Arraya terbangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Ia menatap langit-langit kamarnya sejenak, sebelum bangkit untuk duduk. Ada sedikit perasaan menyesal karena telah melewatkan waktu mustajabnya doa di sepertia malam terakhir. Mata Arraya menyapu keadaan ruang kamarnya. Ruang kamar kecilnya yang terasa sesak. Arraya kini memilih untuk mengontrak sementara. Ia tak tahu lagi harus pergi ke mana. Pergi ke rumah orangtuanya, itu tak mungkin. Arraya tidak mau membuat semuanya khawatir. Ia juga tidak mau lagi merepotkan kedua orangtuanya karena masalah rumahtangganya. Selesai mengambil wudhu di kamar mandi, Arraya menggelar sajadahnya. Ia memakai mukena putihnya lalu melangsungkan solat dua raka'at tanpa menunda lagi. Baru kali ini Raya rasakan, solat dua raka'at yang begitu terasa berat. Ra

