Chapter 24

1430 Kata
-Perhatian kecil yang kita terima dari seseorang membentuk sikap hati yang berbeda padanya.-       Gadis bermata biru itu meronta-ronta karena kedua lengannya digamit erat oleh dua orang pria berbadan kekar. Sejak keluar dari mobil hingga masuk ke dalam hotel, ia diperlakukan seperti itu. Kedua pria itu tidak mempedulikan tatapan mata orang-orang di sekelilingnya dan tetap melakukan apa yang diperintahkan atasan. Angelica diseret masuk ke dalam sebuah kamar president suite di hotel paling mahal di Singapura.     Di dalam sana seorang pria paruh baya dengan jubah mandinya sedang berdiri menghadap jendela sambil menyesap kopi dari cangkirnya.     “Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lepaaassss” teriak gadis itu meronta-ronta saat dibawa masuk ke dalam kamar. Pria paruh baya itu membalikkan badannya menghadap gadis yang baru datang itu. Ia mengangkat salah satu lengannya dan seketika kedua pria itu melepaskan tangannya. Gadis itu terjatuh dan rambutnya menjuntai. Ia mendongak sambil tersengal-sengal akibat teriakannya tadi.     Pria paruh baya itu mendekat. Gadis itu memandangnya dengan tatapan permusuhan.     “Daddy sudah katakan padamu untuk tidak berbuat semaumu sendiri. Sekarang kau tahu akibatnya bukan? Sekuat apapun kau menghindari Daddy, Daddy pasti akan bisa membawamu kembali.”     Gadis itu mendongak dan memandang tajam ke arah pria paruh baya itu. Ia adalah Gregory Roberts, ayah kandung Angelica. Gregory termasuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Bisnisnya merajai dunia IT di seluruh dunia. Tak heran semua orang takut padanya, namun tidak dengan putri tunggalnya itu. Ia suka memberontak, sama seperti dirinya.     Gregory sedang memiliki pertemuan bisnis di negara ini. Ia mengajak Angelica untuk mempersiapkan putrinya itu menjadi pewaris bisnisnya. Namun, Angelica yang memang tidak pernah tertarik dengan bisnis berusaha melarikan diri. Awalnya ia berdalih hanya pergi ke mall, namun ternyata ia berhasil melarikan diri menuju biro jodoh. Maksud hati ingin mencari seseorang yang bisa menjadi pasangan sekaligus tamengnya dari ayahnya. Tapi sepertinya usahanya gagal. Kencan butanya berakhir kacau dan sekarang ia diseret ke hadapan ayahnya lagi.     Angelica berdiri dan membenarkan bajunya yang lusuh lalu mengibas rambut lurusnya ke belakang.     “Ayah macam apa Daddy ini? Mengapa Daddy tidak bisa memberikan aku keleluasan untuk memilih? Ini hidupku dan aku bukan burung dalam sangkar yang bisa diatur semau Daddy,” protes Angelica.     Gregory tertawa terbahak mendengar sahutan itu.     “Angelica sayang…pernikahan itu bukan sesuatu yang main-main. Dalam dunia kita pernikahan itu berarti penyatuan bisnis dan perluasan wilayah. Bukan tentang apa kata orang tentang perasaan, chemistry atau apapun itu bahkan bukan dengan mencari jodoh melalui biro jodoh yang bodoh itu.”     “Daddy…. Berhentilah mengaturku!”     “Wah… wah…wah… putri daddy membangkang lagi. Daddy yang berhak menyeleksi calon pasanganmu nantinya. Paham? Jangan membantah lagi ataupun berbuat semaumu sendiri lagi. Daddy akan mencarikan pasangan yang tepat untukmu. Oke?”     Angelica berdecih sebal, ia melipat tangannya di depan d**a dan memandang sinis pada Gregory.     “Daddy tidak pernah mengerti seperti apa pria yang kubutuhkan.”     Melihat gelagat Angelica yang terus membangkang, Gregory mendekati Angelica dan menarik rahang Angelica untuk menatap dirinya.     “Katakan pada Daddy, pria seperti apa yang kau cari? Apakah pria konyol dengan segudang kata-kata gombal? Ataukah pria bodoh yang tidak mengerti bisnis? Ataukah pria yang masih menggantungkan hidupnya pada uang orangtuanya? Jangan konyol, Angelica! Pria-pria seperti itu tidak cocok bersanding di samping putri tunggal Gregory Roberts. Tidak ada tapi-tapian. Daddy akan tetap melakukannya tanpa persetujuanmu. TITIK.”     Angelica menepis tangan ayahnya lalu pergi meninggalkan pria itu di sana dengan wajah sebalnya. Gregory hanya geleng-geleng kepala. Ia menoleh ke arah Thomas, asisten sekaligus bodyguard pribadinya.     “Berikan aku semua data pewaris perusahaan besar di dunia dengan kualifikasi yang aku berikan waktu lalu.” Thomas mengangguk dan ia pergi melakukan perintah atasannya.     Di dalam kamarnya, Angelica mengeluarkan buku sketsanya. Entah mengapa ia ingin menggambar wajah Nico yang sangat membekas baginya. Belum lagi perlakuan pria itu, meskipun begitu kasar padanya tapi itu membuatnya terkesan. Apalagi pria ini tergolong spesies langka. Di dunia maca mini masih ada pria yang setia mencintai seorang wanita bahkan menolah pesona Angelica Roberts yang bagaikan model ternama itu. Tapi, bagaimanapun pesona Angelica di hadapannya waktu itu tidak mampu membuat Nico tergerak.     Sosok Nico begitu membuat Angelica penasaran. Dalam hatinya ia merasa ingin mengejar dan mendapatkan hati pria itu.     Angelica membayangkan setiap inci wajah Nico dan tatapan tajamnya. Ia tersenyum lalu menggoreskan pensilnya dan mulai melukis wajah pria itu di buku sketsanya.     “Pria yang setia, teguh pada pendirian, tampan, berpendidikan… yah walaupun agak kasar tapi aku bisa memakluminya dan yang paling penting… aku suka,” katanya dengan senyum mengembang di wajahnya. ***     Di sisi lain dua orang itu sekarang sedang berpandangan. Mereka menatap dalam satu sama lain.     “Lalu, apa kau juga mencintainya?” tanya Brandon. Cassie menggeleng dan tersenyum.     “Bagaimana bisa aku mencintai seorang pria yang sudah kuanggap sebagai kakak kandungku. Meskipun kami tidak sedarah, namun aku sudah tumbuh bersama dengan pria itu. Aku sudah menetapkan hatiku bahwa aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Dan aku berusaha menjaga jarak darinya. Namun sekuat apapun aku berlari darinya, ia yang selalu berlari ke arahku. Dan, ketika ia mengutarakan perasaannya, aku tahu aku pasti akan melukainya,” jawab Cassie dengan menatap lurus ke depan.     Brandon tidak mengatakan apapun. Ia hanya melihat sorot mata bersalah Cassie. Ia merasa gadis itu terlalu menanggung semuanya sendiri dan sekarang ia merasa bebannya mulai berat.     “Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan untuk menanggapi ceritamu. Tapi yang kutahu mungkin ini bisa menenangkanmu.” Brandon memeluk Cassie dengan tiba-tiba. Cassie tidak siap dengan pelukan Brandon.     “Jika kau ingin menangis, menangislah. Aku tidak akan melihat wajah sendumu yang jelek itu. Menangislah jika semua ini membuatmu merasa lebih lega.”     Cassie sesenggukan dan menumpahkan semua tangisannya dalam pelukan Brandon. Ia memikul beban itu sendiri. Ia merasa bersalah pada Nico. Sungguh ia tidak bermaksud membuat pria itu mencintainya, namun apalah daya manusia jika Tuhan sudah menanamkan benih itu dalam hati kita?     Brandon menepuk-nepuk punggung Cassie untuk memberikan rasa tenang padanya.     Drrttt…. Drrtttt     Ponsel Brandon berbunyi. Brandon melepaskan pelukannya dari Cassie. Ia mendapatkan panggilan video dari Ibunya. Ia buru-buru menerimanya. Ia menjauhkan ponselnya hingga menampilkan wajahnya.     “Hai, Mi…”     “Sayang, mengapa kau tidak menghubungi Mami dari tadi? Mami cemas karena tidak mendapat kabarmu seharian ini,” kata Elizabeth sambil mengerucutkan bibirnya seperti anak yang sedang merajuk.     “Maaf, Mi. Tapi tadi karena ulah Ogre wanita aku jadi tersesat di Singapura.”     Cassie mendelik ke arah Brandon dan ia mengangkat tangannya hendak memukul Brandon. Brandon mengangkat tangannya untuk menangkis tangan Cassie.     “Ogre katamu? Memangnya aku Shrek???” bisik Cassie dengan memasang wajah sebalnya karena mendapatkan julukan itu.     Elizabeth menyadari ada sosok lain di samping Brandon.     “Kau di mana sekarang? Apa kau sedang bersama seseorang di sana?”     Brandon terlihat gelagapan.     “A-anu, Mi. Aku sedang… eng.. anu…”     “Mami tahu di sampingmu sedang ada seseorang. Siapa dia? Mengapa kau tidak mengenalkannya pada Mami, hum? Ayo tunjukkan layarmu padanya. Mami ingin tahu siapa yang menjagamu menggantikan Mami di sana.”     Brandon memberi tanda pada Cassie bahwa Ibunya mau menemuinya. Cassie menyilangkan tangannya membentuk huruf ‘X’ dan menggeleng dengan cepat. Bibirnya menyerukan “Tidak mau!” dengan berbisik.     “Ah, anu Mi… orangnya sudah… pergi”     Cassie mengangguk setuju.     “Ah, sayang sekali. Mami padahal ingin mengirimkan hadiah untuknya karena dia temanmu. Ya anggaplah hadiah perkenalan darimu dan Mami.”     Brandon hanya menyengir kuda sambil melirik mata Cassie yang sekarang memandangnya tajam sambil bersidekap.     “Mi, sudah dulu ya? Aku mau istirahat. Da, Mami! Brandon sayaaanggg pada Mami. Muachhh.” Panggilan itu dihentikan Brandon.     Cassie bergidik. Pria di hadapannya ini ternyata benar-benar anak Mami. Sudah sebesar itu masih diatur dan dikontrol ketat oleh Ibunya. Pantas saja ia tidak mampu melakukan apapun di sini.     “Maafkan Mami. Ia memang suka seperti itu. Ingin tahu segala hal tentangku.”     Cassie menghela nafas.     “Yah, aku tahu. Apa yang kulihat tadi sepertinya mengukuhkan dugaanku bahwa kau memang anak manja.”     Brandon menoleh ke arah Cassie.     “APAA???”     “Sudahlah. Lupakan. Besok kelas kita akan dimulai. Kita harus datang tepat waktu. Kau mau berangkat bersama?” tanya Cassie mengalihkan pembicaraan.     “Tentu saja. Tapi awas jika kau meninggalkanku seperti tadi. Aku bersumpah tidak akan pernah… eng… tidak akan pernah…” Brandon kebingungan mencari kata-kata untuk menyelesaikan sumpah serapahnya.     “Tidak akan pernah…” Cassie menirukan Brandon sambil memandang penasaran untuk kelanjutan kata-kata Brandon.     “Tidak akan pernah menjadi tetanggamu lagi,” jawab Brandon cepat.     Cassie tertawa.     “Tentu… justru itu yang kunantikan. Baguslah kalau kau berpikiran seperti itu. Sejujurnya, aku sudah lelah menjadi tetanggamu.” Cassie berdiri sambil membawa piringnya ke tempat cucian piring.     Merasa salah bicara, Brandon mengekor Cassie.     “Ah… bukan itu maksudku… aku tidak akan pernah…”     “Sudahlah. Kata-kata yang diucapkan pertama adalah kebenaran,” goda Cassie.     “Hei… aku… “     “Kata yang pertama yang kuterima.”     “Jangan begitu, nanti siapa yang menolongku lagi.”     “Tidak mau… weee…” Cassie menjulurkan lidahnya.     “Hei, kau keterlaluan…”     “Tidak mau…”     Mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil. Mereka meneruskan perdebatan tidak penting ini hingga malam.     Saat hendak tidur ia memikirkan apa yang dilakukan Brandon padanya tadi. Entah mengapa pria itu mampu membuatnya merasa tenang dan senang dalam waktu bersamaan. Di saat perasaannya sedang kacau, Brandon dengan uniknya berhasil membuatnya kembali tersenyum.     Lepas dari semua sifat manja yang Brandon miliki atau tentang Ibunya yang overprotektif padanya, Cassie merasakan sebuah perasaan yang ia tidak dapatkan saat bersama Nico. Ia merasakan nyaman.   A/N: Cerita tentang Angelica akan Author buat khusus ya. Cuma genre’nya Science Fiction dengan intrik yang ga kalah seru dan romance yang bikin melting juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN