Selamat Membaca Semuanya .....
-----------------------------------------------------------
Di meja kebesarannya seorang lelaki dewasa nampak memperhatikan sebuah foto seorang gadis yang dia ambil secara diam-diam belasan tahun lalu. Foto yang dia ambil dari jauh itu nyatanya masih tersimpan begitu rapi di atas meja kerjanya. Bahkan, senyuman gadis di dalam foto itu membuat laki-laki tersebut menerbitkan senyumannya.
"Akhirnya, setelah belasan tahun saya menemukan keberadaan kamu."
Laki-laki itu tak lain adalah Arvin. Arvin Prakash.
Siapa yang tidak mengenal seorang Arvin Prakash? Seorang CEO salah satu perusahaan terkenal yakni Blue Star. Kesuksesan dan kejayaan dari Blue Star membuat Arvin begitu di kenal oleh banyak kalangan. Bahkan, banyak orang yang berlomba-lomba untuk masuk dan bergabung ke perusahaan tersebut. Bahkan, perusahaan yang di pimpin Arvin itu masuk ke dalam sepuluh top perusahaan incaran mahasiswa-mahasiswa yang telah lulus berkuliah.
Berbeda dengan kesuksesannya di bidang pekerjaan, dalam hal percintaan Arvin begitu payah. Bagaimana tidak? di umurnya yang sudah memasuki usia empat puluh sembilan tahun itu, dia masih mempertahankan status lajang nya. Usia yang sebenarnya sudah sangat cocok dan matang untuk membangun sebuah rumah tangga. Tetapi, lelaki itu masih sangat betah dengan status kesendiriannya yang sekarang.
Sukses dalam pekerjaan dan mempunyai segalanya tidak membuat serta merta Arvin merasa bahagia. Kebahagiaan yang dia cari nyatanya belum dapat dia miliki, meski sekarang sudah berada tepat di depan matanya.
Dulu, kata cinta adalah hal tabu di dalam benak Arvin. Baginya, tanpa cinta pun seseorang akan bisa hidup dan menjalani kehidupan dengan damai. Tapi, setelah bertemu dengan seorang gadis berpakaian putih abu-abu yang menolong dirinya dari kejaran rival bisnis ayahnya dulu, membuat Arvin akhirnya mengerti dan mempercayai apa itu kata cinta yang sesungguhnya.
Jika dulu dia tidak di pertemukan dengan gadis berseragam itu, mungkin saja sampai saat ini dia masih tabu akan perihal cinta. Dan masih akan tetap menjadi Arvin yang tidak tahu menau mengenai urusan perempuan.
*****
"Arvin, mau sampai kapan kamu terus pulang hingga larut malam seperti ini? Cobalah untuk mencari pendamping hidup, nak. Umur mama dan papa sudah sangat tua. Kami ingin sekali melihat bagaimana rupa cucu kami nanti."
Arvin yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya langsung di suguhkan dengan pemandangan kedua orang tuanya yang berdiri tepat di depan pintu masuk seperti memang sengaja menunggu kedatangannya. Apalagi setelah dia mendengar ucapan sang mama barusan. Arvin mengerti jika kedua orang tuanya memang sengaja menunggu kedatangan dirinya.
"Arvin, apa kamu gak punya keinginan untuk memiliki sebuah keluarga sendiri? Lihat teman-teman kamu yang seumuran sama kamu, mereka sudah mempunyai anak yang sudah lumayan besar. Bahkan, teman-teman arisan mama selalu menceritakan mengenai cucu-cucu mereka yang sudah mulai bersekolah. Kamu gak pengen apa di panggil dengan sebutan papa sama anak kamu?" tanya Rima, mama Arvin.
"Ma, aku sudah sering mengatakan ini kepada mama. Jika sudah waktunya, maka tanpa mama dan papa suruh pun aku akan membangun keluarga ku sendiri. Dan mama tidak perlu mendengarkan cerita dari teman-teman mama tentang cucu-cucu mereka kalau pada akhirnya cerita itu akan membuat mama menjadi sedih. Aku tau apa yang terbaik untukku, ma. Jadi, mama tidak perlu untuk terus bersikap menekan ku seperti ini " jawab Arvin jengah.
"Sampai kapan, Arvin? Sampai kapan mama dan juga papa harus menunggu? Umur kami berdua sudah sangat tua, Arvin. Kami tidak tau sampai kapan kami hidup di dunia ini. Sebelum kami pergi, kami benar-benar sangat ini melihat kamu menikah dan membangun sebuah keluarga yang bahagia, nak. Dan di sisa umur kami yang sudah tua ini, kami juga sangat ingin melihat bagaimana penerus keluarga kita" ucap mama Rima dengan raut yang terlihat sendu.
"Ma, mama pikir aku tidak ingin menikah dan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia? Aku juga ingin, ma. Tapi, tidak sekarang, ma. Aku mohon mama mengerti bagaimana perasaanku. Aku janji, ma. Aku janji, jika waktunya tiba nanti, aku tidak akan menunda-nunda hari bahagia itu" balas Arvin.
"Tapi kapan, Arvin? Kapan? Sampai kapan mama dan papa harus menunggu? Apa sampai kami tidak ada lagi di dunia ini? Begitu maksud kamu? Bahkan, di umur kamu yang sekarang ini harusnya kamu sudah mempunyai seorang anak" sahut mama Rima lagi.
"Ma, jangan seperti ini. Aku juga sedang berusaha. Apa mama pikir aku tidak ingin mempunyai anak? Aku ingin, ma. Di umur ku yang sekarang, aku juga ingin memiliki sebuah keluarga dan juga seorang anak. Tapi, memiliki sebuah keluarga tidak segampang itu. Aku tidak bisa memilih sembarangan perempuan untuk menjadi istri dan juga ibu dari anak-anak ku. Lagi pula, saat ini aku sedang berusaha untuk mendapatkan seseorang. Jadi, aku harap mama dan papa bisa bersabar sedikit lagi" ungkap Arvin lelah.
"Sudah, ma. Biarkan Arvin menentukan pilihannya. Dia bukan anak-anak lagi. Dia sudah dewasa, ma. Kita sebagai orang tua tidak perlu menekan Arvin seperti itu. Sebagai orang tua, kita hanya perlu mendukung apapun keputusan anak kita. Apapun yang menjadi keputusan Arvin, papa yakin itu adalah keputusan yang terbaik untuk dia" ucap Rino, papa dari Arvin.
"Tapi, pa---"
"Ma, sudah. Kasian Arvin, dia baru saja pulang dan dia sudah langsung mendengar pertanyaan-pertanyaan kamu itu? Biarkan dia beristirahat, ma. Dan bukan hanya Arvin saja yang perlu beristirahat, kita juga perlu beristirahat" potong papa Rino menengahi.
Mama Rima pun menghela nafasnya kasar. "Baiklah. Mama hanya bisa berdoa untuk kamu, Arvin. Semoga kamu berhasil mendapatkan orang yang kamu maksud tadi."
Setelah mengatakan hal itu, mama Rima langsung melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.
Puk!
Tepukan di pundak kanannya membuat Arvin menoleh.
"Maafkan sikap mama kamu tadi, Arvin. Kamu tau sendiri bagaimana mama kamu, bukan? Dia hanya khawatir terhadap kamu, Arvin. Namun, tanpa dia sadari, kekhawatirannya itu malah membuat kamu menjadi tertekan. Kami sebagai orang tua tentu ingin yang terbaik untuk kamu. Apalagi kamu adalah anak kami satu-satunya. Papa dan mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu. Dan papa akan menunggu kabar baik dari kamu mengenai orang yang kamu ucapkan tadi" ucap papa Rino dan kemudian melangkahkan kakinya untuk menyusul sang istri yang sudah lebih dulu pergi.
Arvin yang melihat kepergian papanya hanya bisa menarik nafasnya kasar. Dia sudah sering melihat wajah lelah yang di tampakkan oleh kedua orang tuanya, apalagi sang mama ketika menyuruhnya untuk cepat-cepat berumah tangga seperti tadi. Dan, lagi-lagi kedua orang tuanya harus mendapatkan jawaban yang sama dari dirinya. Dia memang ingin menikah, tapi hanya dengan satu perempuan berseragam putih abu yang ada di foto yang terletak di meja kerjanya.