Chapter 21

1607 Kata
-Kata orang, benci dan cinta itu hanya beda tipis. Karena kedua perasaan itu yang membuat sosok yang kita cintai atau kita benci selalu melekat di pikiran.-       Cassie terengah-engah. Ia berlari sekencang mungkin begitu keluar dari MRT. Ia sudah terlambat masuk kantor dan ini gara-gara pria menyebalkan yang menjadi tetangganya. Jika seandainya ia tidak mengganggu tidur Cassie semalam, ia pasti akan bangun dengan tepat waktu dan kondisinya segar.  Gara-gara Brandon mengacaukan siklus tidurnya, ia terjaga hampir 2 jam setelah bangun dan matanya baru terpejam pukul 3 pagi. Padahal ia harus bangun pukul 7 pagi untuk bersiap ke kantor.     Cassie mengumpat dalam hatinya, memaki ulah Brandon. MRT yang mengantarnya sudah sampai di tujuan. Ia keluar dan berlari sekencang-kencangnya agar tidak terlambat masuk kantor. Ia berhenti di depan lift sambil terengah-engah. Lari kencang sejauh 500 m ternyata sangat melelahkan. Cassie menegakkan badannya sambil mengatur nafasnya masuk ke dalam lift.     “Cassie?” Cassie menoleh dan itu Rissa, teman kerjanya.     “Hai! Maafkan aku… aku… masih berusaha mengatur nafas.”     “Apa yang terjadi memangnya?”     “Panjang…. Ceritanya. Yang pasti ada seseorang yang membuatku seperti ini dan aku sebal padanya.”     Lift itu sampai di lantai yang dituju. Cassie dan Rissa turun dari lift. Begitu masuk ruangan kerjanya, seluruh mata tertuju padanya. Ia terlambat 5 menit bersama dengan Rissa. Cassie berjalan menunduk dan menuju ke meja kerjanya. Edwin yang berdiri di depan seluruh staff’nya berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya melihat Cassie.     “Kita lanjutkan meeting kita hari ini. Cassie!”     “Ya, Pak!” jawab Cassie kaget sambil berdiri.     “Sekarang giliranmu untuk menjelaskan perkembangan proyekmu.”     Cassie menetralkan detak jantungnya yang berdebar. Ia mengambil berkas yang sudah ia susun dan laptopnya. Ia berdiri di samping Edwin dan mengambil alih posisi Edwin di depan. Ia mempresentasikan sejauh apa proyeknya berjalan. Di tengah presentasi, Edwin mengacungkan tangannya. Jantung Cassie berdegup kencang. Ia harus menyiapkan diri untuk setiap pertanyaan kritis Edwin.     “Berapa murid yang sudah mendaftar?”     Cassie terdiam. Ini pertanyaan yang menakutkan. Ia sudah mendapat kabar bahwaa kedua sahabatnya sudah mendapat 2 siswa. Ini artinya 1 lagi yang ia butuhkan. Tetangga menyebalkan itu semalam memberikan jawaban yang membingungkan saat ia bertanya tentang kelas cinta Cassie. Apakah pria itu jadi mengikuti kelas Cassie atau tidak? Cassie tampak ragu.     “Yang sudah pasti 2 orang, Pak. 1 lagi… eng… masih saya cari,” jawabnya ragu.     “Sudah tinggal dua hari lagi deadline’mu dan masih juga belum memenuhi kuota? Aku tidak mau tahu, malam ini aku tunggu kabarmu dan kau harus mendapatkan murid 1 lagi. Oke, meeting selesai.”     Cassie menghembuskan nafas. Ia menyesali ulah usilnya pada Brandon. Jangan-jangan pria itu tidak jadi ikut kelasnya gara-gara keusilannya. Cassie merutuki dirinya.     Jam pulang kantor tiba. Cassie sudah berjanji akan bertemu dengan kedua sahabatnya malam ini. Ia berjalan menuju stasiun MRT. Sekarang ia sudah berbaris menunggu MRT’nya tiba. Tiba-tiba pinggangnya terasa nyeri. Saking nyerinya, ia tiba-tiba berjongkok. Orang-orang di belakangnya menanyakan apakah Cassie baik-baik saja. Gadis itu hanya melontarkan jawaban bahwa ia baik-baik saja.     MRT’nya tiba dan ia menguatkan dirinya untuk berdiri dan melangkah masuk. Seorang wanita yang tadi berada di belakangnya membantunya untuk duduk di dalam MRT. Keringat dingin meleleh di atas kepala Cassie. Ia menahan rasa sakitnya. Ia mengatur nafasnya, berharap rasa nyerinya bisa hilang. Ia mengeluarkan air mineral dari dalam tas kerjanya dan meneguknya.     Rasa nyeri itu perlahan menghilang. Ia sanggup untuk berdiri dan berjalan lagi. Ia mengesampingkan rasa sakit itu dan keluar dari MRT yang sudah tiba di tujuannya. Ia berjalan menuju ke Café, tempat pertemuannya dengan kedua sahabatnya.     Donna mengayun-ayunkan tangannya ke udara dan Cassie menangkap sosok Donna. Ia berjalan agak cepat lalu menggamit lengan Donna. Ning Fang sudah menunggu di dalam café karena tempat kerjanya tak jauh dari Café itu.     Donna dan Ning Fang sudah diterima bekerja. Donna diterima sebagai HRD di sebuah perusahaan multinasional, sementara Ning Fang menjadi sekretaris direktur di sebuah bank. Keduanya memang sudah bekerja namun mereka tetap akan membantu Cassie di setiap weekend.     Mereka sudah duduk di dalam Café dan sedang menunggu pesanan mereka.     “Wajahmu terlihat pucat. Kau tidak apa, Cas?” tanya Ning Fang memperhatikan. Di antara ketiganya bisa dibilang Ning Fang-lah yang paling perhatian bahkan untuk hal kecil sekalipun.     Cassie menepuk-nepuk pipinya.     “Ah, tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja,” katanya berusah menyembunyikan rasa nyeri di pinggangnya.     “Lupakan itu. Bagaimana pekerjaan kalian?” tanya Cassie mengalihkan pembicaraan.     “Aku ingin bercerita lebih dulu. Kalian tahu? Menyeleksi karyawan itu benar-benar melelahkan. Baru-baru ini aku bertemu dengan calon karyawan yang sangat menyebalkan. Profilnya sederhana, tidak berpendidikan tinggi tapi ingin gaji besar. Oh, mimpi saja dia! Aku saja yang cumlauder digaji seadanya. Dia meminta lebih tinggi. Huh… tidak mungkin!” cerocos Donna.     “Memang menyebalkan kalau begitu. Kalian tahu atasanku? Ia tidak pernah membiarkanku pulang tepat waktu. Lembur… lembur… lembur itu saja isi kepala botaknya,” gerutu Ning Fang.     “Ah mengapa kita bertemu orang-orang merepotkan seperti ini sih?” Cassie menanggapi.     “Memangnya kau bertemu orang menyebalkan juga?” tanya Donna pada Cassie. Cassie mengangguk dengan cepat.         “Aku baru saja memiliki tetangga baru di apartemen. Dia sangat merepotkan.” Kedua sahabatnya kompak menopang dagunya di atas meja sambil memperhatikan Cassie lebih dekat. Mereka tertarik dengan cerita Cassie.     “Dia pria yang menyebalkan. Tahu apa yang dilakukannya semalam? Dia mengemis meminta makan. Belum lagi, bisa-bisanya dia lupa menukarkan uangnya. Dan paling parah, dia bahkan tidak bisa mengikat tali sepatunya sendiri,” cerita Cassie dengan antusias lalu menyebikkan bibirnya.     “Memangnya dia dari luar negeri?” tanya Ning Fang memastikan.     “Dari Indonesia. Aku bertemu dengannya di Surabaya waktu itu.”     “Sepertinya dia anak manja,” sahut Ning Fang memberikan penilaian. Cassie mengendikkan bahunya.     “Kalau kau bertemu dengannya secara kebetulan dan berulang kali, mungkin kau memang berjodoh dengannya,” jawab Donna asal. Cassie menepuk tangan Donna. Donna mengaduh sambil mengelus-elus tangannya.     “Dan semalam, dia membuatku tidak bisa tidur.”     “APAAA??? Dia melakukan apa padamu hingga kau tidak bisa tidur? Jangan… jangan” Cassie memukul lengan Donna lagi. Donna mengerucutkan bibirnya sambil menggerutu.     “Jangan berpikir yang aneh-aneh. Dia meminta obat nyamuk tengah malam. Kau tahu?”     “Hah? Obat nyamuk?” tanya kedua orangtua bersamaan. Cassie mengangguk.     “Badannya bentol-bentol karena digigit nyamuk. Tidak hanya itu, di saat akum au memejamkan mataku dia membangunkanku lagi… perutnya sakit dan minta obat perut. Aku tidak bisa tidur gara-gara dia!” kata Cassie penuh amarah.     “Lalu?” tanya Ning Fang.     “Lalu? Ya tadi pagi aku berhasil balas dendam. Hahahahah” kata Cassie lalu tertawa sendiri. Kedua sahabatnya mengernyit karena tertawa Cassie terkesan… garing.      “Aku sengaja membuatnya tersesat.”     “Maksudmu?” tanya Ning Fang untuk menggali lebih jauh.     “Iya, aku sengaja membuatnya salah naik jurusan MRT. Dan aku yakin pria menyebalkan itu akan melanglang jauh dan kesulitan untuk kembali. Hahahaha…” kata Cassie lagi sambil tertawa penuh kemenangan dan mungkin tawanya lebih mirip penyihir jahat di sebuah dongeng.     Ning Fang menghempaskan badannya ke sofa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.     “Cassie… Cassie, kau itu kekanak-kanakan. Hanya karena hal sepele sepeti itu kau mengerjainya begitu parah. Coba pikirkan bagaimana jika pria itu tidak kembali? Bagaimana jika ternyata dia malah sampai di perbatasan Malaysia? Kau mau tanggung jawab?” kata Ning Fang mengomentari.     “Tidak mungkin! Pria itu tidak akan pergi sejauh itu,” bantah Cassie sambil tertawa garing dan meneguk teh hangatnya.     “Kalau itu kenyataan bagaimana? Dari ceritamu sepertinya dia pria yang sangat ceroboh dan tidak bisa mengatur hidupnya sendiri. Mungkin seperti anak manja. Bagaimana jika memang ia tidak tahu caranya kembali? Bagaimana jika dia memang tidak tahu apa yang harus dilakukannya atau mungkin pemalu untuk bertanya pada orang? Bukankah kau yang bersalah kalau begitu?” kata Ning Fang. Sepertinya Ning Fang benar dan Cassie tiba-tiba merasa bersalah atas keusilannya.     ‘Apakah aku sudah keterlaluan? Bagaimana jika benar ia tidak bisa kembali?’ batin Cassie.     Cassie menampik semua pikiran negatifnya. Ia tidak mau ambil pusing dengan pria menyebalkan itu. Ia akan sangat senang jika pria itu hilang dari hidupnya selama beberapa hari ini. Kehadirannya sungguh akan merepotkan Cassie. Setidaknya ia akan bebas dari pria merepotkan itu hari ini. ***     Brandon bertanya pada pusat informasi wisata. Ia sekarang berada di area paling Timur Singapura. Ia bahkan tak tahu bagaimana jalan pulang. Sejak pagi ia berputar-putar ke hampir seluruh jalur MRT tapi ia belum juga sampai di apartemennya. Untung saja di beberapa titik ia menemukan tempat wisata, sekalian saja ia berkeliling tempat wisata di area itu hingga sore tiba. Tapi sekarang ia tidak tahu jalan kembali.     ‘Ini gara-gara wanita cerewet itu! Awas saja saat aku pulang nanti!’                            Beruntunglah ada seorang petugas informasi wisata yang membantu para turis untuk berwisata di Singapura. Ia memberanikan diri untuk bertanya. Petugas informasi kemudian menjelaskan cara agar ia bisa kembali ke apartemennya. Ia berjalan mengikuti petunjuk petugas informasi dan ia menghembuskan nafas lega karena sekarang ia sudah sampai di stasiun MRT dekat apartemennya.     Kakinya lelah karena terlalu banyak berjalan. Ia duduk sejenak di pinggir jalan sambil menikmati minuman dingin dari mesin minuman yang dibelinya barusan. Ternyata bagus juga tersesat di Singapura, ia jadi bisa melihat setiap sudut negara itu. Jujur, ia menikmati perjalanannya. Tapi, ia sudah terlalu sebal dengan Cassie. Ia akan mengajukan protes pada gadis itu saat di apartemen.     ‘Awas kau, Gadis Cerewet! Tunggu pembalasanku.’     Brandon membuang kaleng minumannya ke sampah dan berjalan menuju ke apartemennya. Saat sampai di apartemen, ia langsung berjalan menuju unit Cassie. Ia mengetuk dan memasang tampang sebalnya.     Pintu apartemen Cassie terbuka. Ia menatap nyalang gadis di hadapannya itu.     Cassie sadar akan kesalahannya. Ia menunduk dan tidak berani menatap Brandon.     “Hei kau, Gadis Cerewet! Tahu apa yang sudah kau perbuat padaku hah?”     “Maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu tersesat,” kata Cassie lirih. Brandon menatap Cassie tanpa mengurangi intensitas ketajaman matanya.     “Lihat kakiku jadi pegal. Kau harus tanggung jawab!” gerutu Brandon dan terdengar seperti anak kecil. Tapi entah mengapa, Cassie jadi merasa lebih bersalah. Tunggu… tunggu… mengapa kalau kakinya pegal ia yang harus bertanggung jawab?     “Hei, kalau kakimu pegal. Ya itu salahmu sendiri lah. Di sepanjang jalan kan ada tempat duduk, mengapa tidak berhenti dan duduk di sana?”     Brandon tidak mempedulikan Cassie dan langsung masuk ke dalam apartemen wanita itu tanpa disuruh.     “Hei, Pria merepotkan! Siapa yang suruh kau masuk?”     Brandon tetap duduk di sofa Cassie sambil mengurut kakinya yang pegal.     “Buatkan aku makanan. Aku lapar!”     “Apaaa???”     “Katamu kau menyesali perbuatanmu? Sebagai tanda maafmu, aku menuntut kau membuat makanan untukku.”     Cassie menatap Brandon dengan sebal. Lagi-lagi ia direpotkan pria menyebalkan ini. A/N: Jangan lupa tap love, follow Author dan tinggalkan jejak ya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN