-Mencintai itu pilihan. Siapapun yang memilih mencintai harus siap dengan segala konsekuensi atas pilihan yang di hadapannya.-
Nico menggedor keras pintu berwarna putih di hadapannya. Ia menggedor dengan tidak sabar.
Ia harus meminta penjelasan pada Cassie atas kencan buta yang absurd baginya. Bagaimana tidak? Sehari sebelum kencan buta itu, Cassie menghubunginya dan mengajaknya untuk mengobrol di café. Tentu saja ini hal yang luar biasa bagi Nico, keluar dengan wanita yang ia sayang. Ajakan itu tentu seperti kucing yang mendapatkan ikan asin. Tanpa panjang lebar, ia menyetujuinya. Namun, bukannya Cassie yang datang namun seorang gadis yang bahkan ia tidak mengenalnya yang datang. Dan yang membuatnya marah adalah ternyata Cassie yang menyuruh gadis itu menggantikannya untuk berkencan dengan Nico. Menggantikan? Ya setidaknya itu anggapan Nico.
Ia menggedor sekali lagi dan sepertinya gadis itu memang sengaja menghindarinya entah karena apa. Tapi Nico tidak peduli. Pintu putih itu akhirnya terbuka. Cassie menunjukkan separuh wajahnya karena ia tahu kencan yang ia atur untuk Nico akan berakhir seperti ini.
“Buka, Cass. Aku butuh bicara denganmu,” pinta Nico.
“Kau marah padaku?” tanya Cassie dengan lirih sambil tetap menahan pintunya seperti itu.
“Aku hanya butuh penjelasan.”
Cassie membuka pintunya dengan lebar dan mempersilakan Nico masuk. Wajah pria itu terlihat seperti sedang menahan amarah saat masuk. Perasan Cassie mulai diliputi ketakutan. Sejak ia kecil sosok yang paling menakutkan baginya adalah Nico saat ia sedang marah. Dan, sepertinya wajah itu yang akan dia lihat saat ini.
Nico menghela nafasnya lalu membalikkan badannya dan menatap Cassie dengan tajam. Bulu kuduk Cassie berdiri. Ia terdiam terpaku.
Nico mengambil nafasnya sekali lagi sebelum berbicara.
“Kau…”
“Kalau kau marah, aku tidak mau mendengarkan apapun,” potong Cassie sebelum Nico berucap lebih jauh sambil menutup telinganya. Mau tidak mau Nico harus berusaha meredam amarahnya dan melembekkan tatapan mata tajam dan intonasi bicaranya.
“Aku tidak marah. Aku hanya ingin penjelasan,” katanya melunak.
Cassie menurunkan tangannya dari telinganya.
“Sungguh tidak marah?” Nico menggeleng. Cassie menghela nafas lalu tersenyum.
“Ya, kau mau bicara apa?” tanya Cassie polos seolah tidak paham apa yang sedang Nico alami.
“Mengapa kau membohongiku?” Cassie mengernyit dengan pertanyaan Nico.
“Maksudmu?”
“Bagaimana bisa yang datang ke Café itu bukan dirimu tapi wanita asing yang aku bahkan tidak mengenalinya? Apakah kau memang berniat menjodohkanku atau apalah istilahmu?” tanya Nico dengan nada kembali meninggi. Cassie terdiam.
“Iya, memang aku ingin menjodohkanmu dengan wanita itu. Karena aku tahu perasaanmu padaku tidak boleh dan bahkan tidak bisa dilanjutkan. Kita ini kakak adik dan sampai kapanpun hanya sebatas itu perasaanku padamu,” kata Cassie sambil menelan ludahnya.
Nico menatap Cassie dengan heran.
“Lagi… kau memaksaku untuk meninggalkan perasaanku? Padahal kau tahu itu hal yang tidak mungkin bisa kulepaskan,” jawab Nico datar namun menusuk.
Cassie merasa bersalah. Ia meneteskan air matanya.
“Kumohon, hentikan semuanya ini Nic. Aku tidak ingin membuatmu mencintaiku terlalu dalam. Kau tahu aku tidak akan mungkin bisa menerima perasaanmu. Kau dan aku itu… hiks… tidak mungkin.” Cassie terisak.
Nico juga ikut merasa bersalah. Ia berjalan mendekati Cassie yang menunduk dan menangis. Ia memegang bahunya lalu menarik wajah Cassie ke atas untuk menatapnya. Ia mengusap air mata Cassie dengan jarinya.
“Maafkan aku. Mungkin perasaanku sudah menjadi beban bagimu. Tapi, jangan merasa bersalah. Biarkan aku menyimpan rasa ini sendiri. Kalau memang kau hanya menganggapku sebagai Kakak, aku tak akan mempermasalahkan. Asalkan aku bisa selalu di sampingmu, itu lebih dari cukup buatku. Oke?”
Isakan Cassie makin keras. Nico memeluk gadis itu dan mengecup pucuk kepalanya.
“Maafkan aku, Nic. Maafkan aku tidak bisa menerimamu. Kau sudah terlalu baik padaku tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu. Maafkan aku.”
“Ssttt… it’s okay! Kau sendiri pernah bilang bahwa pasangan hidup itu pilihan kita bukan? Aku tidak mau memaksamu memilihku. Aku sendiri yang memilih untuk mencintaimu. Jadi, biarkan aku menerima konsekuensi atas pilihanku. Kau tidak salah, Cassie.”
Cassie melepaskan diri dari pelukan Nico. Ia menghapus air matanya dengan kasar.
“Terima kasih, Nic. Terima kasih.”
***
Sesosok manusia sejak tadi berdiri di depan pintu apartemen Cassie dengan membawa lembar registrasi kelas cinta Cassie. Ia tidak sengaja menguping pembicaraan Cassie dan Nico. Ia mengerti ternyata wanita itu memiliki masalah yang cukup pelik dalam hidupnya.
Ia membalikkan badannya dan berjalan kembali ke apartemennya. Mungkin ini waktu yang tidak tepat untuknya menemui Cassie. Kedua orang itu membutuhkan privasi untuk menyelesaikan masalah di antara mereka. Sebelum kakinya melangkah lebih jauh, Nico keluar dari apartemen Cassie.
Brandon menoleh dan melihat sosok pria yang baru saja keluar. Pria tampan yang tersenyum ramah padanya ketika datang ke dalam apartemen itu. Ia melihat pria itu mengelus rambut Cassie dengan lembut lalu mengatakan sesuatu yang ia tidak bisa dengar karena terlalu lirih suara yang mereka keluarkan. Pria itu kemudian berjalan ke arahnya. Ia mengangguk lagi pada Brandon dan Brandon hanya tersenyum menanggapi. Nico berjalan ke arah lift dan masuk ke dalamnya.
Brandon memalingkan wajahnya dan memandang Cassie. Mata gadis itu terlihat sembab seperti habis menangis. Dengan wajah sok polosnya ia kembali berjalan ke arah unit Cassie. Mata Cassie menangkap sosok Brandon. Brandon mendekat dan berhadapan dengan Cassie.
“Aku mau memberikan ini,” kata Brandon sambil memberikan lembar registrasi yang sudah ia isi pada Cassie. Cassie menerima lembaran itu dengan senyuman. Setidaknya kehadiran Brandon berhasil membuatnya bahagia karena ia akhirnya berhasil mencapai target dan meraih mimpinya.
“Masuklah. Hari ini aku akan mentraktirmu makan,” kata Cassie sambil terus tersenyum. Brandon ikut tersenyum dan masuk ke dalam unit Cassie.
“Kau ini memang wanita yang aneh. Sejenak menangis, sekarang bisa tersenyum selebar itu. Apa kau bipolar?” tanya Brandon dengan polosnya.
“Tungu. Darimana kau tahu aku habis menangis? Apa kau menguping pembicaraanku dengan Kakakku tadi?” balas Cassie penuh telisik. Brandon terlihat salah tingkah karena memang benar ia tidak sengaja menguping.
“A… aku… tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian dari luar tadi,” jawabnya dengan ketakutan. Ia lalu memandang Cassie dengan ragu-ragu. Cassie sudah berkacak pinggang dan memasang tampang garangnya.
“Kau pernah tahu etika ‘Jangan menguping pembicaraan orang lain’ kan? Apa yang kau lakukan ini sungguh keterlaluan. Seberapa banyak yang kau dengarkan, hah?” tanya Cassie dengan nada yang meninggi.
Brandon masih menatapnya dengan takut-takut.
“Semuanya,” katanya lirih. Cassie mendengus sebal.
“A-aku tidak tahu jika memang pembicaraan kalian begitu serius. Aku hanya… bermaksud memberikan form itu lalu pergi.”
“Kau kan bisa menunggu di unitmu, Tetangga menyebalkan! Dan bukannya menguping pembicaraan orang lain.” Cassie mendengus sebal sambil memalingkan mukanya.
Brandon tahu situasinya memang tidak nyaman baginya. Ia harus mencari cara mengalihkan suasana.
“Eh, bukankah kau tadi akan mentraktirku? Mana janjimu? Ayo, aku sudah lapar,” kata Brandon mengingatkan. Cassie hanya menatapnya sebal lalu berjalan menuju meja makannya lalu mengambil tumpukan daftar brosur makanan di laci meja makan kacanya. Ia membawa brosur itu di hadapan Brandon dan agak membantingnya ke atas meja.
“Pilihlah kau mau makan apa?”
Mata Brandon bersinar. Cassie sepertinya tahu jika ia sedang kelaparan dan ini saatnya lidahnya mencicipi makanan yang ia suka. Ia memilih makanan yang akan ia pesan dari brosur. Ia menunjuk gambar semangkuk mie bakso ikan berukuran besar dan wonton goreng yang terlihat lezat. Cassie juga ikut memilih menunya lalu memesan makanan mereka.
Setelah memesan makanan, Cassie mengambil minuman dari kulkasnya lalu memberikan satu kaleng pada Brandon.
“Ah, segarnya minuman ini! Aku tidak pernah merasakan sesegar ini saat minum,” seru Cassie seperti orang yang menemukan oase di tengah padang pasir panas. Brandon mengernyitkan dahinya.
“Ucapanmu itu seperti orang yang tidak pernah minum saja. Tsk,” sahut Brandon sambil membuka kaleng minuman dan meneguknya.
“Aku memang jarang sekali minum dalam sehari. Bahkan aku bisa bertahan 4 hingga 6 jam tidak minum,” kata Cassie sambil meneguk dan menikmati minumannya.
“Memangnya kau unta apa? Yang sekali minum lalu airnya tersimpan di punukmu? Bodoh sekali!” sahut Brandon. Cassie mengangkat tangannya dan memandang Brandon nyalang seperti hendak memukulnya. Brandon bertingkah seolah menghindari pukulan Cassie. Dan…
TING TONG!
Makanan mereka datang dan tanpa basa-basi, mereka langsung melahap hidangan yang ada di hadapan mereka dengan lahapnya.
Dengan mulut yang masih tersumpal makanan, Brandon membelah keheningan dengan pernyataannya.
“Memang ada hubungan apa antara kau dan laki-laki tadi?”
Cassie berhenti menyesap mienya dan memandang Brandon. Ia mengunyah lalu menelan mienya.
“Dia kakak angkatku.”
“Kakak angkat?”
Cassie mengangguk lalu menyeruput kuah dari dalam mangkuknya.
“Seperti ceritaku waktu itu, aku kehilangan orangtuaku di saat aku masih kecil. Dan keluarganya yang adalah sahabat baik orangtuaku bersedia mengadopsiku.”
“Dan sejak itu, dia menjadi kakakmu?”
Cassie mengangguk.
“Dan, kau baru saja tahu bahwa ia menyimpan perasaan sukanya selama ini padamu?” Cassie menoleh ke arah Brandon lalu mengalihkan pandangannya ke ujung kakinya.
“Aku sudah mengetahuinya dari lama. Namun, ia baru saja mengungkapkannya beberapa waktu yang lalu,” jawab Cassie dengan mengenang semua yang sudah terjadi sebelumnya.
“Lalu, apa kau juga mencintainya?”
***
A/N: Digantungin dikit ah biar seru… Apa isi hati Cassie ya? Sungguhkah dia nggak punya perasaan pada Nico yang super duper baiknya itu?