Chapter 18

1840 Kata
- Perhatian kecil adalah awal dari rasa yang akan tumbuh.-      Brandon menekan-nekan kopernya bahkan mendorongnya bagaikana ada seekor gajah di sana. Ia mengusap peluhnya. Ia sudah berjuang merapikan kopernya sedemikian rupa tapi sepertinya lagi-lagi ia tidak terbiasa melakukan itu sendiri. Bagaimana bisa menutup jika Brandon saja tidak bisa melipat pakaian-pakaiannya dengan rapi. Selama ini memang jika berwisata, seluruh keperluannya dirapikan dan diatur oleh Elizabeth. Ia hanya duduk manis dan menunggu tanpa pernah tahu bagaimana cara melipat baju atau merapikan isi koper.     Ponselnya berbunyi dan Brandon meninggalkan kegiatan merapikan kopernya lalu menyambar ponselnya.     “Hai, Mami!”     “Anak Mami sedang apa?”     “Merapikan koper, Mi. Ternyata merapikan koper itu susah ya, Mi? Hehe. Tapi sudah selesai kok, Mi. Mami tenang saja,” kata Brandon sambil meringis meyakinkan Ibunya. Tentu saja Elizabeth tidak percaya begitu saja. Ia yakin putranya pasti kesulitan. Saat berangkat saja, putranya masih belum bisa melipat baju sendiri apalagi sekarang.     “Mami mau melihat kopermu. Kita ganti ke video call ya dan tunjukkan Mami kopermu.”     Brandon hanya mendengus sebal. Ibunya terlalu ikut campur tapi ia tidak bisa membantah. Apapun yang wanita itu katakan adalah sebuah titah raja dan tidak bisa dilawan. Dengan terpaksa Brandon menekan tombol video lalu menjauhkan ponselnya dari wajahnya.     “Tuh lihat kan? Kau kesulitan melipat pakaianmu. Sini Mama akan contohkan,” kata Elizabeth sambil memperagakan bagaimana cara melipat pakaian. Setelah itu Brandon mencobanya.     Kini kopernya sudah tertata dengan rapi dan Brandon senang akhirnya pekerjaan melelahkan itu selesai juga. Sekarang sudah waktunya check out. Ia keluar dari kamar hotel yang ditempatinya selama dua hari ini menunggu penjagaa apartemen keluarganya kembali ke Singapura. Setelah panggilan dengan Ibunya selesai, penjaga apartemen itu menghubunginya dan mengatakan bahwa apartemennya sudah siap huni.     Brandon menggeret kopernya keluar ke halaman hotel. Tak berapa lama taksi yang ia panggil dari hotel sudah sampai untuk mengantarnya ke apartemen keluarganya. Ia memasukkan kopernya dibantu oleh sopir taksi itu lalu melaju hingga ke tujuan. Sepanjang jalan ia memperhatikan semua pemandangan di sekitarnya.     Tata kota Singapura sungguh luar biasa. Mereka membagi area-area mana yang menjadi pemukiman dan area mana yang menjadi pusat industri dan perdagangan. Gedung-gedung yang tinggi menjulang menghiasi pemandangan Singapura ditambah dengan taman-taman kota yang bersih dan terawat membuat pemandangan itu asik untuk dilihat. Belum lagi kebersihan yang negara ini jaga. Jangan harap bisa melihat plastik bertebaran di jalanan, secuil remah roti pun tak ada. Benar-benar negara yang indah, bersih dan nyaman untuk ditinggali.     Tanpa terasa perjalanan sekitar 20 menit itu berakhir. Brandon turun dari taksi dan membayar taksi itu. Ia mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan uangnya. Ia baru sadar bahwa uang yang ada di dompet adalah dolar Singapura terakhirnya. Ia belum sempat menukarkan uangnya. Ia menepuk jidatnya sendiri.     ‘Dasar Brandon ceroboh! Ceroboh! Bisa-bisanya kau melupakan hal sepenting ini,’ kata Brandon memaki dirinya sendiri. Sepertinya ia terlalu terlena dengan wisatanya berkeliling negara ini hingga ia lupa hal terpentingnya.     Ia lalu keluar dari taksi dan masuk ke dalam apartemen. Berharap di dalam sana ada tempat penukaran uang dan ia tidak perlu kebingungan lagi. Ia menggeret kopernya dan masuk ke dalam lift. Tali sepatunya lepas. Brandon mendengus sebal. Mengapa semua hal buruk ini terjadi dalam satu waktu.     Ia menunduk dan mencoba untuk menali tali sepatunya lagi. Ia mengotak-atik tali sepatunya tapi gagal. Ia mengingat-ingat bagaimana Cassie waktu itu membuat simpul tali sepatunya lalu mencobanya. Gagal! Ia mencoba sekali lagi dan tetap saja tali itu kembali lurus.     Brandon mengacak-acak rambutnya sendiri. Sudut matanya sudah berair. Entah mengapa ia ingin bertemu Ibunya saat ini. Ibunya pasti akan membantunya mengikat tali sepatunya.     “Pria dewasa tidak boleh menangis! Aku harus bisa mandiri,” tekadnya. Ia melepas kacamata bundarnya lalu mengusap air matanya dan menghela nafas.     “Ah, sudahlah! Sebentar lagi aku akan sampai di apartemen dan aku pastikan tidak akan pernah memakai sepatu bertali merepotkan ini lagi,” katanya sambil memandang marah pada sepatu ketsnya. Di lobby apartemen ia disambut dengan Pak Dadang, penjaga apartemen keluarganya itu. Ia menjelaskan beberapa hal tentang peraturan apartemen lalu memberikan kunci kamar apartemen pada Brandon.     Brandon kini tengah menunggu lift yang akan mengantarnya sampai ke unit. Beberapa kali ia tersandung sepatunya yang talinya tidak tersimpul namun ia tidak mempedulikan itu. Pintu lift di hadapannya terbuka. Seorang pria tampan dan jangkung keluar dari lift itu sambil memasukkan tangannya ke dalam kantong celana. Pria itu memandang Brandon sejenak lalu tersenyum mengangguk dan meninggalkan Brandon.     ‘Wah, ternyata masyarakat Singapura adalah orang yang ramah,’ batin Brandon melihat perilaku sopan pria itu.     Lift itu membawanya ke lantai 5. Ia turun dari lift lalu mencari unit apartemennya. Setelah mencari-cari ia menemukan unitnya lalu masuk dengan kartu yang ia dapatkan dari penjaga apartemen yang ditemuinya di lobi apartemen.     Lampu ruangan tiba-tiba menyala otomatis ketika Brandon masuk. Benar apa kata Elizabeth, segala sesuatu sudah siap di apartemen itu. Nampak semua perabotan di dalamnya sangat lengkap, sudah dibersihkan dan rapi. Bahkan Brandon yakin aroma citrus yang menyeruak di dalam apartemen itu sengaja disiapkan Ibunya. Aroma favorit yang ia anggap begitu menyegarkan dan dapat mengurangi bau apek ruangan.     Apartemennya memang tidak berukuran besar namun sangat nyaman layaknya kamar suite sebuah hotel bintang 5. Ada dua kamar tidur dengan kamar mandi dalam, sebuah ruang tamu sederhana dengan sofa empuk berwarna hijau muda, sebuah dapur dan sebuah meja makan dengan dua kursi di sana. Sungguh apartemen yang sangat nyaman. Belum lagi fasilitas apartemen yang seperti hotel bintang lima. Ada kolam renang besar, gym, meja billiard hingga area barbecue. Perpaduan yang lengkap dan sempurna!     Sejenak ia merasa begitu beruntung. Ia bersyukur memiliki orangtua yang selalu mampu memberikan kenyamanan baginya. Bahkan saat ia memutuskan mandiri sekalipun, orangtuanya tidak marah dan malah memberikan yang terbaik untuknya.     Brandon membawa kopernya masuk ke dalam kamar, lalu mulai menata barang bawaannya. Ia mengeluarkan foto keluarganya lalu meletakkan di atas nakas di samping ranjangnya. Foto keluarga itu barang bawaan wajib Brandon. Ia pasti akan rindu pada ayah dan ibunya dan dengan foto itu rasa rindunya akan terobati.     Ia menata bajunya satu per satu. Hal yang sangat jarang ia lakukan di rumah, mengingat semuanya sudah dikerjakan dengan rapi oleh asistem rumah tangga keluarganya. Tapi, karena ia harus belajar hidup mandiri, ia mulai belajar semuanya itu. Ia menata semua barangnya hingga kopernya kosong.     Setelah selesai Brandon melepas kacamata bundarnya lalu membanting badannya di atas ranjang empuknya. Ia menggerak-gerakkan tangannya seperti membentuk malaikat salju sambil tersenyum.     “Ah… nyamannya! Hanya menata barang saja sudah membuatku sangat lelah. Memang Bi Inah luar biasa bisa mengerjakan itu setiap hari. Kalau aku pulang, aku akan belikan Bi Inah rengginang yang sangat banyak untuk menghargai usaha dan kerja kerasnya,” gumam Brandon lalu ia menertawakan apa yang ia katakan sendiri. Rengginang sebagai tanda terima kasih? Dasar Brandon konyol!     Matanya mulai berat dan nyaman kasur membuat tubuhnya ingin berlama-lama di sana. Ia melepas sandal rumahnya sembarangan lalu berbalik tengkurap dan menjemput mimpinya. ***     “Aku mencintaimu, Cass! Aku mencintaimu.”  Kata-kata itu terngiang di kepala Cassie. Bagaimana tidak, dugaannya benar selama ini bahwa Nico mencintainya. Cassie memeluk lututnya dan menunduk. Ia sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Nico. Lidahnya kelu untuk berkata-kata dan alhasil dia hanya bisa meminta Nico pulang agar ia bisa menenangkan dirinya beberapa saat yang lalu.     Sekarang kepalanya terasa pening, hatinya terasa kacau. Ia merasa bersalah memberikan harapan palsunya pada Nico. Semua perhatian yang ia berikan selama ini mungkin ia anggap biasa tapi tidak dengan Nico. Bagi Nico, sekecil apapun perhatian Cassie padanya mampu membuat benih perasaannya tumbuh.     Cassie menghela nafas panjang berulang kali untuk menetralkan pikirannya yang semrawut. Ia pusing dengan semua yang terjadi. Nico sudah mengatakan bahwa ia tidak akan melepaskan perasaannya pada Cassie. Atau lebih tepatnya ia tidak mau melepaskannya.     Perasan Nico ternyata terasa seperti beban berat yang ditanggung Cassie. Ia akan menjadi merasa bersalah jika terus membuat Nico mencintainya padahal ia hanya menganggapnya sebagai kakak dan tidak lebih. Sekarang pikirannya berkutat bagaimana caranya agar Nico menghentikan semua perasaannya pada Cassie?     Cassie berdiri dan mengambil sebotol minuman dingin dari kulkasnya lalu meneguknya. Mungkin air dingin bisa membuat kepalanya terasa lebih segar. Ia menyadari bahwa beberapa hari ini ia melupakan untuk minum air dengan cukup sehingga setiap tetesan air yang diteguknya sekarang terasa begitu nikmat.     Cassie memang memiliki kebiasaan buruk. Ketika ia sedang fokus pada tanggung jawab atau suatu hal tertentu, ia seringkali melupakan minum air putih bahkan hingga berjam-jam. Ia hanya tidak ingin pekerjaannya tersela hanya karena hal yang sepele seperti minum air. Padahal, minum air sesuatu yang sangat penting bagi tubuh kita bukan? Tapi, Cassie malah meremehkannya.     Ting Tong…     Bel apartemen Cassie berbunyi.     “Siapa lagi malam-malam begini hendak bertamu?”     Ia mendekati pintunya lalu mengintip siapa gerangan di luar sana. Ia tidak bisa melihat begitu jelas karena lampu di Lorong agak temaram. Yang ia tahu, bel pintunya dibel seorang pria. Ia membuka pintunya.     “KAUUUU LAGIIIII….” *** Sesaat sebelumnya     Brandon terbangun dari tempat tidurnya karena merasa lapar. Kebiasaan yang ia miliki sejak kecil, lapar tengah malam. Di hotel tempat ia menginap, ia bisa memesan beberapa hidangan di layanan kamar tapi di apartemen ini sepertinya tidak mungkin ada layanan kamar. Ia melihat jam dinding dan sudah pukul 11 malam. Semua toko swalayan sepertinya sudah tutup.     KRRUUUKKK     Perutnya berbunyi. Brandon memegangi perutnya lalu berjalan menuju ke dapur. Ia yakin ayah ibunya pasti sudah berpesan pada penjaga apartemen tentang kebiasaan malamnya itu. Ia beranggapan pasti penjaga apartemen juga sudah menyiapkan beberapa makanan di sana. Tanpa berlama-lama, ia membuka kulkasnya dengan sumringah. Dan…     “KOSONG?” Brandon menghela nafasnya panjang.     “Ah, mungkin ada mie instan di sini.” Ia membuka laci meja dapur dan lagi-lagi kosong. Ia tidak menemukan makanan apapun di sana. Ia menggeledah seisi apartemennya tapi lagi-lagi ia tidak menemukan apapun. Sepertinya orangtuanya melupakan hal kecil tapi penting bagi Brandon. Brandon membuang nafasnya kasar.     KRRUUKKKK     Perutnya berbunyi untuk kesekian kalinya. Ia menyesali kebodohannya tidak menukar uangnya dulu kemarin sehingga hari ini ia masih punya uang untuk membeli beberapa makanan ringan di swalayan di bawah apartemen tadi. Ditambah lagi, bisa-bisanya ia terlelap di saat ia masih memiliki kesempatan menukarkan uangnya.     Brandon menjambak rambutnya sendiri.     “Bodoh…bodoh… bodoh!”     KRUUUKKK     Naga di perutnya sudah meronta kesekian kali. Ia sudah tidak tahan. Ia harus mencari makanan, tapi di mana? Otaknya berpikir dengan keras hingga ia menemukan sebuah ide. Ia memakai sandalnya lalu keluar dari unit apartemennya.     TING TONG…     Ia membunyikan bel unit apartemen di sebelah unitnya. Berharap ada tetangga yang baik hati yang mau memberikannya makanan. Ia membunyikan bel beberapa kali namun tak ada jawaban. Brandon menghela nafas panjang. Biarlah ia dipandang sebagai pengemis, yang penting sekarang adalah naga di perutnya tidak memberontak.     “Mungkin ini unit kosong.” Tapi Brandon tidak menyerah. Ia berpindah ke unit yang lain dan melakukan hal yang sama. Lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam sana. Ia berjalan dengan gontai karena hampir seluruh Lorong apartemen itu tidak memberikan respon. Ia yakin malam ini sepertinya ia harus puasa.     “Perut… maafkan aku ya. Malam ini aku tidak bisa memuaskanmu. Tapi besok, aku janji akan memberikanmu makanan yang paling enak. Oke?” katanya sendiri sambil mengelus perutnya seakan ada seorang anak di dalam sana.     KRUUKKKK     Perutnya memberikan respon. Brandon meringis kesakitan karena kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang dan perutnya terasa tertusuk sesuatu. Sepertinya ia dilanda kelaparan akut. Makan malamnya yang hanya sepotong sandwich dari sebuah swalayan ternyata tidak cukup mengenyangkan.     Ia gelap mata. Ia berpindah ke unit paling ujung di lantai itu dan membunyikan belnya. Mencoba kemungkinan terakhir sebelum akhirnya memutuskan untuk berpuasa. Berharap Tuhan menolong tepat pada waktunya.     Tak berapa lama pintu itu dibuka. Seorang wanita muncul di sana dengan tatapan kagetnya.     “KAUUUU LAGIIIII….” ***     A/N: Hayo ngaku siapa yang suka kelaparan tengah malam kaya Brandon? Hehe… Author juga sering kok. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN