-Rasa cinta itu muncul ketika membicarakan persamaan di antara keduanya.-
“KAUUUU LAGIIIII….” Kata Cassie kaget melihat sosok pria merepotkan di hadapannya yang sekarang sedang memegangi perutnya. Wajahnya telihat pucat.
“Ada apa?” kata Cassie bersidekap dan punggungnya ia tempelkan di pintu.
“Tolong aku! Aku kelaparan,” rintih Brandon sambil memegang perutnya. Cassie berdecih.
“Kalau kelaparan, tinggal beli saja mie instan di swalayan.”
“Aku lupa menukarkan uangku.” Cassie menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya pria merepotkan ini melupakan hal yang penting seperti itu di dalam perantauannya.
“Please…” kata Brandon mengemis sambil mengeluarkan gigi behelnya.
KRUUKKKK…
Suara perut Brandon ikut meramaikan suasana seolah ikut menyetujui apa yang dikatakan Brandon. Cassie hanya menghela nafas. Dalam hatinya ia merasa ia kasihan dengan pria ini tapi di sisi lain ia sudah lelah jika harus meladeni pria merepotkan yang beberapa hari lalu sudah merepotkannya di bandara. Tapi sepertinya rasa kasihan Cassie yang lebih unggul kali ini. Toh, membantu orang lain dalam kesulitan tentu tidak ada salahnya bukan?
“Masuklah,” kata Cassie mempersilakan Brandon masuk. Dengan senang hati pria itu masuk ke dalam rumah Cassie.
“Tunggulah di sini. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu.”
“Terima kasih… Terima kasih… memang kau dewa penolongku!” kata Brandon dengan antusias.
“Dewa??? Kau pikir aku laki-laki?” protes Cassie.
“Ah… maaf… maaf. Kau tahu kan kalau kelaparan, otak kita buntu mendadak,” ucap Brandon sambil meringis.
“Eh, tapi jangan sampai memasaknya tidak jadi. Sungguh aku kelaparan,” kata Brandon lagi dengan memasang wajah memelasnya. Cassie menatap sinis Brandon lalu dengan sebal ia mencari sesuatu dari laci dapurnya.
Brandon menatap seluruh isi ruangan itu dengan terkagum. Apartemen milik Cassie terlihat begitu elegan. Wallpaper berwarna biru muda yang lembut, dekorasi yang sangat feminim, rak buku yang tertata rapi dengan beraneka macam buku ada di sana ditambah lagi beberapa foto yang terpajang cantik di rak atas meja televisi. Semuanya tertata dengan sangat rapi. Tak lama berselang, Cassie sudah datang membawa seporsi mie instan ke hadapan Brandon.
“Ini… Ind*mie?” tanya Brandon mengenali aroma mie instan favoritnya.
Cassie mengangguk.
“Aku membeli beberapa dari Indonesia. Kata orang, produk mie instan ini paling laku dan rasanya berbeda dengan yang ada di luar negeri. Kupikir membawa pulang beberapa bungkus boleh juga. Dan ternyata memang selezat apa kata orang.”
Tanpa berpikir panjang, Brandon sudah melahap mie instan itu hingga separuh.
“Uhukk… Uhukkk… pedas… pedas…” ujar Brandon sambil menjulurkan lidahnya dan wajahnya menjadi merah. Cassie buru-buru menyodorkan air mineral pada Brandon dan diteguknya dengan rakus.
“Kau mencampurkan semua sambalnya?” tanya Brandon sambil membuka tutup bibirnya seperti ikan untuk menghilangkan sensasi pedas dalam mulutnya.
“Iya.”
“Aku tidak bisa makan sambal!” protes Brandon.
“Salah sendiri tidak katakan itu sejak awal. Aku mana tahu jika kau tidak suka pedas?”
Brandon meneguk lagi air mineralnya hingga tandas.
“Aku tidak mau makan lagi. Pedas!” kata Brandon sambil mendorong piringnya menjauh padahal isinya masih ada separuh. Merasa usahanya tidak dihargai, Cassie melotot dan berkacak pinggang.
“Kau ini tidak tahu terima kasih. Sudah susah payah aku mengesampingkan rasa lelahku demi menolongmu tapi sekarang kau bilang tidak akan menghabiskan makananmu. Maumu apa?” Cassie sudah tersulut emosi. Nyali Brandon seketika menjadi ciut seakan melihat Ibunya yang marah.
“Ba-baiklah. Aku akan habiskan.”
Cassie melengos sambil menyilangkan tangannya di depan d**a.
“Habiskan atau kubunuh kau!” ancam Cassie dengan pelototan mata tajam pada Brandon. Meskipun kepedasan, Brandon tetap menghabiskan mienya. Setelah piringnya kosong, ia menyilangkan sendok dan garpunya lalu meletakkan piringnya ke atas meja. Matanya tidak berani memandang Cassie yang mengawasinya bak polisi pada pencuri ayam yang tertangkap.
“Boleh… minta airnya lagi?” tanya Brandon sambil menyengir kuda, berusaha menghadapi rasa takutnya pada Cassie. Cassie hanya melirik pria itu lalu beranjak dari sofa dan mengambilkan sebotol air mineral lagi.
Brandon meneguk air mineralnya sementara Cassie membereskan piring Brandon dan mencucinya. Setelah selesai mencuci, ia membersihkan tangannya dengan kain lap tangan.
“Sudah, pulanglah! Kau kan sudah selesai makan. Aku lelah. Ingin istirahat,” usir Cassie sambil membukakan pintu apartemennya agar Brandon keluar.
Pria itu berdiri dan berjalan keluar dengan sedikit menunduk.
“Terima kasih.” Cassie hanya mengangguk. Tapi belum juga kakinya melangkah keluar, Brandon memutar badannya lagi dan memandang Cassie.
“Apa lagi?” tanya Cassie galak.
“Anu… itu… apa tawaranmu waktu di rumah sakit saat itu masih berlaku?”
Cassie memutar bola matanya sambil mengingat apa yang sudah ia utarakan waktu itu. Belum sempat ia menemukan jawabannya, Brandon menyela.
“Kelas cinta atau apalah itu namanya.”
Raut wajah Cassie berubah menjadi sumringah. Ia akan mendapatkan murid baru dan tandanya ia sudah mencapai target yang diberikan oleh Edwin. Kelasnya akan dibuka dalam beberapa hari ke depan.
“Tentu saja! Datanglah ke tempat kami lusa. Kami akan memulai kelas perdananya.”
Brandon juga ikut tersenyum. Ia melanjutkan langkahnya dan belum juga melangkah, kakinya terhenti lagi dan menoleh ke arah Cassie lagi. Wajah Cassie yang semula sumringah mendadak berubah ketus kembali.
“Apa lagi?” kata Cassie agak menggeram.
“Eng… bisa kau menemaniku ke money changer? Aku tidak ingin merepotkanmu lagi besok hanya karena aku tidak bisa membeli makanan,” ucap Brandon sambil meringis lagi.
Cassie mengacak-acak rambutnya sebal. Mengapa ia bertemu pria merepotkan ini lagi? Tidak bisakah ia hidup tenang? Dan sekarang sepertinya pria itu menjadi tetangganya selama beberapa waktu.
‘Oh, Tuhan! Cobaan macam apa lagi ini?’ batin Cassie.
“Tunggulah di sini. Aku akan berganti pakaian.” Brandon menunjukkan senyuman manisnya layaknya anak kecil yang mendapatkan permen. Cassie membalikkan badannya dan terkekeh diam-diam melihat ekspresi wajah Brandon yang konyol.
Setelah berganti pakaian, ia turun dengan Brandon melalui lift.
“Mengapa kau bisa ada di sini?” tanya Cassie membuka obrolan. Meskipun ia sedikit merasa direpotkan dengan kehadiran Brandon di sini, tapi berbasa-basi itu perlu bukan?
“Maksudmu, mengapa aku bisa tinggal di apartemen ini? Atau mengapa aku bisa di Singapura?” Brandon mencoba mengkonfirmasi.
“Keduanya.”
“Sebenarnya saat kita bertemu di Surabaya waktu itu, aku akan ke Thailand. Tapi begitu sampai di Changi, aku mendapatkan berita jika pemerintah Thailand me-lock down semua akses ke negaranya karena ada kerusuhan. Ya, jadilah aku terdampar di sini selama beberapa waktu.”
“Oh…”
“Karena aku juga tidak tahu sampai kapan lock down di Thailand berakhir, kupikir lebih baik aku tinggal di sini sementara waktu hingga lock down dibuka,” lanjut Brandon.
“Jadi kau akan tetap pergi ke Thailand nantinya?”
Tak terasa pintu lift mereka terbuka. Keduanya berjalan keluar. Brandon memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
“Ya, aku masih tidak tahu pasti. Mungkin saja aku akan tetap melanjutkan perjalananku ke Thailand. Tapi mungkin juga aku akan berkelana ke negara lain.”
“Lalu, kau menyewa apartemen mahal ini sambil menunggu kabar dari pemerintah Thailand? Atau hingga kau menemukan tujuan perjalananmu berikutnya?” Cassie bertanya karena ia sedikit heran.
Jujur ia bertanya-tanya, mengapa pria ini rela mengeluarkan uang yang cukup besar untuk menyewa sebuah unit di apartemennya. Ia sadar harga sewa apartemennya termasuk yang paling tinggi di antara apartemen lain karena fasilitas yang diberikan setara dengan hotel berbintang.
“Aku tidak menyewa apartemen ini. Unit itu milik keluargaku. Kami pernah tinggal di sana saat aku masih kecil.”
“Kau pernah tinggal di Singapura?” Brandon mengangguk.
Kaki keduanya berhenti di depan sebuah counter penukaran uang yang kebetulan buka 24 jam tak jauh dari sana. Cassie memberikan tanda dengan dagunya agar Brandon masuk dan melakukan transaksi di sana.
Setelah menyelesaikan urusannya, keduanya berjalan kembali ke arah apartemen. Selama perjalanan, Cassie dan Brandon saling bertukar informasi tentang tempat-tempat wisata di berbagai negara. Topik yang menjadi favorit Cassie adalah tentang travelling. Ia menyukai travelling dan membicarakan hal itu kini dengan Brandon rasanya menyenangkan. Terlebih lagi pria itu juga ternyata sudah memiliki pengalaman berwisata ke berbagai negara, walau saat itu ia selalu bepergian bersama orangtuanya.
Brandon menceritakan semua tempat favoritnya selama di luar negeri. Anehnya meskipun ia sudah berwisata ke manca negara, hanya Singapura yang tidak pernah dieksplornya lebih dalam. Mungkin karena keluarganya berpikir mereka sudah mengenal setiap sudut Singapura dengan baik, jadi mereka tidak pernah mendatangi negara ini. Padahal, negara kecil itu selalu berkembang dan membuat negara ini selalu memiliki hal baru untuk dikunjungi.
Brandon baru saja menceritakan pengalamannya bermain ski di Swiss dan mata Cassie berbinar mendengarnya. Ia belum pernah ke Swiss dan cerita Brandon membuatnya tertarik.
“Wah, aku jadi ingin menikmati salju. Aku bosan dengan hawa panas di negara tropis seperti ini. Aku iri denganmu yang pernah memegang salju secara langsung,” kata Cassie sambil sumringah menanggapi cerita Brandon tentang Swiss.
“Kalau kau ingin memegang salju, kurasa kau harus latihan menahan dinginnya lebih dulu,” jawab Brandon sambil tersenyum. Mereka baru saja melewati sebuah minimarket tapi Brandon memutar arah jalannya lalu masuk ke dalam minimarket. Cassie mengikuti pria itu dari belakang.
Brandon mengambil dua buah es krim dan membayarnya. Ia lalu memberikan salah satunya pada Cassie.
“Ini untukmu, sebagai ganti masakanmu tadi,” ujar Brandon sambil menyerahkan es krim itu pada Cassie. Tentu saja Cassie menerima dengan senang hati. Mereka mengambil duduk di anak tangga dekat minimarket tersebut sambil menikmati es krimnya.
“Bagaimana dengan wanita yang kau sukai itu?” tanya Cassie mendadak sambil menjilati es krimnya.
Brandon terdiam sejenak. Seakan luka itu kembali dikorek hingga bernanah. Perasaan sedihnya mencuat ke permukaan kembali.
“Kurasa ia sudah bahagia bersama dengan kekasihnya,” jawabnya dengan nada sedih. Cassie menoleh ke arah pria di sampingnya ini.
“Maaf. Aku tidak bermaksud…”
“Tak apa. Aku paham,” jawab Brandon sambil berusaha tersenyum menghadap Cassie dan melanjutkan memakan es krimnya. Cassie masih tergelitik untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan hubungan Brandon dan Celline.
“Tapi… apakah kau ingin mendapatkan cinta gadis itu lagi?” Brandon hanya terdiam.