spoiler untuk semua orang. Tujuannya adalah tidak lain untuk menarik perhatian mereka semua yang menonton. Jika semua tertarik, tentu peragaan busana yang akan kita lakukan akan semakin mudah. Di tambah, orang-orang yang akan menggunakan busana tersebut adalah model-model yang memiliki jam terbang tinggi. Tentu saja akan semakin membuat orang-orang di luaran sana semakin tertarik dengan peragaan busana kita tampilkan." "Dan yang paling penting, busana yang akan kita tampilkan nanti hanya akan ada satu busana dalam setiap produknya. Dengan kata lain, produk itu adalah produk limited dan kita tidak akan pernah lagi memproduksi busana tersebut. Jadi, siapa yang cepat, dia yang akan mendapatkan busana hasil kolaborasi antara Blue Star dan juga TnM Boutique." Semua orang yang mendengar penjelasan dari Fany sontak menganggukan kepala mereka. "Ide yang sangat bagus. Saya setuju" sahut Arvin. "Kami juga setuju atas ide yang di berikan oleh Ibu Fany, pak Arvin." "Ide yang di berikan ibu Fany memang sangat bagus dan juga cemerlang." "Baiklah, jika kalian semua setuju. Kita akan mempersiapkan peragaan busana tersebut. Dan hal pertama yang akan kita lakukan adalah mencari ide mengenai desain busana untuk peragaan busana tersebut. Untuk sekarang rapat saya sudahi sampai di sini. Kita akan lanjutkan ini minggu depan" ucap Arvin. Setelah mengatakan itu, Arvin langsung bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan. Namun, belum sempat membuka pintu, Arvin menghentikan langkahnya dan menatap ke belakang. "Ibu Fany, apa bisa kita berbicara di ruangan saya?" Fany yang mendengar itu mau tak mau menganggukkan kepalanya. Arvin yang melihat anggukan itu diam-diam tersenyum samar tanpa sepengetahuan Fany. ***** Di sinilah akhirnya Fany berada, di ruangan milik Arvin. Ruangan yang di d******i warna hitam ini membuat Fany merasakan perasaan yang begitu mencekam ketika berada di ruangan lelaki itu. Apalagi Fany menyadari lelaki yang duduk di hadapannya saat ini sedari tadi terus memperhatikan wajahnya secara terus menerus. "Fany ..." Suara berat Arvin yang memanggil namanya membuat Fany seketika merasa merinding. "Ingat dengan kejadian di club belasan tahun lalu?" Fany yang mendengar ucapan itu seketika menegang. Bagaimana mungkin lelaki di hadapannya ini mengingat apa yang mereka lakukan dulu? "Kenapa? Terkejut jika saya masih mengingat kejadian itu?" kekeh Arvin. "Bagaimana bisa saya melupakan kejadian itu, jika saya setiap harinya selalu terbayang akan kegiatan panas yang kita lakukan dulu? Bahkan, sampai sekarang saya masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya" lanjut Arvin dengan tersenyum kecil. "Sejak kamu menyerahkan diri kamu kepada saya waktu itu, sejak itu pula kamu sudah terikat kepada saya, Fany." "Maksud pak Arvin apa? Saya tidak mengerti" bingung Fany tak paham. "Kamu milik saya, Fany. Dan saya tidak akan membiarkan laki-laki manapun untuk memiliki kamu" ucap Arvin dengan smirk di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN