-Tanda seseorang tertarik padamu adalah sering memberikan perhatian kecil namun cukup sering.-
Cassie meletakkan sepiring nasi goreng ke atas meja makan dengan sedikit membanting. Ia lalu menyilangkan tangannya di depan d**a dan memandang sinis pria yang sekarang makan dengan lahapnya. Hatinya sebenarnya merasa jengkel dengan pria merepotkan ini, tapi entah mengapa ia tetap ingin memasak untuk pria itu.
“Kau tidak makan?” tanya Brandon sambil mengunyah makanan yang sudah berjejal penuh di mulutnya.
“Aku sudah kenyang. Apalagi melihatmu di sini, aku jadi mual. Cepat habiskan dan pergilah ke unitmu sendiri,” jawab Cassie kasar. Ia lalu mendudukkan dirinya di sofa dan memasang televisinya. Brandon memakan masakan Cassie dengan lahap.
“Masakanmu ini mirip dengan yang dibuatkan Mamiku,” katanya lagi sambil terus menyumpal mulutnya dengan sendokan penuh nasi goreng.
“Terserah.” Cassie memandang televisinya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Brandon. Bagaimana bisa ia bertemu dengan pria macam ini? Merepotkannya setiap kali bertemu dengannya.
PRANGG!!!
Piring yang dibawa Brandon entah bagaimana caranya terjatuh dan pecah dari atas meja. Cassie berjingkat kaget.
“APA-APAAN KAU INI??? PRIA MENYEBALKAN!” geramnya
“Ma-maaf. Aku hanya ingin membereskan piringku tapi sepertinya tanganku terlalu berkeringat dan jatuh. Ma-maaf. Aku akan membereskannya,” kata Brandon lalu ia berjongkok dan segera mengambil pecahan piring itu dengan tangan kosong.
Cassie berdiri dari tempat duduknya dan mengambil sapu. Ia memutar bola matanya malas sambil menghela nafas. Pria macam apa yang ada di hadapannya saat ini? Sudah ceroboh, merepotkan, seperti anak kecil, belum lagi sepertinya dia bergantung penuh pada Ibunya. Mengapa di dunia ini ada pria macam dia?
“AUUWWW!!! PERIIHHH…” tiba-tiba Brandon merintih. Tangannya tergores pecahan piring dan berdarah. Cassie langsung menunduk dan menarik tangan pria itu lalu mengajaknya duduk di sofa. Ia menekan jari Brandon yang berdarah lalu menyesap darah dengan mulutnya.
Brandon melihat wajah Cassie dari dekat. Gadis itu sangat manis bahkan terbilang cantik. Wajahnya tidak pernah membosankan untuk dipandanginya. Jantung Brandon berdetak kencang sampai ia menyadari Cassie dari tadi sudah menanyakan sebuah pertanyaan beberapa kali.
“Hei, kau tak mendengarku?” tanya Cassie sambil menggerak-gerakkan tangan di depan muka Brandon. Brandon berkedip.
“Ah, apa?” tanyanya polos.
“Apa masih terasa sakit? Kalau masih terasa, aku akan ambilkan antiseptik dan plester.”
Brandon menggerakkan jarinya.
“Ah, tidak. Sudah tidak sakit seperti tadi kok. Terima kasih.”
Cassie menghela nafas.
“Ah, iya. Bagaimana kelasmu? Apakah sudah dibuka?’ tanya Brandon pada Cassie.
“Memangnya kalau sudah dibuka kau mendaftar?”
“Betul. Aku mau ikut.”
Mata Cassie tiba-tiba berbinar mendengar ucapan Brandon.
“Sungguh?” Ia bertanya tak percaya. Brandon mengangguk.
Cassie bersorak kegirangan. Akhirnya kelasnya berhasil dibuka. Memang Tuhan itu begitu baik, Ia memberikan semuanya tepat pada waktunya. Setelah ini Cassie berjanji tidak akan pernah bolong ke gereja lagi. Tuhan sudah begitu baik padanya.
Dengan spontan Cassie memeluk Brandon. Tanpa sadar jantung keduanya berdegup kencang. Cassie mengurai pelukannya dan menunduk. Begitu juga Brandon yang menunduk malu.
Drrttt… drrttt
Ponsel Brandon berbunyi. Ia mengangkat ponselnya.
“Iya, Mi? Mengapa?”
Sembari Brandon menjawab teleponnya, Cassie membereskan pecahan piring itu dengan sapunya. Tak berapa lama Brandon kembali.
“Ibumu?”
“Iya, Mami.”
“Kau begitu dekat dengan Ibumu ya?” tanya Cassie.
“Sangat. Mami sangat melindungiku, dia terbiasa melayaniku dan aku tidak akan kekurangan apapun saat Mami di sampingku. Ah, menceritakan seperti ini padamu membuatku ingin menangis.”
Brandon sudah meneteskan air matanya. Ternyata pria ini benar-benar anak manja atau mungkin anak yang sangat dimanjakan? Tapi apapun itu pria ini sekarang dilanda rindu berat pada Ibunya. Cassie merasa terenyuh. Ia sendiri pernah merasakan rasa rindu yang amat sangat pada orangtuanya. Beruntunglah Brandon hanya berada berbeda negara dengan orangtuanya sementara dirinya hanya bisa bertemu orangtuanya dalam mimpi karena mereka tak akan mungkin hidup lagi.
Ia berdiri lalu memberi tepukan pada bahu Brandon yang menangis.
“Aku tahu rasanya jauh dari orangtua. Bersyukurlah orangtuamu masih hidup.”
Brandon menghentikan isakannya sejenak lalu memandang Cassie.
“Apakah orangtuamu sudah…”
“Meninggal,” potong Cassie karena ia tahu arah pembicaraan Brandon.
“Mereka sudah meninggal sejak usiaku 5 tahun. Dan, aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan mereka,” jawab Cassie dengan sedih. Ia juga ikut meneteskan air matanya karena rindu.
Kini Brandon yang membalas respon empati Cassie. Ia memeluk Cassie. Jantung Cassie berdetak lebih kencang hingga terasa mau lepas dari dadanya.
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membicarakan hal itu,” kata Brandon dengan lembut. Cassie menghapus air matanya dan melepas pelukan Brandon.
“Ah, sudahlah. Mari kita lupakan hal itu. Kita bicarakan hal yang lain saja,” ujar Cassie sambil memaksakan senyumannya.
Ia lalu menjelaskan persiapan yang Brandon perlukan sebelum mengikuti kelasnya beberapa hari lagi lalu keduanya berpisah untuk istirahat di unit masing-masing.
***
“Selamat pagi, saya ingin mendaftar menjadi member di sini, apakah bisa?” tanya seorang wanita anggun di hadapan Cassie.
Wanita itu memiliki paras yang cantik namun terlihat sangat lembut. Wajahnya merupakan perpaduan Asia dan Barat dengan mata biru dan bulu mata yang lentik. Rambut panjang bergelombang coklat kehitamannya dikuncir ekor kuda. Tubuhnya bak model yang langsing dan semampai. Kulitnya begitu mulus dan wajahnya bersih dari noda dan jerawat.
Cassie makin terperangah dengan keanggunan wanita di hadapannya. Pasalnya, wanita itu mengenakan mini dress beberapa senti di atas lutut dengan lengan pendek berwarna ungu muda yang sangat soft dipadukan dengan wedges tujuh sentimeter warna cream di kakinya. Jika Cassie diminta menebak apa pekerjaan wanita itu, ia pasti menjawab wanita itu adalah seorang model.
“Nona?”
“Ah, iya. Maafkan aku. Anda ingin menjadi member?” tanya Cassie sambil mencari beberapa brosur mengenai biro jodohnya lalu menyodorkannya pada wanita itu. Ia lalu menjelaskan seperti apa sistem di dalam biro jodohnya dan sebagainya. Wanita itu mengangguk dengan anggunnya mendengarkan setiap penuturan Cassie.
“Kira-kira demikian cara kerjanya. Apakah Nona…”
“Angelica Roberts”
“Apakah Nona Angelica sudah paham?” Wanita itu mengangguk.
“Oh iya, kalau Nona berkenan bagaimana jika Nona ikut dalam kelas cinta kami? Program ini program terbaru dari tempat kami untuk membantu mereka mendapatkan pasangan. Kelasnya akan berjalan esok.”
“Wah, sayang sekali. Aku ingin sekali mendaftar tapi aku tidak bisa karena aku berjanji untuk bersama orangtuaku saat akhir pekan. Maafkan aku.”
“Tidak apa… tidak apa. Anda tidak perlu sungkan begitu. Baiklah, kita akan mulai prosedurnya ya?”
Cassie memberikan serangkaian tes karakter pada Angelica. Sepeninggalan Angelica, Cassie langsung menganalisa hasil tesnya.
“Wow, profil gadis ini cocok sekali dengan… aha! Ini bagus sekali. Kupikir aku harus segera mengaturkan kencan untuk mereka berdua,” kata Cassie sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan menggosok-gosoknya.
***
Pria tampan itu sudah duduk di meja paling ujung dan menghadap jalanan. Ia sudah berada di sana sekitar 15 menit yang lalu dengan penampilan terbaiknya. Kemeja biru muda yang lengannya ditekuk se- siku dengan celana khaki serta ikat pinggang kulit dan sepatu kulit melekat pada tubuhnya. Ia menggunakan wax untuk sedikit mengangkat rambut di bagian depannya.
Ia mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai dengan tidak sabar. Sosok yang ia tunggu belum juga menampilkan batang hidungnya.
Seorang wanita dengan dress floral yang dipadukan dengan jaket jeans, kacamata hitam, topi pantai yang menutupi sebagian besar wajahnya sambil membawa tas rotan berjalan ke arahnya sambil membawa selembar foto. Ia mengamati foto itu lalu sudut matanya memandang wajah pria itu dan mencocokkannya dengan foto.
“Selamat siang, apa betul Anda, Nicolas Johnson?” tanya gadis manis itu sambil tersenyum dan menurunkan kacamatanya hingga menampakkan mata biru dan wajah blasterannya yang menarik.
Nico terkesiap memandang gadis di hadapannya.
“Iya, betul. Anda siapa?”
Wanita itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.
“Saya Angelica Roberts dan Nona Cassie yang meminta saya ke sini. Dia mengatakan bahwa dia sudah mengaturkan kopi darat dengan Anda hari ini,” jawabnya sambil terus tersenyum.
Menyadari ini pasti ulah Cassie yang berusaha menjauhkan dirinya, ia sungguh tidak terima. Ia berdiri dari tempat duduknya. Ia harus meminta penjelasan pada Cassie saat ini juga.
“Maaf. Tapi aku tidak bisa melanjutkan kencan buta ini dengan Anda. Aku harus menemui seseorang.”
Nico pergi meninggalkan wanita yang sekarang kebingungan di hadapannya. Wanita itu menarik tangannya lalu menggenggam erat. Ia mengejar Nico dari belakang.
“Tuan… tunggu… tuan… bukankah tidak sopan meninggalkan seorang wanita seperti ini? Kau tidak punya perasaan!”
Merasa kupingnya panas karena ucapan tajam wanita itu, Nico membalikkan badan. Wanita itu berhenti mendadak dan hampir menabrak tubuh jangkung Nico.
“Hei, Nona! Tarik ucapanmu kasarmu itu. Memangnya hanya kau yang punya perasaan? Kata-kata tajammu itu sungguh tidak sopan untuk diungkapkan apalagi kita baru saja bertemu dan aku juga tidak mengenalmu,” jawab Nico penuh kemarahan.
“Kau yang bilang kan kalau kita belum berkenalan. Jadi, mari kita mulai dari sini. Aku Angelica,” kata wanita itu sambil menjulurkan tangannya tanpa ragu-ragu. Didikan ala Barat membuatnya lebih berani dibandingkan dengan gadis Asia pada umumnya.
“Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi.”
Nico berdecih sebal lalu membalikkan badannya lagi tanpa mempedulikan wanita itu dan berjalan lurus ke depan. Seolah tak bisa menerima dengan perlakuan Nico, Angelica terus mengejar Nico sambil memanggil namanya. Ketika sudah dekat, ia menarik tangan Nico untuk berhenti. Pria itu terpaksa membalikkan badan karena tangannya ditarik.
“KAU MAU APA, NONA?? SUDAH KUBILANG AKU HARUS MENEMUI SESEORANG. APA KAU TIDAK MENGERTI?” teriak Nico karena amarahnya sudah di ubun-ubun. Wanita itu melepas tangan Nico.
“Setidaknya kita bisa berbicara baik-baik lebih dulu bukan?” kata wanita itu dengan sedikit ketakutan akibat bentakan Nico. Nico menyadari kata-katanya yang kasar.
“Maafkan aku,” sahut Nico merasa bersalah sedikit. Sedikit. Tidak lebih.
“Kau lihat di belakangku, ada beberapa orang berpakaian hitam?” tanya Angelica dengan setengah berbisik. Nico memandang ke belakang dan ia menemukan sosok yang dimaksud Angelica.
“Mereka adalah mata-mata ayahku. Ayahku yang menyuruh mereka menguntitku dan aku melarikan diri karena merasa tertekan. Kumohon bekerja samalah denganku. Sembunyikan aku atau kita bisa pergi bersama ke suatu tempat dengan diam-diam. Sebentar saja,” kata Angelica memelas.
Nico menghela nafas.
“Nona maafkan aku, tapi sungguh aku tidak bisa melakukan kencan buta dengan dirimu atau siapapun-”
“Tidak… tidak. Ini bukan kencan buta atau apapun. Ini hanya…”
“Tetap saja, aku tidak bisa. Aku hanya… sudah berkomitmen untuk tidak berhubungan dengan wanita manapun,” jelas Nico sebelum Angelica menyelasikan perkataannya.
“Me- mengapa?” potong Angelica dengan terbata-bata.
“Aku sudah menyukai seseorang dan aku tidak ingin melepaskan perasaanku padanya. Aku akan menjaga hatiku hanya untuknya sampai kapanpun.”
Nico mengambil langkah lebar dan meninggalkan wanita itu tanpa peduli dengan wajah kebingungan dari Angelica.
“Hei, Nico!!! Heiiii!!! Kembaliiiii…”
A/N: Nah lho… siapa yang pernah ditolak? Sakitnya tuh di sini… ya nggak?