Chapter 20

1702 Kata
-Kenangan manis kadang tercipta dari sebuah tindakan konyol bersama.-       Brandon menoleh ke arah Cassie dalam diam. Ia lantas memalingkan wajahnya dan memandang ke arah jalanan yang sudah sepi.     “Entahlah. Aku tidak yakin aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan cintanya setelah apa yang sudah kulakukan padanya selama ini,” jawab Brandon datar. Ia sudah pasrah dengan semuanya. Melihat cinta Celline yang begitu besar untuk Rivaldi sepertinya hampir tidak masuk akal gadis itu membuka hatinya untuk menerima Brandon. Terlebih lagi mungkin gadis itu merasa benci pada Brandon dan sikapnya yang kekanak-kanakan.     Cassie menatap Brandon dalam-dalam. Ia mengamati wajah Brandon yang sebenarnya tidak jelek juga bahkan bisa dikatakan wajah Brandon cukup tampan. Hanya saja, ia mendadani dirinya layaknya pria culun. Menyadari ia sudah salah fokus, Cassie memalingkan wajahnya dan memandang jalanan.     “Dalam kamusku, aku yakin kita masih bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan cinta kita kembali. Dan, kau harus banyak belajar dan berubah untuk bisa meraihnya.”     Brandon menoleh ke arah Cassie.     “Justru itu kau harus rajin mengikuti kelasku hingga seluruh pelajarannya selesai. Oke?” kata Cassie sambil menunjukkan lesung pipinya.     Brandon menyadari bahwa gadis itu sangat mirip dengan seseorang lagi dalam masa lalunya. Tapi, siapa? Mengapa mata bulat dan lesung pipi itu begitu melekat di ingatan Brandon?     Brandon tersenyum lalu menghabiskan gigitan terakhir es krimnya. Begitu juga Cassie. Mereka kembali berjalan ke arah pulang. Sepanjang perjalanan, Cassie menguap. Badannya sungguh letih karena hari yang dilaluinya ini sungguh berat.     Kaki mereka telah sampai di depan lift. Begitu pintu terbuka, mereka lantas masuk.     “Memangnya di lantai 5 ada berapa orang yang tinggal di sana?” tanya Brandon.     “Hmm… kurasa mungkin hanya ada aku dan sekarang kau. Mengapa kau bertanya?”     “Pantas saja sepi. Tadi waktu aku mencari pertolongan untuk mengatasi perutku yang lapar, aku menggedor semua pintu dan tidak ada yang meresponnya. Hingga akhirnya aku sampai di depan unitmu.”     Cassie tertawa. Betapa konyolnya pria di sampingnya ini.     “Mengapa kau tertawa?” tanya Brandon heran sambil mengerucutkan bibirnya.     “Bodoh… bodoh! Bagaimana kau bisa melakukan hal konyol seperti itu? Kau seperti pengemis. Hahahah.” Cassie terus tertawa dan Brandon sebal.     Pintu lift terbuka dan mereka keluar. Mereka berpisah. Brandon ke arah kanan dan Cassie ke arah kiri. Belum juga kakinya melangkah, Brandon menoleh ke arah Cassie.     “Karena hanya kita berdua di lantai ini, aku harap kita bisa menjadi tetangga yang baik. Saling membantu. Oke?” kata Brandon sambil mengulurkan tangannya.     “Asal tidak terus-terusan membuatku repot,” jawab Cassie sambil menyambut uluran tangan Brandon dengan tersenyum.     “Deal!”     Keduanya lantas berjalan ke unit masing-masing. ***     Brandon membanting dirinya ke atas kasur empuknya.     “Siapa gadis itu ya? Mengapa aku sangat mengingat wajahnya?” Brandon bertanya pada dirinya sendiri. Ia mencoba mengingat siapa Cassie. Ia menepuk jidatnya.     “Sudah beberapa kali aku bertemu dengannya tapi aku tidak pernah tahu namanya. Bodohnya aku! Ah… sudahlah.” Brandon menggerak-gerakkan kakinya di ranjang. Lalu menarik selimut dan meringkuk menjemput tidurnya.     Baru beberapa saat ia memejamkan mata, telinganya terasa gatal. Ada suara nyamuk berulang kali melewati telinganya. Ia terganggu. Ia membalikkan badannya ke arah lain, tapi lagi-lagi nyamuk nakal itu mengganggunya. Ia merasakan gatal di telapak kakinya. Ia menggaruk telapak kakinya dan rasa gatal itu tidak hilang.     Ia terbangun dengan sebal sambil terus menggaruk kakinya yang gatal. Sekarang rasa gatal itu berpindah ke tangannya. Ia menggaruk tangannya. Menyadari gatal itu tidak berhenti di tangan dan kaki, Brandon melihat ke tubuhnya sendiri.     “ASTAGA!!!! NYAMUK SIALAN! Berani-beraninya kalian mengisap darahku!” Brandon mengomel karena ternyata gigitan nyamuk itu ada di hampir 10 bagian tubuhnya. Badannya jadi polkadot dan ia sebal. Ia menggaruk-garuk semua bekas gigitan nyamuk.     “Mami…. Aku ingin pulang! Gatallll…. “ gerutunya.     Ia berdiri lalu mencari kotak P3k. Mungkin penjaga apartemen sudah menyiapkan obat anti nyamuk di sana. Ia mencari-cari obat yang ia butuhkan tapi tidak ada. Ia terus menggaruk badannya. Makin digaruk, rasa gatalnya tidaka kunjung hilang. Ia harus melakukan sesuatu lagi. Meminta pertolongan.     Ia mengenakan sandalnya lalu pergi keluar apartemen. Ia menggedor unit apartemen Cassie beberapa kali. Tak ada jawaban. Ia menggedor lagi dengan lebih keras sambil terus menggaruk bekas gigitan nyamuk di badannya.     Di dalam sana Cassie menggeliat. Ia sadar ada gedoran pintu di apartemennya.     “Sialan! Siapa sih yang tengah malam begini menggedor pintu?” Ia mengambil bantal dan menutupi telinganya dengan benda itu. Gedoran itu tidak berhenti. Ia terbangun dan mengacak-acak rambutnya sambil berteriak sebal.     Ia beranjak dan berjalan dengan menghentakkan kakinya ke lantai. Gemas dengan siapapun yang ada di luar saat ini. Rasanya ia ingin membanting siapapun yang berani-beraninya mengganggu tidurnya. Ia membuka pintunya.     “APA????” tanya Cassie sambil berteriak. Tanpa disuruh, Brandon langsung masuk ke dalam apartemen Cassie. Cassie mendelik melihat Brandon sudah di dalam apartemennya.     “KAUU LAGGIIII? Mau apa kau di sini?” tanya Cassie sambil bersidekap. Brandon masih terus menggaruk tangan dan kakinya yang gatal.     “Kau punya obat anti nyamuk? Lihat apa yang nyamuk-nyamuk nakal itu lakukan pada tubuhku,” kata Brandon seperti anak kecil yang melaporkan anak lain mengganggunya pada ibunya. Ia menunjukkan tangannya yang polkadot sambil memajukan bibirnya.     Cassie hanya menghela nafas panjang.     “Memang kau ini pria merepotkan!” Ia beranjak mengambil obat anti nyamuk dan memberikannya pada Brandon lalu mendorong badan pria itu keluar dari unitnya.     “Eh… tunggu… tunggu…” Brandon menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Cassie.     “Apa lagi???” Cassie geram.     “Terima kasih. Aku akan mengembalikan obat ini besok.” Tanpa memandang lebih lama, Cassie hanya menggerak-gerakkan tangannya menyuruh Brandon segera pergi lalu ia menutup pintu dan kembali tidur.     “Dasar pria sialan!”     Cassie langsung menjemput mimpinya. Baru saja ia memejamkan mata, bel pintunya berbunyi lagi. Cassie menggeram sebal.     “PRIA SIAAALLAAANNN!!!!”     Ia membukakan pintu dan Brandon merepotkannya lagi. Gara-gara makanan pedas yang ia makan, perutnya jadi melilit dan meminta obat sakit perut pada Cassie. Setelah menutup pintunya, Cassie bertekad tidak akan membukakan pintu pada siapapun yang membunyikan belnya lagi. ***     Alarm Cassie berbunyi. Ia melirik sebentar pada alarmnya lalu mematikan dan meringkuk lagi di bawah selimut. Menambah masa tidurnya beberapa menit mungkin akan membuat tubuhnya lebih segar, apalagi kemarin ada gangguan menyebalkan dari tetangga menyebalkannya. Ia memejamkan matanya dan terlelap.     Tak terasa sudah 30 menit ia tertidur hingga akhirnya dering ponselnya berbunyi. Ia memaki siapapun yang menganggu tidurnya kali ini. Ia mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu dengan nada marah.     “APA???” tanyanya ketus. Pria di seberang sana begitu kaget dengan suara Cassie.     “Hei, tenang Nona! Aku menghubungimu untuk mengingatkanmu meeting hari ini.” Suara itu membuat Cassie terssadar. Edwin Koh yang meneleponnya. Astaga! Betapa malunya ia sudah berucap kasar pada bosnya.     “Maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau Anda yang menghubungi saya. Baik, saya akan siapkan.” Cassie mematikan ponselnya dan muncullah penunjuk waktu di layar.    “ASTAGA!!! AKU AKAN TERLAMBAT!!!”     Ia segera berlari ke depan lemari bajunya, mengambil baju seadanya lalu mengenakannya tanpa mandi atau bahkan mencuci wajahnya. Sudah terlalu terlambat untuk itu dan ia tidak ingin merusak harinya hanya karena terlambat ke kantor. Ia menyemprotkan parfum lalu segera berdandan. Ia mengambil sepotong roti dan mengambil tas kerjanya. Ia menggigit roti itu sementara kedua tangannya yang lain mengikat rambutnya. Ia keluar dari apartemennya tapi badannya tidak sengaja bertatapan dengan badan seseorang.     Ia menoleh ke arah sosok itu. Brandon sudah berdiri di sana sambil menyodorkan spray anti nyamuk yang diberikan Cassie kemarin malam.     “Aku ingin mengembalikan obat ini.”     “Haduhhh nanti saja, aku sedang terburu-buru,” kata Cassie sambil membetulkan tas kerjanya dan pergi meninggalkan Brandon.     Namun pria itu ternyata mengekornya hingga ke lift. Cassie melirik ke arah Brandon yang berdiri di sebelahnya. Brandon menyadari Cassie meliriknya.     “Hei, Wanita cerewet! Aku mau bertanya bagaimana caranya menuju ke Garden by the bay dengan MRT?”     Cassie memandang sinis pada Brandon.     “Pergilah di stasiun dan tanyalah pada petugas di sana. Mereka akan menjelaskannya,” jawab Cassie ketus. Ia menengok jam tangannya dan ia mengetuk-ngetukkan kakinya tidak sabar. 10 menit lagi ia akan terlambat.     Pintu lift terbuka dan ia berjalan dengan cepat kea rah stasiun MRT dekat apartemen. Brandon mengekor Cassie. Ketika wanita itu berjalan dengan cepat, Brandon berusaha mengimbangi namun tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan. Ia sebenarnya ingin belajar naik MRT tapi melihat Cassie yang buru-buru seperti tadi membuatnya tidak berani bertanya. Ia hanya mengekor, siapa tahu memang Cassie menuju ke kantornya dengan MRT.     Cassie menempelkan kartu berlanganannya ke mesin dan masuk ke dalam stasiun. Brandon bingung karena ia tidak memiliki kartu itu. Ia melihat di sisi sebelah kanan mesin itu ada pos informasi. Ia bertanya dan membeli kartu berlangganan juga. Setelah mendapatkan ia segera masuk ke dalam dengan cara yang sama dengan Cassie tadi.     Ia menengok sekitarnya mencari keberadaan wanita itu. Ia menangkap sosok yang dicarinya lalu ikut antre di belakang wanita itu tanpa sepengetahuan Cassie yang sekarang sedang sibuk dengan ponselnya menelepon seseorang. Selesai menutup teleponnya, Brandon memberanikan diri untuk mengetuk pundak    Cassie hingga ia menoleh.     Cassie berjingkat.     “Haduhhh… mengapa sih kau mengikutiku? Aku sedang terburu-buru. Di sana ada petugas yang bisa menjelaskan semua lokasi wisata dan jalur MRT yang ke sana,” gerutu Cassie sambil menunjuk ke arah pos informasi dan dengan ekspresi sebalnya pada Brandon.     “Aku hanya menanyakan 1 hal. Di mana jalur menuju Marina Bay?”     Sebenarnya jalur menuju Marina Bay berada satu jalur dengan MRT tempat Cassie berdiri. Namun, ia ingin sedikit balas dendam karena Brandon membuatnya terlambat bangun pagi ini. Ia memikirkan ide usil.     “Kau mau ke Marina Bay?” tanya Cassie berubah lembut. Brandon mengangguk.     “Baiklah. Aku masih ada sedikit waktu. Aku antar kau. Ikuti aku,” kata Cassie dan ia berjalan di depan Brandon sambil terkikik. Ia berdiri di barisan jalur MRT seberang. Tak lama MRT itu datang, ia masuk ke dalam dan Brandon mengikutinya. Saat ada informasi pintu MRT akan ditutup, Cassie melangkah keluar dengan cepat. Brandon terkunci di dalam. Ia terlihat protes pada Cassie namun suaranya tidak terdengar.     Cassie bersorak “yes” tanpa suara karena berhasil menyingkirkan tetangga merepotkannya itu. Ia menengok jam dinding stasiun.     “ASTAGA!!! Aku terlambaatt…TIDAKKKK!!!”     Mungkin ini balasan yang tepat untuk aksi usil Cassie.   A/N: Makanya jangan usil. Tuh, kena batunya kan? Jangan usil ya, Readers semuanya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN