bc

DON'T BLAME ME

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
second chance
friends to lovers
badgirl
independent
brave
drama
bully
highschool
lonely
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Di dunia ini Nessa membenci tiga hal, yaitu : Hari Senin, kecoa, dan Kayla.

Nessa terkenal sebagai queen bullying. Terutama pada Kayla. Semua orang memandangnya buruk bak iblis. Padahal mereka tidak tahu apa-apa!

"Berhenti rakus, Kayla. Gue muak."

Kayla tersenyum kecil, "Kenapa, Nessa? kenapa kamu terlalu benci sama aku?"

"b******k!" umpat Nessa.

Nessa meninggalkan Kayla di ruang tengah setelah menampar pipi gadis sialan itu. Nessa mengunci pintu kamarnya. Tubuhnya meluruh di belakang pintu.

Nessa capek, Tuhan. Batin Nessa.

chap-preview
Pratinjau gratis
Null
Di dalam kamar bernuansa abu-abu dan hitam itu, seorang gadis dengan surai hitam masih terpejam di dalam balutan selimut tebalnya. Tubuhnya yang terbungkus selimut itu seperti kepompong jumbo. Kriiingg! kriiiinggg! Gadis tadi mengerang kesal lalu meraba-raba nakas meja. Begitu tangannya memegang jam alarm yang berdering itu, tanpa dosa dia melemparnya hingga tak berbentuk lagi. Baru saja tidurnya kembali tentram, suara Bi Ijah dari luar kamar terdengar begitu mengganggu. "Non Nessa! Non Nessa! ayo bangun!" tok! tok! tok! "Non Nessa?! hari ini upacara loh! ayo bangun!" Nessa mengerang kesal lalu beranjak dari kasurnya. Dengan rambut berantakan seperti singa dan mata setengah terpejam, Nessa membuka pintu kamarnya. Bi Ijah beristighfar dalam hati begitu melihat penampilan anak majikannya itu. "Ya Allah, kaget Bibi, Non," ceplos Bi Ijah. Wanita itu menepuk pipi Nessa pelan, "Mandi. Hari ini ada upacara. Jangan telat." "Hm." gumam Nessa lalu menutup pintu kamarnya. Dengan langkah malas, Nessa mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu bahkan masih sempat ketiduran beberapa menit sebelum akhirnya terbangun karena tenggelam di dalam bath-up sangking lelapnya. Satu jam kemudian Nessa sudah rapih dengan seragam sekolahnya. Dia sengaja memakai almamater merahnya itu dari rumah. Tak lupa memakai bandul dan memoles wajahnya dengan make-up tipis. "Gila, lo cantik banget." Nessa mengambil tas sekolah dan ponselnya lalu turun ke lantai satu untuk sarapan pagi. Langkahnya terhenti sebentar saat melihat keluarganya begitu bahagia dengan anak pungut mereka. Nessa mendengus, "Najisin." gumamnya melanjutkan langkahnya. Nessa menarik bangku yang jauh dari tiga orang di meja makan. Wajahnya tampak tenang mengambil selembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai cokelat. "Bi Ijah!" "Iya, Non?" balas Bi Ijah datang. Nessa menyengir, "Tolong buatin jus alpukat ya." "Oh iya, Non." Lima menit kemudian Bi Ijah datang dengan segelas jus alpukat. Nessa bergumam makasih lalu meminumnya. Benjamin berdehem, "Saya dengar kamu membuat masalah lagi kemarin, Nessa." "Oh ya?" Pria berusia 41 tahun itu menatap anaknya tajam. Bibirnya mendengus, "Dasar tak berguna. Apa setiap hari kamu hanya bisa memalukan namaku?" Nessa menghabiskan gigitan terakhir rotinya lalu bangun dari tempatnya. Gadis itu tersenyum manis menatap sang ayah yang sudah berubah menjadi b******k. "Ah sepertinya begitu. Setidaknya saya tidak hamil di luar pernikahan seperti jalangmu itu 'kan?" Nessa melirik gadis seusianya yang tampak marah. Nesa pura-pura terkejut, "Ah astaga! maaf, gue nggak bermaksud ngehina nyokap lo. But that's the truth, right?" "NESSA TYRA REINHART!" Nessa berdecak. "Jangan berteriak seperti itu, Ayah. Bisa-bisa Ayah terkena serangan jantung. Kalau sampe itu terjadi, aku akan gelar pesta nanti." Plak! Wajah Nessa tertoleh ke samping saat sebuah tamparan kencang mengenai pipi kirinya. Nessa menatap cowok seusianya yang tak lain adalah kembarannya sendiri dengan datar. "Oh wow, terima kasih. Hal yang wajar untuk sebuah tamparan di pagi hari bagi seorang Nevan," sindir Nessa. "Kalau begitu, saya duluan. Bye guys!" Nessa meninggalkan ruang makan dengan hati jengkel. Gadis itu menyambar kunci mobil di gantungan dekat pintu rumah lalu segera melajukan mobilnya kencang menuju SMA Tirta Buana. Nessa Tyra Reinhart. Gadis berusia 16 tahun yang adalah saudara kembar Nevan Tyra Reinhart. Mereka adalah anak dari pasangan Benjamin Reinhart dan Nyla Moissa. Benjamin adalah seorang pengusaha yang sukses. Pria yang lemah lembut dan penyayang di mata Nessa. Setidaknya dulu, sebelum hama kecil masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang dulunya hangat oleh canda tawa berubah menjadi neraka yang paling membuat Nessa tidak betah di rumah. Itu semua karena kebejatan sang ayah yang ternyata sangat mengecewakan. Benjamin membawa seorang anak perempuan ke dalam rumah mereka yang membuat Nyla stres dan melampiaskan emosinya pada Nessa yang selalu kalah di mata suaminya. Kehidupan bagai tuan puteri Nessa berubah seutuhnya. Tidak ada senyum lembut dari ibunya, pelukan hangat sang ayah, bahkan dukungan dari kakak kembarnya. Semuanya berubah menjadi menyakitkan. Nyla harus tinggal di RSJ karena gila yang disebabkan oleh kelakuan sang suami yang berselingkuh sampai mempunyai anak yang seumuran dengan anak mereka. Benjamin juga selalu membandingkan Nessa dengan Kayla, anak di luar pernikahannya. Bahkan Nevan menjadi membenci Nessa karena kelakuan Nessa yang selalu merundung Kayla. Sejak SMP, Nessa berubah menjadi gadis yang tak kenal belas kasih. Nessa menjadi arogan dan kasar. Puncaknya ketika teman kecil dan cinta pertamanya– Kenzo Argapura– juga ikut membencinya dan membela Kayla, Nessa semakin sering menindas Kayla. Nessa turun dari mobil sport hadiah dari paman tersayangnya. Gadis itu berjalan santai menuju kelasnya. Namun saat melihat kehadiran Kenzo dan Ghandi di koridor, Nessa tersenyum lebar. "Ken!" panggil Nessa. Kenzo menoleh. Dia mendengus malas saat melihat Nessa menghampirinya. Begitu juga dengan Ghandi. "Lo mulu sih, Nes. Bosen gue lihat lo. Sana, Kenzo aja muak sama lo yang ngintilin mulu." ketus Ghandi. Nessa mendelik, "Siapa lo? dasar kuman." "Apa lo bilang?!" Nessa tersenyum sinis. Tatapannya beralih ke Kenzo. Tanpa izin, Nessa memeluk lengan Kenzo lalu tersenyum lebar. "Ken, pulang sekolah gue mau ke kedai es krim langganan kita dulu. Lo mau ikut 'kan?" Kenzo melepaskan tangan Nessa kasar. Raut wajah jijik membuat hati Nessa berdenyut sakit. "Nggak usah sok deket sama gue, Nes. Lagian gue mau nemenin Kayla beli buku." tolak Kenzo cuek. Nessa cemberut, "Kayla! Kayla! Kayla! emang jalang itu selalu aja jadi hama!" "NESSA!" teriak Kenzo marah yang membuat banyak mata menatap mereka penasaran. "Ih, pasti Nessa lagi." "Ck, bisa-bisanya dia ngintilin Kenzo mulu. Nggak tahu malu banget." "Dia aja sama Kayla lebih baik Kayla. Nggak tahu diri." Nessa mengepalkan tangannya erat saat mendengar sekelilingnya berbisik-bisik mengenai dirinya. Matanya juga berkaca-kaca karena dibentak oleh Kenzo. "Jangan pernah berani bilang kalau Kayla itu jalang, sialan!" umpat Kenzo mencengkram pipi Nessa kencang lalu melepaskannya kasar. Kenzo berlalu bersama Ghandi yang menatap Nessa jengkel. Nessa sendiri menatap punggung Kenzo yang menjauh. Bibirnya tersenyum miris. Tak ingin kehilangan kendali karena bisik-bisik orang, Nessa memutuskan menuju kelasnya langsung. Nessa membanting tas-nya ke atas meja yang membuat teman kelasnya menoleh. Nessa duduk di bangkunya lalu menenggelamkan wajahnya di lipatan lengannya. Kapan lo natep gue kayak dulu sih, Ken? kenapa segitu bencinya lo sama gue? disaat keluarga gue nyakitin gue, kenapa lo juga? Batin Nessa sedih. Nessa memang selalu membalas perlakuan keluarga dan orang-orang yang menyakitinya. Tetapi, Nessa juga manusia yang memiliki hati. Nessa selalu membenci keadaan yang membuat dirinya terlihat begitu jahat. "Awas aja lo, Kayla. Lo bisa ambil semuanya dari gue. Tapi lo nggak bakal pernah bisa ngambil kasih sayang Abang Kale, Papi, apalagi Mami." gumam Nessa sinis. Suara bel membuat semua murid SMA Tirta Buana langsung menuju lapangan. Tak terkecuali Nessa dan dua sahabatnya. Mereka adalah Sherly Ferdinand dan Inez Gianina. Keduanya sudah berteman dengan Nessa sejak kelas sepuluh. Nessa juga bersyukur ada mereka yang menerima keadaan Nessa dan selalu membelanya. "Nes, kita ambil barisan paling belakang aja." saran Sherly. Nessa mengangguk, "Iya. Oiya, jam pertama fisika nggak sih?" "Iya. Lo udah ngerjain tugas?" "Sejak kapan gue peduli?" "Dih, Inez aja biar g****k tetep ngerjain. Lo yang pinter malah malesan." Inez melotot, "Enak aja g****k! sekiranya lo pinter, Sher? kagak!" Sherly cengengesan lalu menarik pipi chubby Inez gemas. Inez menampar punggung tangan Sherly yang membuat gadis itu langsung menarik tangannya. "Kejam lo! sakit!" "Bodoamat!" Nessa merangkul Inez dan Sherly, "Udah udah. Ribut mulu lo berdua. Mana segala KDRT," lerai Nessa. "Mending baris buruan sebelum anak OSIS nyatet nama kita." "Tch, kesel banget gue sama anak OSIS anjir." "Sama, sialan. Kerjaannya nyari kesalahan orang mulu. Kayak sendirinya bener aja." "Bangke emang." Ketiganya berhenti berghibah saat upacara sudah dimulai. Mata Nessa sibuk mencuri pandang pada Kenzo. Bibir gadis itu terangkat diam-diam. Kenzo memang seringkali menolaknya bahkan menyakitinya. Namun, Nessa tidak bisa berhenti mencintai cowok itu. BRUGH! Nessa mengikuti kaki Kenzo yang berlari menghampiri Kayla yang pingsan di barisan paling depan. Nessa berdecih pelan, "Munafik, setan." umpat Nessa. Inez menengok ke belakang, "Sok lemah banget najis." bisik Inez. Nessa mengangguk, "Emang." "Pasti bentar lagi drama." tebak Sherly. Nessa menghela nafas panjang. Dia tahu jelas masalah itu. Hah, jadi malas ke kantin pagi ini. Pikir Nessa. ☔☔☔ Nessa dan dua sahabatnya berjalan menuju kantin saat jam istirahat. Ketiganya mendesah kecewa saat meja di kantin penuh. Bibir Sherly terangkat sempurna saat melihat sepupunya sedang duduk tenang bersama gengnya. Tanpa babibu, Sherly menarik Inez dan Nessa untuk mengikutinya ke salah satu meja di tengah tengah. "Eh eh! mau kemana?!" panik Inez Nessa mendengus, "Santai kek, Sher. Jatoh bertiga 'kan kagak lucu anjir!" "Ck, brisik kalian. Udah ikut aja." balas Sherly kesal. Sherly berdiri di meja berisikan empat cowok ganteng tak terkira itu. Bahkan Inez sudah malu malu kucing di sebelah Sherly. "Erooos," panggil Sherly sedikit merengek yang membuat Inez mendelik. Nessa menunduk, "Ah, maluin." Cowok bernama Eros itu menoleh. Alisnya terangkat sebelah saat anak dari Tante satu-satunya itu memanggil. "Meja kantin udah penuh. Kita bertiga numpang boleh 'kan?" Eros melirik Aiden sebentar lalu mengangguk. Sherly berpekik senang lalu duduk di sebelah Eros. Sedangkan Inez dan Nessa duduk di depan Sherly. "Makasih ya. Anyway, gue Sherly, sepupu Eros." "Santai, Sher. Kita juga udah kenal lo. Kayak siapa aja lo." balas cowok berjambul. "Tapi boleh lah kenalan sama dua cecan di sebelah Nata." gombalnya. Inez merona malu. Sedangkan Nessa mendengus geli. Nessa bangun dari bangku, "Gue mesen makanan dulu. Lo mau apa, Nez, Sher?" "Bakso," "Batagor." Nessa mengangguk lalu menatap mata lainnya. "Ada yang mau nitip?" "Nggak kok. Thanks." Nessa meninggalkan meja mereka. Cowok berjambul tadi kembali bersuara, "Gue Ardhan. Kalau yang di sebelah gue Nata. Yang di samping Sherly itu Eros terus sampingnya Aiden. Lo siapa?" "Inez. Yang tadi pergi itu Nessa." Nata mengibaskan tangan, "Nessa mah kita juga tahu. Kerjaannya bikin heboh sekolah mulu." ceplos Nata. Ardhan memukul belakang kepala Nata. Matanya melotot seperti akan menggelinding. Dengan deheman pelan, Nata menyengir, "Bukan artian buruk kok. Menurut gue oke oke aja." "Kok?" Nata meneguk es jeruknya. Kepalanya mengangguk samar, "Gue pernah satu sekolah sama Nessa dulu. Seinget gue, dia deket sama Kenzo. Tapi semenjak ada cewek cengeng itu si Kenzo jadi jauh dari Nessa." "Bahkan kembarannya." celetuk Sherly. Inez mengangguk mengerti. Ardhan mendengus pelan, "Najisin banget. Kenzo juga kayak banci, kerjaannya ngomel mulu." "Kayak lo. Cerewet." sahut Eros yang sejak tadi diam. "Sialan lo!" Tawa mereka keluar saat melihat wajah kesal Ardhan. Nessa datang dengan nampan berisikan dua mangkok bakso dan satu piring batagor. Praang! Nessa meringis saat kuah bakso mengenai tangan dan seragamnya. Matanya melirik gadis yang jatuh di dekat pecahan piring. "GILA LO?! JALANAN LUAS DI SEBELAH GUE MASIH SEMPET-SEMPETNYA LO NYENGGOL, SIALAN!" teriak Nessa murka menjambak rambut Kayla. Kayla meringis pelan, "Sa-sakit, Nessa. A-aku minta ma-maaf." lirih Kayla ketakutan. "Maaf kata lo?!" Sherly memegang lengan Nessa, "Nes, udah. Mending ke UKS, kulit lo merah." Inez mengangguk setuju. Baru saja melepas tangannya dari rambut Kayla, sebuah tamparan panas mengenai pipi kirinya yang tadi pagi sempat ditampar oleh Nevan. Ghandi menolong Kayla berdiri. "GILA LO, NES?! SADAR! LO KAYAK IBLIS BANGET!" Nessa menatap Kenzo tak percaya. Bibirnya tertawa pelan, "Gue? iblis?" tawa Nessa semakin kencang membuat orang-orang yang melihatnya bingung. "Bukan salah gue, Ken! jalang itu yang nyeng–" plaaak! "b******k! KALO MAU NAMPAR DI PIPI LAIN KEK! TADI PAGI LO UDAH NAMPAR GUE, NEVAN!" murka Nessa. Nevan bergeming. Tatapannya begitu menusuk, "Sampe kapan lo mau bully Kayla, Nes? nggak cukup sikap t***l lo itu buat Mama sakit?" Nessa terdiam menatap Nevan penuh kebencian. Kedua tangannya terkepal kencang. "Lo pikir karena siapa Mama sakit, Van? anak jalang itu. Bukan gue!" seru Nessa memukul d**a Nevan. Airmata mengalir di pipi gadis itu, "JANGAN PERNAH LO SALAHIN GUE, b******n! SEMUANYA NGGAK BAKAL BEGINI KALAU JALANG ITU NGGAK KE RUMAH!" "NESSA! STOP PANGGIL KAYLA ITU JALANG! LO YANG MALAH MIRIP JALANG, SIALAN!" Nessa menggeleng pelan. Matanya menatap Kenzo tak percaya. Hatinya begitu sakit sehingga kulitnya yang melepuh tadi tidak terasa sakit. Aiden beranjak dari tempatnya lalu menggendong Nessa ala bridal menuju UKS. Perbuatannya membuat semua orang terkejut. Tak terkecuali Nevan dan Kenzo. Sedangkan Kayla menatap tajam kepergian Nessa tanpa dia sadari bahwa seseorang menyadari tatapannya. Aiden menurunkan tubuh Nessa di atas ranjang UKS. Aiden juga meminta Eros untuk membawakan hoodienya ke UKS. "Ganti seragam lo yang bahas itu sama ini," kata Aiden menyodorkan sebuah hoodie hitam. Nessa menerima bantuan dari Aiden. Ketika Nessa sudah selesai berganti pakaian. Dengan wajah dinginnya, dia memanggil anak PMR untuk mengobati luka lepuh dari tangan Nessa. "Ini, Kak. Mau saya yang olesin atau Kakak sendiri?" Nessa mengambil salep dari adik kelasnya itu, "Thanks ya." "I-iya, Kak." Aiden menatap gadis yang sedang mengobati lukanya sendiri. Melihat gadis itu meringis membuat Aiden tak sampai hati. Aiden menghela nafas panjang lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya merebut obat salep dari tangan Nessa. Dengan hati-hati, Aiden membantu mengolesi luka Nessa. "Hidup lo sial banget kayaknya." Nessa mendelik, "Nyebelin lo!" Aiden tertawa pelan yang membuat Nessa terperangah. Nessa baru menyadari kalau cowok di depannya ini ternyata ganteng banget! walaupun begitu, tetap saja Kenzo nomor satu. "Kenapa lo?" Nessa menggeleng. "Thanks." kata Nessa tulus saat Aiden selesai mengobati lukanya. Aiden hanya mengangguk singkat lalu keluar dari UKS meninggalkan Nessa sendirian.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Head Over Heels

read
16.1K
bc

Byantara-Aysha Kalau Cinta Bilang Saja!

read
285.4K
bc

(Bukan) Pemeran Utama

read
19.7K
bc

DENTA

read
17.3K
bc

Tentang Cinta Kita

read
193.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
209.8K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook